CHAPTER 2 : Fall of Dalemantia
"Happy Birthday... Aldridge! Happy Birthday... Aldridge! Happy Birthday! Happy Birthday! Happy Birthday... Aldridge!" Vayne dan Johan mengucapkan selamat ulang tahun pada Aldridge.
"Tak terasa kedua anakku telah tumbuh menjadi pria yang tampan sekarang." kata Johan dengan senyum dan bersyukur. "Sayang, ibu tak bisa melihat ini semua ya."
"Sudahlah ayah..." Vayne menepuk pundak ayahnya. "Tak perlu dipikirkan lagi. Ayah sendiri bisa merawat kami berdua dengan baik. Ibu pasti senang di atas sana."
"Ohh iya! Kakak... lihat ini!" Aldridge mengayun-ayunkan pedangnya, Kini ia sudah remaja dan badannya sudah mulai tumbuh menjadi dewasa sedikit demi sedikit. "Skill pedangku sudah mantap kan? Bagaimana menurut kakak?"
"Yap... Bagus sekali Aldridge!" Vayne mengusap rambut Aldridge. "Tapi seharusnya kau mengayunkannya seperti ini. Karena kalau seperti yang kau lakukan tadi. Titik celah untuk musuh menyerang jadi terbuka lebar. Dan lagi kau seharusnya bergerak seperti ini. Dan serang musuh seperti ini. Lalu untuk menangkis seperti ini. Jadinya kau bisa bergerak seimbang dan titik celah untuk musuh menyerang di minimalisir. Apalagi kamu pakai pedang kecil seperti ini."
"Wahh... Biarpun sudah 3 tahun berlatih. Aku masih belum apa-apa dibandingkan kakak." Balas Aldridge.
"Hoo... Tentu saja. Memangnya 3 tahun ini aku tidur-tiduran saja. Aku juga terus bertumbuh." Balas Vayne.
"Aldridge... Vayne jangan ngobrol terus ayo makan dulu." kata Johan. "Aldridge kamu yang ulang tahun tolong lebih serius sedikit."
"Baik Ayah!"
"Aldridge? Gimana latihan pedangmu selama 3 tahun ini? Sepertinya kamu menikmatinya ya." Tanya Johan sambil mengunyah makanan.
"Sangat bagus. Betul-betul bagus." kata Aldridge dengan sukacita. "Kau tahu ayah ! Larx memang guru yang hebat!"
"Bagus sekali nak..." Johan bangga padanya.
"Aldridge, sejak 3 tahun berubah sekali ya... Dulu kamu rese loh! Haha!" Balas Vayne.
"Aish... Kakak!"
"Dan Vayne. Kamu baru-baru ini naik pangkat jadi pasukan elit kerajaan... Hebat sekali! Itu sudah lebih dari Commander loh." Johan bangga.
"Terima kasih ayah." Vayne senang mendapat pujian dari ayahnya.
"Pasukan Elit itu kerjanya apa yah?" Tanya Aldridge yang juga sambil makan.
Jawab Johan "Itu pangkat untuk orang-orang super kuat dan berbakat untuk menjalani tugas khusus dari kerajaan. Khusus untuk orang yang bisa menggunakan Aura..."
"Aura?" Aldridge bertanya-tanya.
"Sewaktu-waktu ada serangan ke Dalemantia, mereka orang-orang yang dengan cepat melindunginya dan hebatnya dia satu-satunya yang dari kaum orang kaya sekaligus anggota yang paling muda. Ya... Rata-rata orang kaya sibuk mencari uang. Tak tertarik dengan mempertahankan negara kita yang sedang krisis ini."
"Wahh benarkah? Kakak sehebat itu!" Aldridge ikut merasa bangga.
"Haha... Tidak juga. Jujur saja, itu belum seberapa untuk mengejar impianku." balas Vayne.
"Impian? Impian apa?" tanya Aldridge.
