🌼2
.
.
.
Perlahan-lahan kelopak matanya dicelikkan dari terus terpejam rapat. Saat penglihatannya mula terlihat luas dan jelas, lambat-lambat dirinya menundukkan tatkala merasakan dirinya berada di dalam posisi berdiri, tak lagi terlantar.
Masih keliru, perlahan-lahan kepalanya diangkat dengan matanya mula bergerak perlahan ke segenap ruang di sekitarnya yang tidak begitu asing baginya, hospital.
Terlihat koridor itu cukup sibuk dengan tingkah manusia namun tak satu pun mempedulikannya, seolah-olah dirinya tidak terlihat ada di situ.
Beberapa detik masa berlalu, dirinya masih di situ, berdiri tanpa tuju sehinggalah sepasang matanya kini tertumpu tepat pada wad yang terletak betul di hadapannya tika itu.
Perlahan-lahan langkahnya diatur, mendekati cermin kaca yang terletak luas di hadapan muka wad itu, menjadi pemisah antara dalam dan luar ruangan itu.
Lambat-lambat langkahnya terhenti tepat di hadapan wad itu saat melihat penghuni-penghuni kecil di dalam wad itu, bertarung nyawa di dalam inkubator yang tersusun rapi di hadapannya.
Dengan matanya masih menatap lembut satu per satu bayi-bayi di hadapannya tika itu, terlihat perlahan-lahan bibirnya mengukirkan senyuman halus.
Masih jelas diingatannya saat dirinya bertemu dan menatap anak perempuannya untuk kali yang pertama, Jeon Naeun.
Kini perlahan-lahan senyumannya mulai terlihat hambar saat dirinya mula teringatkan isterinya dan bayi mereka yang dirinya sendiri tidak pasti, sama ada sudah lahir atau belum.
"Appa harap, kamu lahir dengan sihat.. omma pun sihat, dah cukup buat appa.."
Tuturnya perlahan dengan senyuman hambar masih terukir di bibirnya, tidak lepas matanya dari terus menatap wajah suci si kecil di hadapannya tika itu, satu per satu.
Sehinggalah panahan matanya terhenti pada seorang bayi yang sedang nyenyak tidur di dalam inkubator yang ditempatkan pada barisan paling hujung.
Hatinya mula diusik dengan satu perasaan saat menatap wajah tenang bayi itu.
Perasaan yang sama persis saat dirinya menatap wajah Naeun untuk kali yang pertama.
Dengan senyuman masih terukir di bibirnya, langkahnya diatur perlahan mendekati bayi itu sebelum lambat-lambat langkahnya terhenti saat membaca nama yang tertulis pada kad nama inkubator milik bayi itu.
Nama bayi : JK Junior
Nama ibu : Choi Yerim
"Yerim.."
Perlahan nama itu meniti di bibirnya namun dirasakan cukup menyesakkan dadanya. Sekelip mata, tubir matanya dirasakan cukup sarat dengan genangan air mata.
Dengan tatapan tidak percaya, sepasang matanya kembali menatap lembut wajah bayi itu, yang diberi nama versi kecil bagi dirinya.
Senyuman terukir di bibirnya namun dirasakan air matanya laju saja melurut jatuh membasahi pipinya.
"Terima kasih, Yerim.."
Tuturnya perlahan dengan senyuman. Dadanya dirasakan cukup sesak menahan sebak saat menyebut nama isteri kesayangannya itu.
Andai diberi peluang untuk bertemu dengan isterinya sekali lagi, walau untuk kali yang terakhir, itu sudah cukup buatnya.
Perlahan-lahan matanya dipejamkan, berdoa sesungguhnya pada tuhan, mengharapkan keajaiban agar permintaan terakhirnya dimakbulkan.
"Jeon Naeun."
"Jangan lari, jatuh nanti."
Kelopak matanya dicelikkan saat suara itu menyapa perlahan pendengarannya.
Suara itu..
Suara seseorang yang dirinya cukup rindukan.
Lantas dirinya menoleh.
Untuk seketika, dirinya menjadi kaku saat melihat susuk tubuh seorang wanita dan susuk tubuh kecil seorang kanak-kanak perempuan semakin kian menghampirinya.
Ternyata sangkaannya tepat saat melihat dua bidadari kesayangannya itu wujud bagaikan mimpi di hadapannya tika ini. Choi Yerim dan Jeon Naeun.
Terlihat Naeun terlebih dulu sampai padanya buatkan dirinya menunduk, menatap wajah bidadari kecil kesayangannya itu.
"Naeun-ah.." Panggilnya lembut dengan senyuman. Penglihatannya yang mula dirasakan kabur dengan air mata langsung tidak mengganggunya dari terus menatap wajah anak perempuannya yang sama persis sepertinya itu.
