Part 21 - Tidak Pernah Membutuhkan
Aruna membeku saat matanya dan mata Malik bertemu. Dunianya seperti berhenti. Dia merasakan déjà vu.
"Aruna, tidak sekarang, tidak di sini," bisik Sydney dan Aruna memutus kontak mata dengan Malik dan menoleh ke temannya yang masih menarik tangannya dan sekarang menatap dengan sendu.
"Aku harus bicara dengannya," kata Aruna pelan berusaha menarik tangannya dari Sydney.
"Aruna please. Listen to me. Pernikahan kalian tinggal sebulan. Jangan mengacaukannya. Kau tunggu di luar bersama Gilang. Aku yang akan memanggil Malik. Please," pinta Sydney dengan mata bergetar.
Aruna kembali menoleh ke Malik dan pria itu masih menatapnya.
"Ada apa?" tanya Gilang yang tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan kedua temannya.
"Gilang, tolong temani Aruna ke depan dan tunggu aku di sana," perintah Sydney.
Gilang sudah membuka mulutnya hendak bertanya, tapi Sydney memotongnya. "Aku akan menceritakan semuanya nanti."
Sydney mengangguk dan Gilang pun demikian. Gilang memegang pundak Aruna dan mengajaknya ke depan.
*
Sydney mengepalkan tangan. Kalau saja saat ini dia tidak berada di sini, dia mungkin sudah benar-benar mencabik-cabik wajah Wulan. Sydney meminta maaf kepada beberapa temannya yang meminta foto bersama dan berjalan mantap ke arah Wulan dan Malik.
Dia melihat Wulan berdiri bersama beberapa teman wanita dengan Malik di sampingnya.
"Hai Malik, kau ingat aku kan?" tanya Sydney dengan raut wajah penuh emosi. Malik hanya menjawab Ya singkat.
"Aruna menunggumu di depan. Dia ingin bicara denganmu," sambung Sydney.
Wulan yang sebelumnya sibuk bermain sok manis dan baik di depan teman-temannya akhirnya menoleh dan mendekat ke Malik. "Apa apa?" tanya Wulan pada Malik dan mengabaikan Sydney yang jelas-jelas berada di depannya.
"Aruna mau bicara denganku. Kau tunggu di sini. Aku akan segera kembali," jawab Malik dan Sydney mendengus dengan sangat keras.
"Aku ikut," pinta Wulan.
"Kau tunggu di sini," kata Malik tegas dan dia berjalan mantap menuju pintu depan.
Sydney masih berdiri di sana dan menatap Wulan dari atas hingga ke bawah.
"Apa kau tidak membersihkan kotoran di mukamu?" kata Sydney dengan pandangan mencemooh ke Wulan. Wulan buru-buru mengeluarkan kaca di pouch yang dia bawa dan melihat pantulan wajahnya. Dia mengernyit karena sepertinya tidak ada kotoran di sana.
Sydney tertawa pelan. "Tentu saja kau tidak bisa melihatnya. Kotorannya besar sekali sayangnya hanya orang lain yang bisa melihatnya. Sampai kapan pun kau tidak akan bisa menghapusnya karena kau sendiri tidak bisa melihatnya sendiri," ejek Sydney kemudian berbalik dan berjalan menjauh.
*
Malik melihat Aruna sedang berdiri dengan wajah mematung di samping seorang pria, yang sepertinya teman SMAnya. Malik belum siap. Dia tidak ingin melihat wajah Aruna seperti ini lagi. Namun kemudian dia kembali mengingatkan dirinya bagaimana Aruna akan berubah setelah mengetahui tentang orang tuanya.
"Ada apa?" tanya Malik yang berdiri hanya dua langkah dari Aruna.
"Ada apa? Malik apa serius hanya bertanya ada apa?" tanya Aruna dengan mulut tercekat.
"Malik?" Gilang menatap Malik dan Aruna bergantian dan sepertinya sedikit memahami situasinya. "Aku tinggalkan kalian berdua dulu."
Hanya Malik yang menoleh sebentar ke Gilang sedangkan Aruna masih menatap Malik tajam.
"Aku kesulitan menghubungimu beberapa hari ini dan sekarang kamu muncul bersama Wulan. Apa kau akan menikah dengan Wulan sebulan dari sekarang?" ringis Aruna.
"Tentu saja aku muncul bersamanya. Dia memintaku untuk menemaninya. Kau tidak. Kau bahkan sepertinya tidak ingin aku ikut denganmu," tukas Malik dengan dingin.
"Aku sudah mengatakan padamu aku akan datang ke acara reuni," balas Aruna.