"Uhmm... Gimana menjelaskannya ya?" balas Vayne "Begini sekitar dua sampai tiga tahun lalu. Suatu hari aku bertemu dengan seseorang saat sedang bertugas keluar Dalemantia untuk suatu urusan perang di Valencia. Dia menyebut dirinya Guildmaster. Namanya Xin kadang aku salah salah sebut bisa saja jadi Shin atau sin(dosa). Waktu itu aku mendapat kesempatan mengobrol lumayan lama dengannya dan aku tertarik dengan sebuah sistem yang disebut Guild yang ia kelola."
"Guild?" Aldridge tak mengerti.
"Begini," Jawab Vayne. "Singkatnya, Guild adalah sekumpulan orang dengan suatu tujuan yang serupa. Impianku ingin membuat Guildku sendiri. Tapi bukan Guild biasa-biasa saja. Harus sehebat Guild orang bernama Xin itu. Dan suatu hari nanti. Rasanya menyenangkan menjadi Guildmaster."
Vayne balas bertanya. "Dan kamu sendiri Aldridge? Apa cita-cita mu?"
"Cita-cita ya? Karena umurku sudah 15 tahun, aku punya mimpi. Aku akan menjadi..."
.
.
.
.
.
DUAAARRR !!
Terdengar bunyi keramaian dan suara tembakan meriam di luar.
Lapor karyawan Johan dengan panik.
"Pak Johan, Pak Johan! Gawat! Dalemantia diserang!"
"Diserang!? Oleh siapa!? Atau jangan-jangan." Vayne berfirasat buruk. "Maaf Ayah... Aldridge... Aku harus buru-buru."
Vayne dengan tergesa-gesa mengambil *Broadsword-nya dan pergi ke luar.
"Ayah apa yang terjadi!?" Aldridge ketakutan.
"Aku juga tak tahu."
"Ayah! Aldridge! Aku pergi dulu..." Vayne keluar dari rumahnya dan dengan segera menuju Middle District dengan tergesa-gesa.
"Berhati-hatilah nak! Aku, Aku, Aku harus menemui Raja!" Johan berkeringat dan bergegas pergi ke tempat Raja. "Aldridge kau tunggu disini dan berlindunglah! Cari tempat aman!"
"Ayah aku ikut!" sahut Aldridge.
Johan tak mendengarnya karena panik dan tak sadar Aldridge diam-diam mengikutinya dari belakang.
***
Setibanya Vayne di gerbang keluar dari Rich District ke Middle District, Vayne melihat dari dataran tinggi, Dalemantia diserang dari 3 Gerbang sekaligus. Utara, Timur dan Selatan. Dan lautan api perlahan melahap apapun yang ada didekatnya.
"Astaga!? Apa yang sebenarnya terjadi!?" Vayne berkeringat dan gelisah.
Vayne langsung bergegas menuju gerbang timur yang terhubung dengan Griffinia.
***
"Captain Vayne akhirnya kau datang!" sahut salah seorang anak buahnya.
"Ada apa ini!?" Vayne heran. "Beberapa menit lalu semuanya baik-baik saja. Kenapa tak ada yang tahu akan ada serangan sebesar ini. Spy kita! Apa yang mereka lakukan!"
"Entahlah Captain. Kami juga tak mengerti dan para spy juga melaporkan bahwa mereka muncul tiba-tiba." jawab anak buah yang lain.
"Kami selalu mengawasi spy musuh dan mengecek segala kemungkinan yang ada tapi..." Sahut yang lainnya lagi. "Ini diluar perhitungan. Ini semua terlalu tiba-tiba, kita tidak siap!"
"Lonceng Alarm! Bunyikan Loncengnya!" Perintah Vayne.
"Sudah kita bunyikan Captain, Tapi pasukan musuh sudah terlanjur masuk!"
"Vayne bantu aku!" sahut seorang pria dengan armor hitam dari bahan obsidian sedang bertarung di gerbang timur.
"Minggir!" Vayne menebas musuh dengan Broadswordnya. "Fesvaux! Kau sudah disini!" kata Vayne.
Bentak Fesvaux pria yang ditolong Vayne tadi. "Kesampingkan soal itu dulu... Lihatlah, jumlah mereka banyak sekali!"
