18 - Berbeda
I could tell countless lies to the world, but not to her.
- Raga Angkasa -
Sejak malam ia memutuskan menginap di apartemen Metta, Raga sudah tahu jika dirinya akan berakhir disini. Sebenarnya ia juga punya kesempatan pulang di pagi harinya tanpa harus memikirkan keadaan cewek itu setelah mabuk. Namun karena kakinya sudah terlanjur berjalan di atas kubangan, sekalian saja dia terjun berenang.
Dan rasa penasarannya terhadap Metta juga menjadi alasan tambahan.
Setelah menghembuskan nafas, Raga mengetuk pintu liat berwarna coklat kokoh di depannya tiga kali. Mendengar seruan dari dalam lalu membukanya.
Bau lavender berpadu kayu dari pengharum ruangan seketika menyerang indera penciumannya. Ia menutup pintu tanpa suara, berjalan masuk dan berdiri di depan sebuah meja besar dengan laptop menyala di bagian tengah. Sosok yang sedang menggunakan benda itu tidak mengalihkan pandangannya barang sedikit untuk melihat Raga.
Sesaat sunyi masih berada di sekeliling kakinya. Pun bagi orang yang tetap sibuk dengan apa saja itu yang ia kerjakan. Raga tidak merasa perlu duduk dan hanya berdiri disana menunggu. Ingin semua ini segera selesai karena ia masih harus menemui Mamanya.
"Ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Surya pada akhirnya. Sepertinya ia terlalu mengenal darah dagingnya itu tidak akan bicara sampai ia perlu memancing.
Ketika tadi Raga baru sampai, Sonya sudah berlari menghampirinya dengan wajah khawatir. Ia mencengkram tangan Raga sembari melotot. Membisikkan jika Papanya ingin bertemu.
Dan ketika Raga telah berada disini lalu mendapat pertanyaan seolah ialah yang ingin bicara, cukup membuktikan bahwa seorang Surya Atmidja sedang tidak baik-baik saja.
"Raga nginep di rumah Kevin, Pa." Ucap Raga pada akhirnya. Tahu benar jika itulah yang ingin diketahui oleh Surya. Nama temannya yang satu itu selalu berhasil menjadi alasan karena kedua keluarga mereka terikat bisnis bersama.
"Seinget Papa kamu punya hape."
"Raga lupa."
Baik Raga, terlebih Surya sangat tahu jika kalimat itu adalah bohong.
Raga sendiri tidak mengatakan pada Sonya malam itu kemana dia pergi. Ia tidak ingin membuat adiknya harus berbohong untuk menyelamatkannya. Raga akan menanggung semua itu sendiri.
Lagipula, kebohongan di dalam keluarganya sudah sering dilakukan. Bukan hanya pada orang lain, tetapi seluruh orang dirumahnya terbiasa berbohong pada diri sendiri.
"Kamu masih main tinju?" tanya Surya langsung pada sasaran. Malas berbasa-basi karena seperti itulah ia bicara pada anaknya.
"Papa udah pernah nanya ini dulu. Dan Raga sudah jawab."
Surya mengalihkan matanya. Menatap putra satu-satunya keluarga Atmidja. "Apa jawabannya masih sama?"
Raga menurunkan matanya sesaat, lalu memandang Papanya yang terhormat itu. "Iya. Masih sama."
Surya sudah tidak lagi bekerja pada laptopnya. Ia duduk bersandar dengan kedua tangan terkait. Mengamati Raga berdiri gagah di depannya.
Sungguh, Surya berani mengakui di dalam hati jika Raga adalah cerminan dirinya di masa lalu. Sosok dengan tubuh tinggi dan otot yang pas. Gagah dan terlihat sangat kuat. Tapi yang paling mirip dengannya adalah tatapan tegas tanpa kenal takut itu. Surya selalu membanggakan Raga di hadapan teman bisnisnya. Meski diam-diam.
"Papa sudah mempersiapkan semuanya," ucap Surya memulai. "Namamu sudah tercatat disalah satu universitas berkualitas di London. Papa juga menyiapkan satu sayap cabang disana untuk kamu kelola. Sebagai latihan sebelum siap menggantikan Papa," Surya membuka laci di samping bawah kirinya, mengeluarkan cerutu dan menyelipkan di bibir. Ujung yang terbakar mengirim kepulan asap putih ke udara.
