Semua Karna Cinta

Episode sebelumnya...

"Sayang." Panggil Al pelan membuat wanita itu menoleh cepat ke sumber panggilan.

"Al.." Lirihnya sambil berdiri tegak berlari mendekati Al dan memeluknya langsung. "Maafin aku." Ucapnya.

"Aku yang salah. Seharusnya aku gak tinggalin kamu sendiri." Sahut Al sambil membalas memeluk Yuki.

Yuki mengangguk dan mempererat pelukkannya.

***

Tok tok tok

"Yuki..." Seru Nathan sambil mengetok pintu kamar yang sudah terbuka.

Yuki yang tengah berbaring di kasur melirik ke sumber suara. "Kenapa?" Jawabnya singkat.

Nathan mendekati Yuki yang tengah berbaring. Ia duduk di kasur tempat Yuki berbabaring.

"Gue mau cerita." Ucap Nathan serius.

"Cerita apa Tan?" Tanya Yuki.

"Hei.." Seru Enzy dari depan pintu dan berjalan mendekati mereka.

"Enzy sini." Ajak Yuki sembari menyandarkan tubuhnya.

Nathan berdiri. "Eh Tan loh tadi mau cerita apaan?" Sambung Yuki bertanya.

"Nanti aja." Seru Nathan sambil berjalan keluar kamar.

"Emang Nathan mau cerita apa Ki?" Tanya Enzy penasaran sembari duduk di kasur tempat Yuki tidur.

"Entah. Eh Zy sih Mella mana?"

"Mella di hubungin gak aktif nomornya."

"Kemana tuh anak?"

"Entahlah terakhir ketemu kemarin siang di kampus."

"Kenapa ya Mella. Tumben." Ucap Yuki berpikir.

"Udah jangan di pikirin, pikirin loh sekarang. Gak mungkin loh disini lama-lama sama Al berdua aja."

"Hmm iya sih. Tapi enak kok." Sahut Yuki senyum tersipu malu.

"Dasar nakal." Umpat Enzy sambil menjitak kepala Yuki yang keras.

"Aww sakit." Rengek Yuki tersenyum malu.

"Dasar. Udah ah ayo samperin yang lain." Ajak Enzy sambil berdiri.

"Ayolah." Sahut Yuki bergegas.

**

"Woi pake sendok, tangan loh kotor." Seru Al membentak Nathan sambil memukul tangannya yang sedang mengambil sosis di dalam campuran nasi goreng.

"Ya Allah pak, maaf atuh, ganas amat." Sahut Nathan sambil mengurungkan tangannya lalu mencuci tangannya di wastafel.

"Apa sih yang kalian ributin?" Tanya Enzy sambil berjalan mendekati mereka yang di iringi Yuki di sampingnya.

"Itu loh Zy. Sih Al pelit amat. Masa cicip aja gak boleh." Cibir Nathan sambil mencuci tangannya dengan mata melirik kearah mereka.

"Kok kamu gitu?" Tanya Yuki kepada Al.

"Gak loh yng. Luh apaan sih Tan. Dia itu mau makan tapi gak pake sendok yng." Jelasnya.

"Dasar kamu." Canda Yuki sambil melirik Al tajam dan mendekati Nathan.

"Iya Ki Al jahat." Sahut Nathan manja.

Al tersenyum jijik dan menggelengkan kepalanya sambil menyiapkan sarapan menuju siang.

"Ooh cup cup sahabat aku." Gemas Yuki sambil mencubit pipi Nathan.

"Agg agg sakit gila." Seru Nathan sinis.

"Sorry. Abis kamu gemesin deh." Canda Yuki tersenyum kesal.

"Al. Ini masakkan loh?" Tanya Enzy yang sudah duduk di meja makan.

"Iya, kenapa?"

"Yakin nih bisa di makan?" Tanya Enzy ragu.

"Ya bisalah. Nih coba." Sahut Al sambil mengambil sesendok nasi goreng dan menyuapkan ke mulut Enzy.

"Yakkk!" Bentak Yuki membuat Al dan Enzy meliriknya bersamaan dengan tangan Al yang sedang menyuapkan Enzy.

