13/02/22: Day 13
Tema: Buat cerita dengan tema, "Mitos angka 13"
~~~~~~~~~
Luna POV
"Lunaaa!!!" Nyaris saja aku berteriak kaget karena panggilan heboh itu. Dari kehebohannya, pastilah Mekar yang memanggilku.
Tanpa perlu menoleh, sebuah pelukan menerjang dari belakangku yang tengah duduk di bangku, berbincang dengan teman sekelas lainnya.
"Tau enggak, tau enggak?" Secepat kilat Mekar berpindah ke samping mejaku, bertopang dagu, menatapku dengan mata berbinar.
"Enggak tau, enggak mau tau juga kok." Aku ikut bertopang dagu menatap ke arahnya, tersenyum. Sengaja ingin menjahilinya.
"Masa?? Yakin Luna enggak mau tau?" Aku tertawa kecil begitu melihat bibirnya yang sudah mulai tertekuk ke bawah.
"Hanya bercanda. Jadi, apa?" Aku kembali pada posisi awalku, karena sepertinya bukan hanya aku yang mau mendengar, tapi tiga orang yang berkumpul di bangku pun ingin ikut mendengar.
"Jadi, setiap tanggal 13 yang bertepatan dengan hari Rabu, kalau murid kelas 2 dateng ke ruang kesenian saat jam 3 sore, akan ada lukisan yang muncul. Katanya, lukisan itu sebenarnya tempat bersemayam roh kepala keluarga pemilik mansion dulu!" Cerita-cerita itu lagi. Sudah kesekian kalinya aku mendengar cerita mistis dari teman-teman.
Yah, memang sejujurnya sekolah kami ini terlampau berbeda dari gedung sekolah lainnya. Karena struktur dan desain sekolah ini yang nyaris menyerupai mansion.
Jadilah timbul cerita bahwa dulunya sekolah ini memang mansion, dan penghuninya mati terbakar dan hanya tersisa lukisan itu diantara semua barang-barang yang hangus. Tapi lukisan itu menghilang saat renovasi untuk dijadikan sekolah.
Walau aku tidak percaya, tapi aku benar-benar salut pada orang yang mengarang cerita itu, karena detail ceritanya menarik sekali. Tentunya waktu ke waktu cerita itu sedikit berubah dari yang kudengar pertama kali saat SMP dulu.
"Jadi, kamu ingin mencobanya?" Aku langsung bisa menarik kesimpulan dari ucapan Mekar. Anak ini rasa penasarannya memang tinggi sekali.
"Ya! Berhubung besok tanggal 13, jadi gimana kalau kita mencobanya!" Mekar menatapku bersemangat, lantas berganti menatap teman-teman yang lain.
"Ya aku tidak masalah sebenarnya." Lily mengangguk.
"Mekar lupa? Besok aku harus berkumpul dengan keluarga besar, jadi tidak bisa ikut." Wendy menghela napas kecewa. Terlihat sekali dia ingin ikut.
"Aku ikut! Kayaknya enggak ada salahnya coba. Asik juga sepertinya." Yui merespon balik dengan semangat.
Haruskah aku ikut? Sebenarnya aku tidak ada sibuk besok, dan adik-adikku juga seharusnya tidak masalah jika aku pulang terlambat. Tapi malas sekali rasanya menghamburkan waktu untuk hal seperti itu.
"Tidak deh, besok aku ada janji dengan Bintang." Aku menjawab pendek. Semoga saja Bintang tidak masalah dengan kebohongan ini.
"Yahhh. Kita enggak akan berani kalau enggak ada Luna!!" Yui memeluk lenganku, aku hanya tertawa canggung sembari terus menolak.
Lagipun, aku juga harus menghindaru ruang kesenian saat ini.
.
.
13/02/2022
Author's Note
Seharusnya chapter ini bisa panjang kalau dimasukin scene di ruang kesenian. Tapi berhubung karakter Luna ini enggak begitu mau ngabisin waktu buat hal begitu, jadinya bimbang apa buat scene ruang keseniannya atau enggak ;-;
Dan berakhir tidak, alasan lainnya karena aku nulis udah mepet deadlinee~
Jadi aku main aman aja dengan menghilangkan scene ituu, padahal ud13ah kepikiran bakal kayak gimana...
Tapi, tapi, kalau tema besok cocok, siapa tau bisa dilanjutin Huahahaha
Mari berharap tema besok bisa bekerja sama~
Babayy!!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top