"Yang perlu kamu lakukan hanyalah selesaikan sekolah kamu. Papa tahu jika mendapatkan peringkat bagus atau menjadi lulusan nomor satu sangat sulit untuk remaja jaman sekarang. Oleh sebab itu, Papa hanya minta kamu hindari masalah dan lulus dengan tepat waktu."
Raga tetap diam. Memberi waktu banyak untuk Surya melemparinya lagi dengan tekanan.
"Tahun ini adalah tahun kejayaan perusahaan kita. Papa yakin, ketika tiba saat kamu masuk, perusahaan sudah dalam keadaan stabil sempurna. Kamu hanya perlu melanjutkan. Tidak terdengar sulit dibanding Papa yang membangunnya bersama Kakek dulu. "
Raga mengerti jika Papanya sedang menyindir kemampuannya. Penolakan yang pernah Raga ucapkan rupanya masih membuatnya resah.
"Kita mendapat undangan di Bandung untuk pertemuan bisnis selanjutnya," Surya mematikan cerutunya. Kembali pada pekerjaannya yang ia tinggalkan tiga menit lalu. "Kamu boleh keluar." Lanjutnya mengakhiri.
Apa yang tadi disampaikan oleh Papanya hanyalah sebuah bentuk pernyataan satu arah. Dimana Raga tidak memiliki tempat untuk menolak. Apalagi setelah sebelumnya dia menghilang begitu saja di acara pertemuan bisnis itu. Ini sama saja Papanya menuntut ganti rugi akan kehadiran Raga.
Raga berbalik menuju pintu ketika lidahnya terlalu gatal untuk bisa diam.
"Papa malam ini tidur dimana?"
Pertanyaan itu membuat Surya mencerna kalimat di emailnya dua kali sebelum menekan tombol kirim. "Itu bukan urusan kamu."
"Di kamar Mama?"
Surya menoleh, menatap Raga di samping pintu terbuka. Selain Raga memiliki sebagian penuh sifat keras di dalam dirinya, anak itu juga memiliki sebagian sifat penyayang yang tidak Surya sukai. Karena hal itu hanya akan membuat Raga lemah. Surya tidak membutuhkan anaknya menjadi lemah.
Keduanya saling membagi tatapan penuh arti. Tidak ada yang berkedip bahkan ketika hening semakin menulikan telinga.
Saat Raga tahu jika masih tinggi rasa egois di dalam mata Papanya, ia yang terlebih dulu berkedip lalu menutup pintu. Di baliknya, ia meremas tangan dengan kuat. Seolah kemarahan berpusat menjadi satu di sana dan siap untuk ia hancurkan.
Sekali lagi percobaan gagal memperbaiki keluarganya.
Raga menuju dapur dan melihat Sonya yang duduk menunggu di meja makan. Melihat Raga mengambil wajan di dalam lemari, membuat Sonya berlari menghampiri.
"Abang dimarahin sama Papa ya tadi?" tanya Sonya.
Raga tersenyum melihat adiknya itu yang khawatir. "Engga usah mikirin itu," Raga membuka kulkas dan mengeluarkan bahan yang ia perlukan. "Papa gak pernah marah lagi kan, "
"Iya sih."
"Kamu udah makan?"
"Udah," sahut Sonya sembari melihat daging yang sedang diiris Raga. "Tapi jadi laper lagi liat Abang mau masak."
"Dasar, " Raga mendengus. "Nanti gendut baru tau rasa. Gak ada cowok yang naksir."
"Ih kok gitu doain adeknya. Kayak gini aku populer di sekolah."
"Diantara tukang tahu bulat dan gorengan," sambung Raga yang membuat Sonya semakin cemberut.
"Semalem abang kemana?" tanya sonya. "Ketemuan sama cewek warna-warni itu?"
Raga yang sedang membalik daging di atas panggangan tersenyum. "Dia punya nama, Dek. "
Sonya yang mendengar pembelaan Raga itu jadi cemberut. Apalagi abangnya baru saja tersenyum.
"Abang beneran pacaran jadinya sama cewek itu?" Tanya Sonya lemas. Ia memainkan tempat sendok berwarna abu-abu di hadapannya.
