(Draft Baru) Bab 5: Lima Tahun yang (Mungkin) Sia-Sia
5.
LIMA TAHUN YANG (MUNGKIN) SIA-SIA
Omega merasa beruntung bahwa pekerjaan bisa menenggelamkannya dari sisa-sisa kesedihan karena harus kehilangan teman terbaik, pendengar terbaik, pendukung terbaik, satu paket komplet pacar. Siapa lagi kalau bukan Barry. Setidaknya sudah sebulan ini dengan bekerja, Barry bisa dia singkirkan sebentar dari pikirannya. Pagi pukul sembilan sampai sore pukul lima, bahkan terkadang sampai malam sekitar jam sepuluh atau sebelas, Omega bisa menggeser Barry dari otaknya.
"Mbak Mega, tolong cek email, ya. Aku udah kirim beberapa data yang sudah dikirim KAP Ahmad Adri," baru juga Omega duduk, suara Dessy – juniornya – sudah terdengar dari kubikel paling ujung yang sederetan dengan kubikel Omega.
Omega hanya mengancungkan tangan sebagai jawaban. Dessy tersenyum dan Omega langsung tenggelam dibalik kubikel untuk mengecek beberapa email masuk. Ada sepuluh email yang siang ini dia terima. Tadi saat masuk kantor jam delapan Omega sempat melihat hanya ada tiga email, sekarang setelah makan siang sudah membelah diri jadi sepuluh rupanya.
Fyuh.
Yah setidaknya ini berguna untuk melupakan Barry.
Eh tapi dari tadi nama itu terus disebut.
Fyuh.
From : azhara.mentari@ golden-greek.com
To : Omega.Db@ KAPGTAR.net
Cc : internal.audit.recap@ golden-greek.com , Farhan@ KAPGTAR.net
Subj : Data Subsidiaries
Dear Ms. Omega
We are from internal audit division at Golden Greek Co. As you might acknowledge before, Golden Greek Co. has a total of 4 (four) subsidiaries companies in Indonesia. Internal audit division has finished auditing all subsidiaries until the final second quartal this year.
We would like to inform you that the raw and audited data would be ready for KAP Gilang, Thomas, Adri dan Rekan (KAP GTAR) to use if needed by the end of this month. Please reffer to internal.audit.recap@ golden-greek.com for the data requests.
Should you still have any question, please do not hesitate to contact us. Thank you.
Best Regards,
Azhara Mentari
Internal Auditor
Golden Greek Co.
www.golden-greek.com
Omega mengerutkan keningnya. Dia bingung membaca email dari internal audit PT Golden Greek. Seingatnya, dia tidak pernah meminta data dari mereka. Sebetulnya jarang sekali prosedur audit yang dipakai KAP GTAR sampai harus memakai data internal audit. Biasanya kalau bukan karena datanya tidak bisa dicari, ditelusuri , atau tidak ditemukan, mereka tidak akan meminta data pada internal audit.
Omega langsung membuka grup LINE timnya. Anggota grup itu ada duapuluh orang. Banyak memang. Pasti salah satu dari mereka yang sudah meminta data ke internal audit PT Golden Greek. Omega merasa harus tahu dulu sebelum membalas email ini.
Omega Db : Dear, siapa yang minta data ke Internal Audit Golden Greek ya?
Tidak perlu menunggu lama sudah terlihat kalau 12 orang sudah membaca pertanyaan itu. Belum ada balasan. Perlu menunggu sebentar lagi sepertinya. Sambil menunggu Omega memindai beberapa email lain dengan cepat. Rata-rata hanya berisi pertanyaan dari tim lain atau dari perusahaan yang sedang dia audit menanyakan mengenai laporan mereka yang sebelumnya telah Omega minta untuk diperbaiki.
Email paling baru datangnya dari Dessy tentang dokumen-dokumen perpindahan Golden Greek dari KAP Ahmad Adri ke kantor mereka. Semua data Golden Greek sudah lengkap dan tinggal on process ke bos Omega saja.
