[3.2] Hermes Squad: Story Part 1

Myosotis

Kuhentikan langkahku tepat di mana aku bisa melihat pemandangan ini. Panasnya api yang berkobar di mana-mana, terasa sampai bahkan seluruh tubuhku.

Kukeluarkan pedang dari sarungnya. Rasa kesal yang tercampur aduk dengan perasaan lainnya menguatkan peganganku pada pedang.

Tanganku tergerak menghunuskan pedangku ke arah perkotaan.

Menarik napas panjang, dan mengeluarkannya kasar. Tatapanku yang kupertajam, menandakan kekuasaanku.

Tak akan pernah kurasa puas jika melihat warga negaraku tidak puas.

Negara ini di bawah kekuasaanku. Keadilan, kemajuan, kemakmuran, semuanya ada di tanganku.

Maka dari itu, kuarahkan pedang ini ke arah yang pantas untuk mendapatkannya. Berteriak bahwa aku akan menghancurkannya sampai tak tersisa.

🌺🌺🌺

Genre: Adventure.

Sub-genred: Fantasy, romance, friendship.

Songfic: Burn; by Flow.

--------------------------------------------

Negeri yang sangat terkenal ketentraman, kedamaian, tidak lupa dengan keindahannya. Itulah negeriku, yang biasa dikenal dengan sebutan Arcadia.

Aku yang terlahir sebagai Luciel Archangel, merupakan pangeran tunggal dari negeri yang terkenal tersebut.

Namun kesejahteraan itu hilang. Pemandangan tergantikan dengan mereka yang datang satu tahun lalu, tepat ketika ulang tahunku. Bahkan aku tidak menyangka akan melihat neraka di negeriku sendiri.

Ketika sekelompok monster datang ke negeriku, Arcadia. Monster berbentuk ular yang bahkan lilitannya bisa mematahkan puluhan tulang orang dewasa atau mungkin bisanya dapat mencemari negeriku. Mereka mungkin dapat membuat punah manusia dalam perlahan. Kami memanggil monster itu Jormugand.

Para prajurit istana yang awalnya bisa mengatasi ini mulai muak, dikarenakan jumlah mereka yang terus bertambah. Betapa baiknya mereka yang masih tetap berusaha mengalahkan Jormugand demi kejayaan negeriku.

Jumlah penduduk yang masih bisa bertahan sangatlah sedikit. Tidak ada yang bisa kami lakukan. Kalau mungkin hanya ada satu dan ini yang paling buruk, lari dan sembunyi untuk menyelamatkan diri sendiri.

Dan aku selalu mempertanyakan kepada diriku sendiri, mengapa orang sepertiku hanya bisa menjadi pengecut? Mengapa aku hanya mengandalkan para prajurit yang mati-matian mengalahkan monster itu, sedangkan aku hanya duduk diam di sini?

Aku hanya menatap kosong dari kamarku. Setiap waktu, aku pasti bisa melihat pemandangan yang sama. Hanya ribuan nyawa yang setiap saat melayang dan itu tidak berubah. Tidak lelahkah Jormugand membunuh prajuritku yang sama sekali tidak bersalah?

Mereka mati karenaku. Demiku, demi keluargaku, mereka sampai mengabaikan nasib keluarganya.

Aku mengepal tanganku refleks, sesak dadaku dipenuhi rasa bersalah. Pangeran macam apa diriku yang hanya diam menonton di sini? Aku yang harusnya berada di sana! Aku yang harus mengorbankan diriku! Apa yang selama ini aku pikirkan, dasar pengecut!

"Pangeran Ciel."

Aku menoleh ke arah suara datang. "Ada apa?"

Victor, pengawal setiaku membungkuk memberi hormat. Wajahnya yang biasa terlihat tenang, kini terlihat gugup dengan keringat yang tak henti mengucur.

"Pangeran, anda harus segera bersembunyi. Para Jormugand itu sudah sampai di gerbang istana, jika prajurit gagal menghentikannya dalam beberapa menit monster itu akan memasuki istana."

Dahiku mengerut memikirkan banyaknya prajurit yang akan terbunuh jika Jormugand lolos dan masuk ke wilayah istana.

Tanpa menanggapi ucapan Victor, aku melangkah menuju lemari tempat menyimpan senjataku. Kubuka lemari itu, dan mengambil sebuah pedang angin. Aku menatap pedang pemberian ayahku itu, menggenggamnya erat.

"Aku tidak akan bersembunyi di sini lagi, Victor!"

Aku mengangkat pedangku, bergegas ke gerbang utama.

"Pangeran berhenti! Anda tidak akan bisa melawan monster itu meski dengan pedang angin sekalipun!"

Victor terus berusaha menghentikanku. Aku mengacuhkannya, aku tidak akan menjadi pengecut lagi! Sudah cukup aku bersembunyi selama satu tahun. Sekarang saatnya aku menghabisi monster biadab itu.

"SERANG!!"

Ketika mencapai gerbang istana, suara teriakan para prajurit terdengar memekakan telinga. Mendengar teriakan itu darahku serasa mendidih, semangatku berkobar.

"Berhenti Pangeran Ciel!"

Victor memegang tanganku dengan erat. Aku menatapnya sinis, namun Victor justru makin mengeratkan pegangannya. Dengan kasar aku menepis tangan Victor, dan berlari menuju tempat para Jormugand berada.

Aku berlari secepat mungkin, melawati kerumunan prajurit. Kuhunuskan pedangku.

Dengan bertumpu pada lantai aku melompat, sedikit berputar mengincar kepala Jormugand yang tingginya bermeter-meter di atasku.

Kutancapkan pedangku ke kepala monster itu. Cairan pekat berwarna merah kehitaman menyembur keluar mengotori bajuku.

Jormugand itu tak mati, dia justru mengamuk, menggerakan kepalanya dengan arogan. Pedangku terlepas begitu saja, dan aku terlempar dari atas kepala Jormugand.

"Pangeran!"

Tubuhku menghantam tembok istana, tembok yang terbuat dari kayu itu hancur. Tanganku berusaha bangkit dari tempatku, mengutuk dan terus menggerutu pada diriku yang lemah karena tidak bisa melindungi negaraku.

Kuulangi, pangeran macam apa aku ini? tidak bisa melindungi rakyatku sendiri. Prajurit-prajurit mulai berlari melindungiku.

Pengecut. Betapa menjijikannya aku ini? Pantaskah mereka melindungi seorang pengecut ini?

