Bab 1 [REVISI]

Bab 1
[Pertemuan singkat]

Airport Soekarno–Hatta, 02-05-2018.

Kring!!! Kring!!!

"Halo ma?" Angkat Yuki dari dalam pesawat sambil melihat sekitar.

"Kamu jam berapa berangkat nak?"

"Ini Yuki udah di pesawat. Oh itu dia." Jawabnya sembari menghampiri kursinya.

"Ma udah ya, Nanti Yuki hubungi lagi." Tukasnya.

"Iya, kabari mama kalau udah sampe."

"Iya ma."

Tut... Panggilan terputus, Yuki pun segera menggantikan ponselnya dalam mode pesawat.

"Ladies and gentlemen, welcome onboard Flight with service from Jakarta to Japan We are currently third in line for take-off, We ask you to please fasten your seatbelts at this time, and secure all baggage underneath your seat or in the overhead compartments.
Ibu-ibu dan Bapak-bapak, selamat datang di Penerbangan kami dengan pelayanan dari Jakarta ke Japan kita sedang berada dalam antrian untuk take-off, kami meminta anda untuk memasang sabuk pengaman anda saat ini, dan simpan semua koper di bawah kursi atau di kompartemen atas."

"Permisi." Panggil Yuki kepada salah satu pramugari sambil mengangkat tangannya.

"Iya, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Pramugari sembari mendekati Yuki.

"Ini susah." Lirihnya sambil menarik sabuk pengaman.

"Sini saya bantu. Egh egh." Dercak Pramugari itu sambil menarik sabuk pengaman dengan kencang.

Aku mulai risih dengan keadaan, kenapa hal sepele ini selalu saja terjadi kepadaku. Suatu ketika seorang pria tiba-tiba menarik sabuk pengamanku sehingga terpasang begitu sangat muda, aku menoleh serentak memandang pria itu yang tepat duduk di sebelahku.

"Permisi mbak, jika ada keperluan lain tinggal panggil saja. Terimakasih." Ucap pramugari itu membuat lamunan Yuki tersadar dan mengangguk ketika mendengar ucapan sang Pramugari tersebut sambil tersenyum dengan memandang sang Pramugari dengan body ramping layaknya Model.

"Andai tubuhku seperti seorang pramugari itu, mungkin aku gak semalu ini." Batin Yuki sambil melihat tubuhnya yang terlihat lebih besar lalu menatap pria di sampingnya.

"Hai kenalin nama aku Yuki Kato, orang memanggilku Yuki sih cantik, lucu, imut, tapi itu menurut mama ku. Aku lahir di Japan, tapi aku tinggal di Jakarta, dan aku udah tunangan sama anaknya om Radit yaitu? Nantinlah."

"Thanks—" Ucap Yuki terhenti lantaran pria itu langsung mengangkat tangannya ke atas wajahnya hingga tertutup setengah sambil bersandar.

"Sombong." Umpat Yuki pelan sambil mengalihkan pandangannya ke hadapan. Pria itu tersenyum miring.

***

"Hoaaaaammm." Dercak Yuki sambil menggeliatkan tubuhnya dan memandang samar pria di sampingnya atau pria sombong yang membantunya dalam sekejap.

"Wah so cute." Gumam Yuki sambil memandang pria itu.

Yuki mengangkat tangannya pelan-pelan dan menggapai puncak hidung pria itu. "Seksi." Celotehnya.

"Loh ngapain?" Tanya pria itu membuat Yuki membuka matanya lebar.

"Loh ini bukan mimpi?" Batinnya. "Upz sorry gue kira loh patung pancoran." Ketusnya sambil menyengirkan gigi putihnya.

"Stupid." Umpat pria itu.

"Gue denger." Sahut Yuki dingin sambil menatap tajam pria itu.

***

Japan Airport, 02-05-2018.

"Wahhh udah lama gue gak menghirup udara Tokyo." Ujarnya sambil melihat-lihat sekitar.

Bandara Haneda lebih populer dibandingkan Bandar Udara Internasional Tokyo, untuk membedakannya dari Bandara Internasional Narita yang pernah dinamakan "Bandara Internasional New Tokyo. New Tokyo International AirPort.

