20 - Jalan Masuk
So, i let you ruin my life then. I just won't let you go instead.
- Raga Angkasa -

***
Raga tidak menyukai rumah sakit.
Tidak ada alasan jelas kenapa, tapi ia selalu menolak untuk ada disana sebisa mungkin. Pernah dulu Sonya terkena cacar dan harus dirawat dua minggu penuh. Dan Raga hanya menengok adiknya itu sebanyak dua kali. Selebihnya, ia lebih memilih menunggu di parkiran.
Lalu sekarang, Raga yang justru tengah berjalan di lorong bernuansa putih dengan bau obat dimana mana itu sungguh mengejutkan dirinya melebihi apapun.
Tidak pernah ada di dalam kepalanya ia akan melakukan ini. Mengambil bagian di dalam hidup orang lain selain keluarganya namun semakin ia menolak, keinginan itu justru semakin besar mengganggunya.
Mungkin karena itu jugalah Raga melangkah pasti untuk segera menyudahi rasa mengganggu ini.
Raga tersentak beberapa saat, namun tidak menghentikan langkahnya sampai ia berada di depan pintu kamar rawat bernomor 315. Ia membalas tatapan lurus milik pria kaku berjas hitam di hadapannya.
Ada tiga orang yang berdiri disana. Dua berdiri di sisi pintu, salah satunya pernah mendapatkan pukulan Raga tempo hari, sedangkan satunya berdiri menghalangi jalan masuk. Si Kepala pengawal.
Karena mereka juga diam, Raga pun merasa tidak perlu bicara. Setelah saling membalas mata beberapa saat, ia lalu maju meraih pegangan pintu namun tangannya langsung di tepis.
"Anda tidak boleh masuk." Ucap pria itu. Yang membuat Raga mengangkat sebelah alisnya.
"Kenapa saya tidak boleh masuk?"
"Hanya orang berkepentingan yang bisa mendekati Nona sekarang."
Raga memicingkan matanya. "Anda tentu masih ingat jika tadi malam saya yang membawanya kesini."
"Itu bukan berarti jika anda bisa menemui Nona seenaknya. Harus ada alasan jelas untuk keberadaan anda."
Raga memutar mata. Pertanda jika orang-orang ini sudah membuatnya bosan. Setiap kali bertemu, mereka hanya mengucapkan kalimat kosong.
Harusnya mereka bersyukur karena Raga sudah berhasil membawa Metta keluar dengan selamat dari club itu disaat mereka terlambat datang.
"Saya akan menemuinya sekarang." Ucapnya tidak peduli. Raga melangkah maju, namun kini giliran bahunya di tahan.
"Hanya orang yang berkepentingan. Jangan membuat saya harus mengulanginya lagi,"
Tentu saja.
"Kalian masih ingat apa yang saya katakan tempo hari?"
Raga melangkah maju. Berdiri dengan sikap tidak takut sama sekali meski wajah di hadapannya kaku tanpa ekspresi. "Saya yang akan menjaganya. Dia tidak membutuhkan kalian."
"Kami bisa membuatnya lebih mudah agar anda bisa mengerti," ujar laki-laki itu."Ini adalah perintah dari wali Nona. Anda tidak memiliki kapasitas untuk ikut campur akan hal ini. Anda hanya orang luar. Dan kami memiliki banyak cara untuk membuat orang luar tetap berdiri di tempatnya."
Dua orang yang berdiri di sisi pintu tiba-tiba maju selangkah. Berjejer sama dengan kepala pengawal. Jika mereka berpikir Raga takut, mereka tentu salah besar.
Suasana lorong untuk kamar VVIP itu terbilang sepi. Hanya ada 5 kamar di lantai ini dan hal tersebut menjadikan adu mulut mereka tidak tercium khalayak.
Tapi bukan berarti, Raga bebas melemparkan emosinya.
Tinju mengajarkan bukan hanya cara menumbangkan lawan, tapi bagaimana ia mengontrol emosi.
