1 - Pesta

Metta duduk bersandar di kursi paling belakang dengan kedua kaki terangkat di atas kursi. Ia tengah sibuk mengetik balasan untuk komentar akun sosial media miliknya. Entah berupa pujian akan kecantikannya ataupun berupa hujatan dan makian.
"Heh, grasak ya lo. Jangan banyak gerak ini belepotan!" Salak Lala saat ia sedang mengecat kuku Stephani. Mereka berada di kursi depan Metta.
"Bemo tau. Lama!" Balas Stephani tak kalah ketus. "Gue pegel ini."
Sudah sejam yang lalu saat pelajaran sejarah kosong , mereka sibuk saling mengecat kuku masing masing dengan warna merah menyala.
"Ini udah untung gue pakein. Bacot aja. Gue cat gigi lo mau sini, sini."
Metta tidak mendengarkan lagi pertengkaran kedua sahabatnya itu. Ia memutar mata malas. hanya mengangguk atau menggeleng jika sesekali mereka meminta pendapat Metta.
Suasana riuh khas kelas terpampang jelas di depan matanya. Ada beberapa anak cowok yang juga duduk di deretan kursi paling belakang mencuri pandang ke arah Metta. Sedang ada beberapa anak cewek yang meliriknya lalu kemudian berkerumun, bersiap menghina diam-diam.
Bagi Metta ia terlalu lelah untuk peduli pada hal semacam itu. Ada hal yang jauh lebih mengganggunya.
Perasaan kosong ini.
Kosong jenis mengerikan yang tidak bisa ia pikirkan bagaimana itu bisa menyerangnya.
Metta kemudian memilih bangkit seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. Rambutnya yang tergerai di letakkan pada satu sisi bahu. Membuat kedua temannya yang masih bertengkar terdiam dan memandangi Metta.
"Mau kemana lo?" Tanya Lala.
"Cabut ?" sambung Stephani.
Setelah membenarkan letak roknya yang tidak nyaman ia menjawab "Toilet." sambil lalu.
Metta bahkan hampir bisa dibilang berjalan tanpa tujuan. Ia sebenarnya tidak ingin ke toilet. Ia hanya ingin membuang perasaan kosong di dalam dadanya ini ke suatu tempat.
Sejak melangkah keluar kelas, sudah banyak pasang mata cowok mengikuti langkahnya. Baik di lorong atau ketika Metta mekewati kumpulan cowok di depan kelas. Dan tidak luput dari godaan merayu Metta.
Baginya, menghadapi laki-laki seperti itu sudah sangat biasa. Ia sudah hampir dikatakan tahu apa isi kepala semua cowok ketika melihatnya.
Mengabaikan hal itu, Metta hanya berlalu dengan gaya congkak andalan miliknya. Yang justru bukan membuat cowok-cowok itu diam melainkan semakin gencar melemparkan rayuan.
Ketika sampai di ujung lorong dekat perpustakaan, tepat di belokannya Metta menabrak seseorang begitu keras. Membuat Metta terpekik lalu jatuh terduduk di lantai.
Bisa Metta rasakan sakit di bagian tubuhnya. Ia bersumpah dalam hati akan mencecar tanpa ampun siapapun yang sudah menabraknya.
Sosok yang ia yakini seorang cowok itu pasti sedang berusaha menarik perhatiannya. Dengan menggunakan cara klise seperti ini. Bertingkah polos lalu meminta maaf dan mulai merayu.
Disaat ia tengah mempersiapkan diri mendengar cowok itu berpuitis ria, yang di dapat oleh Metta justru langkah kaki menjauh begitu saja. Tanpa sedikitpun permintaan maaf apalagi upaya menolong. Menohok egonya begitu keras.
Metta segera berdiri, dan menatap punggung belakang cowok itu. Menusuknya dengan tatapan tajam.
"Eh, lo!" teriaknya. Membuat cowok itu berhenti namun tidak berbalik.
