06/05/22: Day 6
Tema: Buat cerita dengan setting tahun 2301
~~~~~~~~~~~~~
Bintang POV
Ah, gawat gawat! Ada yang mengejar Bintang!
Bintang mencoba melompat di antara bebatuan tinggi, mencari tempat untuk kembali bersembunyi.
DOR! DOR!
Bunyi peluru ditembakkan begitu memekakkan telinga, Bintang berteriak sembari menutup kepala dan telinga dengan kedua tangan—menunduk ceritanya.
"Ih! Bo—, Akh! Jangan malah diam Bintang!" Kak Surya berteriak frustasi.
"G,gimanaa!?!??" Kenapa Bintang kini malah loncat-loncat ke sana kemari!?? Bintang juga mau kabuurr!!
"Aish!" Kak Surya berdecak kesal. Setelahnya—entah datang darimana— Kak Surya sudah berada di dekatku, balas menembak orang yang sedari tadi mengejarku hingga orang itu mati.
"Kalau tidak bisa main seharusnya tidak usah!" Pangkas Kak Surya sebelum pergi dan kembali membantai musuh, jujur, dengan kerennya.
"Ke tempat Kak Langit aja. Di sana lebih aman pasti." Kak Luna berucap, setelahnya dia berlari, melompat dan menembaki musuh. Sepertinya Kak Luna pun bermain dengan baik.
"Alah Lun, kamu juga enggak jago-jago amat. Sana ke tempat Langit juga." Kak Surya terkekeh.
"Diam deh!" Balas Kak Luna.
Setelahnya Bintang tidak tau lagi apa yang terjadi diantara mereka, entah mereka masih menembaki musuh atau malah menembaki satu sama lain. Karena seperti saran Kak Luna, Bintang memilih pergi ke tempat Kak Langit.
"Bintang jangan ke tempatku. Kalau ada yang ngikutin kamu, habis sudah aku!" Suara Kak Langit terdengar dari earpiece. Dari suaranya sepertinya dia sedang menembaki lawan dari atas sana.
"Kalau begitu Bintang harus ke mana!?" Bintang benar-benar frustasi sekarang! Kalau begini terus Bintang bisa mati!
"Pergi aja ke tempat yang sepi. Bintang pimpin jalannya, biar Kak Luna yang jaga bintang." Sambung Kak Langit.
"Kak Luna, Kak Surya! Ayolah, musuh kita bukan satu sama lain!" Jujur saja, Bintang sampai terdiam mendengar Kak Langit bisa berbicara sefrustasi itu. Dan begitu Bintang menoleh, yang bisa Bintang lakukan hanya menepuk jidat. Kak Luna dan Kak Surya ini benar-benar deh!
Bukannya pertarungan 4 vs 4 yang terjadi di tengah medan pertarungan di sana, tapi 1 vs 1!
Kak Luna dan Kak Surya malah menembaki satu sama lain, saling menghindar dari masing-masing serangan. Bahkan tim lawan sampai dibuat bengong karenanya.
"Kak Luna! Bantu Bintang please!" Bintang berseru pasrah, ingin menangis rasanya, Bintang benar-benar payah dalam hal ini!
"Kenapa Bintang?" Akhirnya Kak Luna merespon walau—
"Diam kau Surya!" Kak Luna kembali berteriak dan bunyi tembakan beruntun terdengar.
Untunglah setelahnya Kak Luna benar-benar berlari ke arah Bintang, dan Kak Surya kembali menembaki musuh, walau sesekali Kak Surya masih menembaki Kak Luna dan membuatnya geram.
"Bintang mau kemana memangnya?" Kak Luna bertanya dengan napas yang terengah.
"Bintang mau sembunyi." Jelas Bintang.
YOU WIN!
Kalimat itu terpampang jelas, besar dan berulang-ulang di langit arena.
Bintang mendesah kecewa, padahal belum ada satupun dari tim lawan yang Bintang berhasil bunuh!
Setelahnya, tubuh kami seakan berteleportasi keluar arena yang penuh dengan pasir dan batu-batu besar serta kendaraan tua yang teronggok begitu saja.
"Tadi itu lumayan." Kak Langit yang pertama berkomentar begitu kami sampai di luar arena.
"Ya, tempat yang tadi itu kotor sekali." Gerutu Kak Luna.
"Ya ampun Luna, ini cuma game!" Kak Surya memutar bola matanya malas. Bahkan Bintang pun tau ini bukan pertama kali Kak Surya menjelaskan hal itu pada Kak Luna.
Tapi yah, Bintang setuju dengan Kak Luna. Suasana di sini tentunya lebih baik dibanding di dalam arena. Selain lebih bersih, setidaknya menurut Bintang suasana di sini lebih bersahabat, karena tidak ada yang saling menembaki. Jadi Bintang tidak perlu repot untuk—
DUAR!
Suara ledakan terdengar disusul dengan suara bangunan yang mulai runtuh. Langit-langit yang tinggi itu berjatuhan, menghasilkan bunyi berdebum yang cukup besar.
"Wah, datang juga." Tunggu, apa kata Kak Surya? Sudahlah, sekarang yang penting selamatkan diri dari puing-puing yang terus berjatuhan ini!
Bintang mencoba melesat ke sana kemari, sembari sesekali melihat ke atas agar tidak ada puing-puing yang lolos dari pandangan Bintang.
"BINTANG—" Seruan itu membuatku menoleh, dan begitu Bintang melihat raut wajah Kak Luna yang panik-pucat begitu. Bintang tau, ada satu puing yang lolos dari pandangannya dan...
----
Hening melanda begitu layar televisi kami menampilkan tulisan 'Game Over.' Serangan terakhir itu, sama sekali tidak Bintang duga!
"Ah sudahlah. Payah game ini." Kak Luna mendengus kesal, melempar joystick ke sofa.
"Game ini enggak payah, mainmu yang payah!" Kak Surya bergumam dengan bibir yang sedikit condong ke depan, sepertinya Kak Surya tidak ingin Kak Luna mendengarnya.
"Kamu juga kalah, berarti mainmu juga payah." Ternyata Kak Luna mendengarnya.
"Bukan, aku sekarang cuma belum bisa!" Bantah Kak Surya.
Sebagai balasan, Kak Luna hanya mengangkat kedua bahunya tidak peduli.
Tapi, sebenarnya Bintang juga menganggap game ini menyebalkan, lain waktu Kak Surya mengajak Bintang main game ini lagi, lebih baik Bintang tolak saja.
.
.
06/02/2022
Author's Note
Jujur, awalnya aku panik pas dapet tema ini... Tapi begitu kepikiran idenya, aku jadi kesenengan pas nulis(。・ω・。)ノ♡
Beteeweee. Aku lupa mau nyampein sesuatu di AN kemariinn༎ຶ‿༎ຶ
Habisnya, kemarin kepalaku sakit banget jadi cepet-cepet seselsaiin tulisannya biar gak perlu liat gadget lagi :")
Tapi sekarang aku udah baikan kokk, benerr //Padahal waktu itu juga bilangnya begini
Jadii, dari episod kemarin kalian mungkin udah nyadar, di awalan ada penjelasan POV siapa yang dipake untuk chapter kali ini.
Karena setelah kupikir-pikir kayaknya bakal ngebingungin kalau gak ada penjelasan itu di awal, soalnya rata-rata mereka nyebut diri sendiri pake aku kecuali Bintang yang nyebut dirinya sendiri pake nama.
Jadi biar tidak membingungkann, aku tambahin kejelasan POV dehh, di awal hwhw(人 •͈ᴗ•͈)
Semoga ini membantu kaliaann(≧▽≦)
Okaayy, segitu aja yang mau aku sampein di AN kali ini, sampe ketemu besokk(。•̀ᴗ-)✧
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top