"Pangeran! Cepat lari ke perpustakaan, di sana ada jalan rahasia untuk keluar dari istana. Kami akan menangani ini semua!" Salah satu prajurit itu membuatku tersentak, aku menggeleng kepalaku dengan tegas.

"Mana mungkin! Aku tidak bisa meninggalkan kerajaanku begitu saja," Balasku dengan suara sedikit bergetar.

Prajurit-prajurit menoleh ke arahku dan mengulas senyum, salah satu dari mereka memberikan pedang milikku.

"Jangan khawatirkan kami, Pangeran. Sekarang pergilah!"

Aku masih diam seperti patung, enggan untuk pergi.

"Cepat pergi Pangeran! Anda harus selamat, demi masa depan negeri ini!"

Badanku mulai bergetar. Mereka benar, aku harus pergi. Karena aku tak cukup kuat untuk melindungi mereka, aku harus pergi dari istana dan mencari bantuan.

Aku mendecih. Bangkit dan menerima pedangku, mulai berlari ke dalam istana dengan tertatih. Aku terus mengumpat kesal saat berlari ke perpustakaan istana.

Tanganku mengepal erat menggenggam pedang, sesak sekali rasanya mengingat kejadian tadi berulang-ulang. Aku yang tadi hanya seperti anak kecil terluka.

Aku menghentikan langkahku saat tiba di depan pintu perpustakaan, aku membuka pintu itu dengan perasaan yang masih kacau.

"Sial!" Seruanku memenuhi ruangan luas ini, aku terus mengutuk diriku yang lemah dan tak bisa apa-apa ini.

Suara gemuruh dan ledakan akibat pertempuran terdengar kerasnya. Ruangan ini pun ikut bergetar hebat terkena efeknya. Buku-buku yang tertampil rapi di rak berjatuhan. Aku menahan tubuhku agar tidak terjatuh dengan bersandar di tembok.

Mungkin itu akan menjadi lawakan yang lucu karena itu percuma. Aku terjatuh ke lantai membuatku tertumpuk oleh buku-buku yang menindihku.

"Sialan." Aku mencari pegangan dan berdiri saat getaran berhenti.

Buku yang satu-satunya berada di meja kuambil karena daya tariknya yang hebat. Meski buku itu sedikit berdebu, mataku tak hentinya melepaskan pandangan.

"Pangeran Ciel!"

Aku menoleh, telihat Victor muncul dari pintu perpustakaan. Ia berlari kecil ke arahku dan menghela napas lega melihatku yang baik-baik saja.

"Aku baik-baik saja Victor," Ucapku dengan senyum, kemudian melihat ke buku itu lagi.

Mataku membulat. Aku terlalu kaget untuk mempercayai tulisan di buku ini. Seperti tentang Jormugand bisa dikalahkan dengan empat senjata atau apalah itu.

"Pangeran, buku apa itu?" Victor terlihat penasaran dengan reaksiku.

Aku menutup buku, dan menoleh ke arahnya. "Apa kau tahu tentang empat senjata yang bisa mengalahkan Jormugand?"

Membalikkan pertanyaan kepadanya, ia justru tersentak mendengar pertanyaanku dan malah tersenyum tipis.

"Kelihatannya saya harus memberi tahu tentang empat senjata yang dapat menyelamatkan negeri kita, ya?" Ia terdiam sejenak.

Victor mulai menjelaskan keempat senjata legendaris itu. Mulai dari pedang angin yang mampu mendatangkan badai, panah roh yang tak akan pernah meleset, tombak api seterang matahari, sampai ke buku legendaris yang dapat mengeluarkan kekuatan magis.

Victor juga memberi tahu, pedang yang berada di diriku sekarang merupakan salah satunya. Dan sisanya, masih belum ditemukan.

Entah mengapa aku optimis dapat menyelamatkan negeriku hanya dengan empat sejata itu.

Aku menatap Victor setelah berpikir cukup lama. Dan aku berhasil membuatnya kaget hanya dengan kalimatku.

"Aku akan mencari senjata itu, Victor. Aku akan mulai dari kota Alexandria! Tunggu aku, aku akan membawa empat senjata itu pulang!"

----------------------------------------------

Keputusanku bulat untuk menemukan pemilik senjata lainnya. Tidak mungkin ada yang bisa menghentikanku, kapan pun itu.

Dengan tekad kuat, kulangkahkan kakiku keluar istana dan memulai perjalanan ke ibu kota, Alexandria.

Perkataan Victor sebelumnya masih terngiang jelas dibenakku.

"Pangeran Ciel, apa anda yakin ingin mengumpulkan semua senjata itu? Di luar masih belum aman," ucap Victor memohon agar aku mengurungkan niatku ini.

"Aku sangat yakin. Mau sampai kapan kita terus berdiam diri seperti ini? Harus ada yang bertindak, yaitu aku!" ucapku dan segera pergi meninggalkan istana.

"Pangeran Ciel, tunggu!" tahan Victor.

Aku membalikan badanku dan menatapnya. "Ada apa lagi?" Tanyaku sedikit kesal.

"Saya mendengar rumor bahwa panah roh dimiliki oleh mantan jenderal terdahulu, dan mungkin kini panah tersebut diwariskan pada anak perempuannya, Azuera Leona," jelas Victor.

Aku mengangguk. "Baiklah, aku akan mengingatnya. Terima kasih Victor," ucapku dan akhirnya pergi.

Aku tidak menggunakan kuda, melainkan berjalan kaki karena jarak ke ibu kota yang begitu dekat dari istana.

Aku juga berjalan sendirian tanpa dikawal seorang prajurit pun. Tadinya Victor ingin ikut denganku, tapi aku melarangnya. Dia harus tetap di istana, menjaga prajurit yang tersisa dan kedua orang tuaku.

Di perjalanan, aku hanya bisa menatap sendu keadaan kota yang hancur. Negeriku yang indah dulu, kini tak lebih dari sebuah negeri di balik reruntuhan.

Aku merasa sangat bersalah karena hanya bisa bersembunyi di balik dinding bata itu, padahal sebenarnya dirikulah penerus takhta yang harus melindungi tempat ini.

Mengapa aku sangat lemah?

Langkahku mulai memelan, ekor mataku menatap kerumunan orang di ujung sana. Aku menoleh dan melihat sekilas apa yang ada di balik kerumunan.