"Ya, tapi kau tidak memintaku untuk menemanimu. Wulan memintaku. Dia membutuhkanku. Kau tidak. Sepertinya kau memang tidak pernah membutuhkanku," kata Malik masih dengan nada datar dan raut muka dingin.
Kedua mata Aruna sudah mulai berkaca-kaca namun dia menahannya agar air matanya tidak jatuh. "Apa maksudmu aku tidak membutuhkanmu? Apa yang sedang kita lakukan ini? Kenapa kita bertengkar seperti ini?" tanya Aruna dengan nada bergetar.
Malik menunduk sekali dan menghela napas berat. Dia kemudian mendongak dan menatap Aruna. "Ya. Beberapa kali sepertinya kau tidak ingin melibatkan aku. Saat kau memutuskan untuk tinggal di New York, kau baru mengatakan padaku dua hari sebelum hari kepulanganku. Kau menata sendiri studiomu saat aku berharap kita bisa melakukannya bersama. Kau juga bertemu dengan temanmu Sebastian beberapa kali tanpa memberitahuku. Jadi apa aku ini sebenarnya?" desak Malik.
Aruna mengatupkan bibirnya rapat, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. "Apa maksudmu? Apa kau tidak sadar aku sudah tergila-gila padamu sejak kita masih duduk di bangku sekolah? Kenapa kau bertanya seperti ini padaku. Kenapa kau tiba-tiba meragukanku? Kita sudah mempersiapkan pernikahan kita bersama. Tapi kenapa ... sekarang ... kita membahas hal seperti ini? Kita baik-baik saja sebelumnya," racau Aruna.
"Kita baik-baik saja? Itu menurutmu. Kita bicara lagi lain kali. Wulan menungguku di dalam," kata Malik kemudian berbalik. Malik masuk ke dalam gedung dan langsung menuju ke toilet. Dia tidak sanggup berdiri. Dia duduk di kursi yang ada di kamar mandi tersebut. "Ini baru permulaan Aruna. Kau harus kuat," gumam Malik sambil menyeka air matanya dengan kasar.
*
Aruna bersandar di pundak Sydney. Saat ini mereka sedang berada di mobil Sydney dan Gilang juga ikut bersama mereka. Aruna terdiam semenjak dirinya masuk ke dalam mobil. Dia membiarkan air matanya jatuh tanpa henti. Dan baik Sydney maupun Gilang juga mencoba bersabar. Mereka tidak bertanya atau mencoba menghibur Aruna saat ini.
"Bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?" kata Aruna lirih.
"Tentu saja. Istirahatlah malam ini dan hadapi dia lagi besok," kata Sydney sambil mengusap rambut Aruna.
"Maaf aku merusak acara reuni kalian," kata Aruna lagi.
"Aku datang untuk kalian berdua," kata Gilang, dan Sydney mengangguk menyetujuinya.
*
Malik berjalan keluar dari toilet dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ballroom. Seperti yang dia duga, Aruna pasti sudah pulang. Malik pun berjalan menuju pintu utama.
"Malik!"
Malik berhenti dan melihat sebuah tangan sudah melingkar di lengannya.
"Aku mencarimu dari tadi? Kau ke mana?" tanya Wulan masih dengan wajah tanpa dosa.
"Lepaskan tanganmu dari tanganku. Jangan menyentuhku," desis Malik dengan cukup menakutkan. Wulan menarik tangannya dan ganti menatap Malik dengan tajam.
"Apa kau tidak keterlaluan padaku?" kata Wulan. "Kau datang bersamaku. Kau harus menemaniku dan kita harus pulang bersama juga."
Saat berangkat tadi, Malik tidak menjemput Wulan. Dia menunggu Wulan di depan gedung dan baru saat Wulan datang, mereka masuk bersama.
"Kau pasti sudah gila kalau mengharapkan aku akan menemanimu. Oh ... maaf aku lupa. Kau memang gila. Tapi maaf, aku tidak bisa lama-lama bersama orang yang tidak waras," desis Malik dan dia pergi meninggalkan Wulan. Wulan berusaha menutupi wajah malunya. Dia menoleh ke arah teman-temannya tadi dan benar saja, saat ini mereka sedang memerhatikan keduanya.
*
"Bisa kau ke ruanganku sebentar?"
Malik menutup teleponnya setelah Wulan berkata oke. Tidak seberapa lama, Wulan masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya Wulan dengan senyum lebar.
"Aku melihat undangan reuni di mejamu. Aku akan datang. Kita akan datang bersama. Aruna akan ada di sana," kata Malik cepat.
"Baiklah, tidak masalah. Sebaiknya memang begini. Selesaikan cengan cepat. Cepat terluka, cepat juga untuk sembuh," sahut Wulan dengan senyum semakin lebar.
"Tutup mulutmu dan keluar dari sini."
"Suatu saat kau akan menyadari aku yang lebih pantas untukmu dan kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan ini," cetus Wulan.
"Ingat. Aku akan menjauhi Aruna selama kau membawa mati fakta itu. Tapi kalau sampai dia tahu karena dirimu, aku bersumpah, selanjutnya nama kita berdua-lah yang akan muncul di berita," ancam Malik.
*
Aruna sudah berbaring tepat di samping Sydney dan memunggungi temannya itu. Dia memejamkan mata dan kembali membukanya. Begitu terus sampai menjelang jam dua pagi. Kata-kata Malik benar-benar menyakitinya namun kenapa dia hanya ingin Malik yang memeluknya dan membuatnya tenang sekarang?
Ketika dia baru pulang dari Amerika, Aruna tidak memiliki keyakinan bahwa Malik menyukai dirinya seperti dia menyukai Malik. Namun beberapa saat lalu, Malik membuatnya yakin bahwa pria itu juga mencintainya. Apalagi saat dia mengatakannya di depan orang tua Aruna. Malik tidak akan main-main dengan ucapannya.
"Berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku."
"Never doubt how I feel about you. Never give up on me. I want you and I want us. Selamanya akan selalu begitu."
Kata-kata Malik tiba-tiba melintas di kepalanya. Dia kembali menyeka air matanya. "Malik, I'm sorry," lirih Aruna.
*
Aruna duduk di café tidak seberapa jauh dari kantor Malik. Dia masih memakai baju yang dipakainya ke acara reuni semalam dan matanya terasa panas. Beberapa orang menoleh ke arah Aruna mungkin karena kantung matanya setelah semalaman dia menangis dan tidak bisa tidur. Dia tidak merasa mengantuk, hanya serasa melayang dan tidak memiliki tenaga.
Aruna janji bertemu dengan Malik saat jam makan siang setelah dia menelponnya pagi ini. Gadis itu datang lima belas menit lebih awal.
Tepat pukul dua belas siang, Malik masuk ke dalam café dan dia bisa langsung tahu di mana Aruna duduk. Malik menempati kursi tepat di depan Aruna dan pria itu menatapnya tanpa berkedip.
"Apa aku tampak berantakan?" tanya Aruna sambil tertawa kecil. "Ini mungkin karena aku menangis semalaman dan tidak bisa tidur," imbuhnya sambil mengusap kedua matanya.
"Kau sudah makan?" tanya Malik lagi.
"Malik, aku benar-benar minta maaf kalau kau merasa aku tidak membutuhkanmu. Aku pikir kau mengenalku. Kau harusnya cukup mengenalku. Aku tahu kau juga sibuk dengan bisnis yang kau bangun. Aku hanya tidak ingin selalu merepotkanmu. Aku minta maaf kalau kau menangkap maksudku dengan salah," jelas Aruna tanpa menjawab pertanyaan Malik tadi.
Malik menghela napas berat. Aruna menunggu, namun Malik tidak mengatakan apa-apa.
"Malik, katakan sesuatu," pinta Aruna.
"Saat ini aku tidak yakin dengan semua ini. Aku harus jujur padamu walaupun mungkin akan menyakitkan. Semenjak aku mengenal Wulan, dia bisa mengalihkan pikiranku darimu. Aku mencintaimu dan Wulan bisa membuatku melupakan apa yang kurasakan untukmu," kata Malik dengan nada rendah.
Aruna tidak ingin menangis namun air mata sudah turun tanpa ijinnya.
"Malik apa kau lupa kita akan menikah satu bulan lagi?" isak Aruna berusaha mengontrol suaranya.
"Aku tahu. Karena itu aku tadi bilang, saat ini aku tidak yakin dengan semua ini," ulang Malik.
Aruna menyeka pipinya. Wajahnya sudah pucat tanpa polesan make-up apapun dan matanya sudah sangat merah.
"Kita makan dulu," sela Malik.
"Apa kau mencintainya?" tanya Aruna kembali mengabaikan pertanyaan Malik yang saat ini menurutnya tidak penting.
"Aruna kita makan dulu," desak Malik lagi.
"Apa kau mencintainya?" ulang Aruna dengan bibirnya yang pucat.
"Malik, kau di sini."
Keduanya menoleh dan mendapati Wulan berjalan ke arah mereka.
*
Soreee .... tahan, tahan ... Kalian harus kuat bacanya.
Jadi, gimana pendapat kalian sama part ini?
Jangan lupa vote dan komennya ya. Setelah ini perjalanan Malik dan Aruna bakal semakin berliku. But I'm a nice cupid so I'll make sure they'll find their way back together.
Semoga kalian masih suka ya. Sayang kalian !!!!
Published on Monday, October 18, 2021
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top