05 | Surpass the expectations -part.2-

Chapter 5
"Surpass the expectations"
-part 2-
☆☆☆

---•••---

Aktris belia bernama Kitani Yuzuru itu benar-benar membuat semua orang panik. Gadis itu kembali hadir di hadapan Natsuki, para artis dan kru di kelas yang menjadi pusat pengambilan rekaman dengan wajah tanpa bersalah.

"Yuzuru-chan dari mana!" Natsuki menghampiri, hampir memeluk Yuzuru karena begitu mencemaskan juniornya itu.

Yuzuru langsung meluruskan kedua tangan ke depan untuk menghentikan niat Natsuki. Lalu dengan penuh semangat gadis itu menjawab, "Adegan jatuh tadi keren banget! Pakai tali kayak bungee jumping gitu! Jadi kepengin coba~."

Tangan Kaoru, sang manajer, tanpa enggan lagi menjitak kepala aktrisnya. "Kono mondaiji!" [1]

Yuzuru mengaduh keras. "Duh, Kaoru-san, kerasukan setan apaan sih?!" erangnya segera mengelus kepala dengan kedua tangan.

Kaoru tidak peduli dengan tatapan sekitar, mencak-mencak memarahi aktrisnya. "Kamu itu bisa tidak membuat orang lain khawatir, hah?! Mikado-san dan aktor lain kembali ke lantai ini, tapi kamu sendiri yang menghilang tiba-tiba! Tentu saja semua orang cemas, bodoh! Lalu alasanmu apa? Ingin bungee jumping tengah malam? Sudah sinting kamu ya!"

Dengan kedua tangan masih menutupi kepala, Yuzuru menoleh ke arah Natsuki dan yang lain. Para pemain dan staff terkekeh ringan ke arahnya, lalu menganggukkan ucapan Kaoru. Merasa tidak enak hati sudah dicemaskan banyak orang, gadis itu pun menundukkan kepala pada mereka semua. "Mohon maaf atas tindakan kekanakan saya."

Para pemain dan staf pun saling berkomentar. "Haha! Tidak apa, Kitani-chan! Yang penting tidak kena masalah."

"Kupikir kamu malah diculik hantu gedung ini."

"Aku menyangka kamu malah berguling lagi di tangga."

Aktris yang melakukan adegan melompat itu hanya bisa terkekeh ganjil mengingat bagaimana terkejutnya saat ia dibantu beberapa staf bawah mendarat di lantai bawah dengan aman Yuzuru menghampirinya dengan tatapan kagum berlebihan. Ditambah gadis bertubuh mungil itu berkata, "Irinya~ jadi pengin coba~!"

"Pokoknya, jangan bertindak gegabah lagi ya, Yuzuru-chan!" Natsuki menepuk-nepuk ringan kepala Yuzuru.

Gadis itu mengangguk patuh seraya menunjukkan sederatan giginya. Kaoru yang masih kesal dengan sikap egois aktrisnya itu spontan mencubit sebelah pipi Yuzuru dengan gemas. Walau tahu betapa cemas orang-orang yang peduli padanya, Yuzuru merasa beruntung dan bahagia ada di antara mereka, terutama bersama Natsuki sebagai senior dan Kaoru sebagai manajernya. Rasa takut mengenai hantu gedung maupun film horor yang dimainkannya kali ini menghilang sepenuhnya. Hingga tidak dirasa pengambilan adegan untuk film Gakko-tattari mencapai klimaks.

---•••---

☆☆ 輝きアイドル ☆☆

---•••---

"Bersiap untuk pengambilan adegan terakhir!" Seruan sutradara disambut penuh semangat oleh para pemain dan kru.

Siang ini akhirnya menjadi hari terakhir pengambilan dua bagian terakhir sebagai penutupan film. Adegan pertama ialah kematian Mogawa Rie karena tertindih lemari, nyawanya tidak tertolong karena tengkorak kepalanya pecah. Dan adegan terakhir adalah hari kelulusan bagi murid yang tersisa dan monolog Natsuki menyatakan gedung belajar terkutuk itu ditutup selamanya.

Para kru properti sudah mempersiapkan adegan kematian Mogawa Rie dengan teliti. Lemari yang digunakan sudah diikat dengan tali, begitu kaki lemari yang sudah dipotong itu ditarik nantinya akan jatuh dengan sendirinya. Lalu yang menggantikan posisi Yuzuru untuk dihimpit ialah manekin yang dibentuk semirip mungkin dengannya dari belakang.

