Pantaskah disebut malam pertama?
Sebelum baca play on music ya! ☝🏻
Episode sebelumnya...
Yuki mengehela nafas kasar sambil tersenyum. "Okay. Aku pamit." Pamit Yuki sambil berjalan pelan sambil melewati Al.
Yuki melangkah pelan melewati Al dengan raut wajah yang sedih. Langkahnya terhenti, Ketika Al menahan tangan Yuki. Al mengenggam pergelangan tangan Yuki. Yuki berdiri berdiam diri dengan mata yang berkaca-kaca. Al melangkah pelan tepat berada di hadapan Yuki.
Al menatap mata Yuki, Yuki mengalihkan pandangannya kearah lain. Al menuruni tubuhnya dan duduk berjongkok melepaskan sandalnya dan memasangkannya kepada Yuki.
Yuki menoleh sekilas lalu mengalihkan pandangan sambil menggigit bibir bawahnya menahan air matanya. Tetapi ia tak bisa menahannya. Air matanya terjatuh tepat ketika Al berdiri di hadapannya.
Al melepaskan jaket yang digunakannya lalu memakaikan jaket itu pada tubuh kecil Yuki.
Al menatap Yuki sambil menghapus air mata yang berlinang di atas pipinya, kemudian Al meletakkan tangan ke sisi leher Yuki sembari berlahan memiringkan kepalanya dengan menutup matanya lalu mencium Yuki. Yuki menutup matanya secara berlahan membuat air matanya terjatuh mengalir di atas pipinya.
Al menggerakkan bibirnya memperdalam ciumannya. Kedua Tangan Yuki berlahan meraih tubuh Al.
Di pagi hari, Al terbangun masih memeluk Yuki setelah menghabiskan malam bersama. Al meringkuk dengan nyaman di sekitar Yuki yang masih tidur. Dia bangun lebih dulu dan memberikan beberapa ciuman mengantuk ke rambut Yuki dan punggungnya, memeriksa apakah Yuki sudah bangun juga.
Yuki terbangun dan tersenyum pada Al, lalu berbalik meringkuk ke dadanya. Al memegang erat-erat sambil memeluknya.
***
Yuki tersenyum saat mempersiapkan sarapan, dan Al menemukan Yuki yang sedang berada di dapur untuk sarapan. Mereka masih menghindar atas kejadian tadi malam, mata mereka saling memandang canggung. Yuki mengalihkan pandangannya. Al tersenyum manis sambil mendekati Yuki dengan keadaan canggung sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal.
"Masak apaan?" Tanya Al canggung.
"Ini. Itu. Apa ini namanya." Jawab Yuki kikuk.
"Nasi goreng?" Sahut Al sambil memandangnya.
Yuki mengangguk kasar tanpa menatap Al.
Al duduk di kursi bar di depan meja bartender.
Yuki menyajikan sarapan, tapi makanannya pasti terasa mengerikan dilihat dari tatapan kagum yang tercengang di wajah Al.
"Kok gitu ekspresi kamu?" Tanya Yuki melotot.
"Ini pasti enak." Jawab Al ragu sambil mencoba memakan nasi goreng hitam buatan Yuki.
"Gimana?" Tanya Yuki sinis.
"Enak." Jawab Al cepat.
Yuki mencicipi nasi goreng hitam buatannya. Ia tersenyum dan meletakkan sendok ke atas piringnya lalu berkata.
"Abisi ya nasi goreng buatan aku yang di buat dengan rasa cinta dan kasih sayang." Ucapnya sambil berdiri dan berjalan munuju kamar mandi.
"Siap buk." Seru Al sambil melahap nasi goreng hitamnya dan menoleh Yuki yang masuk ke dalam kamar mandi, lalu ia cepat-cepat mengambil air minum dan meminumnya.
"Dasar bodoh." Umpat Yuki di depan kaca kamar mandi sambil mengelap bibirnya setelah memuntahkan nasi goreng buatannya yang sangat asin.
"Sayaang.." Serunya sambil keluar dari kamar mandi.
"Apa yng?" Seru Al menoleh.
"Gak papa. Makan gih." Sahut Yuki tersenyum licik.
"Kamu gak makan yng?" Tanya Al sambil mengunyah.
"Kamu aja." Sahut Yuki sambil berjalan duduk ke atas sofa dan menyalahkan TV.
"Aduhh aku kenyang." Gumam Al kencang membuat Yuki tersenyum miring.
***
Yuki dan Al berjalan keluar mencari udara segar. Tak terasa hari sudah mulai gelap, mereka memutuskan untuk makan malam di luar. Yuki memilih restoran yang sering ia kunjungi bersama Al ketika mereka sering mengerjakan tugas kelompok dan belajar bersama pada waktu SMA. Tak sengaja ketika mereka tengah memilih meja mereka bertemu kedua Keluarga bahagia yaitu Marcell dan kedua orang tuanya dan orang tua Yuki yang sedang mau makan malam bersama.
Al yang sedang mengandeng tangan Yuki saling berpapasan tatap muka kepada kedua Keluarga tersebut. Yuki terdiam membisu sambil menatap kedua orang tuanya di hadapannya. Ia berlahan melepaskan genggaman Al. Al menoleh Yuki berlahan memandang Yuki yang melepaskan tangannya berlahan.
"Yuki? Kata Marcell kamu lagi sakit? Terus Al ngapain kamu disini?" Tanya Siska Mama Marcell terlihat bingung.
"Al suami Yuki." Jawab Yuki lantang sambil meraih tangan Al dan menggenggamnya erat.
"Yuki!" Bentak Retno.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Papa Marcell.
"Maaf Pa. Yuki udah bilang. Yuki gak mau nikah sama Marcell. Dan Om jangan cuci otak Papa Yuki. Dan loh Marcell. Cukup! Gue gak suka loh." Ucap Yuki gemetar membuat Al mempererat genggamannya kuat.
PLAKKK suara tamparan keras yang diberikan kepada Retno pada Yuki anaknya di depan umum, membuat semua orang bergumam berbisik kepada mereka.
"Papa!" Bentak Nadia tak percaya.
Al terkejut sambil menatap Yuki dan memandangnya. "Kamu gak papa?" Tanyanya pelan. Yuki mengangguk sebagai balasan sambil menahan air mata yang akan terjatuh.
"Maaf Om Al lancang bilang ini, tapi Al kali ini gak bisa melepas Yuki begitu aja." Ucapnya pada Retno sopan. "Dan loh Cell. Cukup loh main-main. Gue gak akan pernah ngelepas Yuki." Lanjut Al dingin.
"Ayo yng. Tempat ini gak cocok untuk kita." Ajak Al dan pergi meninggalkan mereka sambil mengenggam tangan Yuki.
Marcell tersenyum sinis tak terima.
Epilog
Yuki menutup matanya secara berlahan membuat air matanya terjatuh mengalir di atas pipinya. Al melepaskan ciumannya berlahan sambil menatap Yuki. "Maaf. Aku gak bisa melindungimu malam ini." Ucap Al sambil mencium bibir Yuki dan menggerakkan bibirnya memperdalam ciumannya. Kedua Tangan Yuki berlahan meraih tubuh Al.
Cerita Ini Hanya Fiktif Belaka dan hanyalah khayalan semata. Cerita ini mengandung unsur dewasa harap bijak dalam memilih daftar bacaan.
Terimakasih
Vote dan Comment !
Menurut kalian Ceritanya sampe sini aja apa di panjangin lagi?
Please Respon ya 🙏🏻
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top