Raga sedikit banyak mengenal sifat orang macam ini. Papanya sering menyewa jasa pengawal untuk suatu acara bisnis tertentu yang biasanya bernilai ratusan miliyar. Dan seperti inilah mereka bekerja.
Raga menenggelamkan tangannya yang bebas di dalam saku karena tangan yang lain memegang plastik berisi buah.
"Saya kekasihnya," ucap Raga santai."Apa itu sudah cukup menjelaskan keinginan saya menemui Metta sekarang?"
Raga melihat jika kalimatnya barusan membuat kebingungan pada tiga kepala di hadapannya. Dari arah lift muncul seorang dokter dengan suster mengikuti di belakang. Mereka berjalan mendekat dan hanya mengangguk seraya menyapa ringan sebelum masuk ke dalam kamar sebelah.
"Kami tidak mengetahui kalau Nona memiliki kekasih,"
"Kalian mengetahuinya sekarang," Raga kemudian beranjak maju melewati kepala pengawal dan langsung menutup pintu ketika sudah berada di dalam.
Saat berbalik, apa yang tengah dilihatnya membuat mata Raga membulat sempurna.
"Ngapain lo?!" Teriaknya.
Mendengar itu membuat Metta menoleh dan melepaskan gorden kamar rumah sakit yang sudah berhasil ia tarik hingga jatuh di lantai. Melihat Raga mendekat membuatnya tersenyum lebar. Cowok itu meletakkan plastik secara asal di tempat tidur sebelum mendelik ke arah Metta.
"Lo lagi berusaha jadi kriminal rumah sakit? Atau lagi berencana digeret sama infus keluar dari sini?" Tanya Raga. "Turun!"
"Mana bisa ngerubuhan gorden rumah sakit dibilang kriminal," Metta yang berdiri di atas nakas melipat tangannya. "Gue gak suka gordennya. Warnanya kaya banci,"
"Turun!" Alasan cewek itu sungguh di luar akal sehatnya. Raga hendak meraih Metta untuk turun namun cewek itu mengelak.
"Ih tunggu dulu. Nanggung ini. Satu lagi, yang itu, di ujung sebelah sana pengaitnya. Gak nyampe dari tadi," tunjuknya pada satu gorden lagi yang masih terpasang. Membuat pijakan kaki Metta sangat rawan di ujung tepi nakas.
Raga hampir selalu melupakan pengendalian emosinya jika bersama Metta.
"Gue yang lepas entar," ujarnya. "Sekarang turun atau mau gue jatohin sekalian?"
"Beneran?!" Sahut cewek itu girang. Gerakan cewek itu membuat nakas bergoyang. Melihat itu membuatnya sangat ingin menjitak kepala Metta. Dengan cepat Raga meraih pinggang cewek itu sedangkan Metta berpegangan di bahunya. Mengangkat cewek itu turun lalu berpijak di atas lantai.
"Harusnya rumah sakit ini waspada sekarang, karena mereka punya pasien sakit jiwa yang lagi sekarat disini."
Metta tertawa. Ia lalu duduk di atas tempat tidur dengan bersila. "Ah, abang Aga mahh gitu. Itu cuma gorden. Mereka gak berani marahin pasien VVIP juga."
Disaat Raga menurunkan gorden yang tersisa, Metta sudah mulai sibuk menggali plastik yang dibawa Raga tadi. Cewek itu mengambil dua jeruk dari sana dan mulai mengupas.
Setelah menyampirkan gorden di sofa, ia menghampiri Meta dan duduk di pinggiran tempat tidur. Satu kakinya terlipat naik dan bersandar di ujung tempat tidur. Ia menjangkau jeruk yang sama kemudian mengupas.
"Gimana caranya lo masuk?" Tanya Metta.
"Lewat pintu,"
Metta memicingkan mata. "Ish... masa lewat genteng. Di depan masih ada pengawal aneh itu kan?"
Raga mengangguk samar.
