Arc 34 : Kegelapan yang Mulai Bergerak

W HELL POV W






Presiden HELL dilanda beberapa masalah selama beberapa minggu ke belakang ini. Tidak ada yang tahu apa masalahnya, anak buah dan karyawan nya hanya bisa diam melihat karena masalahnya..

"Datia! Nightia! Kenapa kalian pergi jauh dari ayah. Kenapa!? " tangis GAIN.

Presiden HELL terlalu menyayangi kedua anak perempuan nya. Hal ini bahkan berdampak kepada mentalnya.

"Apa karena ayah lebih culun dari Author bernama Riza itu!? Apa ayah perlu mengalahkannya agar kalian kembali? "

"Tuan presiden, otak anda sehat? " sindir Shira sedikit terkekeh. Pria kitsune orange ini menikmati omelet telur dengan nasi goreng miliknya.

Di dekat nya ada Mawar yang sedikit terganggu akan ocehan dari seorang ayah itu, ia bahkan tak sarapan---lebih buruk dia susah sarapan karena ada beberapa luka yang belum pulih akibat serangan OMEGA beberapa minggu lalu ketika Riza ada disana.

"Ngomong-ngomong Dinan ada di mana? Aku lihat ia belakangan ini sering ke gereja, padahal dia Ksatria Terkutuk.. " Shira.

"Entah. Mungkin Dinan mau bertemu dengan gadis suci dari sana.. "

"Apa mereka pacaran? "

"Kau serius bertanya itu? "

"Ya.."

"...... " Mawar menatap tak suka ke Shira, ia makan dengan tangan kiri karena sisi kanannya masih terbalut perban.

"Oh? Maafkan aku karena tidak peka, Mawar. Kau'kan jomblo.."

"Kau hanya suka mengejek orang, Shira. Aku sudah terbiasa dengan sifatmu itu.." balas Mawar melanjutkan makan.

"Kalian berdua. Jika sudah selesai cepat susul Anubis dan Devienta ke tempat Diga. Kata Diga ada teroris yang menyerang markas nya.. " perintahkan GAIN.

"Apa Penjaga dibutuhkan, tuan? " heran Mawar.

"Mana aku tahu. Diga yang meminta bantuan kepada kalian langsung, dan juga.."

"Dan juga? " Mawar menunggu kalimat selanjutnya. "Entah kenapa malam ini lebih gelap dari biasanya. " kata GAIN.
























Beberapa menit sebelum nya. Pintu yang ada di permukaan dimana markas Diga maksudkan berada disusupi beberapa orang dengan kain hitam dengan emblem api. Kilatan dari cahaya terlihat dibalik sisa puing-puing bangunan yang hancur akibat serangan KING beberapa bulan lalu ketika Riza dan Allyn bertemu untuk reuni mereka.

"Ini tempatnya? "

"Kita akan tahu setelah pintunya terbuka.. "

"Heh? Tadi bukan pintu? "

"Yang namanya pintu itu harus dibuka, Biru.. " kata seorang pria berambut hitam panjang dengan armor zirah gelap. "! "

Tek..

Suara senjata api ditargetkan terdengar, sedetik kemudian tempat mereka ditembaki puluhan submanchine gun sampai tak terlihat lagi.

Pasir Hitam Penjorok

Crash!!

Benda hitam yang sangat banyak menusuk ke arah semua senjata api berada, hasilnya banyak beberapa agen anak buah Diga yang berguguran.

"Dilihat dari jumlah, seperti nya bos mereka ada disini.. " kata ketua kelompok.

"Apa aku boleh bertarung sekarang? "

"Tunggu sampai target ketemu.. "

Pria dengan armor hitam tadi mendekat ke dinding semen yang tebal, pasir hitam membungkus pedang nya dan memotong dinding itu sampai ruangan dibaliknya terlihat. Itu adalah lift yang menuju ke bawah.

"Sial. Padahal aku cuma mau mengambil dokumen yang tertinggal di sini. Mereka siapa? " tanya Diga dengan kesal melihat monitor, pria satu ini tidak mengira akan ada serangan terlebih di HELL yang merupakan tempat mengerikan untuk semua penjahat.

Pemimpin Ortodoks ini mengirim pesan darurat ke GAIN dengan isi meminta bantuan.

"Mereka toh~~" datang Azalea menghadap monitor juga.

"Siapa mereka?"