Ponsel di atas meja bergetar.
Ada balasan LINE.
Fajar Restapi : Leon kayaknya Meg. Kmrn dia ke KAP AA trs mereka datanya ada yg dr Internal Audit Golden Greek.
Omega Db : Eh buset. Terus Leon langsung minta? Nanya di grup dulu kan bisa.
Fajar Restapi : Leon mana Leon?
Muhamamad Reza : Leonnya masih di sbux kali. Mabok kopi.
Omega Db : Leon kalo baca ini langsung ketemu Pak Farhan sore ini. Si bos bisa marah nih kalo tahu lo minta-minta data ke Internal Audit. Macem gak bisa cari data sendiri aja lo.
Fajar Restapi : Lo lapor ke pak bos?
Omega Db : Email dr Internal Audit Golden Greek di cc ke pak bos.
Leon Leonardi : MAMPUS GW. Mbak Mega lo parah banget
Omega Db : Lo tuh parah banget. Pokoknya langsung ketemu pak bos aja. Males gw ngurusin lo
Leon Leonardi : Yah .. khilaf gw. Itu anak Internal Audit ada yang temen gw jd gw iseng aja mintain
Omega Db : iseng gundulmu
Dessy Chen : Leon mah gak gundul Mbak.
Omega Db : otaknya gundul
Leon Leonardi : kejam
Omega membiarkan saja chat terakhir dari Leon si biang kerok. Memang dasar kelakuan juniornya yang satu itu. Masuk cuma beda dua tahun dari Omega, tapi kelakuan kalau lagi penugasan masih tidak berubah juga.
Bukannya salah meminta data ke IA alias Internal Audit, tapi coba bayangkan apa gunanya perusahaan membayar mahal jasa external audit kalau datanya tetap saja pakai data IA. Diskusi mungkin boleh tapi jelas dari scope, goal, dan procedure IA itu berbeda dengan external audit. Leon benar-benar nggak bisa diatur memang.
Ponsel Omega kembali bergetar. Dia menengok dan menemukan notifikasi itu masih dari pesan line. Malas membalas karena pasti itu dari grup timnya, Omega menghiraukan notifikasi itu. Tak lama ponselnya bergetar lagi.
Mas Alfa calling.
Loh?
"Halo? Kenapa Mas Alfa?"
"Sorry telepon. Mas tadi ngeline kamu tapi gak read read jadi Mas telepon aja," suara Alfa agak sumbang.
"Mas Alfa lagi flu?" tanya Omega.
"Ih kok tahu? Perhatian banget, Mega" Alfa malah berkelakar. Kurang ajar memang. Hal-hal begini tidak biasa dan membuat Omega tiba-tiba jadi panas dingin.
"Dari suaranya kali, Mas." Omega menjawab sambil menahan pipinya yang entah kenapa terasa panas sekali, "Eh ini kenapa Mas Alfa telepon? Aku belum sempat cek line."
"Itu, kata staff Mas, KAP kamu minta data anak IA? Emang udah mau mulai audit? Mas kira masih September nanti."
Lah memang masih September. Ini saja masih proses pemindahan sekaligus pengecekan beberapa asumsi yang harus disamakan antara Golden Greek dengan KAP GTAR. Asumsi-asumsi mulai dari tingkat toleransi kesalahan, tingkat toleransi risiko, dan masih banyak lagi. Omega sudah pusing dengan segala prosedur audit Golden Greek yang belum selesai dan isu ini sudah sampai saja ke telinga Alfa. Huh. Semua karena Leon meminta data nggak jelas begitu jadi geger satu kantor. Omega masih terus merutuk dalam hati.
"Memang belum kok, Mas. Masih on progress ini. Anak timku inisiatif duluan karena dia nemuin KAP sebelumnya ada pakai data dari IA. Mungkin datanya susah di-trace jadi dia mau antisipasi," Omega dengan mulut lihainya mencoba menjelaskan sedemekian hati-hati agar tidak menyalahkan Leon.