"Lo gak dicegat? Perasaan tadi dokter sama suster mau masuk aja diintrogasi sama mereka dulu. Pake diperiksa nanana ninini segala, masa lo engga?"
"Karena gue bukan dokter ataupun suster?"
"Justru karena itu lo harusnya gabisa masuk. Lo ngomong apa?"
"Ga ada."
Metta mendengus. Menoleh ke arah pintu dengan kesal. "Lagian itu orang pada minta disunatin massal. Masih aja suka ngikutin gue padahal udah gue caci maki itu muka datarnya."
Metta mengangkat tangannya ingin melemparkan kulit jeruk ke arah Pintu. Namun Raga mencegah tindakan sembarangan cewek itu.
"Kenapa di mata gue sekarang lo gak sakit sama sekali?"
Metta menyeringai. "Emang enggak.Pake segala dimasukin rumah sakit. Kamar yang mahal lagi. Lebay lo."
Lebay dia bilang!
Bagaimana tidak. Ia menemukan Metta di tempat ia terakhir meninggalkan cewek itu. Di saat orang-orang tengah sibuk menyelamatkan diri dengan berteriak panik ke segala penjuru, cewek itu justru duduk santai dengan kepala berbaring di atas meja berbantalkan tangan.
"Semua orang yang punya otak di dalam kepalanya bakalan langsung lari nyelametin diri kalo ada kebakaran. Bukan bersikap santai dengan duduk di kursi seolah gak terjadi apa-apa,"
"Gue nungguin lo. Kalo gue pergi gimana bisa lo nemuin gue,"
Cewek bego!
Raga mengambil jeruk dari tangan Metta dan menukarnya dengan jeruk yang sudah terkupas lebih dulu. "Jangan ulangin lagi. Lo tentu tau apa itu yang dimaksud bahaya. Gimana kalo gue telat dateng. Atau gue bisa jadi gak peduli lo jadi abu sekalipun,"
Metta mengedipkan sebelah matanya centil untuk Raga. "Gue tau lo pasti dateng, Ga."
Metta mengambil sepotong lagi jeruk untuk mulutnya ketika ia melihat lilitan perban putih menyembul keluar dari lengan baju cowok itu. Ia membelalak.
"Lo kenapa?" Metta berdiri dengan lututnya, ingin menyibak lengan baju Raga yang membuat cowok itu langsung menghalangi tangan Metta mendekat.
"Apanya kenapa? Jangan suka bergerak tiba-tiba gini bisa gak?"
Metta kembali duduk meski tangannya masih di tahan oleh Raga. "Itu kenapa di perban?" Tunjuknya dengan dagu ke arah bahu Raga.
"Bukan apa-apa,"
"Pasti karena tadi malam? Lo kena apa? Gara-gara gue, kan?"
Keheranan Metta sepertinya terjawab. Pantas saja tidak ada satupun luka bakar ditubuhnya. Ia hanya kekurangan oksigen karena terlalu banyak menghirup asap. Dokter yang memeriksanya tadi pun mengatakan jika Metta sudah bisa pulang.
"Gara-gara nolongin gue kan?" Tanyanya lagi.
"Engga," sahut Raga melepaskan tangan Metta. Ia kembali mengupas jeruk dan mengumpulkanya di atas piring.
Melihat sifat cuek cowok itu kembali membuat Metta menjadi kesal. Ia memukul bahu Raga yang membuat cowok itu langsung meringis, kemudian melotot kearahnya. Luka bakar yang belum mengering itu, meski ditutupi perban tetap terasa perih ketika di sentuh.
"Apaan sih, ah?!"
"Lo! Bego!"
Entah kenapa, Metta merasa tidak nyaman atas luka yang didapat Raga. Tentu ia tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Tapi melihat Raga terluka membuat Metta sedih.
"Bego banget sih jadi cowok. Lo bilang kalo gue sumber masalah. Tapi masih aja mau nolongin gue,"
"Jadi lo lebih milih kebakar disana," sahut Raga galak.