"Sengak banget lo jadi cowok. Bukannya bilang maaf udah nabrak gue. Malah kabur kaya banci."
Metta masih menduga-duga jika ini adalah trik dari cowok itu untuk mendapatkan perhatiannya. Sekaligus kesal akan aksi pengabaian cowok itu. Apalagi ketika sosok yang ia teriaki tadi malah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan kembali berjalan. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Mulutnuya terbuka lebar. Kedua tangannya mengepal keras.
Metta menyadari jika suatu perasaan tidak nyaman di hatinya ternyata terkoyak. Ia mengetahui perasaan itu berada di sana dalam waktu yang cukup lama. Hanya saja Metta seolah menguburnya dan bersikap acuh.
Dan cowok barusan yang tidak dikenalnya itu berhasil melemparkan Metta pada satu realita naas.
Jika ia akan selalu mendapat pengabaian sepanjang sisa hidupnya.
***
"Dari mana aja, lo. Dicariin sama anak-anak tadi." sapa Kevin saat menemukan Raga di dalam kelas.
"Abis dari perpus."
"Gue bingung, sob." Ucap Kevin dengan mengelus dagunya. Ia memandang Raga serius. "Apa salah gue sebenernya?"
Raga mengernyit. "Lo mabok rokok?"
Teman-teman satu club futsalnya memang sering menghabiskan waktu di kantin paling pojok untuk diam-diam merokok. Dan Raga menghindari ajakan itu dengan berdiam diri di taman di belakang perpustakaan.
Bukannya sok alim, Raga bisa merokok. Sesekali ia merokok ketika keadaannya kalut atau tertekan. Namun itu tidak dijadikannya sebagai kebutuhan.
"Enak aja. Baru tiga batang gue isep." Ucap Kevin protes. "Gue lagi mikir kenapa si Elsa sama Suci memperebutkan gue sampe segitunya. Emang salah kalo gue itu ganteng?"
Raga menoleh dan menatap Kevin datar. Tanpa ekspresi.
"Yee biasa aja kali tuh muka." Kevin yang mendorong bahu Raga sambil terkekeh geli. "Coba aja yang suka sama gue itu Metta. Gak bakal pusing gue mikirin."
Mendengar nama cewek itu disebut membuat ekspresi Raga mengeras. Ia jadi teringat saat tadi cewek itu menabraknya di lorong. Bukannya meminta maaf, jusru malah meneriakinya.
"Kalo gue sama Metta asik kali ya, Ga. Masa muda gue indah banget pasti."
"Yaudah ajakin pacaran aja orangnya."
"Yakali dia mau sama tampang kayak gue. Muka gue gak masuk kualifikasi cowok jarahan dia," Kevin mendesah. Ia mengeluarkan ponsel dan membuka foto Metta yang beberapa hari lalu ia dapatkan.
"Lagipula gue masih sayang sama harga diri." lanjut Kevin. Memancing dengusan geli dari Raga.
"Bagus kalo lo ngerti."
Kevin menoleh. "Lo kenapa sih kayaknya gak suka banget sama tuh cewek? Heran deh. Tiap kali gue ngomongin dia muka lo jadi belipet lipet kaya cucian emak tau gak."
"Karena gue emang gak suka."
Tidak ada sahutan. Keterdiaman Kevin pun menarik perhatian Raga untuk menoleh, mendapati sahabatnya tengah memperhatikannya denan seksama.
"Apaan?"
"Kalo gue pikir-pikir ya, lo tuh sebenernya cocok jadi gandengan Metta." Seusai berbicara itu sebuah buku melayang tepat di wajah Kevin.
"Lo pikir gue truk." Sentak Raga.
"Ya gini. Lo cakep," Kevin berhenti dan memikirkan kembali kalimatnya. "Kok gue kaya homo ngomong gitu," membuat Raga menggelengkan kepala.