"Ta-Tapi mereka semua kan!?" Vayne dibuat bingung. "Orang-orang dari Griffinia!?"
***
Sementara itu Johan dan Aldridge.
"Ayah tunggu aku!" kata Aldridge yang terus berlari mengejarnya.
Johan terus berjalan dengan cepat menuju istana dengan ucapan-ucapan khawatir. "Raja... Apa maksudnya ini? Kenapa tak seorangpun menyadarinya? Kenapa serbuan sebesar ini bisa tidak diketahui? Kenapa? ... KENAPA!"
Johan membuka gerbang ruang istana raja,
Dan...
.
.
.
"Hahaha! King Roswell sang tirani, itukah julukanmu? Lucu sekali. Tirani tua yang tak bisa apa-apa selain menindas yang lemah! Masa pemerintahmu sudah selesai! Raja bodoh!"
"Ka... Kau! Pengkhianat Negara! Harusnya aku tahu hal ini akan terjadi sejak dulu. Kau merencanakan kudeta berapa lama? Ughh..." Raja terletak jatuh dan mati di tersungkur di depan singgasananya sendiri.
Lalu Jawab Anzel. "Sejak aku menginjakan kaki sebagai politisi Dalemantia. Ahh... Kau tak dengar yang kukatakan ya? Malah sudah mati duluan."
"Anzel!" Bentak Johan.
Anzel langsung berbalik menghadap ke pintu masuk."Siapa disana!?"
"Kau! Apa maksudnya ini?!" Johan tak kuasa mendapati Raja sudah mati dibunuh orang kepercayaannya sendiri.
"Hoo... Aloysius Johan rupanya..." balas Anzel dengan senyuman yang menyeramkan. "Kau mau apa kesini? Melapor? Bertanya pada raja sekarat ini? Ehh... Tidak. Dia sudah tak bernafas. Sayang sekali, apapun yang mau kau lakukan... Semuanya sudah terjadi. Kau terlambat! Raja Roswell sudah mati! HAHAHA !!"
"Kau... Kau orang yang paling dipercaya raja, kenapa kau melakukan ini!" balas Johan dengan geram sekaligus bertanya-tanya.
"Orang kepercayaan ya? Percaya atau tidak... Aku ini orang yang sangat sabar. Sangat-sangat sabar. 20 tahun terakhir ini hanyalah tak lebih dari sebuah sandiwara! Sandiwara yang lama sekali kuperankan. Lama sekali... Kau tahu sendiri kan? Politik itu penuh sandiwara dan dusta." Balas Anzel. "Aku sudah merancang ini dari awal... Aku sudah menunggu datangnya hari ini juga dari awal, dari detik pertama aku masuk sebagai politisi di sini."
"Siapa kau sebenarnya? Siapa yang memerintahmu melakukan ini?" tanya Johan dengan niat membunuhnya.
"Sebenarnya percuma kukatakan ini untuk orang yang juga akan mati hari ini." jawab Anzel dengan penuh obsesi. "Tapi tak apa... Aku Anzel! Anzel dari Arcales dan sebentar lagi Dalemantia akan memiliki raja baru. yaitu AKU! Raja Dalemantia yang sebenarnya. Tidak... tidak lagi... Dalemantia hanya akan menjadi masa lalu... Ke depannya! Negri ini akan berubah jadi Arcales... Ya! Arcales! ... Arcales Empire namanya. Itulah negara yang akan kupimpin!"
"Arcales!?" Johan tak mengerti. "Aku tak pernah dengar nama negara itu dari penjuru dunia manapun."
"Kau tak perlu mengerti lebih lanjut apa itu Arcales dan apa yang akan dilakukannya nanti." Balas Anzel. "Karena kau juga akan mati. Hahahaha !!"
"Begitu ya..." balas Johan. "Kau orang yang pandai sekali bicara dan bersandiwara. Aku cukup curiga padamu sejak lama, tapi tak memiliki bukti kuat dan Raja selalu membelamu."