"Emang abang gak boleh pacaran?" Raga meniriskan sayuran sembari memperhatikan tingkah Sonya.
"Ya gak gitu. Sonya juga pengen liat abang seneng. Tapi masa sama cewek kayak gitu. Cantik sih orangnya, tapi nyolotin,"
"Jadi kamu gak suka sama dia?"
"Engga," ucapnya tanpa rasa bersalah. "Dia kayaknya cewek nakal. "
Raga sedikit membenarkan dalam hati.
"Lagian, nanti abang gak sayang lagi sama sonya,"
Raga tersenyum diam-diam mendengar hal itu. Ia mengambil piring dan meletakkan dua daging panggang di atasnya. Bersama dengan kentang dan sayuran rebus.
Salah satu piring ia dorong mendekati Sonya. "Ini spesial buat adek abang yang gendut terus cerewet, tapi anehnya tetep cantik."
Raga mengusap kepala Sonya dan membawa piring satunya di tangan. Menaiki tangga dengan melangkah di dua anak tangga sekaligus.
Di dalam kamar itu, ia melihat Mamanya sedang duduk di atas tempat tidur. Penerangan dari lampu samping tempat tidur tidak bisa menutupi kegelisahan di wajahnya.
"Mama," panggil Raga mendekat. Duduk di tepian kasur.
"Papa bilang apa?" Tanya Carlita langsung. Memegang kedua sisi wajah Raga dengan tangan kurusnya.
Raga tersenyum. "Mama pasti belum makan,"
"Mana bisa Mama makan kalo abang gak pulang semalam," Carlita menurunkan tangannya. "Abang kemana? Abang main? Kenapa sampe gak pulang? Abang tau kan gimana Papa?"
"Ma, Raga cuma nginep di tempat Kevin. Kelupaan ijin sama Papa."
"Bohong." Tandas Carlita.
Mendengar itu Raga terkekeh. Sepertinya mengucapkan kebohongan di keluarga ini menjadi menggelikan baginya. Ia meletakkan piring di atas pangkuan Mamanya yang tertutup selimut. "Mama harus makan,"
"Tapi mama gak laper,"
"Ini Raga yang buat. Masa gak mau dimakan,"
Carlita masih menatap anaknya. Ia tau dibalik senyum menenangkan itu, Raga tengah tertekan dan itu semua karena dirinya.
"Mama baik-baik aja," ucap Carlita memotong daging dan mulai memakannya secara perlahan. Ia sangat menyukai masakan Raga. Dan anaknya itu selalu tahu bagaimana cara memaksanya makan.
"Raga tau."
"Abang gak harus mikirin Mama terus. Semua ini memang salah Mama."
"Ma," tegur Raga lembut.
"Papa itu sayang sama kita. Cuma dia terlalu keras buat nunjukin ke kita. Kita yang harus ngertiin Papa. Abang gak boleh benci sama Papa hanya karena ini. "
Nyatanya, ia sendiri tidak mengetahui perasaan apa yang timbul setiap berhadapan dengan Papanya sekarang.
Surya Atmidja adalah sosok yang Raga hormati. Ia selalu segan dan berkeinginan kuat untuk membanggakannya. Entah sejak kapan semua keinginan itu berubah. Membuat Raga menjadi jauh dari Papanya. Begitupula Surya yang membatasi diri dari keluarga.
Setelah makanan di atas piring habis, Raga meninggalkan kamar mamanya yang sudah siap untuk tidur. Ia menuruni tangga dan meletakkan piring di bak cuci. Membuka kran air, namun tetap memandang air mengalir itu beberapa saat.
Dari semua kebohongan di dalam rumahnya, ada satu kebohongan yang begitu dibenci oleh Raga.
Adalah Carlita, yang tetap mencintai Surya meski dirinya disakiti dengan tidak dianggap ada.
***
Hari itu Metta berangkat bersama Lala. Ketika sampai di parkiran, keduanya baru bertemu Stephani dan berjalan beriringan menuju lorong utama. Pandangan memuja dari anak-anak cowok yang sering kali Metta temui tampak semakin hambar saja di matanya. Ia justru mengeluarkan ponsel dan membuka sebuah chat.