"Pokonya itu gini. Gue ngeliat lo sama kaya cowok-cowok yang sering Metta pacarin. Cakep iya, tajir udah gak usah ditanya. Cumanya yang beda kurang menonjol aja. Apa sih kalo gue bilang itu lo kayak nyembunyiin diri di sekolah ini. Ngejauh setiap ada cewek yang deketin. Main futsal juga anget anget tai ayam. Makanya jadi kurang popular,"
"Gue disini bukan buat cari kepopuleran. Gue mau sekolah."
"Halahhh, Sob. Sekolah juga basi kali kalo gak nikmatin." Kevin merangkul bahu Raga. Satu tangannya terangkat memperlihatkan foto di layar ponselnya. "Contohnya dengan ini."
Raga mendengus lagi. "Sekali lagi lo ngomongin itu cewek, gue hajar."
"Aneh lo. Cewek yang jadi demenan satu sekolah malah gak suka. Yang homo lo jangan-jangan."
Raga tidak benar-benar membenci semua wanita. Ia menyayangi Sonya dan Carlita –mamanya-.
Raga sendiri juga tidak mengerti kenapa ia sangat tidak menyukai Metta. Mungkin alasannya hanya satu. Karena dimata Raga cewek itu simbol dari masalah. Dan Raga benar-benar tidak butuh itu saat ini.
"Oh iya," ucap Kevin seakan mengingat sesuatu. "Kita dapet undangan pesta. Ulang tahun Bahit. Acaranya nanti malam. Ikut kan lo?"
Raga terdiam beberapa saat. Ia sedang memikirkan alasan yang tepat untuk menolak ketika Kevin justru lebih dulu melanjutkan.
"Sob, ini Bahit. Temen satu team futsal kita. Ya masa iya lo mau ngeles macem-macem." Kevin yang mengetahui dirinya luar dalam tentu mengerti sekali tingkah Raga yang satu ini.
Raga hanya menghembuskan nafas dalam ketika Kevin menepuk pundaknya seraya memanggil Bahit mendekat. Sepertinya kali ini ia tidak bisa menghindar.
***

Di dalam ruang pengap ini dihiasi asap rokok dengan iringan tawa semua orang. Baik itu lucu ataupun tidak. Lantai dansa yang berkelip serta penerangan minim disana membuat suasana semakin pekat dengan dentuman musik.
Metta yang sudah menenggak minuman keempatnya malam ini mengangkat gelas kosong itu ke udara. Seakan tengah memenangkan sebuah pertandingan dan ialah juaranya.
"Gue gak salah ngajak lo kan?" Teriak Lala di telinga Metta yang teredam suara musik.
Metta mulai mengisi satu slot lagi minuman sebelum ia menjawab. "Lo emang paling ngerti kesenengan gue. Tau aja ada pesta keren gini."
Kelab disalah satu hotel berbintang itu sengaja disewa selama satu malam khusus untuk merayakan sebuah pesta ulang tahun. Siapa orangnya saja Metta tidak kenal. Tidak juga peduli. Ia hanya ingin bersenang-senang dari pada harus sendirian di apartemen, bersama perasaan kosong sialan itu.
"Turun yuk." ajak Metta.
Lala mengikuti sedangkan Stephani sudah menghilang bersamanya pacarnya.
Mereka bergerak enerjik serta meliuk-liukkan badan dengan bebas. Cewek yang mengenakan kemeja putih longgar dan rok kulit minim itu tidak sungkan meliuk ke siapapun cowok disana.
"Cape, Ta. Gue minum dulu," teriak Lala di samping telinga Metta. Dibalas anggukan melayang oleh kepalanya.
Metta masih menggerakkan tubuhnya dengan mendongak, ketika suara familiar terdengar.
"Kamu sendirian?" ucap cowok begitu dekat di telinganya. Jika dalam keadaan normal Metta akan melemparkan tangan yang sedang mengelus lengannya itu menjauh, kali ini Metta hanya menikmatinya. Karena ia tidak ingin menghancurkan malamnya yang terbilang berjalan baik sampai sekarang.