"Anggota dari Solcode Darkness.. "

"Solcode Darkness? Sekutu dari Chaos Army. Apa yang mereka inginkan disini.?? "

"Aku akan menahan mereka sampai kau bisa keluar.. "

"Kau cari mati ya? "

"Hahaha! Mana mungkin aku mau. Jika berbahaya pun aku akan langsung kabur dan meninggalkanmu, Allyn lebih penting dirimu, bos.. "

"Ugh. Aku dikhianati di depan mata.. "

"Kalau begitu cepatlah beres-beres. Bye~~"

"Aza. Aku serius.. "

"Aku juga, Diga. Aku tidak mau buang nyawa disini, belum. Dan juga... Aku sedikit mengenal kelompok ini~~! "

"Aza.. "

Azalea mencabut cutlass nya, menebas udara dan masuk ke kabut hitam keunguan yang berteleport ke tempat dimana kelompok kecil Solcode Darkness ini berada.






W SKIP POV W






Kelompok Solcode Darkness tengah menunggu lift selesai sampai ke ruang bawah dimana pusat bekas markas Diga berada. Dilihat dari formasi yang renggang atau jaga jarak sepertinya mereka mudah diserang namun itu mereka lakukan untuk menjebak musuh yang ingin menyerang dengan memanfaatkan renggang nya batas mereka.

Tapi yah, yang namanya kabut..

"Apa ini masih lama? Kita tidak akan tiba-tiba jatuh kemudian mati'kan? " celetuk  laki-laki dengan empat sayap malaikat abu-abu.

"Bisa kau tutup mulutmu itu, Biru? Diamlah sebelum aku membunuhmu terlebih dulu.. " ancam pria rambut abu-abu berantakan mengenakan kain perang China, tombak hitamnya sudah siap terangkat.

Biru---malikat sayap abu-abu itu terkekeh sambil mengangkat tangannya.

".......... "

"".......... ""

"Sepi juga disini ya? " tanya Azalea.

"!? "

""! ""

Orangnya muncul dibelakang Biru. Mungkin malaikat itu target pertamanya, namun keempat sayap abu-abu itu melesat dan menghantam serangan Azalea dengan sangat cepat, cahaya jingga menyala setelah nya.

"Bodoh! Jang--!? " pria zirah hitam mencoba memperingatkan Biru tetapi terlambat, tembakan dari bola api itu membakar badan Azalea yang tersenyum lebar.

Pria zirah hitam refleks menangkis tembakan dari Biru, sosok Azalea beralih menargetkan anggota yang ada di paling tengah, nafsu membunuh yang sangat besar terarah kan ke anggota itu. Beberapa centi sebelum kena, Azelaa bahkan sisa anggota Soldoce Darkness yang ada disana dihantam cambuk api emas yang sedikit memiliki warna hitam. Dinding lift hancur membuat air yang mengelilingi HELL membanjiri tempat itu.

Gold Diablo

Hantaman gelombang dari cambuk api emas tadi membuat dinding antara Pengguna Kekuatan itu dan air yang mencoba menenggelamkan nya.

"Aku kira kau tidak akan menggunakan cambukmu bila rekanmu masih ada di sekitar.. " kata Azalea yang menempel di atas dinding lift.

Lift yang dimaksud adalah lantai besar cukup untuk satu pesawat besar, melingkar dikelilingi dinding semen yang kokoh. Tidak sampai Riisycho menghancurkan beberapa tiang yang menahan markas bawah tanah ini.

"Jika mereka terkena hanya dengan ayunan cambukku berarti mereka lemah. Lama sudah tak jumpa, Aza. Kau awet muda.. "

"Aku memang selalu muda.. "

"Ketua, tadi itu terlalu berlebihan.. " kata Biru yang terbang menggunakan ke empat sayapnya.

Pasir hitam tiba-tiba saja menutupi bagian yang hancur akibat cambuk, air berhenti mengalir dan perlahan jadi udara karena api dari ketua kelompok ini. Azalea melihat ada dua yang siap menyerang nya dan dua yang nampak santainya, serta ketua kelompok yang tengah berbicara dengannya saat ini.

"Adriqn. Apa tujuan kalian dengan datang ke tempat Diga, ha? "

"Kau akan tahu setelah tak sadarkan diri.. " jawab Andriqn---ketua kelompok.

"Hmm~~"

"Halo, mantan senior. Namaku Biru. Salam kenal~~" perkenalkan diri Biru.