Al melepaskan sendok yang berada di tangannya. Dan di ambil alih oleh gigitan Enzy yang sedang menahan sendok yang berada di dalam mulutnya.

Yuki berjalan mendekati Al dengan menatap Al tajam sedangkan Al berdiri tegak seperti orang yang sedang di hukum. Yuki melewatinya begitu saja, dan berhenti, lalu ia duduk di samping Al. Al pun berbalik lalu duduk dan menatap Yuki takut.

Enzy tersenyum sambil mengunyah dan meletakkan sendok ke atas meja dengan memandang tingkah Yuki dan Al.

Nathan menggeleng jijik. "Iuuuh." Gumamnya sambil mendekati dan duduk di samping Enzy.

"Ayo makan." Seru Nathan sambil mengambil piring dan mengisinya.

"Ayo." Seru Yuki.

Al berdiri dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Yuki langsung sambil menatap Al.

"Mau ambil air." Sahutnya.

Yuki mengangguk sebagai jawaban.

Al berjalan menuju lemari es, lalu mengambil air dingin. Lalu ia kembali berjalan mendekati meja makan, Yuki melirik sekilas.

"Tan suapin gua. Cepetan." Perintah Yuki pelan.

"Kenapa?" Tanya Nathan bingung sambil melirik Al yang tengah berjalan mendekati mereka. "Ooh. Aaaagggh." Lanjut Nathan sambil menyuapkan Yuki satu sendok nasi goreng sosis.

"Mmmm enak banget." Gumam Yuki sambil mengunyah.

Al melirik kearah Yuki lalu ia tersenyum dan kembali duduk di samping Yuki. "Awas keselek, makan yang pelan." Ucap Al.

"Aiss. Kok gak cemburu sih?" Batinnya sambil melirik Al.

"Suapin aku." Pinta Yuki manja.

"Jangan manja." Sahut Al sambil melahap nasi gorengnya.

"Jangan gitu Al. Yuki cemburu liat kita tadi." Ledek Enzy tertawa.

"Siapa yang cemburu." Protes Yuki.

"Masa?" Ledek Enzy.

"Beneran." Sahut Yuki.

"Serius?" Jawab Enzy.

"Serius kok." Balasnya.

"Al. Suapin gue lagi dong." Canda Enzy membuat Al meresponnya lalu Al mengangkat tangannya dan ingin menyuapkan Enzy.

"Yakkkk.." Seru Yuki membuat Enzy Nathan dan Al menahan tawa.

"Sayangg Ooh. Aaaggghh." Seru Al langsung membelokkan tangannya dan memberikan suapan kepada Yuki.

"Hmm dasar." Cibir Yuki sambil mengunyah nasi goreng dari suapan Al.

Mereka pun akhirnya sarapan pagi menuju siang karna keterlambatan atau kejadian yang tak pernah tahu kapan datangnya.

***

Yuki tengah berbaring di atas kasur empuknya Enzy. Yuki sekarang berada di rumahnya Enzy. Yuki memutuskan untuk bermalam di rumah Enzy, sedangkan Al ia tetap tidur dirumah persembunyian mereka.

"Yuki kenapa kamu gak kawin lari aja sama Al?" Tanya Enzy sambil menyisir rambutnya di depan meja hias.

"Awalnya sih mau. Tapi gue takut." Sahut Yuki manyun.

"Kenapa?" Tanya Enzy penasaran sambil mendekati Yuki yang sedang berbaring di atas kasurnya.

"Gue masih mikirin Mama." Jawabnya murung.

"Sabar Yuki." Sahut Enzy sambil mendekat dan memeluknya.

Yuki mengangguk dan membalas pelukkan Enzy.

"Gue yakin Mama loh sekarang emang lagi pikirin loh, dia juga tersiksa dengan pilihan ini, tapi dengan cara gini dia juga bisa liat loh bahagia. Walau keadaan ini salah." Ujar Enzy.

Yuki memejamkan matanya dan mengeluarkan butiran bening dari sudut matanya. Ia menangis dalam diam.

"Udah. Gue yakin loh bisa melewati ini." Sambung Enzy.

