Eps 5: Date (1)
Mobil lamborghini itu melenggang seksi di jalan beraspal. Bodynya yang garang terlihat gagah terkena sinar mentari yang tak terlalu terik pagi ini. Di dalamnya, Karamatsu yang sedang mengemudi bersenandung pelan mengikuti alunan lagu dari radio. Sementara itu Ichi menikmati pemandangan dari luar jendela. Sejak keluar dari gerbang mewah rumah, keduanya sama sekali tidak bicara.
"Apa kau haus?" Karamatsu mendadak membuka pembicaraan duluan. Matanya melirik ke arah Ichi melalui kacamata hitamnya yang mengkilap.
"Eh? Euhm. . . Un." Ichi kaget dan bingung karena tiba-tiba di ajak bicara. Ia pun hanya mengangguk meski sebenarnya tidak terlalu haus. Pemuda ini menolak untuk melihat Karamatsu langsung karena merasa sakit dengan sikapnya yang sedang mode Sunglasses On.
"Di kursi belakang ada dispenser kecil. Ambillah yang mana pun kau mau." Ujar Karamatsu yang masih sibuk menyetir.
"Ya." Ichi membuka sabuk pengaman dan memutar tubuh. Tak perlu lama menemukan dispenser yang Karamatsu maksud. Sebab benda itu ada di tengah-tengah kursi belakang.
Ketika di bukanya, Ichi mengernyitkan alis melihat daftar minuman di dalamnya. Kaleng dengan label alchohol, vodka, anggur, sampai champange berjejer rapi seolah memang sudah di siapkan secara sengaja. Hanya ada satu minuman yang tidak mengandung alchohol yang ia temukan. Jus lemon. Ichi terpaksa memilih minuman dengan rasa asam itu karena ia masih di bawah umur. Mendadak ia penasaran.
Berapa umur Karamatsu? Untuk apa minuman sebanyak ini? Apa dia pemabuk berat? Ichi belum berani bertanya tentang itu.
Crak!
Ichi membuka kaleng minuman yang ia ambil ketika kembali duduk di kursi depan. Ia memperhatikan pemandangan yang terlihat di jalan yang tengah di lewatinya. Ini tengah kota.
"Kita mau kemana?" Tanya Ichi.
"Heum? Aku berencana untuk membelikan baju untukmu." Jawab Karamatsu.
Sorot mata Ichi menyatakan kebingungan, di samping itu pula dia segan. " Ti-tidak perlu." Tolaknya.
"Kau yakin?" Nada suara Karamatsu terdengar terkejut. "Kau tidak punya baju ganti, kan? Meski pun sejak kemarin kau memakai baju lungsuranku, tapi setidaknya kau bisa memiliki baju yang kau suka." Ucapnya.
Ichi tak kalah terkejut mendengar kata-kata Karamatsu. "Ini. . . Baju yang kupakai punyamu?" Serunya merinding memandang baju yang ia pakai yang Todomatsu berikan.
"Ya. Aku meminta Todomatsu untuk memakaikanmu baju-bajuku. Bagus, kan? Tentunya. Kau terlihat tampan mengenakannya, Ichi." Karamatsu mengeluarkan charming menyakitkannya seraya mengibaskan poni.
Ichi menggigil dan sedikit mengambil jarak. Ia masih belum terbiasa dengan sikap menyakitkan Karamatsu. Matanya teralihkan pada lukanya yang masih di perban. Ia melihat tangannya sendiri.
Todomatsu memang maid yang trampil, puji Ichi dalam hati. Tadinya Ichi menolak luka ini di tutup, tapi maid itu berkeras tentang kesempurnaan berpenampilan dan juga tuannya yang mungkin khawatir kalau melihat luka ini. Pemuda itu refleks melirik Karamatsu yang ada di sebelahnya.
Pria ini mengkhawatirkannya? Kenapa?
Mobil lamborghini menepi di depan sebuah butik khusus pakaian pria di sebuah distrik perbelanjaan besar yang dijajari toko-toko serta restaurant untuk kalangan menengah ke atas.
"Kita sudah sampai." Kata Karamatsu. Ia mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman. Ia pun turun duluan dengan cepat.
Ichi melepas sabuk pengamannya dan matanya mengikuti gerakan Karamatsu yang bergerak memutari mobilnya, pria itu berhenti dan membukakan pintu untuk Ichi.
"Nah, mari." Karamatsu mengulurkan tangan. Kacamata hitamnya yang sedikit turun itu memperlihatkan mata tajamnya yang menatap Ichi seraya tersenyum maskulin.
DEG
Jantung Ichi berdetak keras, pipinya memanas. Loh? Aneh?!