"Hoo~~? Lihat. Sepertinya sekarang kalian juga bisa merekrut orang tipe macamku.. "

Keempat anggota tersisa hanya diam dan menatap dingin Azalea. "Kau pasti susah harus berkomunikasi dengan mereka... " curhat Azalea ke Biru.

"Tidak juga~~"

"Berarti kita musuh.. "

"Heh? Kan memang.? "

Pria zirah hitam tiba-tiba saja menyerang Azalea dengan pasir hitamnya, Azalea terpaksa melompat turun ke lantai yang sama dengan mereka.

"Haaah. Seperti biasa. Kau cepat ya, Gary.. "

"Cukup bicaranya. Azalea, aku cukup marah dengan pengkhianatanmu atas organisasi ini..! "

"Jangan dibawa hati, kawan. Kalian ini pembunuh, bukan? Seharusnya karakter kalian tidak kayak gini.. "

"Tetap saja, Aza. Siapapun yang berani mengkhianati organisasi harus dibunuh..! " potong Adriqn begitu dingin.

"Hmm~~" Azalea menatap mereka berlima bergantian. "Jadi tujuan kalian ke sini bukan untuk Diga tapi aku? "

"Begitulah, mantan senior..! "

"Kami bisa saja mengancammu dengan adik perempuanmu tapi itu tidak menyenangkan.. " Gary.

"Wow. Wow. Kalian mencoba menggunakan Allyn sebagai sandera? Itu lucu.. "

"....... "

"Tapi ya. Aku sedikit kesal dengan candaan kalian. Allyn cukup kuat untuk mengalahkan dua dari kalian, tapi tetap saja aku kesal ketika adikku dalam bahaya.. "

"Itu cuma salah satu cara agar kau tidak kabur seperti dulu, Aza. Malam ini akan kupastikan kau tidak akan kemana-mana.. "

Mereka berlima mengepung Top Agent dari D's Foundation dari segala arah termasuk atas.

"Kau tidak bisa kabur lagi, Azalea? "

"Mereka serius kali ini. Aku bisa saja kabur tapi nanti Allyn dapat masalah, walau sedikit kemungkinan anak itu bakal kalah. Haaah. Nampaknya aku... Bakal tetap diam, dan menghabisi mereka semua!! "

Awakening Mode : The Black Arcerman

Asap hitam perlahan keluar dan warna ungu di sana menghilang digantikan hitam seutuhnya.

"Kalian semua tidak lupa dengan julukanku di Solcode Darkness'kan?"

".......... "

"Sepertinya kalian masih ingat. Kalau begitu aku akan memperlihatkan kalian kegelapan itu lagi! "

Awakening Melody of Darkness : Dark Society






W Other POV W






Mobil BMW hitam dengan garis emas mengkilat itu melaju di kegelapan pelabuhan HELL, pengemudi nya bisa melihat lewat kaca mobil yang berubah jadi penglihatan malam tapi ia tanpa takut harus menabrak sesuatu. BMW dengan wing sirip hiu itu berhenti di depan pagar yang sudah terbuka, sesosok robot legenda Anubis menunggu nya.

"Tuan Anubis? Anda menunggu saya? "

Namun Anubis diam sambil menatap ke depan, sesampainya wanita ini ke dekat Anubis ia dapat melihat makhluk hitam abu-abu bersinar di bawah cahaya bulan. Tinggi badannya melebihi Anubis yang lebih dari 3 meter ini, dan makhluk ini memiliki ciri-ciri sama dengan ras kucing mesir dengan aksen legenda Anubis yang sama.

"Apa saya memikirkan yang sama dengan anda, tuan? " tanya Penjaga wanita yang menggantikan Anggita.

"Sepertinya ini bakal jadi pertarungan yang lama. Makhluk ini kira-kira sekuat presiden HELL bila serius.. "

"Bagaimana dengan anda, tuan Anubis? "

"Aku bisa mengalahkan nya, tapi segel keempat haruan dibuka dan presiden HELL sedang tidak bisa dihubungi saat ini.. "

"Anda bisa mengandalkan saya, tuan. Walau cuma baru tapi saya sanggup menggantikan nona Anggita---? "

DOOOOOM!!!!

Pilar kegelapan tiba-tiba saja muncul di lubang besar dimana bekas markas Diga berada.

