[2] First Sign
"Hari ini kau kelihatan beda, ya, Asmo?"
Asmodeus menoleh, alisnya terangkat. "Hm? Benarkah? Apa aku kelihatan lebih cantik daripada kemarin? Aku memang mengubah masker yang kugunakan belakangan ini, beberapa serum dan kosmetik lain juga. Apa kulitku lebih bersinar Jane? Aku senang kau menyadarinya!"
Jane mendesah pelan. "Bukan itu, kurasa ...." Dia menatap kuku tangan kanannya yang diberi warna lavender oleh Asmodeus. "Kurasa hal lain, tapi aku juga bingung apa."
"Eh, kok gitu? Kau membuatku penasaran."
Jane terpejam, berusaha mengingat-ingat hal ganjil yang ada pada Asmodeus. Dia menyadari ini beberapa waktu lalu, tetapi tidak memiliki keyakinan untuk mengatakannya. Barulah setelah ada kesempatan berdua begini, dia jadi teringat oleh hal tersebut walau melupakan fakta apa yang hendak dikatakannya.
Namun, gadis berambut pirang itu akhirnya teringat juga setelah belasan menit berpikir. Dia menurunkan tangan kanan yang belum selesai dicat dari atas meja rias Asmodeus dan berdiri.
Laki-laki di depannya menatap bingung manusia yang baru seminggu lalu membuat pact dengannya itu. "Jane?"
Jane membungkuk, wajahnya jadi lebih dekat dengan Asmodeus yang sedang duduk di pinggir kasur. Tak ayal, iblis bersimbol kalajengking itu sedikit merona. Sepasang mata berwarna jingga membulat kaget.
Asmodeus sadar dirinya menawan dan orang-orang menyukainya karena itu, dia juga selalu beranggapan bahwa dirinya yang rupawan ini merupakan anugerah dari Tuhan kepada dunia. Bahkan semenjak masih berstatus sebagai malaikat pun, dia dianggap sebagai berlian karena parasnya. Terlepas dari penampilannya yang luar biasa dan memikat siapa saja-bahkan ular peliharaan Leviathan-Asmodeus sempat terheran-heran karena Jane tidak terpengaruh sama sekali. Normalnya, mereka yang menatap mata seorang Avatar of Lust akan langsung tersihir. Namun, gadis ini berbeda dan Asmo merasa bahwa itu menarik sekaligus menantang. Itu adalah kali pertama seseorang tidak terpengaruh oleh kecantikannya.
Fakta bahwa gadis manusia biasa ini juga mampu mengeluarkan kekuatannya dalam wujud iblis, lebih daripada yang bisa dilakukan Solomon, merupakan perkara lain yang membuat dia makin kagum dan menawarkan diri untuk mengikat kontrak.
Tangan kiri Jane terangkat, catnya sudah mengering. Dia menyentuh rambut lembut Asmodeus dan membenamkan wajah di sana.
"Apa kau sedang mencari perhatian? Kau manis sekali saat mau bermanja-manja." Asmodeus merentangkan tangan dan memeluk perut gadis di depannya.
"Asmo, aku tidak suka sampo barumu," bisik Jane di dekat telinga kiri Asmodeus, membuat iblis itu terdiam. "Aromanya sedikit lebih tajam dari sampo yang lama. Memang wangi, cuma tidak cocok denganmu. Aku lebih suka yang lama. Tidak terlalu tajam, tetapi tahan lama dan aromanya lembut sekali."
Asmodeus mendongak, dagunya masih di atas perut Jane. "Begitu, kah? Padahal aku lumayan suka."
"Kalau memang suka, tidak perlu mendengarkanku." Jane mengalungkan lengannya di sekeliling leher Asmodeus. "Aku yakin kalau masalah beginian, seleramu lebih bagus."
"Eh, tapi aku ingin Jane menyukai semua yang ada di tubuhku." Asmodeus bersungut-sungut, suaranya mengalun manja.
Jane tertawa kecil. "Tentu aku suka." Dia menepuk-nepuk kepala belakang Asmodeus. "Aku, kan, hanya mengatakan pendapataku. Sampo yang ini juga wangi, kok. Mungkin aku hanya terlalu terbiasa dengan aroma yang lama."
"Apa itu artinya, kau suka diam-diam mengendus bauku, Jane?" tanya Asmodeus dengan nada menggoda, dia menempelkan pipi ke perut Jane dan tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya. "Manisnya."
"Ak-u tidak bilang begitu."
"Kenapa jadi malu-malu, hm? Aku senang kau memperhatikanku. Sama sekali tidak ada yang sadar kalau aku berganti sampo."
"A-Asmo, tanganku yang satunya belum selesai, lho. Tolong lepaskan." Jane bergerak pelan, berusaha melepaskan diri dari Asmodeus yang justru kelihatan nyaman memeluk tubuhnya dari depan.
"Tiba-tiba saja, aku lebih ingin memelukmu daripada melakukan hal lain."