"Tapi lo punya pilihan buat gak peduli kayak biasanya. Lo bisa pergi tanpa harus nyelametin gue di dalam."
"Terus kenapa lo yakin banget kalo gue bakal datang?"
Metta terdiam. Hal yang sama sekali juga tidak ia mengerti. Ia hanya tahu bahwa meskipun Raga selalu mendorongnya dengan ucapan pedas menyakitkan, tapi cowok itu selalu ada untuknya.
Dan jauh di belakang kepalanha ia tahu jika Raga pasti datang untuknya.
"Gue bakal ngasih apa yang lo mau," ucap Raga yang membuat Metta mengangkat wajah dari menunduk.
"Heh?" Apaan?"
"Ayo kita pacaran."
Masih berputar kebingungan di dalam kepala tentang hal sebelumnya, dan sekarang Raga memutuskan menambah kebingungannya berkali lipat.
"Gue emang selalu nutup diri kalo sama cewek. Gue gak ngerasa itu hal yang gue butuhin.Tapi sekarang," Raga menyudahi kupasan pada jeruk dan memandang Metta. "Gue bakal ngijinin lo masuk di hidup gue."
Ruangan yang dipasangi penyejuk itu sepertinya terlalu panas untuk Metta saat ini. Dirinya merasakan perutnya melilit namun itu tidak menbuatnya ingin pergi ke belakang. Hal itu berimbas pada degupan dadanya yang sangat keras.
Metta menahan nafas untuk itu.
"Lo... kok? Lo..., " Benar. Seorang Ametta Rinjani kehilangan kata-katanya. Ia hanya duduk mengikis jeruk di tangan menatap Raga dengan di penuhi keterkejutan.
"Tapi sebelum itu, satu yang perlu lo tau. Gue gak punya jalan keluar. Sekali lo masuk, gue gak akan biarin lo pergi."
Metta meneguk air liurnya karena tiba-tiba saja tenggorokannya sakit. "Lo lagi ngerjain gue nih pasti ya kan?! Jangan main ginian deh. Gak lucu."
"Gue gak pernah main-main untuk urusan kayak gini." Sahut Raga mantap.
Raga menatap ke dalam jernihnya mata hazel coklat itu dengan seksama. Mata yang sekarang penuh keterkejutan.
"Jadi sebelum lo nyesel, gue tanya sekali lagi. Lo mau masuk ke hidup gue?" Ucapnya. "Karena kalo lo udah disana, lo gak bisa kemana-mana lagi selain sama gue."
Raga tidak hanya mengambil sebagian kemampuan berpikir Metta namun cowok itu juga hampir membuatnya tidak bisa bernafas.
Metta mengerjapkan matanya yang tiba-tiba saja terasa lembab. Nafasnya ditarik perlahan guna mencari ketenangan.
"Lo siap?" Tanya Raga lagi. Kali ini ia memasukkan sebuah potongan jeruk ke dalam mulut Metta yang terbuka. Mendorong dagunya agar mulutnya tertutup.
Cewek itu tampak bersusah payah mengumpulkan kesadaran. Ia mengerjap lagi kemudian menggeleng lalu menatap Raga tidak percaya.
Siap?
Metta lalu merangkak dengan bertumpu pada kedua lututnya menuju ke pangkuan Raga. Memeluk cowok itu sekuat tenaga yang ia bisa. Jika biasanya dia di dorong menjauh, namun kali ini Raga justru melingkarkan satu tangannya di pinggang Metta, menjaganya agar tidak jatuh.
Ia tidak memerlukan kesiapan untuk ini. Sudah sejak lama ia penasaran akan bagaimana hatinya ketika bisa semakin dekat dengan Raga.
Sekarang, Metta akan berbaik hati memberitahukan rasanya untuk kalian.
Seperti ada sebuah perayaan kembang api sedang meledak di dalam dadanya.
***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top