"Apa itu serangan teroris? " tanya Penjaga wanita ini.

"Devienta, kita akan selesaikan ini dengan cepat.. "

"Baik, tuan..! "

Sementara itu kemunculan pilar kegelapan itu membuat Allyn yang belanja di pasar terganggu. Mungkin ikatan dengan kakaknya membuat ketua Team King ini merasakan hal buruk sedang terjadi.

"Dicky kau, ikut aku! Lette, kami serahkan sisanya.. "

"B-baik.. " sahut Dicky kaget. Biasanya Allyn cuma membawa Lette sebagai rekan bertarung di situasi genting seperti yang biasa nya, namun pilihan Allyn kali ini nampak sangat berbeda. Ia seperti menginginkan rekan bertarung yang dapat 'menghancurkan' dengan mutlak.

"Menurutmu apa yang terjadi, Allyn? "

"Aku tidak tahu tapi kurasa tidak baik.. " bersamaan dengan itu tiba-tiba saja angin bertiup kencang terhisap ke angin hitam.

Sosok malaikat jatuh dengan jas hitam yang rapi muncul tepat di depan mata keduanya.

"Gary tidak menyukai rencana ini tapi aku akan melakukannya karena diperlukan. Setelah melihat kekuatan pria itu, rencana ini pantas untuk dicoba... " gumamnya berbicara seorang diri.

"S-siapa kau? " tanya Dicky.

Malaikat jatuh ini melirik ke tempat Allyn yang siaga.

"Dicky, aku serahkan dia ke kamu. Aku mau ke tempat kakak---!? "

"---Jadi kau benar adiknya? "

"Cepat!? " batin Allyn lumayan terkejut dengan kecepatan musuh.

Bzzzt!!?

"! "

Blaaar!!!

Sambaran petir dan pukulan dari Dicky memukul mundur malaikat jatuh itu.

"Serahkan saja padaku.. "

"Dicky.. "

"Kalau dia tidak sekuat Omega Five aku masih bisa mengalahkan nya.."

"Terimakasih, Dicky!"

Allyn meninggalkan tempat pertarungan.

"Baiklah. Apa masalahmu dengan Allyn, hah? " Dicky. Malaikat jatuh bernama Paul ini menghapus darah yang membasahi mulutnya.

"Jadi kau takut dengan Omega Five ya? Aku pernah melihat mereka, kurasa aku sekuat itu..! "

"Well. Seperti Pengguna Kekuatan yang pernah aku lawan saat di markas Diga... Kita tidak akan tahu setelah mencobanya! "



























"Hah.. "

Tik. Ttsssss...

Air laut membanjiri lift. Terdapat banyak kerusakan dan lubang akibat kemunculan pilar kegelapan yang merambat ke atas beberapa saat lalu, air yang tersentuh oleh Azalea mendadak jadi hitam dengan cepat.

Andriqn bersama api emasnya berjalan santai karena air menjauh darinya berkat dinding emas kehitaman miliknya, tiga anggota Solcode Darkness terpental entah kemana tapi satu ada ditempat Diga sedang mengumpulkan dokumen lama ayahnya.

"Aku bisa merasakan 'jiwa'mu di dalam tekanan aura tadi, kekuatan tadi tersaluri nyawamu sendiri. Itulah kenapa sangat kuat. Apa kau mencoba membuang dan mempertaruhkan nyawamu demi adik yang lemah itu?! "

"H-ahaha. Allyn itu..tidak lemah. Dan juga. Mempertaruhkan nyawa dan
membuang nyawa adalah 2
hal yang sangat berbeda.! "

"Bukan masalahku. Tapi bakal gawat jika kau benar-benar membuang nyawa itu.. "

"Apa maksudnya itu? Dia... Tidak ingin aku mati? Aku tidak mengerti tujuan mereka.. "



















































































































































































Preview Next Arc

A : Pagi ato subuh~~

A : Arc 34 dgn ini ane buku. Disini bakal berfokus ke Solcode Darkness yg sedang mengincar Azalea. Entah apa tujuan mereka.

Azalea : '_'

A : Ok. Untuk Arc selanjutnya bakal ada Dicky

Dicky : Hoorei! Sekian lama akhrnya dpt scene fight ⚡

A : Enth dia menang atau kalah nanti

Dicky : Heh?

Allyn : Aku datang~~~!

A : See you next time, all. Bye👋

allynscarleta, DigaRW

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top