Persiapan terakhir tinggal Yuzuru mengenakan seragam yang dilumuri darah. Untuk itu ia pergi ke ruang sebelah mengganti pakaian. Begitu membuka pintu, matanya menangkap sesosok eksistensi yang membuatnya berteriak histeris setengah mati.

"AAAH!!" Yuzuru terpekik seraya membanting pintu tertutup kembali. Tapi pintu itu malah lepas dari engselnya dan jatuh ke dalam.

"HUWAA!!" Pemuda yang tengah bertukar pakaian di dalam segera menghindar agar tidak terhimpit pintu. "Oi, kau berniat membunuhku, apa?!"

Yuzuru terkesiap kala melihat nasib pintu yang ambruk karena tangannya sendiri. Saat matanya melihat Kurusu Syo masih belum sempat memasang kancing kemeja, ia segera membalikkan badan, menutup wajahnya yang memerah dengan kedua telapak tangan. "Salah pintunya lemah!"

Beberapa kru datang menghampiri karena mendengar suara pekikan dan gedebuk keras. "Ada apa?" Tiga kru itu sontak kaget melihat pintu ruang bekas penyimpanan itu terlentang.

"Ah, pintu ini memang sudah rusak."

"Padahal sudah kupasang kertas 'dilarang masuk'."

Syo segera keluar, tentu dengan kancing kemeja terpasang menyisakan satu di atas, menghampiri kru tersebut. "Saat aku tiba kertas peringatannya tidak ada. Tempat ganti baju ramai, aku ke sini karena terlihat tidak ada orang."

Yuzuru perlahan meregangkan jari-jari, melirik dada Syo yang tidak lagi terekspos. Diam-diam ia menghela napas lega, menurunkan kedua tangan dengan canggung. "Setidaknya kunci pintunya, dong!" timpalnya sebelum Syo memarahinya.

"Justru karena rusak, kami lepas kuncinya, Kitani-chan," ujar kru yang lain.

Syo menggaruk pipi, semburat merah sedikit mewarnai. "Karena tidak bisa dikunci dari luar, untuk berjaga-jaga aku menukar baju dekat pintu. Jadi kalau ada orang akan masuk, segera kucegah, mendorongnya dari dalam."

"Tapi tadi kok gak dilakuin?" timpal Yuzuru cemberut, sengaja menggembungkan kedua pipi.

"Salah kau sendiri yang jalan kayak mata-mata, langkah suaramu gak kedengaran!"

"Lha, kok aku yang disalahin?!"

Kedua artis dari agensi yang sama itu pun mulai adu mulut. Natsuki terlambat menghampiri keduanya, hanya bisa melihat tontonan gratis tersebut dengan senyum sumringah. "Aah~ akrabnya~."

Spontan keduanya bersamaan menjawab, "SIAPA JUGA YANG AKRAB?!"

Pertengkaran keduanya hanya bisa dihentikan oleh sahutan asisten sutradara yang meminta para pemain bersiap-siap di lokasi. Yuzuru meminta Natsuki menegakkan pintu, berjaga dari luar saat ia bertukar pakaian karena tidak ada waktu pergi ke ruangan lain. Setelah berganti pakaian, Yuzuru hadir di kelas yang sudah dipersiapkan sebagai adegan kematian karakternya.

Sutradara meminta Yuzuru berdiri di depan lemari, di titik yang sudah ditandai X dengan lakban hitam. Nantinya lemari itu akan jatuh, ia harus berbalik badan, dan saat itu adegan dihentikan bersamaan dengan tali yang menarik lemari agar tidak menghimpit Yuzuru, lalu posisinya ditukar dengan manekin, pengambilan adegan kembali diambil saat lemari sepenuhnya jatuh menghimpit boneka tersebut. Rencananya begitu, akan tetapi....

Mikado Zen menghampiri Natsuki yang berdiri tidak jauh dari sutradara duduk. Ia menggelengkan kepala, berkomentar sesuka hati. "Aah~, adegan yang memilukan. Sebagai pemeran pelindung Mogawa Rie aku sungguh menyesal membiarkan Nona Muda mati begitu saja oleh ulah hantu gedung."

Natsuki mengangguk setuju. "Ceritanya tiba-tiba Mogawa Rie pergi seorang diri ke kelas, menemui hantu itu agar tidak lagi mengganggu teman-teman yang tersisa. Hantu itu menerima permintaan Rie dengan syarat nyawanya. Lemari itu pun jatuh. Akhir cerita yang menyedihkan. Andai boleh diubah alurnya, aku juga ingin menyelamatkan Rie."