Metta kembali berdansa. Bisa ia rasakan Rio merapat pada tubuh belakangnya. Sebelah tangan Rio mencoba memeluk pinggang Metta sedangkan tangan yang satunya terjulur ke depan memegang gelas.
"Aku tau kamu pasti haus, sayang."
"Jangan panggil gue kayak gitu!" ujar Metta berusaha tegas walau nada suaranya bergoyang. Meski membentak Metta tetap mengambil sodoran gelas itu.
Metta meminum keseluruhan isinya sekali teguk. Rio mengambil kembali gelas kosong itu dan meletakkannya sembarang di meja terdekat. Ketika Rio kembali mendekati Metta, gadis itu tengah memegangi kepalanya.
"Kenapa sayang?" Tanya Rio lembut. Ia menangkup kedua wajah Metta dengan tangannya. Dan Metta tidak menolak.
"Gue pusing." Goyangan yang ia rasakan sebelumnya semakin menjadi. Sekitarnya memburam meski matanya mengerjap puluhan kali.
Kondisi Metta yang sempoyongan membuat Rio dengan sigap melingkarkan lengannya. Cowok itu menghalau jalan dan membawa Metta keluar dari ruangan sesak penuh orang tersebut menuju kamar yang sudah dipersiapkannya.
"Gue kenapa..." tanya Metta terlebih kepada dirinya sendiri. Tubuhnya melemah. Bahkan ia hampir jatuh jika saja Rio tidak menahannya. Memasuki lift, menekan nomor lantai yang ia tuju.
"Tahan sayang, sebentar lagi kamu akan baik-baik aja." Bisik Rio. Dengan tidak sabar Rio menopang tubuh Metta sambil membuka pintu. Merebahkan cewek itu ke tempat tidur.
Metta merasakan kepalanya semakin pusing. Tidak ada lagi suara keras di sekelilingnya tapi kepalanya masih berdentam. Tubuhnya menggigil karena sesuatu yang asing.
Rio menunduk. Ia merangkak menggunakan lutut dan mendekati Metta. "Ada apa sayang? Apa yang kamu rasain?"
Kali ini Metta sadar betul apa yang sudah terjadi padanya. Cowok sialan itu sudah menjebaknya.
"Bajingan!!" teriak Metta, menjauhkan wajahnya dari Rio. Tubuhnya benar-benar mendamba akan sentuhan sedangkan keinginannya untuk membunuh Rio juga sangatlah besar. Ia tidak bisa mengendalikan keduanya secara bersamaan.
Rio tertawa puas. Menatapi Metta dan menunduk untuk memaksa mencuri bibirnya. Sekuat tenaga Metta menolak, namun bulir basah di sudut mata memperjelas kekalahannya.
Rio terlalu terbuai akan kemenangannya malam ini. Ia begitu senang mendapati Metta tidak berdaya di bawah tubuhnya. Ia tenggelam dalam euforia itu sampai tidak mendengar pintu yang terbuka menghempas ke dinding.
Usahanya kandas ketika kerah belakangnya ditarik paksa dan membuatnya jatuh terjengkal. Sepersekian detik dari itu sebuah pukulan melayang jatuh di rahangnya. Menimbulkan suara gerak patah yang mengerikan.
"Brengsek! Apa apaan lo?!" belum selesai Rio memaki, satu pukulan kembali ia dapatkan. Kali ini pukulan itu bersambung dengan pukulan lain. Hingga berlanjut tanpa jeda. Rio yang mulai kesulitan bernafas mengangkat kedua tangannya, meminta ampun. Menghentikan kepalan tangan si pemukul di udara.
Melihat tidak ada lagi pukulan datang, Rio langsung bergerak mundur menggunakan siku. Setelah dikira jaraknya sudah aman, ia kembali melawan.
"Siapa lo? Kalo lo juga mau itu cewek gue bakal kasih setelah gue selesai sama dia!"
Mendengar itu membuat sosok cowok yang tengah memijat tangannya sontak mendekat, mencengkram kerah baju Rio yang sudah berubah warna.