Kini tangannya mengelus lembut kepala Naeun namun sentuhannya mahupun panggilannya terlihat tidak menberi apa-apa kesan pada Naeun.
"Kan dah cakap jangan lari, nanti jatuh."
Perlahan-lahan kepalanya diangkat saat suara itu, sekali lagi menyapa lembut pendengarannya. Suara yang dirinya cukup rindukan.
Wajah Yerim yang masih terlihat lelah dan pucat ditatap lama. Dadanya dirasakan cukup sesak saat menatap wajah isterinya tika ini.
Isterinya yang sedang tersenyum, menatap lembut wajah Naeun tika itu, ditatap dengan air mata yang mulai tak tertahan.
Senyuman yang diukirkan hanya untuk menyembunyikan kesedihannya.
Perlahan-lahan telapak tangannya menyentuh lembut pipi Yerim namun dirinya tahu, hanya dirinya dapat merasakan sentuhan itu tatkala melihat Yerim langsung tidak terkesan buatkan air matanya semakin deras mengalir.
Walaupun dirinya tahu setiap sentuhannya langsung tidak memberi apa-apa makna buat isteri dan anaknya, tubuh Yerim dan Naeun tetap dipeluk erat dengan matanya terpejam rapat, menangis.
Dadanya dirasakan cukup sesak menanggung sebak yang menyesakkannya saat tahu, mungkin isteri dan anaknya tidak merasakan apa-apa saat ini namun pelukannya pada tubuh mereka dirasakan cukup jelas dan nyata buat dirinya.
.
.
.
Sejak tadi dirinya masih setia memerhati dan mendengar perbualan isteri dan anaknya yang kadangkala buatkannya tersenyum sendiri.
Sementara isterinya sibuk berbicara dan menatap lembut wajah Naeun, dirinya pula tidak jemu dari terus merenung redup wajah isteri kesayangannya itu, melepaskan segala kerinduannya pada wanita itu.
Terlihat dirinya kini menunduk, mengusap lembut rambut Naeun sebelum dirinya mengangkat kepala, memandang anak bongsunya yang terlihat sudah terjaga dari tidurnya di dalam inkubator sana.
Terukir senyuman di bibirnya saat menatap bayi lelaki yang masih diberi panggilan versi kecilnya itu, terlihat sangat comel di matanya.
Namun renungan matanya kembali tertumpu pada Yerim saat isterinya itu mula dilihat duduk bertinggung di hadapan Naeun.
"Naeun-ah.."
"Omma nak pergi tandas, Naeun duduk sini, tengok-tengokkan adik, boleh?"
"Boleh!"
Kini Yerim yang sedang tertawa ditatap lama. Sepasang mata isterinya yang terlihat berkaca saat menatap wajah anak perempuan mereka tika itu ditatap lama.
"Janji dengan omma, jaga adik baik-baik ya? Jagakan adik untuk omma dengan appa.."
Tersentak saat permintaan itu meniti di bibir isterinya. Wajah Yerim yang terlihat tenang dengan seulas senyuman itu ditatap lama sebelum terlihat isterinya itu mula mengalirkan air mata.
"Naeun pun, jaga diri ya?"
Kali ini terlihat tangan isterinya itu mula menyentuh lembut pipi Naeun sebelum dielus lembut.
"Omma sayang Naeun, sayang sangat-sangat.. Ingat sampai bila-bila ya?"
Saat mendengar pesanan terakhir dari isterinya itu buat Naeun, dirinya mula merasakan sesuatu.
Kali ini terlihat Yerim mulai bangun dari terus duduk bertinggung di hadapan Naeun yang terlihat masih keliru.
"Naeun duduk sini sampai Aunty Somi datang ya? Jangan ikut omma.."
Sebaik saja larangan itu diberikan kepada Naeun, terlihat Yerim mula mengatur langkah laju meninggalkan Naeun sendirian.
Saat melihat susuk tubuh Yerim mula mengatur langkah pergi, kata hatinya kuat menyatakan pada dirinya sendiri untuk mengekori isterinya namun pada masa yang sama, dirinya tak mampu meninggalkan Naeun sendirian di sini.
"Omma.."
Saat dirinya mula dilema, terlihat Naeun mula mengatur derapan kaki kecilnya ingin mengikuti Yerim sebelum lambat-lambat langkahnya terhenti, seolah-olah teringat kembali pesanan terakhir Yerim buat dirinya, untuk menjaga adiknya.
Untuk seketika Jungkook hanya diam, menatap Naeun dan Yerim silih berganti sehinggalah tubuh isterinya hampir hilang dari pandangan matanya, barulah langkahnya diatur laju mengikuti isterinya. Sempat dirinya menoleh, memandang Naeun.