Kru masih mengamati tali di lemari agar benar-benar kuat saat ditarik. Mereka masih mengukur posisi di mana Yuzuru harus berdiri. Sang aktris utama itu pun menggeser posisi berdiri dengan patuh. Setelah posisi ditentukan, sutradara memberi aba-aba untuk pengambilan adegan. Saat itulah Yuzuru berakting bicara seorang diri yang dalam cerita tengah berdiskusi dengan hantu gedung.

"Kenapa kamu membenci kami? Apa kamu merasa kesepian? Tolong lepaskan kami---"

Syo penasaran dengan akting terakhir juniornya itu mengintip di pintu belakang kelas. Ia bisa melihat adegan dan situasi tanpa terhalang meja dan benda lainnya. Saat itu ia menyadari sesuatu tampak ganjil. Yuzuru memunggungi lemari yang mulai condong. Syo tahu adegan apa yang akan terjadi, tapi kakinya segera melangkah cepat menghampiri gadis itu.

Bunyi sesuatu yang berderak semakin keras, hingga Yuzuru terpaksa menghentikan kalimatnya, memutar badan menatap lemari yang belum saatnya jatuh. Ia harusnya bergerak. Gadis itu sudah terlatih untuk merespon cepat, tapi badannya malah membeku begitu saja. Tanpa disadari bayang-bayang lemari menutupi tubuhnya, orang-orang di sekitar mulai bersorak. Tubuhnya ditarik dari belakang. Ia terjatuh bersamaan dengan bunyi dentuman lemari yang mencium lantai.

Tubuh Yuzuru bergetar hebat. Matanya terbelalak melihat lemari yang sujud tidak jauh dari ujung sepatu. Otaknya tengah mencerna apa yang telah terjadi. Yuzuru menggerakkan leher yang terasa kaku, menatap pemuda yang memanggil-manggil namanya. Tanpa disadari pelupuk mata memanas, ia dapat merasakan jantung berdetak tidak karuan.

"Kitani, kau tak apa?"

Apa barusan tadi ... aku hampir mati ... sungguhan?

"Kitani!" Syo memanggilnya berulang kali.

"Ku..ru..su..senpai...."

Yuzuru mendengar suara Kaoru, Natsuki dan yang lain memanggil namanya, tapi ia tidak sadar siapa saja yang ada di sekitarnya. Tubuhnya masih menggigil. Ia tidak sadar merasakan yang namanya ketakutan. Padahal selama ini ia sudah mengumpulkan keberanian, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Akan tetapi, jika Syo tidak bergerak, nyawanya tidak akan selamat. Selamat pun pasti beberapa tulangnya akan patah.

Kedua tangan Syo yang masih menggenggam lengan Yuzuru itu dapat merasakan tubuh gadis itu menggeretek hebat. Spontan ia menarik Yuzuru ke dalam dekapannya, memeluk, mengelus punggung gadis itu rasa. "Mou daijobu da," bisiknya. "Sudah tidak apa-apa. Tenanglah...."

Getaran karena kecemasan perlahan melebur. Aroma parfum Syo menenangkan benaknya. Seketika itu pula Yuzuru sadar, ia dipeluk laki-laki yang disukainya. Jantungnya berdetak lebih kencang dari pada fakta lemari hampir menindihnya.

Tidak boleh!, tegasnya pada diri sendiri. Aku harus berterima kasih.... Orang-orang melihat kami seperti ini....

Walau dalam benaknya berkata seperti itu, malu dipeluk di hadapan banyak orang, ia ingin bersikap curang dengan mengambil kesempatan.

Gimana nih? Aku malah gak mau pisah dari pelukan ini....

---•••---

☆☆ 輝きアイドル ☆☆

---•••---

Chihiro mengamati pejalan kaki yang lewat di balik kaca kafe di mana ia berada kini. Benaknya kembali mengingat percakapannya dengan Presdir Shining. Tidak disangka pemimpin agensi tersebut mengetahui hampir seluruh cerita yang dialaminya semasa Master Course di London. Shining secara terang-terangan mengatakan bahwa ia memiliki banyak mata dan telinga di mana pun alumni berada, di luar negeri sekali pun. Chihiro meminta maaf karena sudah mengecewakan harapan Shining karena tidak mencapai prestasi apapun di London. Namun, yang lebih mengejutkan presdir itu tidak berpikir demikian.

"Sebenarnya aku mengkhawatirkanmu belajar di bawah bimbingan Joseph. Ia terkenal playboy. Tidak ada satu pun wanita yang dipertahankannya, paling lama hubungan tersebut dua sampai tiga bulan. Tidak ada penyesalan akan keputusanmu kembali ke Jepang."