Cekrek...

"Yuki ada Papa kamu." Ucap Mama Enzy sambil membuka pintu kamar.

Enzy dan Yuki terkejut saling menatap.

"Yuki. Gimana?" Ucap Enzy panik.

Yuki menghela nafas kasar dan tersenyum. "Udah gak papa. Gue pulang." Jawab Yuki tenang.

"Yuki loh serius?" Tanya Enzy kaget.

"Emang ada apa Nak?" Tanya Mama Enzy bingung.

"Gak ada Tante. Yuki tadi minta jemput sama Papa. Yuki balik dulu ya Tante." Ucap Yuki dan berpamitan.

"Iya. Nanti main kesini lagi ya." Sahutnya.

"Zy. Gue pulang ya." Pamit Yuki tersenyum.

"Gue anter." Sahut Enzy sambil mengandeng tangan Yuki.

***

Mobil yang di tumpangi oleh Yuki telah sampai di kediamannya. Retno membukakan pintu mobil Yuki dan menarik tangan Yuki menyeretnya masuk ke dalam rumahnya.

"Sakit Pa." Lirihnya.

"Diam." Sahut Retno kesal.

Retno membuka pintu rumah kasar dan melepaskan pegangannya sambil mendorongnya.

"Papa." Seru Yuki takut sambil memegang pergelangan tangannya.

"Gak ada malunya jadi anak." Benta Retno kepada Yuki membuat Nadia keluar dari kamarnya.

"Yuki?" Seru Nadia terkejut tak percaya sambil mendekati anaknya.

"Mama." Panggil Yuki langsung memeluknya.

"Gini. Jadinya kalau anak di manja." Benta Retno.

"Papa apaan sih, anak baru pulang bukannya di sapa baik-baik tapi kok kasar." Protes Nadia kesal sambil memeluk Yuki. "Sayang kamu udah makan?" Tanya Nadia sambil melepaskan pelukkannya dan menatapnya berkaca-kaca.

Yuki mengangguk sebagai jawaban.

"Sekarang kamu tidur. Besok kamu sama Marcell dan Ibunya cari gaun buat pernikahan kalian." Jelas Retno membuat Yuki terkejut meliriknya.

"Pa.. Yuki gak mau! Sampe kapan Yuki gak mau." Bentak Yuki kesal sambil meninggalkan mereka berlari menuju kamarnya.

"Retno kamu apa-apaan sih? Sampe kapan kamu pentingin urusan pekerjaan ketimbang anak kamu sendiri?" Ucap Nadia.

"Mama kok kamu panggil Papa begitu?"

"Itu nama kamu." Sahut Nadia sinis sambil meninggalkan Retno sendiri dan berjalan menyusul Yuki ke kamarnya.

"Yuki..." Seru Nadia sambil berjalan menaikki anak tangga.

Cekrek...

"Sayang. Al kemana? Dia tinggalin kamu?" Tanya Nadia sambil mendekati Yuki yang sedang berbaring menyelimuti tubuhnya sambil menangis.

"Gak Ma. Al gak tinggalin Yuki. Keknya ada yang kasih tahu kalau Yuki di rumah Enzy. Papa yang bawa Yuki pulang." Jelas Yuki.

Nadia menghela nafas kasar. "Yuki. Jangan dengerin ucapan Papa kamu ya. Sekarang kamu istirahat."

"Tapi Yuki gak mau nikah sama Marcell Ma." Potong Yuki.

"Iya sayang." Balas Nadia.

"Ma. Keluar sekarang dari kamar Yuki." Pinta Retno yang baru saja masuk ke kamar Yuki.

"Kamu istirahat ya." Ucap Nadia kepada Yuki sambil berjalan kearah pintu kamar.

"Kamu Papa kunci dari luar. Kamu jangan coba-coba buat kabur lagi." Ucap Retno sambil menarik Nadia keluar dan mengunci pintu kamar Yuki.

"Papa! Apaan sih Yuki itu anak kita. Emang harus segitunya." Bentak Nadia.