Dan, begitulah akhirnya Jane berdiri sampai kakinya keram dan Asmodeus menawarkan diri untuk memijatnya.
***
"Oh, Jane? Hmmm, apa ada yang mau kau katakan padaku? Apa saja tidak masalah."
Jane mengerjap bingung, dia menatap layar DDD-nya, memastikan bahwa itu memang Asmodeus yang berada dalam log panggilan saat ini. Nada suara iblis itu terdengar berbeda hari ini, membuat keningnya berkerut dalam.
"Eh, Asmo? Kenapa ... apa kau sedang sedih? Aneh sekali karena mendengarmu mengatakan itu."
Asmodeus tertawa hambar. "Yah, memang aneh, ya, mendengarku ingin membicarakan hal lain selain diriku sendiri." Tidak ada yang bicara. "Tiba-tiba aku ingin dengar suaramu, Jane. Aku merindukanmu."
"Oh?" Sudah beberapa hari ini, Jane kembali ke dunia manusia bersama Lucifer dan Satan yang tertukar jiwanya akibat sebuah buku sihir.
"Aku sedang sendirian di kamar dan tiba-tiba saja terdorong untuk menghubungimu. Memang baru sebentar, sih, tapi aku sudah merindukanmu. Aku ingin dengar suaramu secara langsung, apa sebaiknya aku menyusul ke sana?"
Jane mengernyit. "Kurasa itu bukan ide bagus," katanya sambil menatap ke arah luar jendela kereta api. "Omong-omong, Asmo. Aku juga senang mendengar suaramu. Setiap kali mendengarnya, aku merasa bahwa suaramu sangat unik, cantik, dan menenangkan. Kau punya aura positif yang bisa kurasakan bahkan dari telepon sekalipun."
"Hmmm? Hehe. Kurasa aku memang mempesona dari segala aspek. Mendengarmu bicara begitu membuatku senang. Pujian darimu lebih membahagiakan daripada pujian dan seluruh fans-ku." Suara Asmo terdengar lebih bersemangat.
Gadis di seberang telepon tersenyum kecil, pipinya terasa hangat. "Kau juga punya selera fesyen yang sangat bagus, aku suka aroma parfum dan warna kuteks yang kau pakai. Kau pandai dekorasi dan mengatur ini-itu."
"Jane," Asmodeus menghentikannya, "aku bukan mau mendengarmu membicarakanku." Dia tertawa singkat, lantas melanjutkan, "Tentu saja aku senang, karena kau menyukaiku. Tapi, aku ingin mendengar tentangmu saja sekarang. Ayo, ceritakan dirimu."
Jane termenung sejenak, dia memejamkan mata sambil bergumam panjang. "Aku, ya? Aku ... Uh, kurasa aku orang yang agak membosankan. Jarang keluar rumah dan lebih suka membaca buku, makan, sama tidur siang. Kalau tidak ada kerjaan, biasanya beres-beres, main gim atau baca buku lagi. Aku tidak mengerti fesyen dan tidak bisa masak. Uhmmm ... Kurasa itu sa-"
"Menurutku, Jane itu gadis yang manis. Kau juga pekerja keras, tidak suka setengah-setengah dan walau sering teralihkan ketika mengerjakan sesuatu, saat fokus kau kelihatan sangat cantik. Kau juga pintar, bisa diandalkan, mudah dibujuk, jarang marah, dan bersemangat sekali pada hal-hal yang kau sukai."
"Meskipun boros, tidak bisa masak, dan pelupa. Kau selalu berusaha membantu siapa saja, tidak hanya di House of Lementation, tapi juga di Purgatory Hall dan bahkan, Demon Lord Castle. Kau seakan tidak kenal takut, walau sebenarnya penakut. Seperti saat kita menonton film horor, kau bilang menyukainya padahal takut bukan main sampai tidak bisa tidur, hehe. Gaya berpakaianmu payah, tetapi entah kenapa, kau tetap percaya diri menggunakannya ke mana-mana dan itu kelihatan sangat lucu sekaligus manis. Kadang-kadang aku suka membayangkanmu mengenakan beberapa dress atau gaun yang kupilihkan untukmu."
Mendengar rentetan pujian bercampur kekurangannya membuat Jane kesulitan bernapas. Entah karena dia merasa malu karena Asmodeus terdengar seperti menggodanya-yang biasa lelaki itu lakukan-atau dia merasa malu akibat aibnya terekspos.
"Kau mandiri dan dewasa, meskipun tidak bisa memberikan motivasi, kau selalu mendengarkan dan berusaha mencari jalan keluar. Kau juga mendukung apa pun yang aku dan saudara-saudaraku lakukan, selama itu berarti bagus. Aku mungkin mulai mengganggapmu lebih dari sekadar manusia yang tinggal bersama kami, lebih dari keluarga, kurasa ...."
"Kurasa aku memang benar-benar menyukaimu, hehe. Aku bertanya-tanya bagaimana perasaanmu padaku?"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top