Selama ia curhat pada Yuzuru, sahabatnya itu selalu menenangkan hati. 'Tidak ada yang perlu dikhawatirkan', diucapkan berkali-kali. Benar saja kalimat itu sangat manjur, bahkan menjadi kenyataan. Kemungkinan besar sahabatnya itu tahu apa yang dipikirkan presdir hingga dapat berkata demikian. Hanya saja Chihiro terlalu sensitif dan berprasangka yang tidak-tidak pada presdir sebelum menemuinya secara empat mata.

Chihiro mengalihkan pandangan saat menyadari kehadiran seseorang. Senyumnya pun mengembang, begitu pula gadis di hadapannya. Minami langsung menghamburkan diri memeluk Chihiro.

"Akhirnya bertemu! Kangen banget, Chii-chaan!"

"Aku juga!"

Keduanya saling melepaskan pelukan, dan duduk berhadapan. Seorang pelayan datang menanyakan pesanan pada Minami yang baru saja tiba. "Ice coffe," pinta Minami tanpa menyentuh buku menu.

"Tidak pesan makanan?" tanya Chihiro.

Minami menggelengkan kepala. "Aku sudah makan siang tadi di sela bekerja. Sudah terbiasa bawa bekal. Ah, Chii-chan sudah makan siang? Kalau belum, pesan saja. Kutunggu. Hari ini aku tidak begitu sibuk."

"Kalau begitu," Chihiro sejenak membaca buku menu, "pasta saja."

Pelayan membacakan pesanan keduanya. "Ice coffe dan pasta. Ada tambahan?" Chihiro dan Minami serentak menggelengkan kepala. Pelayan tersebut pamit untuk membawakan pesanan.

"Tadi kamu pergi ke kantor agensi, bukan? Apa saja yang dibahas dengan presdir?" tanya Minami. Ia terlihat begitu penasaran, tergambar jelas di kedua bola matanya.

Chihiro sedapat mungkin tersenyum. Walau ia yakin Minami yang penyuka dunia pergosipan pasti sudah mencari tahu mengenai mentornya--mantan mentor--kondukter tampan nan terkenal di London, Joseph Kikuta, tapi sahabatnya yang satu ini pasti belum tahu apapun mengenai cerita romansanya. Ia yakin karena media pun belum sampai mengendus maupun mengulas tentang dirinya spesial bagi Joseph.

"Aku senang kamu memutuskan kembali ke Jepang, tapi aku bingung kenapa kamu tidak meniti karir lebih lama di London?" Minami kembali melontarkan pertanyaan. "Tidak betah karena orang-orang di sana tidak ramah?"

"Ramah, kok. Aku betah banget di sana. Hanya saja... rasa kangenku semakin besar daripada impian menjadi pianis di luar negeri. Apalagi aku anak pertama, ibu, ayah, serta adikku selalu saja menelepon 'kangen', 'kalau masih di Jepang tidak masalah', 'London jauh sekali!', begitu.

"Ditambah..., setiap melihat berita Yuzuru-chan, lagu baru dan film yang kini dimainkannya, aku merasa terhimbau. Lagunya tentu lebih dahulu dijual di Jepang, drama dan filmnya pasti pertama kali diputar di saluran televisi dan bioskop, sementara aku yang ada di luar negeri hanya bisa gigit jari melihat ulasan orang-orang yang sudah menontonnya."

Minami terkekeh mendengar cerita Chihiro. "Benar juga ya? Yuzu-chan akan memberikan kopian CD terbaru padaku secara gratis. Lalu menyerahkan tiket penonton pertama untuk film terbarunya. Kami sering menceritakan andai Chii-chan ada di Jepang, pasti sudah pergi menonton bersama."

"Kaaan!" Chihiro menimpali kalimat Minami dengan nada iri. "Duh, aku kangen Yuzuru-chan! Kapan dia pulang?"

"Katanya nanti malam sudah bisa pulang. Syuting film kali ini berjalan lancar dari perkiraan. Kamu tahu, tidak, syuting kali ini film horor, loh! Yuzu-chan yang takut dengan bau-bau mistis itu malah jadi pemeran utama!"

"Heeh?" Chihiro terkejut seraya membelalakkan mata. "Saat menelepon dia gak bilang! Pantas saja cara bilang syuting film kali ini agak aneh gitu nada bicaranya. Jadi begitu ya?" Ia pun tertawa membayangkan wajah pucat pasi Yuzuru, pasti sangat lucu.