"Ma? Mamaa. Bukain Yuki. Jangan di kunci. Yuki takut." Teriak Yuki sambil menggedor pintu kamarnya.

"Aku benci kamu." Ucap Nadia sambil berjalan menuruni anak tangga meninggalkan Retno.

"Maa.." Seru Yuki dari dalam.

"Maafin Papa Yuki." Batin Retno sambil berbalik meninggalkannya.

Yuki memandangi pintu kamarnya dengan penuh lelah. Ia berbalik dan menyandarkan tubuhnya ke pintu lalu berlahan ia menuruni tubuhnya dan duduk sambil memeluk lututnya dan menangis sambil menundukkan kepalanya.

"Gak. Gue gak mau nikah sama Marcell. Kenapa juga gue mau di seret ke rumah ini lagi. Emang bodoh. Aiss. Gimana caranya gue kabur lagi dari sini?" Gumam Yuki.

Yuki bangkit dan bergegas mencari solusi. Ia melihat sekitarnya sambil berpikir untuk keluar dari rumahnya. Disaat ia berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari rumahnya. Ia menghubungi Al tetapi tidak ada jawaban.

Yuki menemukan idenya. Ia mengambil selimut yang berbau panjang seperti selimut kain dan hondreng.

Ia menyambungnya dan mengikat kuat ke pagarnya. Ia melihat ke bawah dan bergegas melangkah pagarnya dan menuruni dirinya bergantungan. Yuki berhasil turun. Ia memandang ke arah kamarnya. Lalu ia melanjuti langkahnya keluar dari halaman rumahnya. Ia melirik halaman rumah Nathan. Ia bergegas keluar dan mencari taksi. Tetapi nihil ia tidak menemukan taksi pada tengah malam seperti ini.

Yuki memutuskan untuk berjalan menghampiri Al. Ia terus menghubungi Al. Ia berjalan melewati jembatan sungai Han dengan kaki telanjang dan gaun tidur merah yang membuat kulit putihnya bersinar.

***

Tok tok tok...

"Al?" Panggil Yuki sambil mengetok pintu.

Tok tok tok...

Tok tok tok...

Cekrek...

"Yuki." Ucap Al sambil membuka pintu dan memegang ponselnya.

Yuki melirik Al. "Kok kamu gak akan telpon dari aku?" Tanya Yuki sambil memandang ponsel yang berada di tangan Al.

"Kamu ngapain kesini?" Potong Al.

"Kok kamu nanya gitu? Kamu gak khawatir sama aku?"

Al memandangi Yuki dari atas hingga ke bawah. "Kemana sepatu kamu?" Tanya Al.

"Aku gak disuruh masuk dulu?" Usul Yuki ingin masuk ke dalam rumah.

Al menghadang Yuki dari depan pintu.

"Aku gak boleh masuk? Kamu sembunyiin wanita lain?" Tanya Yuki penasaran.

Al mengehela nafas kasar. "Gak ada wanita lain. Sekarang kamu ikut aku." Ajak Al sambil menarik tangan Yuki keluar dan menutup pintu.

Al menarik Yuki dan ingin memasukinya ke dalam mobil. "Tunggu. Kita mau kemana?"

"Aku mau antar kamu pulang." Sahut Al.

"Pulang? Seharusnya kamu bawa aku masuk ke dalam rumah. Tempat kita bersembunyi." Jawab Yuki.

"Aku capek Yuki." Sahut Al terlihat lelah di raut wajahnya.

"Capek? Tunggu." Sahut Yuki pelan sambil melepaskan genggaman tangan Al kepadanya.

Al menatap lelah ketika Yuki melepaskan genggaman tangannya.

Yuki tersenyum sambil menahan air matanya.

"Kamu mau aku pulang?" Tanya Yuki pelan.

Al mengangguk pelan sambil menatap Yuki.

"Kamu mau aku nikah sama Marcell?"

Al mengalihkan pandangannya dan mengangguk pelan.

Yuki mengehela nafas kasar sambil tersenyum. "Okay. Aku pamit." Pamit Yuki sambil berjalan pelan sambil melewati Al.

Vote dan comment ya..
Terimakasih ❤️🙏🏻

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top