Di saat itu Yuki sedang menunggu jemputan, ia melihat pria sombong yang sedang berdebat dengan seorang sopir taksi. Yuki melangkah pelan mendekati mereka.

"Loh mau minta bantuan gue gak?" Ucap Yuki membuat pria itu menatapnya seketika dan langsung mengalihkan pandangannya dan melanjutkan debatnya dengan seorang sopir taksi.

"Dasar sombong." Umpat Yuki menatap pria itu tajam. "Sumimasen. Watashi wa nihonjindesu. Kono hito ga watashi no kanojoda." Permisi. Saya orang Jepang. Orang ini adalah pacar saya. Ucap Yuki membuat pria itu terdiam dan memandangnya.

"Anata wa nihonjindesu." Anda orang Jepang. Tanya pria paruh baya itu.

"Hai, yurushitekudasai kare wa sukoshi kureijīdesu." Iya, maafkan dia, dia sedikit gila.

"Haha. Hai." Iya. Sahut pria paruh baya itu sambil tertawa.

"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya pria muda itu.

"Dia bilang, dia minta maaf." Sahut Yuki.

"Non Yuki." Seru seorang.

"Oh mang Diman." Seru Yuki menyapa sambil berbalik ke sumber suara.

"Loh mau kemana?" Tanya Yuki kepada pria itu.

"Gue mau kesini." Jawabnya sambil menunjukkan map kertas.

"Ikut gue aja, kebetulan gue lewat situ. Gue bantu karna kita sama-sama dari Jakarta." Celetuknya.

"Loh gak culik gue kan?" Sahut pria itu.

"Haha. Gak guna." Umpat Yuki tertawa.

"Gimanaa? Mau gak?" Lanjut Yuki.

Pria itu berdeham kecil, sambil berjalan melewati wanita gendut itu, ia langsung masuk ke dalam mobil pribadi milik wanita itu.
Haruskah aku masuk ke dalam mobil wanita yang tak ku kenal ini? Tapi ia terlihat baik, tapi ia juga terlihat bodoh?

"Hari ini gue mau makan malam sama tunangan gue." Ketus Yuki memberitahu, sambil memilih hadiah dari dalam ponselnya untuk tunangannya.

"Mang Diman bagusan yang mana? Yang ini apa ini." Tanya Yuki dari kursi belakang sopir sambil memperlihatkannya kepada Bang Diman.

"Tanya sama temen non aja, mungkin lebih ngerti." Sahut mang Diman sembari menyetir.

Yuki melirik pria itu yang kini sedang bersandar menatap luar kaca mobil.

"Eh menurut loh, bagus yang mana?" Tanya Yuki.

"Terserah loh." Jawabnya singkat tanpa melirik sedikit pun.

Yuki menatap pria itu tajam dengan mengerutkan alisnya dan memonyongkan bibir. Pria itu risih ketika Yuki tidak lepas dari tatapannya. "Ini." Ucap pria itu sambil menunujuk ponsel Yuki. 

"Ok. Thanks." Jawab Yuki singkat langsung kembali memainkan ponselnya.

"Gue gak sabar lagi ketemu sama Marcell." Cibirnya membuat pria itu melirik Yuki yang sedang sibuk dengan gadgetnya.

Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di tempat yang ia tuju. Pria itu pun tak segan-segan lamgsung keluar dari dalam mobil.

"Thanks. Semoga pernikahan kalian lancar." Ucap pria itu dingin sembari menatap Yuki dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Dan berjalan berbalik sambil tersenyum miring meremehkan.

"Wah, kenapa dia liatin gue kek gitu." Cibirnya sambil melihat postur tubuhnya dan mengalihkan pandangan kepada pria itu yang berjalan membelakanginya memasuki Hotel berbintang lima di Japan.

"Ayo mang." Ucap Yuki kesal sembari masuk ke dalam mobil.

"Gak tahu terimakasih, tapi tuh laki gak asing lagi. Siapa ya?" Gumam Yuki sembari menoleh ke belakang mobil memandangi Hotel berbintang lima itu."

———————————————

Yuki Kato

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top