"Johan... Johan. Aku ini orang politik... Harusnya kau mengerti itu. Kau tak tahu kebenarannya. Tapi... Biar kuberitahu sesuatu. Roswell cuma Raja boneka. Boneka yang kukendalikan."
"Raja boneka? Yang benar saja! Apa maksudmu?" tanya Johan.
"Roswell memulai perang, itu ideku. Roswell menginginkan Unification, itu juga ideku. Roswell memperkuat militer Dalemantia, lagi-lagi itu ideku. dan ... semua yang terjadi hari ini..."
"Itu karena Ideku! Makanya, akulah raja yang sebenarnya."
"Mendengar hal itu Johan geram sekali "ANZEL!!" Ia menciptakan senjata pedang berwarna putih dari tangannya.
"Hehehe, Tak kusangka kamu masih bisa menggunakan kemampuan Aura. Kupikir kamu sudah tua dan pensiun." Anzel terlihat tenang-tenang saja.
"Ya... Memang sudah bertahun-tahun aku pensiun dari hidup seperti ini." Balas Johan dengan tersenyum.
Anzel dan Johan bertarung tapi... "UGHH... Kenapa ini? Tubuhku tak bisa bergerak."
"Hahaha, Kau tak mengetahui tentang ini kan. Benda yang membunuh semua prajurit disini termasuk Roswell."
"Dan kali ini... Kau... Johan! Wahahaha!" Anzel menusuk Johan dengan pisau racunnya.
Aldridge mendengar semua percakapan itu selagi membuntuti ayahnya dan ketika ayahnya terbunuh. Aldridge keluar dan berteriak ...
"AYAH!!"
.
.
.
"Aldridge!? Kenapa disini! Dasar bodoh, Larilah! LARI!!"
"Ta-Tapi... A... A... Ayah..." Aldridge gemetar lemas dan menangis menyaksikan itu semua.
"Kumohon turuti permintaanku yang terakhir ini. Lari sekarang dan tetap hidup!"
"Aku tak akan meninggalkan ayah!"
"CEPAT LARI!"
Aldridge kemudian kabur setelah digertak ayahnya dua kali.
"Sial! ... Anakmu mungkin mendengar semuanya. Aku harus membunuhnya juga." Anzel berlari mengejar Aldridge.
"Jangan coba-coba menyentuh anakku seujung jaripun. Kau dan aku belum selesai sampai disini."
"Ugghh... Si-sial. Ka-kau masih bisa bergerak rupanya!"
Johan mencekiknya dan membantingnya ke lantai.
"Brengsek! kau bisa lepas dari pengaruh racun yang bisa membunuh paus seketika ini!"
"Jangan remehkan kekuatan seorang ayah!" Johan membantingkan kepala Anzel ke lantai sekali lagi berupaya untuk mengulur waktu semata.
"Sudah cukup... SIALAN !!" Anzel mencabik-cabik Johan tanpa belas kasihan. "Mati! Mati! Mati!"
"MATI! Wahahaha!"
"UAGHHH!" Johan tertebas dan tertusuk pisau racun 15 kali banyaknya. Sampai gerakannya terhenti dan tak bernyawa.
"Hosh... Hosh... Hampir saja." Anzel bercucuran keringat dan dilumuri cipratan darah Johan. "Ohh iyaa... Masih ada anak itu, aku harus membunuhnya sekarang! Johan ini hanya mengulur waktuku saja."
Tanpa menunggu lama Anzel mengejar Aldridge yang kabur.
Aldridge terus berlari keluar menuju gerbang depan istana namun tak ada tempat aman lagi, Middle District terbakar dimana-mana. Rich District diserbu pasukan musuh. Kingdom Area meski tak diserbu sama sekali tetapi ada pengkhianat gila bernama Anzel.
"Hosh... Hosh... Hosh..." Aldridge terus berlari dengan nafas tersengal-sengal. "Aku harus keluar dari sini, harus... keluar..."