Ia menerima uluran tangan Karamatsu dan turun dari mobil. Mereka tak langsung masuk ke dalam butik.
"Apa kau ingin melihat-melihat ke tempat yang lain dulu, Ichi?" Tanya Karamatsu saat melihat Ichi yang langsung melongo ke kanan dan kiri.
Ichi menggeleng. "Tidak perlu."
Pria itu menatap Ichi sedikit lama. Jemarinya tiba-tiba menyisiri rambut Ichi yang belum satu jam sudah mulai mengembang.
Sadar ada sentuhan asing, pemuda kurus itu mendongakkan kepala. "A-ada apa?" Tanyanya panik, suhu tubuhnya mendadak naik karena tak terbiasa dengan sentuhan tiba-tiba.
"Ponimu. Kurasa kau lebih bagus kalau memperlihatkan wajahmu." Ucap Karamatsu lembut.
Blush!
Wajah Ichi memerah hingga ke telinga. Ia buru-buru memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
A-apa ini?! Teriak Ichi dalam hati. Kenapa tingkahnya mendadak jadi salah tingkah begini? Padahal tadi itu hanya ketidaksengajaan.
"Kenapa, Ichi?" Tanya Karamatsu.
Apa hanya perasaannya, tapi sejak turun dari mobil tadi, aura menyakitkan Karamatsu seperti hilang?
Psstt. . . . Pssstt. . . . Psst
Ichi samar-samar mendengar bisik-bisik yang tak jauh dari posisi mereka. Ia melirik dan baru menyadari, bahwa pandangan orang-orang di sekelilingnya mengarah pada mereka. Tepatnya pada Karamatsu. Ada yang sengaja berhenti dan ada pula yang pura-pura lewat di dekat mereka. Para gadis muda dan bahkan para wanita berkumpul membentuk group kecil. Mereka berbisik dengan tatapan terkagum serta tertarik pada sosok Karamatsu yang menurut mereka sosok pria ideal.
Sosok pria ideal? Pria menyakitkan ini?
"Ada apa? Wajahmu merah. Kau sakit?" Tanya Karamatsu khawatir. Ia memeriksa kening Ichi.
Pemuda kurus ini menatap sosok yang lebih tinggi darinya ini. Mata tajam dengan alis tegas dan senyum maskulin di balik kacamata hitamnya yang belum di lepasnya ini, menyakitkan! Tapi kenapa ada perasaan lain yang berdesir di dada Ichi saat melihatnya?
"A-aku tidak apa-apa. Ayo cepat kita masuk." Seru Ichi yang semakin salah tingkah. Ia refleks mendorong pelan tubuh Karamatsu.
"Oh, oke." Karamatsu tak mengetahui apa yang terjadi pada Ichi dan mengikuti kata-kata pemuda itu.
Keduanya masuk ke dalam butik yang keseluruhannya di dominasi pakaian pria dewasa namun ternyata di bagian terdalamnya juga ada pakaian-pakaian dengan model yang sedang tren untuk anak remaja. Ichi tak melepas pandangannya. Harganya pasti mahal-mahal.
"Wah! Wah! Wah! Sepertinya aku mendapat kunjungan tamu yang tak disangka-sangka." Sebuah suara pria yang sedikit cempreng menarik mata Ichi.
"Lama tak jumpa, Iyami-sensei." Sapa Karamatsu dan menjabat pria bermata sipit dengan gigi tonggosnya yang mengkilap serta dandanannya yang sangat mencolok itu.
"Kau yang biasanya hanya bisa di hubungi lewat telepon, tak biasanya mau menghampiri butikku. Apa hari ini ada sesuatu yang membuat moodmu bagus?" Tanya Iyami-sensei.
"Cuaca hari ini cukup cerah meski sedikit berangin dan seluruh bunga mawar di perkaranganku sedang mekar sempurna. Kuputuskan untuk mengunjungi anda meski hanya setahun sekali. Maaf aku tak membawa buah tangan untuk pertemuan kita kali ini." Jawab Karamatsu. Ia melepas kacamata hitamnya.
"Kheh! Kau tak perlu mengirimiku buah tangan. Jadi, ada perlu apa datang kemari?" Iyami-sensei langsung to the point seraya mengetuk keras tongkatnya pada lantai berubin.
Karamatsu menoleh pada Ichi. "Keluarkan seluruh koleksi terbaikmu untuknya, Iyami-sensei." Ucapnya.
Iyami-sensei menatap tajam Ichi dari posisinya.
Ichi merasa tak nyaman dengan tatapan itu.