Dari sela-sela kerumunan, mataku dapat menangkap sosok seorang perempuan tengah mengobati beberapa orang.

Perempuan itu memiliki rambut berwarna biru laut yang indah menurutku, matanya berwarna ungu tua layaknya bunga lavender.

Aku memandang wanita itu cukup lama. Kuakui aku tertarik dengan perempuan itu, bukan dengan wajahnya saja namun dengan cara ia mengobati luka-luka para penduduk.

Dia menggunakan sihir untuk mengobati luka. Selesai mengobati penduduk, gadis itu tersenyum lembut dan melangkah pergi. Dia terlihat sungguh keren.

Setelah beberapa menit aku terpaku menatap perempuan itu, akhirnya aku melanjutkan perjalanan ke kediaman mantan jenderal Azuera.

Butuh beberapa menit lagi untuk sampai di kediaman dari tempatku terhenti tadi.

Jalanan begitu sepi dan sunyi, tidak ada tanda-tanda kehidupan satu pun di sini, bercak darah tersebar di mana-mana. Aku menghela napas, mempercepat langkahku agar lebih cepat bertemu dengan anak mantan jendral itu dan menyelesaikan semuanya.

Perjalananku berakhir pada sebuah rumah tua nan megah di hadapanku. Inilah rumah Jenderal pemilik panah roh itu, kakiku melangkah memasuki pekarangan rumah dan berdiri tepat di depan pintu kayu.

Aku mengetuk beberapa kali pintu kayu besar tersebut. Selang beberapa detik kemudian, seseorang membukakan pintu.

Kepala seorang pria paruh baya menyembul dari dalam rumah. Aku membungkukkan sedikit tubuhku memberi salam. Pria itu berjengit sesaat dan langsung membuka pintu lebar-lebar.

"Pangeran Luciel," ucap pria itu sedikit membungkuk. Ia memberiku jalan untuk masuk ke dalam rumahnya, dengan senang hati aku melangkah masuk.

Pria itu mempersilakanku duduk dan menuangkan teh hangat ke dalam cangkir di hadapanku. Aku berterima kasih, lalu ia duduk di seberangku.

"Apa yang membuat anda datang kemari pangeran? Apakah anda butuh bantuan saya?" Tanya pria berpangkat Jenderal yang kini telah pensiun itu.

"Ah, benar. Saya datang kemari ingin bertemu dengan anak anda, apakah boleh?" Tanyaku sopan agar menjaga nama baik kerajaan.

Pria itu mengangguk cepat dan segera memanggil seseorang yang tidak lain adalah anaknya. Selang beberapa menit, seorang perempuan berambut ungu ikal dikucir kuda muncul.

Ia menatapku dengan mata merah tajamnya dan langsung memberi hormat.

"Pangeran, ini anak saya. Kalau begitu, saya permisi dulu. Silakan pangeran mengobrol dengannya."

Kini hanya kami berdua yang ada di ruang tamu. Perempuan yang kuingat bernama Leona itu berdiri kaku di ujung ruangan. Perlahan ia berjalan mendekat dan akhirnya duduk di tempat ayahnya tadi.

"Jadi kau yang bernama Leona, benar?" Tanyaku.

Perempuan itu mengangguk canggung, sepertinya ini baru pertama kalinya ia bertemu dengan pangeran sepertiku.

"Ada yang bisa aku bantu Pangeran?" Tanya Leona. Aku mengangguk dan mulai berbicara.

"Kau bisa memanggilku Ciel saja. Langsung ke intinya, aku datang untuk meminta bantuanmu." Aku memberi jeda sebentar.

"Rumor mengatakan, kau memiliki panah roh yang bisa membunuh para Jormugand. Oleh karena itu, aku ingin kau membantuku mengalahkan monster itu, dan menyelamatkan kota.

"Kumohon dengan seluruh kehormatanku tolong pinjamkan kekuatamu, nona Azuera Leona." Aku membungkukkan badanku sedikit.

Leona yang melihatnya langsung bangkit. "Pangeran tidak perlu memohon seperti itu. Saya akan membantu pangeran sampai titik darah penghabisan. Saya akan terus mengabdi pada anda, dan saya akan menjadi pengawal anda jika perlu."

Aku kembali berdiri tegak dan menatap mata Leona. "Baiklah, mulai sekarang kau akan menjadi pengawalku. Selain itu, kau akan menjadi temanku jadi berhentilah bersikap formal."

Aku tersenyum tipis. Leona mengangguk, dan berpamitan pergi meninggalkanku sejenak.

Beberapa menit kemudia, ia kembali dengan baju berbeda, dan membawa senjatanya, panah roh.

Melihatnya yang siap, aku langsung berdiri. Aku memceritakan tentang empat senjata kepadanya. Aku senang karena dia mendengarkan penjelasanku dengan intens.

Ia juga terlihat sangat siap untuk mencari kedua senjata lainnya dan membunuh Jormugand.

Leona berpamitan dengan orang tuanya terlebih dahulu. Aku menunggunya di luar. Aku masih memikirkan ke mana kita akan pergi selanjutnya.

Ayah Leona sangat baik. Beliau memberiku kuda untuk transportasi. Dengan senang hati aku menerimanya, mengucapkan terima kasih.

Pada detik itu juga, perjalanan mencari kebahagiaan pun dimulai.

Perjalanan kami hanya ditemani dengan suara sepatu kuda. Tidak ada satu dari kami yang berbicara sepatah kata pun.

Sesekali aku melirik kearah Leona. Dia terlihat seperti perempuan tangguh, tidak seperti perempuan lain yang pernah kutemui.

Sudah beberapa jam kami menelusuri kota Alexandria. Melewati perbatasan, hutan, dan lembah. Akhirnya kami pun sampai di hutan Dulkenwald (wilayah barat provinsi Nibelheim).

"Berhenti di sini Leona," ucapku.

Aku mengehentikan kudaku, diikuti Leona. Kami bersamaan menuruni punggung kuda.

"Kita istirahat sejenak di hutan ini," kataku merenggangkan badan, lelah menunggangi kuda.

Leona mengangguk lagi dan segera menurunkan barang-barang, aku juga membantunya agar cepat selesai.

Kami beristirahat di bawah pohon rindang melepas penat untuk beberapa menit.

---------------------------------------------

Setelah cukup lama beristirahat, aku pun bangkit. Kulirik Leona, dan tersenyum sedikit.