Selesai mengirim pesan matanya sudah giat mencari. Disaat itulah ia melihat punggung Raga. Meski cowok itu berada di tengah kumpulan orang, namun tubuh tegapnya bisa langsung di tangkap olehnya.
Metta kemudian berjalan lebih cepat menghampiri, meninggalkan Lala dan Stpehani yang saling mengumpat. Ketika berada di samping cowok itu, ia menelusupkan tangannya di lengan Raga dan menggandengnya berjalan.
"Pagi, Car." Sapanya penuh senyum.
Raga yang tadi mendapat sebuah pesan di ponsel hanya menoleh dengan kerutan di dahi.
"Car- dari kata Pacar." Jelas Metta.
Raga mengabaikan perkataannya dan kembali berjalan. Walau ditatapi oleh semua penghuni lorong itu Metta sama sekali tidak risih untuk memeluk lengan Raga. Apalagi karena sekarang cowok itu tidak mengelak. Membuat Metta semakin senang.
"Car, udah sarapan ? Tadi naik motor apa mobil? Balik nebeng ya?" Mereka berbelok di lorong dengan Raga yang tetap bungkam.
"Apa lo liat-liat?!" Ucap Metta dengan melotot ketika melewati sekumpulan adik kelas yang mencuri lihat ke arah mereka.
"Emangnya gak pernah liat cewek cantik," Metta mengeratkan pelulannya di lengan Raga. "Lo udah sarapan? Sarapan apa? Eh gimana lo pulang ditanyain apa? Duh gue lupa bawa sisir," Metta melemparkan rambut panjangnya ke belakang. "Car, gagu lo? "
Raga tetap saja diam dan Metta tetap saja mengikuti cowok itu ke lantai dua dengan riang. Sepertinya Metta tidak mempermasalahkan kebungkaman Raga dan tetap mengoceh.
Ketika sampai di ujung tangga tiba-tiba saja seseorang yang berlari dari arah kanan menabrak Metta. Untung saja Raga menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Lo gak punya mata?!" Teriak Metta pada anak cewek berkuncir kuda itu. Ia yang tadi berlari jatuh terduduk. "Maaf. Gue gak sengaja," ucapnya pelan.
"Maaf aja terus. Biar penjahat pada kabur dari penjara semua!" Metta memandang bajunya kesal. "Ihh, Ga. Kotor nih,"
Tunjuk Metta pada baju seragam putih ketat miliknya yang basah oleh minuman anak tadi.
"Lo ganti gak?! Gue siram comberan lo mau?!"
Metta sudah ingin maju mendekati anak itu namun Raga menahan lengannya. "Apasih? Masih pagi jangan bikin ribut."
"Dia bikin baju gue kotor, Ga! Dia yang cari ribut sama gue."
Dengan isyarat anggukan, Raga menyuruh anak cewek yang sudah pucat melihat Metta memarahinya itu pergi. Metta yang melihat itu kembali ingin pergi menyusul namun di tahan oleh Raga.
"Lo tuh ya. Dia kan udah minta maaf,"
"Terus gue harus maafin? Orang salah harus dikasih pelajaran. Bukan dimaafin. Kalo enggak dia gak bakal tau kalo itu salah," Metta menghentakkan kakinya. "Terus kayak gini gimana gue bisa masuk kelas."
Raga yang sudah mulai risih karena pandangan anak lain di lorong membuka ranselnya. "Nih,"
Metta memandang baju olahraga cowok itu di tangannya. "Apaan?"
"Pake itu. Jangan berisik lagi. Gue pusing denger suara lo sepagian."
"Tapi baju olahraga bikin gue jadi jelek,"
"Kalo gitu pake baju basah itu aja," Raga hendak merebut baju olahraganya kembali namun Metta menjauhkannya.
Raga menghela nafas. "Jadi mau lo pake atau enggak?!"
"Iya mau," ucap Metta. "Tapi pakein,"
Raga mendorong dahi gadis itu menjauh kemudian berlalu lebih dulu ke dalam kelasnya.
Sedangkan Metta menuruni tangga kembali ke lantai satu dengan menyembunyikan senyum, menghirup aroma Raga di baju olahraganya.
***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top