"Hari ini jadi menginap di apartemen kami?" tanya Minami.

"Apa tidak masalah dengan... hm, kalau tidak salah Seira Umiko-san?"

Minami mengibaskan telapak tangan di depan wajah. "Tidak masalah. Aku sudah bicara dengan Umi-chan. Kau tahu sendiri aku juga komposernya. Kamu bisa memilih tidur di kamarku atau kamar Yuzu-chan. Tapi..., mengingat-ingat sikap sahabat mungil kita itu, pasti ia memberontak menginginkanmu tidur di kamarnya."

Chihiro tertawa, mengangguk setuju. "Turuti saja permintaan adik mungil kita. Ah, bagaimana kalau tidur bersama, berempat dengan Seira-san? Sekalian aku ingin berkenalan dengannya."

Seketika senyum di wajah Minami hilang. Gadis itu melipat kedua tangan di atas meja, mencondongkan badan sedikit ke depan. Ia pun menceritakan situasi yang terjadi antara Yuzuru dan Umiko. Chihiro mendengarkannya dengan seksama. Mereka melanjutkan percakapan setelah pelayan membawakan pesanan keduanya.

"Begitu ya?" gumam Chihiro setelah menelan makanannya.

Minami mengangguk, helaan napasnya terdengar berat. "Umi-chan sudah bicara padaku, ia sudah merelakan peran tersebut namun belum bisa jujur pada Yuzu-chan. Sampai sekarang Yuzu-chan masih merasa bersalah." Ia menjeda percakapan dengan meneguk minuman. "Aku setuju dengan ide tidur bersama malam ini..., kuharap dengan kehadiran Chii-chan dapat mencairkan suasana antara keduanya. Aku sendirian berada di pihak netral, benar-benar bingung harus bicara apa pada mereka."

"Sepertinya...," Chihiro menarik kedua ujung bibirnya ke atas, "timing kehadiranku tepat sekali ya?" Ia merasa sudah mendapatkan 'pekerjaan' di hari pertamanya kembali ke Tokyo, peran sebagai sahabat untuk Yuzuru yang sudah membantunya sejauh ini.

Minami ikut tersenyum. "Timing kehadiran Chii-chan selalu kami nantikan. Walau dua tahun berlalu, bahkan lebih pun tidak bertemu, Chii-chan tetap teman yang berharga. Yuzu-chan pasti berpikiran yang sama."

Chihiro terharu mendengarnya. Rasa sesal untuk menyerah pada mimpi pianis di luar negeri itu melebur entah ke mana, diganti dengan rasa syukur telah kembali di sisi sahabat-sahabat yang selalu menanti kehadirannya.

---•••---

☆☆ 輝きアイドル ☆☆

---•••---

Syuting untuk film 'Gakko ni wa tattari ga arimasu' berakhir dengan lancar. Meski banyak kendala secara fisik maupun yang tidak tampak di mata, seluruh adegan dapat dirangkum tanpa kendala. Tinggal menunggu hasil akhir, gencaran promosi oleh pihak produksi, dan pertemuan dengan media.

Di lain pihak, CD debut solo Yuzuru mulai dirilis. Video promosinya ditayangkan di toko-toko musik. Berbagai media cetak, acara televisi, dan saluran media daring tidak absen membicarakannya. Acara radio yang dibawakan oleh Yuzuru seorang diri pun disambut hangat oleh para penggemar. Sesuai janji tamu pertamanya ialah Kotobuki Reiji, salah satu anggota QUARTET NIGHT dan juga senior bagi Yuzuru.

"Terima kasih atas kedatangannya, Reiji-senpai! Kapan-kapan main lagi ke KiYu-Radio ya!"

"Kapan saja kuterima undangan dari kouhai imut sepertimu, Yuu-chan!"

"Sayang sekali sudah dipenghujung acara. Terima kasih juga pada para pendengar semuanya! Surel dari kalian sangat kunantikan. Untuk info lebih lanjut bisa cek twitter kiyu-staf! Kalau begitu, senpai, setelah 'se~no' bersamaan bilang 'bye-bye' ya?" pinta Yuzuru untuk mengakhiri acara radio pertamanya.

Reiji mengacungkan jempol di udara. "Okey!"

"Se~no!"

Keduanya pun serempak mengatakan, "Bye bye!"

Acara KiYu-Radio pun ditutup dengan sepenggal lagu debut Yuzuru. Setelah sutradara radio mengucapkan 'hai oke desu!', baik Yuzuru maupun Reiji melepaskan headphone di kepala. Keduanya berdiri bersamaan, Yuzuru terlebih dahulu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

"Terima kasih kedatangannya, Reiji-san!"