.
.
.
Sampai saja di dalam tandas yang dituju oleh Yerim, terlihat isterinya itu mula teresak-esak menangis.
Melihat keadaan isterinya sekarang cukup menyesakkan dadanya. Tahu tiada apa yang dirinya mampu lakukan untuk menenangkan isterinya tika ini.
"Saya dah tak larat, Jungkook.."
Matanya mula dirasakan berkaca saat mendengar luahan hati isterinya itu yang masih tidak mampu mengawal tangisannya.
"Awak kata saya boleh hidup tanpa awak tapi hakikatnya saya tak mampu.. sama macam hidup saya tanpa awak dulu.."
Dadanya dirasakan sesak saat melihat isterinya itu meluahkan segala isi hatinya dengan tangisan yang tak tertahan.
"Saya dah tak mampu, Jungkook.." Saat kata-kata diungkapkan, terlihat perlahan-lahan Yerim menunduk seraya tangannya menyeluk masuk ke dalam poket bajunya.
"Saya minta maaf.." Tuturnya lagi perlahan sebelum tangannya mula mengeluarkan sesuatu dari poket bajunya itu.
Terlihat riak wajah Jungkook mula berubah, tersentak saat melihat pisau lipat di dalam genggaman tangan Yerim.
"Yerim.." Panggil Jungkook perlahan namun sekelip mata, terlihat Yerim pantas menghiris pergelangan tangan kirinya dengan bilah tajam itu buatkan mata Jungkook terbuka luas.
"Yerim!"
Langkahnya diatur mendekati Yerim yang mengundur, mendekati dinding dengan dadanya yang turun naik mengatur nafas, menangis.
Serta merta langkah Jungkook terhenti, terkedu saat melihat Yerim mula mengelar lehernya sendiri sebelum tubuh wanita itu jatuh terduduk tepat di hadapannya.
"Apa awak buat ni, Yerim?"
Tanyanya cemas dengan langkahnya diatur laju mendekati isterinya itu yang masih teresak-esak menangis. Tanpa dirinya sedari, dirinya turut sama menangis.
"Kenapa buat diri awak macam ni?" Rintihnya dengan tangisan lalu tubuh isterinya dipeluk. Semakin teruk dirinya menangis saat merasakan tubuh isterinya tak lagi bermaya di dalam dakapannya.
"Kenapa sakitkan diri awak macam ni, Yerim?" Rintihnya dengan tangisan, tubuh isterinya masih didakap erat.
Terasa cukup sebak saat untuk kali yang terakhir, seolah-olah isterinya mula merasakan kehadirannya tika itu, terlihat sepasang mata milik isterinya itu kini merenung tepat sepasang mata miliknya.
"Jungkook.."
Semakin deras air matanya mengalir saat mendengar suara isterinya memanggil namanya lembut. Kini dirasakan tangan isterinya bergerak perlahan menyentuh pipinya.
"Iya, saya.. Ini saya, Yerim.." Tuturnya seraya mengangguk. Esakannya semakin jelas kedengaran saat isterinya mula tersenyum.
Namun dirinya menjadi kaku saat melihat senyuman isterinya itu kian memudar.
"Yerim, jangan buat saya macam ni.." Rayunya saat melihat mata isterinya perlahan-lahan terpejam rapat.
"Yerim.."
"Tolonglah jangan buat saya macam ni, saya merayu.."
"Yerim.."
Dengan dirinya masih teresak-esak menangis, tubuh isterinya dipeluk erat.
"Jungkook.."
"Jeon Jungkook.."
Perlahan-lahan matanya dicelikkan saat terdengar namanya diseru beberapa kali, semakin lama semakin jelas di deria pendengarannya.
"Jungkook, kau dah sedar?"
Matanya bergerak perlahan, dirasakan degupan jantungnya berdetak laju, turun naik dadanya mengatur nafas, air matanya dirasakan masih mengalir membasahi sisi tepi mata dan telinganya.
Terasa cahaya ditumpukan pada anak matanya beberapa kali sebelum terlihat wajah seseorang yang cukup dirinya kenali, sedang tersenyum padanya dengan matanya yang berkaca.
"Syukurlah kau dah sedar, Jungkook.."
.
.
.
—TO BE CONTINUED 🌼—
150 VOTES FOR NEXT CHAPTER! ;)💜
TERIMA KASIH PADA MEREKA YANG MASIH SETIA DENGAN CERITA NI! 😭💜
Sebarang persoalan mahupun kemusykilan sepanjang chapter ni, boleh tanya dekat sini. ;)
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top