"Sudah siap? Mari kita lanjutkan perjalanan ini," kataku.

Leona hanya mengangguk, kami mengemasi barang-barang dan menaiki kuda, mereka mulai berjalan perlahan.

"Kita akan kemana lagi, Pangeran?" Tanyanya menoleh saat ke arahku.

"Leona, sudah kubilang panggil aku Ciel saja bukan?" Balasku dengan pertanyaan.

"Ah, tapi menurutku itu tidak sopan." Entah mengapa sedikit canggung untuk berbicara dengannya.

"Kita kan teman. Lagipula, aku kurang nyaman jika dipanggil seperti itu," paksaku sambil tersenyum.

"Baiklah Ciel," katanya yang akhirnya mengalah.

Srek, srekk.

Terdengar suara di balik semak-semak. Aku dan Leona tentunya, meningkatkan kewaspadaan.

"Sebaiknya kita segera keluar dari hutan ini, Leona!" Seruku ingin memutar balikkan kuda yang kutunggangi.

Tepat setelah kalimatku berakhir, lima perampok keluar dari semak-semak mengadang jalan kami dari berbagai sisi.

"Biarkan aku yang menghadapi mereka," ucap Leona.

Leona mengangkat panahnya, dan menghadapkannya ke salah satu perampok yang menghalangi jalan kami.

"Apa yang kalian inginkan?" Leona mengeraskan suaranya.

Tiada satu pun dari mereka menjawab. Mereka malah semakin mendekat ke arah kami. "Baiklah, kalian yang meminta ini."

Leona melepaskan anak panah dari busurnya. Aku kaget ketika anak panah itu meleset dengan cepat. Bagaimana mungkin anak panah itu meleset tanpa ada yang menangkisnya?

Salah satu dari mereka memegang tombak yang memercikan api. Tak salah lagi itu tombak api! Hanya karena itukah anak panak Leona meleset?

Leona kembali melesatkan anak panahnya. Percuma, laki-laki itu kembali menangkis anak panah Leona.

Ternyata sama kagetnya dengan diriku, Leona mungkin tidak menyangka panahnya bisa meleset. Ia terlihat begitu kerepotan, aku harus membantunya!

Aku mengeluarkan pedangku, dan kuarahkan ke laki-laki tersebut. "Leona, biar aku saja yang menghadapinya."

"Baik," jawab leona singkat.

Aku mengayunkan pedangku ke arahnya dan para perampok yang lain, mereka semua mundur karena disapu oleh angin terkecuali lelaki berambut merah tersebut, ia mendecih merendahkan.

"Kemampuanmu hanya begitu? Payah!" Serunya.

Aku meloncat dan muncul tepat di belakangnya, pedangku terangkat bersiap untuk menusuk punggunggnya. Tapi dia memukul pedang anginku dengan tombaknya, pedangku pun terlempar cukup jauh.

Lelaki berambut merah itu mendorongku hingga tubuhku terjatuh di atas tanah, dia hendak menusukku dengan tombak apinya, dengan refleks aku memegang tombaknya dengan kedua tangan.

Dari kejauhan aku bisa melihat Leona berlari ke arahku, dia membawa pedangku dan melemparkannya. Dengan sigap aku langsung menendang tubuh laki-laki ini, dan menangkap pedangku.

Lelaki berambut merah tersebut mundur beberapa langkah. Aku berlari ke arahnya dan menebas perutnya, namun dia berhasil menghindar.

Ide muncul di kepalaku, kuayunkan pedang ini ke arah kakinya, angin mendorong lelaki berambut merah tersebut hingga jatuh di atas tanah.

"Menyerah, atau kami yang akan membawamu ke penjara dengan paksa!" Kataku lantang sambil menodongnya dengan pedang.

Lelaki berambut merah itu mendecih kesal. "Tch, baiklah aku menyerah," ucapnya sedikit menyeringai.

Aku membiarkannya berdiri, kutatap lekat tombak milik lelaki itu. "Tombak yang kau miliki, benarkah itu tombak api? Siapa kau sebenarnya?" Tanyaku penasaran.

"Ya, ini tombak api. Dan aku adalah Rutger Albrecht pemimpin dari perampok-perampok yang menyerangmu serta gadis di belakangmu," jawab lelaki tersebut tersenyum sombong.

"Rutger, aku ditugaskan untuk mengumpulkan senjata-senjata yang dapat mengalahkan Jormugand, dan kau adalah salah satu dari pemilik senjata tersebut. Maka dari itu kumohon untuk ikut mencari satu senjata lagi dan mengalahkan Jormugand," ucapanku yang penuh dengan keyakinan membuatnya sedikit tersentak.

"Boleh saja." Dia menatap datar, aku tersenyum kecil mendengar jawabannya. Ternyata tak sesulit yang kukira.

"Tetapi memohonlah kepadaku, wahai Pangeran!" Kata Rutger tersenyum berkuasa. Memohon? Bukankah sedari tadi aku memohon kepadanya?

"Oiyaa, jangan lupa sambil bersujud kepadaku!" Lanjutnya memperlihatkan giginya dan tertawa keras.

Aku terdiam sejenak, membuang segala egoku. "Baiklah, jika itu yang kau mau."

Kumasukkan pedangku ke sarungnya, dan mulai bersimpuh. Aku meletakkan kedua tanganku di tanah dan mulai bersujud, tetapi sesuatu menahan kepalaku.

"Ciel, jangan lakukan itu." Leona menahanku dengan busurnya.

"Hei, Kepala merah. Apa maumu sebenarnya? Dan jika kau tahu Ciel itu pangeran, mengapa kau berani bersikap tak sopan padanya?" Leona mengeraskan suaranya dan menatapnya tajam sambil menodongkan anak panah.

"He? Dia beneran pangeran? Dia terlihat terlalu lemah!" Tanya Rutger berekspresi bodoh.

"Ah jangan tersinggung, aku hanya bercanda." Rutger tersenyum dan mendekatiku.

"Apa maksudmu bercanda, hah?" Leona menghalangi jalannya mendekatiku.

"Bercanda, ya bercanda. Permisi, nona." Dia melewati Leona dan menyodorkan tangannya ke arahku.

"Maksudmu?" Tanyaku tidak mengerti.

"Hah? Kau bodoh atau apa? Aku mengajakmu bersalaman sebagai tanda kerja sama kita," ucapnya tersenyum meyakinkan.