"Kalau ada data yang nggak bisa didapat lapor ke Mas aja, Meg. Jangan minta ke IA. Biar mereka bilang bisa bagi data tapi kan ada beberapa data confidential lagian malah jadi asymetry data nanti. Mas akan usahain semua yang bertugas ngasih data itu ke KAP kamu akan ngelaporin dengan baik. Oke?"
Ya ampun, Alfa. Baik sih memang. Kelewat baik malah. Suruh lapor ke dia aja? Omega masih punya bos yang bisa urus semua itu sih. Lagian nanti apa gunanya lima tahun belakangan ini kalau Omega dekat-dekat lagi dengan Alfa lalu ... HUSH HUSH HUSH. Mega gerah sendiri dengan logika berpikirnya yang semakin mengada-ada.
"Gampang lah bisa diatur, Mas. Aku harus urus banyak lagi nih, Mas. Udah dulu ya."
"Oh iya, Meg. Have a good day"
"You too, Mas."
***
Hari ini pekerjaannya sudah selesai jam tujuh malam sehingga Omega terpaksa pulang. Padahal dia ingin sekali bekerja sampai besok pagi lagi supaya tidak harus bengong seperti sekarang ini. Kalau bengong pasti jatuhnya jadi mengulang masa lalu. Memutar semua kenangan-kenangan yang ada.
Sambil tiduran di kasur dan mendengar lagu Payung Teduh diputar, Omega bengong lagi. Pikirannya lari pada Barry. Laki-laki penuh karisma yang suka berdiri di atas panggung dengan gitarnya. Tangannya yang penuh otot itu akan semakin terlihat kekar saat disandingkan dengan gitar listrik merah kesayangannya. Wajahnya yang keras dengan bentuk rahang yang tegas seolah berkata bahwa dia bisa menaklukan wanita manapun dengan mudahnya.
Termasuk Omega.
Meskipun dia lebih banyak tertarik dengan kepribadian Barry bukan penampilan luarnya. Barry ini sangat supel dan hangat. Dia bisa akrab dengan siapapun. Mulai dari tukang ojek langganan Omega yang parkir di dekat pintu belakang gedung kantor sampai kedua orangtua Omega yang biasanya sangat susah ditaklukan. Barry pintar dan berpengetahuan luas. Kebiasaannya membaca apapun, menulis apapun, dan membuat lagu membuat dia semakin charming lagi.
Lebih dari semua itu, kemampuan Barry menenangkan Omega adalah hal yang paling dia sukai dari Barry. Pada awal hubungan mereka, Omega tidak benar-benar mencintainya, hanya merasa nyaman. Namun semakin dijalani, Omega semakin jatuh bersamanya.
Ah.
Dulu sekali dia juga pernah jatuh, tapi Barry mengangkatnya. Sekarang saat dia jatuh pada Barry, apa akan ada yang membantu mengangkatnya lagi?
Orang itu mungkin? Yang sebelum ini pernah membuatnya jatuh.
Alfa.
Sosok yang dengan mata hitam dan tubuh tinggi tegapnya bisa membuat Omega lupa kalau saat itu dia hanya remaja berumur delapanbelas tahun yang bahkan belum legal. Sosok yang masih dengan mata hitam dan tubuh tingginya muncul lagi dalam keseharian Omega sebagai sosok yang baru. Alfa yang sekarang bukan lagi Alfa yang Omega kenal sepuluh tahun lalu. Alfa yang dulu tidak akan pernah menggodanya.
Alfa yang dulu selalu memperlakukan Omega seperti orang yang penting. Dia selalu memperlakukan Omega sebagai anak delapanbelas tahun yang harus dijaga seperti adiknya. Alfa yang dulu tidak akan pernah membuat pipi Omega memerah karena kata-katanya.