Reiji membalas jabatan Yuzuru. "Sama-sama. Aku sendiri tidak menyangka, dari sebanyak senpai di agensi malah memilihku."

Setelah bersalaman, Yuzuru mengibaskan tangan di depan wajah. "Justru aku berpikir tamu pertama harus Reiji-san! Banyak penggemar yang sangat menyukai ideku ini. Terima kasih sekali lagi." Yuzuru menundukkan badan sebagai rasa hormat dan segannya pada Reiji.

Keduanya keluar dari ruang penyiaran, menyapa staf radio dan berterima kasih atas kerja samanya.

"Setelah ini ada pekerjaan?" tanya Yuzuru berbasa-basi saat Reiji meraih overcoat cokelat di gantungan jaket.

"Ya. Pertemuan membahas Gekidan Shining terbaru."

"Gekidan Shining?" Yuzuru teringat Haruka tengah sibuk mempersiapkan lagu untuk drama panggung khusus dibuat oleh pihak agensi Shining sendiri. "Bukannya tahun ini... kalau tidak salah judulnya JOKER TRAP? Kolaborasi Icchi-senpai, Ren-senpai, Camus-san dan Kurosaki-san?"

Reiji mengangguk seraya mengenakan coat-nya. "Itu benar. Drama panggung terbaru rencananya diadakan awal tahun depan. Mau bocoran?"

Yuzuru mengangguk begitu antusias.

"Pemain utamanya aku dan Kurusu Syo! Judulnya..., hmm, benar juga, lebih baik dirahasiakan dulu!"

"Heee kenapa?" Yuzuru mengembungkan pipi sebal. "Tapi keren! Ah~ irinya! Aku juga mau bergabung dalam Gekidan Shining! Saat ini baru kolaborasi STARISH dan QUARTET NIGHT. Semoga ke depannya Shining-shacho membuka tema baru!"

"Semoga." Reiji mengamini kehendak juniornya itu. "Menyinggung Syo, aku baru ingat kabar dari Natchan tentang drama terbarumu dengannya. Syo menyelamatkanmu dari tindihan lemari, ya?"

Yuzuru membatu di tempat. Kejadiannya sudah lebih dari seminggu, tapi degupannya terasa sama seakan terjadi kemarin. Mengingat saat ia dipeluk Syo membuat pipi gadis itu bersemu. "Be-begitulah.... Nyawaku sebagai manusia dan idola terselamatkan." Bahkan setelah kejadian itu, setiap bertatap muka dengan Syo, Yuzuru terus menundukkan kepala, berterima kasih sebagai pengalihan rasa canggungnya.

"Natchan juga bilang pihak sutradara dan produksi menutup semua kemalangan yang terjadi padamu dan pemain lainnya di hadapan media demi kebaikan peluncuran drama."

"Ah...," Yuzuru baru ingat hal itu pernah dibahas sutradara. Berkali-kali pria itu meminta para pemain untuk menutup mulut mengenai pengambilan adegan di gedung 'lapuk' tersebut. Karena ia bukan tipe suka membeberkan pekerjaan, ia sama sekali tidak pernah membicarakan hal tersebut dan kesialan yang menimpanya pada teman-teman terdekat maupun Tomochika sebagai senior akrabnya.

"Tapi Natchan malah membicarakannya padaku, lalu Syo mengingatkannya." Reiji terkekeh ringan. "Tenang saja aku tidak akan bicara pada siapa pun, termasuk pada AiAi."

Yuzuru menelengkan kepala, tidak mengerti kenapa harus dikaitkan dengan Mikaze Ai.

Melihat respon lugu gadis itu, Reiji kembali terkekeh. "Tentu saja AiAi akan cemburu," ujarnya seraya mengedipkan sebelah mata dengan jenaka.

"Cemburu?" Yuzuru menggumamkan keheranannya.

Reiji menghela napas, menyerah untuk mengerjai juniornya. "Untung saja Natchan keceplosan padaku, bukan AiAi sebagai mantan mentor Master Course-nya. Ya sudah ya, Yuu-chan, aku pergi duluan."

Yuzuru mengangguk, kemudian menundukkan badan. "Otsukaresama deshita," ujarnya begitu Reiji melangkah meninggalkan studio radio. Gadis itu menatap pintu yang menelan eksistensi Reiji dari hadapannya, kata 'cemburu' berputar di benak. Ia mencoba menerka, menemukan jawaban maksud perkataan Reiji barusan, memutar memori di kepala layaknya sebuah rekaman.