"Teruslah berlari! Putra Johan! Wahahaha!" Anzel mengejarnya dengan sebuah sihir kegelapan yang mendorongnya terbang dan bergerak cepat.
"Aku sudah tak kuat berlari lagi..." Aldridge terus memaksakan diri berlari dan terus berlari sampai ia jatuh tersungkur karena tersandung. "Aduuhh!"
Anzel berhasil menangkap Aldridge dan berada di atas Aldridge yang tersungkur jatuh, bersiap membunuhnya dengan cara yang sama dengan ayahnya.
"Kau mendengar apa tadi?" tanya Anzel dengan wajah seram.
Jawab Aldridge tanpa ragu. "Aku dengar semuanya! Kau pengkhianat! Kau pembunuh! Kau MONSTER!"
"Ohh... Kau tak pandai berdiplomatis ya... Betul! Aku ini memang Monster! ... Dan Monster ini akan..." Anzel menancapkan Pisaunya ke Aldridge ...
"Energy Slash !!"
Anzel tertebas seketika dan terlempar jauh ...
"SIAPA! ... SIAPA LAGI INI!" Anzel murka dan wajahnya merah.
.
.
.
"Guru pedang no 1 se-Dalemantia ... Larx."
"Ternyata cuma kau..." Anzel menghempaskan Larx dengan pusaran udara berwarna hitam. "Enyahlah!"
"Dark Force !!"
Larx terhempas jauh karenanya.
"Sekarang... Mati Kau! Hee?" Anzel tak melihat Aldridge lagi. "SIALAN! Dia sudah kabur! GRAAAAAA!!" Anzel menghempaskan kekuatan jahatnya dan merusak segala sesuatu disekelilingnya.
***
Aldridge berhasil kabur dan sampai di gerbang antara Rich District dan Middle District.
"Terima kasih Guru... Tapi, Sekarang aku harus kemana?" Aldridge kebingungan.
"Aldridge, Aldridge, ayo kesini ikut aku." teriak Celia. "Kita menuju ke gerbang barat dan kabur dari sini."
Aldridge mengikuti Celia sambil menangis, namun saat hendak kabur ia terkena peluru nyasar.
"ALDRIDGE!" Celia teriak histeris.
"Agh..." Tangan Aldridge berusaha menggapai Celia yang sudah berada di depannya. "Celia..."
Seketika pandangan Aldridge buyar dan gelap gulita.
"Nona Celia, buruan, kita harus cepat keluar lewat gerbang barat!"
"Ma-maafkan aku Aldridge..." Celia berlari meninggalkan Aldridge dengan menangis.
***
24 jam kemudian Dalemantia Empire yang tak terkalahkan selama 10 tahun jatuh di tangan para pemberontak dari negeri tetangga, penyebab serangan besar ini tak terdeteksi dan masih belum diketahui.
Setelah perang ini... Vayne, menghilang...
Tatapan Aldridge kosong dan ia terkapar di tanah meski peluru tadi hanya mengenai punggungnya tanpa menembus tubuhnya. Aldridge bukan hancur fisiknya melainkan mentalnya.
Perang seketika usai kurang dari 1 hari dan Dalemantia dinyatakan kalah telak. Para pemilik tanah sesungguhnya berhasil merebut kembali wilayahnya. Sedangkan Dalemantia hanya tersisa puing-puing. Bangunan-bangunan terbakar dan para manusia putus asa yang kehilangan segalanya. Sebagian berhasil mengungsi ke wilayah barat. Dan Area Kingdom adalah satu-satunya area yang tak diserang sama sekali.
Berita Perang ini tersebar dalam surat kabar koran diseluruh dunia sebagai Headline utama yang diberitakan sebulan penuh secara berturut-turut. Berita ini terus hangat diperbincangkan dan menghebohkan seluruh dunia yang tercatat sebagai peristiwa yang dikenal bernama...
"Fall of Dalemantia"
***
Glosarry ---
(Broadsword adalah pedang besar yang harus digunakan dengan dua tangan karena berat, biasanya di sarungkan di belakang pundak.)
Aloysius Aldridge Age 15
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top