"Eh tapi lo nggak boleh suka sama kakak gue, ya. Dia udah punya cewek tahu, dan ceweknya itu sempurnaaaaaa banget. Pokoknya mereka bener-bener pasangan sempurna...."
Omega kembali teringat akan kata-kata Zeta.
Ah ya, hati Alfa sudah dimiliki orang lain. Orang lain yang jauh lebih sempurna darinya untuk bersanding dengan Alfa. Orang lain yang jauh lebih diimpikan Zeta untuk menjadi pasangan Alfa. Orang lain yang membuat Omega meninggalkan Jakarta lima tahun lalu.
Gema.
Kekasih Alfa yang lima tahun lalu sudah beralih status menjadi mantannya.
Omega tidak tahu persisnya alasan Alfa putus dengan Gemma. Zeta hanya pernah bercerita padanya bahwa Gema yang lebih tua dua tahun dari Omega dan Zeta, memutuskan untuk pindah ke Paris demi mewujudkan mimpinya menjadi perancang busana. Alfa yang jelas tidak bisa mengikuti keinginan Gemma untuk pindah ke Paris akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.
Gema adalah sosok panutan bagi Zeta. Kemantapan Zeta menjadi perancang busana bahkan kuliah di Paris juga kebanyakan karena dia berkiblat pada gadis cantik itu. Gema memang perempuan yang nyaris sempurna. Pintar, cantik, baik, dan berbakat. Apa lagi yang kurang?
Tentu saja, kurang tahu diri. Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan Alfa? Omega benar-benar tidak habis pikir. Zeta berpikiran lain, menurutnya Gema hanya ingin membuktikan pada Alfa bahwa dia bisa berdiri sendiri meskipun Gema masih mencintai Alfa. Alasan itu yang membuat Zeta hingga detik ini masih mendukung hubungan Alfa dan Gema untuk kembali seperti dulu lagi.
Omega tidak tahu bagaimana dengan Zeta, tapi jujur dia tidak bisa tahan melihat Alfa saat itu. Berat badan pria itu turun drastis, kalau ditanya kerap linglung, lebih banyak diam daripada tersenyum atau bahkan bicara. Omega yang masih sering main ke rumah orangtua Zeta saat itu, menyaksikan sendiri bagaimana Alfa bahkan dipaksa cuti dari kantor karena menurut ayahnya, Alfa sedang tidak dalam kondisi yang bisa bekerja dengan baik.
Bagaimana bisa seseorang hancur sedemikian parah karena urusan cinta?
Sedih adalah gambaran perasaan Omega kala itu. Tidak kuat melihat Alfa sedemikian terlukanya, Omega memutuskan pergi dari Jakarta. Orang lain mungkin tega, tapi dia tidak. Hal yang paling dia tidak suka di dunia adalah menyaksikan orang-orang yang dia sayangi terluka. Karena Omega tidak bisa menyelesaikan masalah Alfa, maka lebih baik dia pergi saja. Menghindari Alfa adalah hal yang dilakukannya sejak pergi ke New York. Sayang sekali takdir membawa Alfa kembali pada hari-hari Omega.
Dalam sosoknya yang baru.
Alfa sebagai Alfa. Alfa Bintara, direktur keuangan klien Omega, garis miring orang yang akan sering dia hubungi dalam masa penugasan ke depan, garis miring a very demanding eligible bachelor in the market.
Astaga, Mega. Mas Alfa itu terlarang. Ingat Zeta ... ingat Zeta .. ingat Zeta ...
Omega menepuk pipinya menyadari kebodohan pola pikirnya kali ini.
Dia tidak ingin lima tahun yang sudah dia jalani jadi sia-sia.
Duh.
Sakit di dadanya kambuh lagi.
Saat seperti ini, bayangan akan Barry muncul lagi. Dia memang butuh Barry.
Sakit lagi.
***
ps:
so that you all know, Alfa & Omega sudah selesai di-edit, semoga bisa segera masuk ke proses berikutnya. hihihihi. see you soon!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top