Baiklah, aku menerima sodoran tangannya. Dan tanpa kuduga dia membantingku keras.

"Persetan!" Teriak Leona yang tampak marah.

Dia melempar tombak apinya menghentikan Leona yang mendekat, dan duduk di sampingku.

"Bodoh." Katanya sambil memukul dahiku. Dia membantuku berdiri dan tersenyum.

"Jadilah lebih kuat dan cerdik. Jika tidak, aku akan berhenti mengikutimu," ucapnya.

Aku mengerang kesakitan, berpikir sejenak. "Kau menerima ajakkanku?" Tanyaku antusias.

"Hmph, ya tidaklah." Dia menjulurkan lidahnya membuatku kesal.

"Tidak salah lagi," lanjutnya terkekeh pelan, membuatku berdiri sempurna lalu menendang perutnya kencang.

"SAKIT, BODOH!" Rutger berteriak memegang perutnya.

"Hahahah! Tidak baik bukan, kalau tidak membalas kebaikan seseorang?" Tanyaku tertawa lepas.

"Sialan." Dia masih memengangi perutnya.

"Hei, aku membantumu demi rakyat yang harus di lindungi! Jadi jangan harap aku akan menghormatimu sebagai pemimpin atau sejenisnya!" Serunya.

Ah sial, aku bertemu orang yang cukup liar dan kurang ajar rupanya. Tapi biarkanlah.

"Baiklah," ucapku mendekat ke arah Rutger.

Di sisi lain Leona berjalan menghampiriku sambil membawa tombak Rutger. "Ah, panas!" pekiknya.

Aku pun memegang sisi lain tombak itu, ini hangat bukan panas.

"Hoi! Jangan sentuh-sentuh seenaknya!" Seru Rutger. Dia hendak merebut tombak itu namun gerakannya terhenti. Dia justru menatapku aneh.

"Kau pendek juga ya." Rutger memegang kepalaku dengan ekspresi mengejek.

Ah, menyebalkan! Aku menarik tombak yang kupegang bersama Leona dan menggerakkannya ke arah Rutger.

"Oh, maaf. Kepeleset-" kataku sembari menodongkannya ke muka Rutger. Tapi,

"Panas!" Pekikku. Aku menjatuhkan tombak api Rutger dan langsung memegang tanganku. Entah kenapa tombaknya menjadi panas.

"Jangan dijatuhkan, woi!" Rutger langsung menggambil tombaknya dan terlihat kesal.

"Hei, setelah ini kita langsung ke tempat Jormugand itu?" Tanya Rutger sambil memasukkan tombak ke tempatnya.

Aku menggeleng dan berjalan.

"Masih ada satu senjata lagi yang harus kita temukan." Aku berkata sambil mengepalkan tanganku.

"Aku ingin ini cepat berakhir!" Aku mengacak rambutku frustrasi, dan mengigit bibir bawahku.

"Kau ingin cepat berakhir, tapi kau malah bergaya seperti orang frustrasi. Itu membuatku kesal, dasar bocah," cibir Rugter melipat tangan di dada.

Aku menghentikan langkahku, berbalik badan ke arahnya. Aku ingin membentaknya tetapi dia menyelaku, "Aku hanya ingin membantumu jika kau sudah tenang."

"Bagaimana caraku tenang di saat seperti ini, Rugter Albrecht! Kau tidak akan mengerti, karena kau tidak berada dalam posisiku!" Aku mendekatinya bergaya menantang dengan memegang bajunya.

Apa yang kupikirkan? Kenapa aku malah memarahinya?

"Hmph, aku bersyukur aku punya otak brilliant." Dia terkekeh dan melepaskan tanganku dari bajunya. Apa maksudnya?

"Hei, Nona. Ayo, ikuti aku." Rutger berjalan ke arah hutan.

"Aku tidak akan ikut denganmu, jika kau meninggalkan Ciel di sini." Leona berkata tegas dengan matanya yang tajam.

"Biarkan bocah itu berpikir dengan tenang dulu. Kau ikuti saja aku." Sambil berjalan, Rutger terus berbicara dan memberi Leona tanda untuk terus mengikutinya.

"Sudahlah, Leona. Ikuti saja dirinya," aku berkata kepada Leona.

"Aku tidak mau!" Leona sedikit berteriak agar Rutger berhenti untuk sementara.

Hal itu berhasil. Rutger diam di tempatnya, dan aku bisa merasakan dia mendecih kecil. Apakah dia membenciku?

"Leona, ikuti saja. Aku akan menyusul kalian nanti." Aku tersenyum ke arah Leona.

Leona menatapku sedikit khawatir. Lalu dia berlari kecil mengikuti Rutger.

Aku justru merebahkan diriku di rerumputan, dan menarik napas. "Di manakah senjata terakhir itu berada ... Siapapun yang memegangnya, aku membutuhkan senjata itu. Kumohon agar ini semua cepat berakhir."

Aku memejamkan mataku, merasakan angin dingin yang menusuk kulit. Aku ingin semua ini cepat berakhir dan hidup damai, bisakah?

Kehancuran, kehilangan, kematian, aku lelah melihatnya.

Sejauh apapun aku memandang, yang terlihat hanya lautan darah dan raga tanpa nyawa.

Teriakan-teriakan aneh menggema di telingaku. Meminta diselamatkan. Mereka menjerit, merintih, dan mengutuk.

"Pangeran tolong kami!"

"Anak-anak sepertimu memang tidak becus!"

"Bersikaplah lebih dewasa, Pangeran!"

"Kau menyayangi rakyatmu, kan? Kenapa kau lari sendiri! Jika tak bisa menolong setidaknya matilah bersama kami!"

Hentikan! Kumohon, maafkan aku. Hentikan! Hentikan!

Siapapun ... Tolong aku ...

"Hei, Ciel!"

Aku langsung membuka kedua mataku kaget.

"Le-Leona?" Tanyaku terbata-bata. Aku mulai mengubah posisiku menjadi duduk.

"Hei, bocah. Kau benar-benar bocah atau apa? Tidur saja menangis," tanya Rutger yang duduk bersandar di sebelahku.

Aku langsung menyentuh kedua sisi pipiku. Ah sial dia benar, aku menangis. Segera kuusap air mataku, dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa.

"Kau sedari tadi memanggilku bocah, memang berapa umurmu?" Tanyaku sedikit kesal.