Mikaze Ai, anggota grup idola QUARTET NIGHT, rekan kerja Reiji, seniornya di agensi Shining. Meski begitu ia dengan pemuda itu lahir di tahun yang sama, dengan kata lain sepantaran. Semenjak pembuatan film Reflection berakhir, komunikasi dengan pemuda itu semakin akrab. Bahkan tanpa disadari pemuda itu yang terlebih dahulu mengajaknya bicara. Jika membandingkan sikap pemuda itu di awal pembuatan film dengan sesudahnya,  tentu lebih baik. Tidak, ungkap sisi lain hatinya yang selama ini dihiraukannya, bahkan lebih lembut.

Kaoru menghampiri Yuzuru, sekalian membawakan tas gadis itu. Yuzuru menolehkan pandangan pada wanita yang sudah dua tahun ini menjadi manajernya. Namun sebelum itu Kaoru adalah sosok yang dekat dengan Karmin maupun Ai sejak keduanya masih anak-anak.

"Kaoru-san...." Yuzuru hendak bertanya, tapi apa yang ingin diucapkan melebur begitu saja di udara.

Seakan tahu apa isi kepala Yuzuru, Kaoru memasang senyum pengertian. "Aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Kotobuki-san tidak harus menyinggung Ai-kun."

"Apa itu artinya ... dia sengaja?" tanya Yuzuru bimbang, ia mulai merasakan dadanya sesak entah mengapa.

"Setelah melihat responmu begitu ia membahas Kurusu-kun menolongmu? Mungkin."

Yuzuru menundukkan kepala, menjatuhkan pandangan ke lantai, menaikkan dagu perlahan begitu menyadari kebodohannya. "Aku gagal menutupi perasaan, padahal aku aktris...."

"Bukan salahmu. Salah pemuda itu yang sengaja menjahilimu. Kotobuki-san bukan senior yang bijaksana bila sudah terkait masalah perasaan teman dekatnya. Aku sempat melihatnya menyunggingkan senyuman meninggalkan tempat ini."

"Tapi kenapa? Memangnya kenapa?"

"Yuzuru..., sebenarnya tanpa bertanya kamu sendiri sudah tahu jawabannya, bukan? Kamu itu orang yang perhatian dan sangat peka pada orang lain. Tetapi kamu selalu bersikap netral karena status sebagai idola dan pekerja yang patuh dengan aturan 'dilarang jatuh cinta' oleh shacho.

"Sudah, lupakan saja percakapanmu dengan Kotobuki-san hari ini. Kamu harus fokus untuk pekerjaan selanjutnya!"

Yuzuru mengangguk patuh. Ya. Sebagai publik figur tidak ada waktu luang untuk memikirkan perasaan pribadi. Sekuat tenaga ia menyisihkan perasaan itu agar tidak menjadi beban saat bekerja. Mini albumnya sudah rilis, pengumuman drama terbaru tidak akan lama lagi akan ditayangkan di sebuah saluran televisi, namanya semakin hari semakin mengudara di Negeri Sakura. Terlebih ia juga akan mengadakan konser sederhana sebagai langkah awal debut sebagai penyanyi solo.

Tidak ada waktu untuk percintaan, kah?

Tanpa sadar ia menyunggingkan senyuman. Memang sejak awal ia masuk ke akademi dan menjadi salah satu artis di Agensi Shining demi meraih impian, tidak tebersit sedikit pun angan romansa dalam kehidupannya sebagai idola. Inilah takdir yang harus diterima. Ia masih belia, belum menginjak usia dewasa. Oleh karena itu ia tidak boleh gelisah hanya karena hal sensitif, romansa maupun hubungan serius terhadap lawan jenis. Jalannya masih panjang, sebagai manusia dan juga idola. Pemikiran ini tidak hanya ia yang merasakannya, siapa pun itu pasti setuju dengannya, baik itu Kurusu Syo yang disukainya, Mikaze Ai yang menunjukkan perhatian kepadanya, para anggota STARISH dan QUARTET NIGHT, serta Tomochika maupun Haruka, mereka semua pasti mengalami apa yang ia rasakan.

Nasib idola itu malang sekali ya? Dilarang jatuh cinta. Meskipun begitu, cinta dari para penggemar tidak boleh dikhianati.

Sekali lagi Yuzuru memantapkan hati, mengingatkan diri bahwa ia seorang idola yang kehadirannya ditunggu oleh penggemar. Ia bukan lagi seorang anak SD yang dijauhi teman sekelas, bukan siswi SMP yang patah hati karena cinta pertamanya bertepuk sebelah tangan, juga bukan lagi murid Akademi Saotome yang suka berbuat jahil pada senior dan guru-guru. Ia harus dewasa di jalan yang sudah dipilihnya, sebagai KiYu 'ShininGirl', sebagai idola belia Kitani Yuzuru.