"Dengerin ini baik-baik. Gue Raga Angkasa anak kelas 12 A. Cari gue buat pembalasan dendam. Bawa juga temen-temen lo. Tapi kalo sekali aja gue ngeliat lo masih ngedeketin dia, gue bisa pastiin muka lo bakal lebih ancur dari ini."
Mendengar ancaman yang disampaikan dengan penuh penekanan itu membuat nyali Rio menciut seketika. Ia menganggukkan kepala secara berlebihan disertai cengkraman di lehernya terlepas. Tanpa pikir panjang berlari terbirit keluar.
Samar-samar Metta menangkap sosok yang tengah berdiri menatapnya. Wajahnya samar namun ia mengenali postur tubuhnya. Ia kalah oleh rasa sakit menyerang dan menutup mata sambil mengerang.
Raga terpana sesaat. Meski berat, harus ia akui jika Metta sangat cantik. Apalagi sekarang. Mendorongnya berbalik, ingin segera pergi. Namun langkahnya terhenti ketika tangan berjari lentik menarik jaketnya, membuat Raga menoleh.
"Tolong.. please.. tolongin gue.." pinta cewek itu. Dadanya naik turun seakan baru saja berlari. Bukan karena kelelahan melainkan sesuatu yang lain.
"Gue udah nolongin lo." Raga kembali berbalik. Namun tertahan lagi karena sentakan di tangannya membuat tubuh Raga oleng hingga terbaring di atas tempat tidur.
Raga terbelalak ketika menemukan Metta merangkak naik mendudukinya. Wajahnya yang memerah basah kini bisa ia pandangi dengan jelas. Rambut panjangnya tergerai alami dan jatuh dengan lembut di atas bahu. Bibirnya berwarna merah tanpa lipstik.
Raga perlu mengumpat sejadi-jadinya di dalam hati untuk menahan diri.
"Please. Gue mohon,” Cewek itu sepertinya sudah tidak bisa menahan gejolaknya sendiri.
"Panas," ucapnya.
Raga menangkap tangan Metta yang ingin menurunkan kemeja dari bahunya. Siapa yang mengira sentuhan sederhana itu membuat Raga gamang. Ia laki-laki muda yang memiliki hormon. Ia sama seperti Kevin atau teman lainnya. Ia laki-laki normal yang bisa tergoda oleh wanita.
"Jangan. Lo cuma lagi dipengaruhi obat saat ini." ucap Raga bertentangan dengan hasratnya.
Metta sendiri sepertinya sudah tidak mempedulikan apapun selain menuntaskan kebutuhannya.
Dengan kedua tangannya yang masih ditahan oleh Raga, Metta menurunkan tubuhnya hingga cukup dekat untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Raga.
Sontak hal itu membuat Raga menegang. Ia tidak menyiapkan diri untuk melawan Metta dalam keadaan berbahaya seperti ini.
Beruntung Raga berhasil melepaskan ciuman. Dengan kedua tangan Metta di dalam cekalannya, Raga membalik posisi mereka. Saat kedua tangan Metta terlepas, cewek itu menarik leher Raga turun lalu menjalin ciuman lagi.
Metta memeluk leher cowok itu erat. Membuat Raga bertarung kerasa untuk melawan.
Metta menutup mata saat ciuman Raga menuruni leher jenjangnya. Raga pun semakin gelap mata. Ini bukan apa yang ia pikirkan bisa terjadi bersama wanita. Apalagi wanita itu adalah Metta.
Sesaat, Raga memutuskan sesuatu yang mungkin akan ia sesali keesokan pagi. Ia menjauhkan tubuh dari Metta. Melepas jaket dengan cepat agar bisa kembali menunduk.
Kali ini langsung menciumi leher Metta. Membuat cewek itu menutup mata. Di atas kulit beraroma mawar, Raga berbisik.
"Lo bikin gue gak punya pilihan."
***


Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top