"Masih muda, 18 tahunlah," Jawabnya sambil memberiku ibu jarinya.

"Heh, kau lebih muda dariku ternyata huh? Minta maaf sekarang, bocah!" Aku mengepalkan tanganku.

"Hah? Memangnya kau berapa? Seenaknya menyebutku bocah begitu." Dia terlihat sedikit kesal.

"19 tahun. Dan aku lebih tua setahun darimu," kataku bangga.

"Kau hanya lebih tua setahun dariku, jangan bangga dasar bocah tua!" Dia mulai berdiri ke arahku.

"Siapa yang kau panggil bocah tua, dasar bocah!" Aku terbawa suasana, ikut berdiri dan menghadapnya.

"Kau, dasar bocah tua!" Dia menatap diriku dengan murka.

"Siapa?" Tanyaku lagi.

"Kau, bocah tua!" Dia menunjuk diriku.

"Yang nanya!" Kataku dengan bangganya lalu tertawa terbahak-bahak.

Kesal, Rugter membalikkan pertanyaan lagi "Kau pikir lelucon itu masih ngetrand?"

"Iyalah!" Aku masih bangga dengan diriku yang berhasil membuat sedikit lelucon yang menghibur.

"Ah, masa?" Tanya Rugter memasang wajah merendahkan.

Aku yang mudah terbawa suasana menjawab tegas, "Ya."

"Bodo!" Sekarang terbalik. Dia tertawa terbahak-bahak, aku sudah menahan emosiku yang ingin memukulnya.

"Pffft ..." Bahkan Leona sekalipun terlihat menahan tawanya membuat Rutger tertawa semakin keras.

"Sialan." Aku mendudukkan diri.

Tunggu, aku yakin tadi aku tertidur di hutan. Kenapa sekarang aku ada di tempat yang terbuat dari kayu seperti ini?

"Ini di mana?" Tanyaku kepada Rutger yang masih tertawa.

"Hah? Ya di bumi, bodoh!" Dia masih saja terus tertawa, membuatku kesal.

"Jaga tuh gigi. Kering loh ketawa mulu," Ucapku judes.

"Berisik. Tadi aku dan temanmu itu menunggu di sini, tapi kau tak kunjung datang. Itu membuatku kesal, kau tahu? Dan tenyata kau bukannya menenangkan diri malah asik tidur di sana. Jadi aku menggendongmu kemari. Berterima kasihlah," jelas Rutger.

"Ah maaf, aku tadi tertidur dan bermimpi," ucapku tak enak.

"Maaf juga, tadi aku tidak bersikap dewasa," lanjutku.

Rutger hanya menjawab permintaan maafku dengan gumaman saja.

Rutger bertanya lagi, "Jadi, aku harus memanggilmu apa?"

"Aku?" Tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.

"Bukan, perempuan yang di belakangmu itu," ucap Rutger sambil terkekeh.

"Terong." Aku menyiniskan mataku.

"Kau dulu saja, lah." Rutger menatapku bercanda.

"Luciel Archangel. Nama yang indah, bukan? Kau boleh memanggilku Ciel," kataku menaruh kepalan tangan di dada.

"Ciel, eh?" Dia bergumam sendiri, "Dan kau, nona?"

"Azuera Leona. Panggil aku Leona saja," ucap Leona tersenyum manis.

Wah, wah. Leona sepertinya punya bakat menggaet pria. Lihatlah, bahkan si Rutger itu sampai bersemu. Atau Rutger saja yang mesum dan gampang tergoda, ya?

"Nama yang lucu." Rutger terkekeh. "Dan kuulangi lagi, aku Rutger Albrecht. Panggil aku Rutt, agar mudah."

Rutt tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.

"Oiya, tadi kau bilang kau akan mencari satu senjata lagi. Itu di mana?" Tanya Rutt memasang muka tak berdosa.

Aku diam dengan muka kesal. Ya, mana aku tahu bodoh! Kalau tahu, pasti aku sudah langsung pergi ke sana sekarang juga. Bukannya malah duduk bersantai di sini.

"Kita sedang mencarinya, Rutt. Kau mau membantu, kan?" Tanya Leona yang masih tersenyum.

Dia terdiam, "Malam ini kalian istirahat saja di sini. Lanjutkan pencarian itu besok. Di sini tidak terlalu sempit. Cukup untuk kita bertiga, kan?"

Rutt mengatakan hal tersebut, lalu berdiri, berjalan entah ke mana tempat yang ia ingin tuju. Keluar? Aku pun tidak tahu.

"Leona, kau tidur duluan saja," kataku menatapnya dan berdiri.

Dia tidak berbicara sepatah kata pun. Entahlah, mungkin ia memang ingin langsung tidur.

Aku keluar dari ruangan itu, dan menampilkan ... Ruang tamu? Aku duduk di salah satu sofa, melamun.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang bisa kulakuan untuk mencari buku tersebut? Adakah seorang yang tahu tentang buku tersebut? Atau mungkin orang ya-

Lamunanku buyar saat seseorang memukul kepalaku. "Mukamu seram, Ciel."

"Apa yang kau mau, Leona?" Tanyaku pada orang yang baru saja memukul kepalaku.

"Tidak ada. Tapi, akan lebih baik jika kau membagi beban pikiranmu pada orang lain." Leona duduk di sofa yang berhadapan denganku.

Aku hanya menunduk tak menjawab.

"Dan kau bisa membaginya kepadaku atau kepada nona manis itu," sela Rutt yang datang entah dari mana. Dia ikut duduk di sofa yang kosong, di samping Leona.

"Aku tidak sudi jika membaginya denganmu, Kepala merah." Aku melipat tanganku sok berkuasa.

"Kepala merah?" Leona berkata memiringkan kepalanya sedikit.

"Ah, tadi kau memanggil Rutt seperti itukan?" Tanyaku balik.

"Tidak kreatif sekali, ide orang saja diambil." Rutt terlihat sirik.

"Ya, apa hubungannya dengan kau? Sirik." Aku mulai menyiniskan mataku melihat Rutt.

"Tadi apa yang kau pikirkan, Ciel?" Leona sepertinya ingin mencegah perkelahian kita berdua. Ayolah aku tidak mungkin melakukan hal itu, Leona.

"Aah, aku memikirkan orang yang memegang buku sihir itu," jawabku.

"Buku?" Tanya Rutt beranjak dari tempat duduknya, entah ingin ke mana.