"Sudah siap berangkat?" tanya Kaoru.

Yuzuru mengangguk dengan tatapan mantap. Ia sudah tidak sabar melanjutkan hari sebagai idola.

*
*
*
Shining Idol! part.2
Chapter 5
"Surpass the Expectations"
-part 2-
~selesai~

Shining Idol! part.2 : TAMAT
*


*
*

Writer's corner

Terima kasih untuk teman-teman pembaca setia Shining Idol! yang repot-repot terus komentar 'kapan dilanjutin nih cerita', berkali-kali mengecek buku ini karena penasaran dengan lanjutan kisah Yuzuru-chan. Hontou ni arigatou gozaimasu! Sugokku ureshii desu kedo, sugokku~ 'URUSSEEE NA OMAERA!' :v hahahahaha

Terserah kalian mau bilang aku terlalu 'banyak omong' atau sering mengumbar janji semanis gombalan Jinguji Ren, tapi biarin aku berceloteh mengenai karyaku yang satu ini.

Aku mulai menulis fanfiksi di Wattpad sejak tahun 2015. Udah lima tahun, gais! Dan seri Shining Idol! yang dimulai dari Saotome Academy pun begitu. Lima tahun aku 'kencan' dengan Yuzuru, bersamaan dengan itu juga seringselingkuh darinya dengan membuat cerita lain. SI selalu kutinggalin demi menerbitkan karya orific. Walau sampai detik ini impianku belum terwujud menerbitkan novel di bawah naungan penerbit mayor, aku gak nyerah buat nulis orific dan juga ingat Yuzuru terus.

Lalu~ aku dikecewakan dengan para plagiator. Oke aja mereka punya ide serupa denganku, tokoh utama mereka sekolah di Akademi Saotome, alurnya hampir menyerupai sebagai murid baru yang polos dan lain sbg, yang seperti itu aku masih berusaha tutup mata! Tapi ada yang seenaknya mengutak-atik sikap KITANI YUZURU di karyanya. Itu buatku PENGHINAAN BESAR sebagai penulis yang membesarkan nama KITANI YUZURU. Jadi, bagi kalian pembaca ceritaku yang secara diam-diam melakukannya, tolong SADAR SENDIRI tanpa kutegur. Yang udah pernah aku tegur, aku gak berniat mematahkan keinginan kalian menulis, hanya saja TOLONG HARGAI AKU SEBAGAI PENULIS dengan tidak menyalin ide, alur, apalagi Kitani Yuzuru-ku. Andai kalian sejak awal jujur ingin membuat cerita seperti aku, demi mengembangkan niat dan hobi menulis serta rasa suka terhadap UtaPri, kalian boleh DM aku, dengan senang hati aku membantu kalian memulai menulis sesuai kesanggupanku.

Aku itu dulu berpikir plagiat itu hanya terjadi pada cerita orific, karena itu aku sebagai penulis fanfiksi nyantai. Aku shok banget dengan adanya plagiat cerita Yuzuru ini. Usahaku selain menegur ialah mengangkat nama Yuzuru sebagai milikku. Karena itu aku membuat cerita Yuzuru dengan label orific. Dengan itu lahir karyaku dengan judul Yume ga Kanau Made.

Dengan adanya Yume ga, aku dengan berat hati menyatakan fanfiksi Shining Idol! harus berakhir di halaman ini. Bagi kalian yang masih ingin mengikuti kisah Yuzuru, aku harap kalian mampir ke 'Yume ga', meramaikan karyaku itu.

Sekali lagi, terima kasih sudah menjadi pembaca cerita-ceritaku, baik kalian yang silent reader maupun yang berlangganan memencet tombol bintang dan komentar, makasih buat kalian semua. Lima tahun, Saotome Academy dan Shining Idol! baru dapat 26 ribu views! Jika dibandingin dengan karya orang lain, punyaku jauh tertinggal, meski begitu aku benar-benar terharu melihat angka 26k views ini. Aku harap 'Yume ga' dapat menyusul ketenaran (yang gak tenar sama sekali di Wattpad) seri Shining Idol!.

Terakhir, semoga kalian mau singgah ke ceritaku yang lain! Dijamin banyak halu :")

Saigo no peeji desu kedo, mata ao nee!

19/8/2020

Alana

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top