Lelaki yang hampir memasuki umur empat puluh itu mendekati Ichi. "Kheh! Karamatsu! Kau menyuruhku untuk memberikan koleksi terbaikku pada bocah kurus ini? Lihat lengan ini, bentuk tubuhnya, dan wajahnya yang pucat. Apa kau mengurusnya dengan baik?" Protesnya dengan terus mengkritik.
"Jangan meremehkannya, Iyami-sensei. Kau belum tahu potensi tersembunyi dari pangeran tampan itu." Ujar Karamatsu dengan percaya diri.
Ichi melirik Karamatsu. Memberi kode kalau ia tak suka pada lelaki di depannya. Karamatsu menangkap itu dan melempar senyum. Wajah Ichi panas lagi, ia menarik matanya.
"Kau yang meremehkanku, Karamatsu." Iyami-sensei terus berceloteh. Ia berkacak pinggang dan terus menatap Ichi dengan jarak yang sangat dekat dengan wajah serius seraya mengetuk-ngetuk sepatu pentofel mahalnya. "Heum! Kamu. . . . . Aku merasa dulu pernah melihatmu." Ucapnya sambil mengusap dagu.
Ichi terbelak. Ia hampir tersentak. Nafasnya mendadak tercekat dan tenggorokannya kering. Pemuda ini membeku.
"Apa hanya perasaanku? Tapi sepertinya dulu kau sering datang ke daerah sekitar sini." Iyami-sensei merasa sangat penasaran. Ia memutar otaknya.
Jantung Ichi berdetak cepat, seolah ia sedang berlari. Lari dengan cepat menghindari sosok Iyami-sensei yang perlahan mengetahui masa lalunya dan mengingatkannya pada kehidupannya yang dulu.
"Aku rasa itu hanya perasaanmu saja, Iyami-sensei." Hela Karamatsu.
"Heum! Aku yakin tidak. Aku sangat yakin dengan insting dan ingatanku." Iyami-sensei menoleh pada Karamatsu.
Ichi bernafas lega saat Iyami-sensei melepas tatapan darinya. Ia mengatur nafasnya yang memburu.
"Mungkin saja ingatan anda tumpang tindih dengan wajah orang lain yang mirip dengannya. Anda kan orang sibuk yang setiap hari bertemu dengan wajah-wajah baru yang mengagumi karya anda." Ujar Karamatsu lagi.
Iyami-sensei menatap Karamatsu. Mereka saling kontak mata. Ia menghela nafas. "Aku tak sanggup kalau harus berdebat denganmu." Gumamnya mengalah. "Baiklah! Sesuai permintaanmu, aku akan mengeluarkan seluruh kemampuanku pada anak ini."
CTEK!
Drap drap drap drap drap
Iyami-sensei menjentikkan jarinya, para bawahannya berlari cepat dan berbaris siap di belakangnya dengan teratur.
"Siap, Iyami-sensei." Seru mereka yang terdiri dari lima lelaki dan tiga perempuan. Tanpa banyak aba-aba kedelapan orang ini menarik Ichi ke ruang belakang.
"Eh?" Ichi awalnya sempat panik. Ketika matanya bertemu Karamatsu, lelaki itu mengangguk seolah mengatakan tidak-apa-apa-aku-menunggumu-di-sini. Ia pun berubah penurut.
"Kau tunggulah di ruanganku selama aku melakukan pengukuran. Di sana sudah ada pelayan yang akan melayani." Ucap Iyami-sensei.
"Terima kasih. Aku tak sabar menunggu hasilnya." Karamatsu tersanjung.
"Tunggu sebentar. Bagaimana kabar yang satu lagi?" Iyami-sensei mengalihkan pembicaraan sebelum Karamatsu pergi.
Karamatsu terdiam sesaat. Ia mengulas senyum. "Dia baik-baik saja. Mungkin." Jawabnya seadanya.
"Dasar! Kalian masih saja menyusahkan seperti dulu. Umur kalian berdua sudah dua puluh tiga tahun, kalian bukan anak kecil lagi. Berhentilah bermain-main." Omel Iyami-sensei.
"Aku sama sekali tak pernah main-main dengan apa yang ada di depanku. Justru. . . . . Dialah yang sejak dulu selalu seperti itu." Nada suara Karamatsu berubah di kalimat terakhirnya saat terlintas di dalam kepalanya bayangan sosok seseorang yang satu darah dan satu orangtua dengannya itu. Ia memutar tubuh. "Aku akan menunggu anda. Aku harap anda bisa membuatku puas." Ucapnya seolah ingin kabur sambil melambaikan tangan.
Iyami-sensei memandang punggung Karamatsu yang menjauh. "Dasar! Kakak beradik yang sangat merepotkan." Gumamnya dan mendengus keras.
Tbc~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top