"Apakah itu senjata ke empat?" Tanya Leona antusias.

"U-Umm, sepertinya." Aku mengangguk.

"Rutt, kau tahu sesuatu tentang orang yang memegang buku?" Leona menghadap ke arah Rutt yang ternyata sedang menyiapkan minuman dan sedikit camilan.

"Rutt? Tunggu. Apa tadi kau memanggilku Rutt?" Aku tak tahu, tetapi dia sepertinya menjatuhkan kotak entah apa itu mungkin karena terlalu kaget.

"Apakah salah? Kau yang memintaku memanggil begitu, bukan?" Leona menaikkan satu alisnya.

"HUAAAA. SENENG BANGET DIPANGGIL GITU SAMA CEWEK CANTIK." Rutt mengambil kotak yang terjatuh tadi dan melemparkannya, dan berteriak 'banzai, banzai.'

Uh. Apa yang dia lakukan?

"Hei, dia bertanya tadi." Aku membuatnya menghentikan kesenangannya.

"Oiya. Mmmm." Dia menggantungkan ucapannya, tampak berpikir dan berjalan ke arah rak buku.

"Lihat! Aku orang yang kau cari, Ciel!" Dia berkata girang sembari memegang sebuah buku.

Aku melemparkan bantal yang ada di sofa tepat ke mukanya, membuatnya duduk terjatuh. "APA-APAAN KAU MEMANGGILKU SOK AKRAB SEPERTI ITU? DAN AKU INGIN SERIUS!"

"LEONA SAJA BOLEH MEMANGGILMU SEPERTI ITU, MASA AKU TIDAK BOLEH. DAN TADI KAU BERKATA ORANG YANG MEMEGANG BUKU, BUKAN?" Dia membalaskan amarahku dengan melemparkan bantal ke arah lantai dengan raut muka kesal.

"Eh ... Tunggu dulu, buku sihir ya?" Tanya Rutt merendahkan suaranya. Sepertinya sesuatu baru masuk ke otak kosongnya.

"Buku pedoman untuk menyusun skripsi," jawabku asal dengan raut muka kesal.

"Hehh, di dekat sini ada desa bernama Esthar. Di sana aku pernah diselamatkan oleh seorang gadis, dia menyembuhkan lukaku dengan sihir. Lebih baik, besok kita ke sana." Rutt menaruh nampan berisi tiga cangkir susu dan sepiring sedang kue kering.

Aku dan Leona langsung mengangguk sepakat.

Gadis yang menyembuhkan dengan sihir ya ... Apakah itu dia? Gadis cantik yang kulihat di kota. Aku jadi teringat senyumnya.

Rutt menyodorkan minuman dan makanan yang ia bawa, karena sedari tadi aku belum menyentuhnya sama sekali.

"Wah, kau telaten juga ya. Seperti perawan," kataku mengambil secangkir susu setelah dipersilakan.

Tidak sampai seteguk bahkan, aku menyemburkan air minum itu.

"Kutarik ucapanku tadi." Aku mengelap mulutku.

"Seburuk itukah?" Rutt terlihat sedikit khawatir.

"Seperti air kobokan." Aku memperjelasnya.

"Tidak begitu juga, kok." Leona meneguknya.

"Jangan dipaksakan, Leona." Aku menghentikannya memegang tangannya yang masih terlihat memaksakan diri untuk minum.

"Rasanya seperti air kobokan dari kali, yang diolah secara higenis dan sudah teruji dari laboratorium terakraditasi," ucap Leona membuatku dan Rutt sweatdrop.

"Ada air mineral?" Tanyaku mengeluarkan sedikit air mata.

Rutt memberiku botol dari laci meja. "Nih, sebaiknya kalian tidur dan melanjutkan perjalanan kalian besok pagi,

"Ciel, kau tidur di kamar yang tadi. Leona tidur di kamar sebelahnya, ya?" Lanjut Rutt sambil menujuk pintu kamar yang terbuat dari kayu, seperti yang lainnya.

"Kau?" Tanyaku kepada Rutt sambil membuka tutup botol.

"Aku tidur di kamar lain," Jawab Rutt sambil terkekeh.

----------------------------------------------

Aku dan Leona sudah berada di kamar yang ditunjuk Rutt tadi, tapi aku tidak tahu apakah Leona sudah terlelap atau belum.

Aku sedari tadi masih memikirkan orang yang memegang buku itu, aku yang menidurkan diri terbangun duduk dan bersandar di tembok kayu dekat jendela.

Aku menghembuskan napasku. "Bodoh sekali, bahkan tadi aku hanya melihat dua kamar. Apa-apaan si Rutt itu."

Aku mendecih pelan mengingat Rutt yang berkata jika ia akan tidur di kamar yang lain sedangkan aku sedari tadi hanya melihat dua kamar di sini.

Tak tahan memikirkannya, aku membuka pintu ke luar. Celingukan melihat kanan-kiri bahkan aku tidak melihat Rutt di sofa.

Apakah memang benar ada ruangan satu lagi itu?

Aku berjalan ke arah pintu menuju ke luar yang dekat ruang tamu. Memutar kenop dan menampilkan seorang Rutt yang sedang bersandar diri di tembok melihat ke atas.

"Apa yang kau lakukan di situ?" Pertanyaanku cukup mengagetkan Rutt sepertinya.

"Ah, mungkin itu yang harus kutanyakan kepada kau juga," jawab Rutt. Aku mendekatinya berdiri memberi jarak sedikit jauh.

"Ini rumahmu?" Tanyaku.

"Bukan. Bisa dibilang ini markasku," jawabnya memasang muka datar, tetapi masih melihat ke atas.

"Markas?" Tanyaku lagi.

"Sudah kubilang bukan? Aku ini pemimpin perampok. Dan aku ingin bertanya mengapa kau bisa nyaman saja meskipun aku perampok." Rutt melihat ke arahku dengan alis berkedut.

"Mungkin, karena kau terlihat baik," jawabku sekenanya.

"Jangan bercanda."

"Aku tidak bercanda Rutt," balasku.

Dia menghela napas, mendudukan diri di bangku.

"Kau baik sekali, Ciel. Belum ada yang berkata bahwa aku adalah orang yang baik hanya dalam sekali lihat."

Dia melihat ke arahku, aku membalas dengan berkata, "Kau tidak boleh memandang orang dari luar, 'kan?"

Rutt bergumam, "Bahkan aku menjadi perampok hanya untuk membantu orang, tetapi mereka salah mengartikannya."

"Maksudmu?" Tanyaku menaikkan satu alis.

"Ya seperti yang kubilang tadi." Ia terkekeh.

"Aku hanya ingin membantu orang dengan apa yang kubisa. Di kotaku semua serba mahal, tapi pemerintah malah hanya bisa korupsi dan terus korupsi.
Aku sudah lelah dengan itu, dan karena itu aku ingin mencoba membantu mereka yang kesusahan. Aku mendapatkan banyak teman untuk membantuku, tetapi ..." Rutt menggantungkan omongannya.

"Tetapi?" Aku bertanya penasaran, menginginkan ia melanjutkan omongannya.

"Bahkan sebagian warga menatap rendah kami. Ketika aku mejelaskan, mereka justru berkata seperti, untuk apa kau membantu rakyat jelata? Lebih baik tetap diam dan jadi warga negara yang baik." Rutt mengepalkan tangannya.

"Bahkan hanya karena cibiran itu, sebagian dari pengikutku pergi karena muak. Huh, aku pun tidak pernah menyuruh mereka untuk membantuku tuh." Rutt melanjutkan pembicaraanya, melihat ke arah lantai kayu.

"Bagaimana dengan keluargamu?" Tanyaku.

"Aku beruntung mereka masih menganggapku, tetapi aku lebih suka di sini," jawabnya datar.

"Aku tidak melihat temanmu yang lain di sini. Ke mana mereka?" Tanyaku lagi.

"Mereka pulang, untuk memastikan bahwa mereka masih punya tempat di antara warga." Rutt masih menjawab datar.

Hening sebentar sampai aku tertawa keras entah mengapa.

"Sudah kuduga kau baik sekali, Rutt." Aku ikut duduk di sebelah Rutt.

Rutt hanya memandang aneh diriku, aku pun berkata "Kau berbeda sekali dengan diriku yang payah ini. Kau tahu? Aku hanyalah seorang egois yang bahkan berpikir akan mengalahkan Jormugand itu sendirian. Aku tahu aku bisa, tetapi tidak. Betapa bodohnya diriku." Aku mulai bercerita membalas cerita Rutt tadi.

"Kalau aku tidak bertemu buku yang menyatakan adanya senjata yang bisa mengalahkan Jormugand itu, pasti aku sudah ada di surga sekarang." Aku terkekeh.

"Iya, kau bodoh sekali." Rutt mengejekku.

"Apa maksudmu, bocah?" Aku menyiniskan mataku.

"Ya, aku menyimpulkan dari cerita amat sangat pendekmu itu, kau bodoh. Bahkan aku sudah tahu tanpa kau teruskan, kau bodoh Ciel." Dia membuatku kesal dengan cara bicaranya dan terus mengulang kata bodoh.

"Ngomong-ngomong, darimana kau dapatkan tombak api itu?" Tanyaku yang berusaha sekeras mungkin meredakan amarahku.

"Tombak api? Haa. Ketika aku berkata ke Ayah ingin menjadi superhero, aku diberi itu olehnya," jawabnya santai.

"Kau bodoh?" Tanyaku entah untuk yang ke berapa kalinya.

"Tidak, bukannya kau yang bodoh?" Dia menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan yang serupa.

"Sedari tadi kau hanya berkata kepadaku bodoh, bodoh, dan bodoh. Apa tidak ada lagi selain itu, babi hutan?" Aku mulai kesal.

"Apa maksudmu babi hutan, Pangeran bodoh?" Dia tersenyum tetapi terlihat jelas, dia kesal.

"Haah, membosankan jika bercerita denganmu." Dia berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Bahkan tidak ada yang menyuruhmu bercerita, dasar babi hutan," aku mencicit kesal.

"Oh ya, Leona itu temanmu?" Tanyanya tiba-tiba ketika memegang kenop.

"Ah, iya. Kenapa? Dia mantan anak jendral yang memiliki senjata kedua," jelasku singkat.

Rutt hanya menjawabnya dengan gumaman, dan membuka pintu untuk masuk. Aku mencegahnya dengan sedikit berteriak, "Hei, tidur di mana kau?"

"Hah? Sudah kubilang aku akan tidur di kamar yang lain, bukan?" Rutt menaikkan alisnya sebelah.

"Aku hanya melihat dua kamar tapinya," jawabku.

"Kau, jangan bilang kau mengira rumah ini sempit ya." Dia terlihat kesal, membuatku menelan ludahku.

"Sudahlah, lebih baik kau cepat tidur." Rutt sewot, masuk ke dalam membanting pintunya.

----------------------------------------------

Bahkan sebelum matahari menunjukkan dirinya, aku sudah membuka-buka pintu dari ujung ke ujung. Mencari ruangan mana yang ditempati Rutt.

"Di mana si babi hutan itu!" Sedari tadi aku hanya mengomel-ngomel saja mencari ruangan Rutt.

Leona terus melihatku yang mondar-mandir dari arah kamarku dan kamarnya yang hanya berjarak satu langkah.

Ia berdiri tanpa mengucapkan apa-apa, mendekati pintu yang ada di seberang kamarku dan membukanya.

Bahkan dari kejauhan sudah memperlihatkan Rutt yang tertidur dengan gayanya yang tidak baik dipandang.

Melihat itu, aku langsung berlari ke kamar itu dan menendang-nendang kasur Rutt, Leona hanya memandangku dari luar.

"HEI, BABI HUTAN BODOH! CEPAT BANGUN DAN TUNJUKKAN ARAH KE ARAH DESA ITU!" Aku mengomel-ngomel berisik. Sama seperti ketika Ibu membangunkanku.

"BERISIK. GATAU ORANG NGUMPULIN NYAWA, YA?" Setelah berkali-kali aku berteriak ke arahnya, akhirnya dia bangun. Sialnya, ia bangun dengan melemparkan bantalnya sangat keras.

Refleks aku menghindar, dan sayangnya bantal itu mengenai Leona yang sedari tadi melihat kami dari luar kamar.

Leona terlihat murka, aku bersembunyi di balik Rutt yang mungkin sebentar lagi nyawanya terkumpul.

"Le-Leona? Apa yang kau lakukan di kamarku?" Tanya Rutt yang baru saja sadar sepenuhnya.

Leona mengangkat bantal tinggi-tinggi dan ...

*Sensor*


Tbc.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top

Tags: