Part 20

Sesaat, aku kehilangan orientasi berpijakku. Aku merasa berada di tempat yang berbeda dengan suasana dingin yang mencekam. Namun lampu yang sudah kembali menyala terang jelas membuktikan jika aku masih berada di tempat yang sama, di dalam bar, masih di tempat awal aku berdiri.

Jika saja pelukan yang mengerat ini tidak menyelimutiku, membuatku merasakan kehangatan dan cengkraman kuat telapak tangan lebarnya, mungkin aku tak akan mempercayai apa yang sedang kulihat sekarang. Tidak sampai aku benar-benar terbelalak dengan mulut setengah terbuka penuh. Bahkan aku tak merasa perlu untuk menutupinya dengan tangan.

Beberapa kali mataku berkedip, berharap ini hanyalah ilusi atau trik mata, namun tetap saja kondisi semua orang yang berada di dalam bar ini membeku dengan tubuh melayang di udara. Mereka layaknya patung yang tak bernyawa dengan tubuh seringan kapas. Sheila dan laki-laki yang menggerayangi tubuhnya di atas meja tadi membeku dengan posisi berdempetan. Begitu pula dengan orang-orang yang bersorak di bawah. Mereka memasang wajah bersorak dengan mulut berbentuk O bulat dan mengapung di udara layaknya balon yang terlepas. Pemandangan ini sangat mengerikan mengingat beberapa menit sebelumnya mereka masih berteriak dan berdansa satu sama lain. Lalu, seketika sunyi senyap karena sumber suara yang terbungkam secara bersamaan.

Aku merinding dan bergetar sekaligus. Keheningan di sekitar hanya diimbuhi helaan nafas pelan Damian di telingaku. Ia melingkarkan tangannya di tubuhku lebih erat seolah ingin membawaku pergi dari sana. Dagunya berada di puncak kepalaku ketika aku semakin tenggelam memeluknya. Aku merengut baju bagian depannya seperti hanya itulah satu-satunya yang mampu menyelamatkanku saat ini. Sebanyak apapun aku menolak untuk percaya, jauh di belakang kepalaku menyadari jika ini adalah ulah makhluk lain.

"Damian..." aku memanggilnya ketakutan. Benar-benar suatu ketakutan karena diantara banyaknya tubuh-tubuh kaku melayang disini hanya aku dan Damian yang masih normal seperti biasa. Bukan berarti menjadi kaku dan melayang di udara adalah pilihan yang lebih baik, hanya saja pengecualian diriku dan Damian masih bergerak dengan bebas saat ini hanya menjurus pada hal lain yang kuyakini akan lebih buruk.

"Sshhh..." Damian mendekapku erat. Dan memang hanya itu yang kuperlukan. Damian melepas sebelah pelukan untuk merogoh sesuatu di saku celananya ketika suara angin berhembus terlalu nyaring di tengah ruangan, menghentikan gerakan Damian.

Aku mencengkram lengan Damian lebih kuat ketika angin itu seolah berkumpul dan berpusat di satu titik. Seperti tornado yang mampu menyingkap lapisan apapun yang menghalanginya. Damian dengan sigap membawaku berdiri dan menempatkanku di belakang tubuhnya. Punggung bidang yang biasanya selalu menggugahku untuk memeluk sekarang seolah terlupakan karena apa yang sedang terjadi di depan sana.

Aku menilik melalui bahu Damian, mencoba mendapat arah yang tepat untuk mengetahui siapa dalang dibalik semua kekacauan ini. Namun mataku tak bisa menangkap apapun selain suara angin kencang dan tubuh-tubuh yang masih melayang di langit-langit ruangan.

Angin itu berhembus nyaring namun tidak seperti layaknya angin pada umumnya. Angin itu tidak menjatuhkan satu benda pun di ruangan ini. Bahkan tidak ada yang bergerak dari tempatnya hingga gulungan angin itu berubah menjadi kepulan asap hitam pekat di tengah lantai dansa. Membentuk sebuah rongga besar yang sama hitamnya.

Aku yakin pernah melihat asap serupa seperti itu sebelumnya. Tapi dimana? Semua yang telah terjadi disini membuatku sama sekali tak bisa berfikir. Yang kutahu saat ini aku hanya ingin pergi. Bersama Damian. Menjauh dari segala hal mengerikan di depan sana.

Nafasku kembali tercekat ketika rongga besar dari asap hitam itu perlahan memudar. Ketebalannya menipis dengan perlahan sehingga memperjelas penglihatanku saat kepulan asap hitam tadi menampakkan wujud nyata dari beberapa sosok yang berdiri di sana. Membentuk kelompok yang berbaris segitiga dengan pakaian serba hitam dan tubuh tinggi.

Aku bisa merasakan Damian terkesiap di depanku ketika melihat kelompok yang berdiri di sana. Tubuhnya menegang sesaat lalu kembali rileks dengan suara geraman yang mengiringinya. Itu semua sudah cukup meyakinkanku jika Damian mengenal siapa orang-orang itu.

Damian mundur, membuatku juga mengikuti pergerakannya. Belakang kakiku sempat terantuk kursi karena Damian yang masih mundur dengan merentangkan tangannya ke belakang. Namun hanya sampai disitu karena kakiku berhenti, tak bisa mundur lagi karena sebuah tangan yang menahan punggungku.

Aku tak berani menoleh sampai Damian yang berbalik dan membawaku ke samping tubuhnya. Menjauhkanku dari siapa saja orang di belakangku tadi. Ia memandang tajam kearah sosok yang menahanku. Sosok gelap dengan rambut berwarna merah terang. Seringaiannya sangat menakutkan. Seperti merontokkan apapun keberanian yang sedang berusaha kutanam.

"Kau terlihat sangat baik, Damian." sapa sosok misterius itu. Ia sangat mudah membagi senyumnya, yang bukannya membuat itu terlihat bagus, melainkan membuatnya menyeramkan.

Damian tidak langsung menjawab sapaan itu. Ia menoleh ke arah belakang, ke tempat lantai dansa dimana masih berdiri beberapa orang disana. Salah satu dari mereka terlihat menonjol, berdiri di tengah barisan dengan jubah hitam berkerah tinggi. Rambutnya hitam terurai panjang menutupi telinga dengan wajah kaku tak berekspresi. Aku yakin, Damian menoleh untuk melihat orang itu karena ia juga membagi tatapan sama tajamnya pada Damian.

"Aku dengar, kau mempunyai seorang wanita saat ini." Ucap sosok yang berdiri di depanku dan Damian. Seringaian layaknya serigala yang sangat tepat dengan angkuhnya gerakan melipat kedua tangan di depan dada. Damian kembali berpaling menatap sosok misterius itu. Ia seperti menolak untuk membalas perkataannya.

Damian melepaskan cengkraman di lenganku dan menggantinya dengan pelukan di bahu. Hal itu tentu tertangkap jelas oleh sosok yang masih berdiri pongah di depan kami. Membuat laki-laki ini kembali tersenyum menakutkan dengan penuh arti.

Damian mengeram keras ketika melihat sosok di depan kami mengangkat tangannya seolah ingin menggapai kearahku. Hal yang dengan mudah di patahkan oleh Damian karena ia berhasil menangkap tangan orang itu. Memberikan alasan baginya untuk menertawakan sikap Damian.

"Menjauh darinya, Igor!" Sergah Damian.

"Kau pelit sekali." Igor terkekeh. Ia melirik ke arahku dari atas hingga ke bawah. Memandangku dengan cara terlicik yang pernah kupahami. Aku langsung menemukan diriku tidak menyukai orang ini.

"Mungkin kau seharusnya memberi hormat terlebih dahulu." Lanjut Igor dengan dagu terangkat menunjuk ke arah lantai dansa. Kepada kumpulan barisan segitiga di sana.

"Apa yang membawa kalian kesini? Sejauh ini?" Tanya Damian.

"Jawabannya sama dengan pertanyaan apa yang membuatmu memutuskan melanggar ketentuan yang sudah kau pahami di luar kepala?"

Melanggar peraturan?

Apa yang dilanggar oleh Damian?

Aku mendongak untuk menatap Damian. Berharap ia bisa menjawab pertanyaan di kepalaku tanpa aku harus mengatakannya. Ia tau aku sedang melihatnya namun dengan sadar ia tidak membalas tatapanku dan terus memberi tekanan pada Igor melalui sorotan mata tidak sukanya. Apa yang sudah Damian lakukan? Apakah orang-orang ini datang untuk menghukum Damian? Pemikiran itu sangat tidak menyenangkan dan membuat kepalaku pening.

"Minggir." Damian membawaku berjalan melewati Igor yang membiarkan kami lewat begitu saja. Dalam langkah ketiga, kami kembali terhenti karena Igor yang sudah berdiri menghalangi jalan. Aku tidak melihat bagaimana ia berpindah tempat karena mungkin ia bergerak terlalu cepat, atau ia memiliki kekuatan semacam itu. Entahlah.

"Kau tidak akan kemana-mana sebelum bicara."

"Aku berhak menolak karena kalian datang tanpa pemberitahuan. Ini bukan cara yang tepat untuk mendapat penjelasan."

"Sebut saja sekarang aku sedang membolak balik isi kepalamu, kau menghindari kami bukan karena kedatangan kami yang tiba-tiba ini. Tapi karena kau tidak ingin ada yang merebut wanitamu ini bukan?" Di ujung kalimatnya Igor menoleh ke arahku. Ia memberi senyuman miringnya yang membuat perutku mual seketika.

"Sebaiknya kalian pergi." Ucap Damian pada akhirnya. Menekan emosinya dengan susah payah. Membuat Igor melebarkan matanya sedetik kemudian karena penolakan tegas oleh Damian itu.

"Berani sekali kau. Mungkin kau lupa jika satu jentikan saja, maka kau akan lenyap seperti uap di udara. Kau mau itu terjadi?"

Aku tak menyadari jika kepalaku menggeleng kuat ketika mendengar kalimat Igor. Aku tak tau seberapa jauh orang ini bisa berbuat hal demikian, tapi apapun itu, aku tak ingin sesuatu terjadi pada Damian. Gelengan kepalaku rupanya tertangkap oleh mata Igor.

"Lihat, wanitamu saja tidak menyetujui ide itu." Tunjuknya kearahku. 

Igor merasa di atas angin karena kali ini Damian tidak memiliki kalimat untuk membalas. Sudut mata Igor mengarah ke arah belakang. Ia sedikit menunduk ketika hawa dingin kurasakan semakin mendekat di belakangku.

"Senang bertemu denganmu, Damian."

Suara berat dan parau itu bergema di dalam ruangan Bar yang luas. Intonasi yang digunakannya cenderung datar. Namun seolah kalimat yang ia lontarkan itu penuh dengan pengaruh dingin dan kejam sekaligus. Membuatku mencengkram baju yang Damian kenakan lebih erat.

Suara itu bukan berasal dari Igor. Suara itu berasal dari arah lantai Dansa, tempat dimana laki-laki berambut panjang yang mencolok itu berdiri. Igor sudah bergabung kembali di dalam barisan segitiga itu dan kali ini, bisa kupastikan jika laki-laki berambut panjang tadi yang menyapa Damian.

Tiba-tiba perasaan takut berdengung di telingaku. Entah kenapa kilasan balik tentang penyerangan yang terjadi di gudang kembali hadir. Saat itu, aku juga mendengar suara iblis yang menyerangku. Itu merupakan suara paling menakutkan yang pernah kudengar. Namun sekarang, suara tadi yang kudengar justru membuat lututku lemas hanya dalam hitungan detik.

"Apa maumu?" Damian berbisik. Aku bisa mendengar bisikannya dari belakang yang ternyata juga bisa di dengar oleh orang itu dengan jelas.

Laki-laki berambut panjang itu melangkah maju. Satu langkah pertama ia berjalan keluar dari barisan kelompok dan langkah kedua ia sudah berada di depan Damian. Aku tidak tau apakah langkahnya memang sejauh itu, karena manusia biasa tak mungkin bisa berpindah tempat dari jarak sejauh itu hanya dalam satu kedipan mata. Meski berlari sekalipun.

Tentu saja dia bukan manusia, Alicia.

"Begitukah sopan santunmu padaku? Aku datang sejauh ini tidak untuk mendengar perlawananmu, Damian."

"Aku tau apa yang akan kau bicarakan. Bukankah harusnya aku yang mendatangimu."

"Aku hanya ingin sedikit berjalan-jalan di dunia ini, tidak bolehkah?" ia tersenyum. Dan melirik kearah bahu Damian. "Perlihatkan padaku, siapa yang ada di balik punggungmu."

"Dia tidak ada hubungannya denganmu."

"Aku tahu." Lalu tawa angkuh terdengar. "Aku hanya ingin melihatnya. Kenapa kau begitu takut. Aku tak akan menyakitinya jika itu yang kau pikirkan."

"Kau datang secara tiba-tiba kedunia ini. Melakukan semua ini pada kaum manusia. Membawa pasukan yang memegang tombak di belakangmu. Lalu kau ingin aku mempercayai perkataanmu?"

Orang itu kembali tertawa. "Aku tak pernah bosan dengan kelancanganmu, Damian. Kau tau dengan jelas jika aku ingin melihat wanita itu, tanpa memintamu untuk menggeser kakimu pun aku bisa melakukannya. Tapi kita berdua sama-sama mengerti jika itu terjadi, hasilnya tidak akan baik. Jadi kenapa tidak kau turuti saja perkataanku? Lagipula ini tugas yang diberikan padamu atas perintahku. Dia objek yang kupilihkan untukmu, ingat?"

"Kau tidak akan membuatku bergeser sedikitpun dari lantai ini. Kau sama sekali tak memiliki hubungan dengannya. Urusanmu hanya denganku."

"Melihatmu melindunginya seperti ini membuat sangat ingin membunuhmu sekarang juga." Itu sebuah ancaman mengerikan yang disampaikan terlampau santai dengan seringaian. Aku menarik baju Damian dari belakang, kini aku hanya ingin pergi bersamanya dari tempat ini.

"Kau tak akan bisa." Tantang Damian.

"Secara peraturan, aku memang tidak bisa melakukannya. Namun tentu saja, aku tak menyukai beberapa peraturan yang ada. Mungkin saja aku melanggar salah satunya."

"Katakan saja, apa keinginanmu?"

"Kurasa, jika kau melarangku berkenalan dengan wanita yang berdiri di balik punggungmu itu, kau juga tentu tak ingin membuatnya mendengar apa yang akan kukatakan."

Damian terdiam beberapa saat. Ia menoleh kearahku kemudian membawaku mundur kesalah satu sudut, menciptakan jarak yang cukup jauh dari orang berambut panjang tadi. Ia meraih bahuku dengan cengkraman pasti. Biru matanya menembus coklat di mataku dengan kekhawatiran. Begitu banyak pertanyaan yang ingin kuucapkan namun tidak ada satupun yang keluar hanya dengan ditatap oleh Damian.

"Tetap disini." Ucapnya sungguh-sungguh.

"Tidak mau. Jangan tinggalkan aku, Damian." Aku menarik lengannya kuat.

"Aku hanya akan bicara dengannya sebentar."

"Aku tidak ingin kau bicara dengannya."

Damian mengambil tanganku. "Alicia," Panggilnya lembut. "Dengarkan aku kali ini saja. Aku tidak akan lama. Aku akan menyelesaikan beberapa urusan. setelah itu kita akan pulang."

"Aku tidak mau. Aku sangat yakin kau berbohong. Mereka terlihat jahat. Jangan pergi."

"Mereka makhluk sama sepertiku. Aku akan baik-baik saja."

"Orang itu bahkan mengatakan ingin membunuhmu," suaraku bergertar mengatakan kalimat itu.

"Itu tidak seperti yang terlihat. Percayalah, aku akan bicara dengan cepat dan kembali lagi padamu."

Aku menggeleng. Aku tidak ingin ditinggalkan disini sedangkan dia bicara dengan orang-orang menakutkan itu. Kenapa aku tidak bisa ikut saja dengannya. Aku memegang tangan Damian erat. Tak ingin melepaskannya walau Damian mencoba untuk menjauh. Ia kembali menatapku lalu menghembuskan nafas dan mengecup keningku lama. Aku harus berpegangan pada lengannya agar tidak oleng karena terkejut.

Damian merangkum pipiku dengan telapak tangannya. Memberiku keleluasaan untuk menikmati kehangatan yang ia berikan.

"Tetap disini, sayang. Kumohon."

Dengan perasaan tidak enak ini Damian melepaskan pegangan dan berjalan menjauh. Ia kembali berdiri di hadapan laki-laki itu. Sekilas aku bisa melihat seringai menakutkan darinya ketika mata kami bertemu. Dengan cepat kupalingkan tatapanku dan memandang Damian. Jarak yang ada diantara aku dan Damian membuatku seolah ingin meraihnya dan membawanya pergi. 

Tapi aku tau itu tidak mungkin bisa kulakukan.

Mereka mulai bicara dengan ketegangan yang masih terasa. Hingga di tengah percakapan Damian mengepalkan tangannya dengan rahang mengeras. Ia diam mendengarkan seperti sedang mendengar cerita dongeng. Cerita yang mampu membuatnya marah karena saat ini ia tengah menunjukkan jarinya ke wajah laki-laki itu.

Hanya satu telunjuk yang di angkat Damian, membuat pasukan berdiri berbaris tadi mendekat dengan cepat dan menodongkan tombaknya ke tubuh Damian dari berbagai arah. Begitupula Igor yang sudah berdiri di samping Damian dengan wajah penuh peringatan.

Aku meremas tirai yang tergantung di samping dengan kuat. Pikiran bodoh di dalam kepalaku mengatakan jika aku harus kesana untuk menyelamatkan Damian. Ketakutanku berpindah padanya. Ia tentu tidak bisa melawan mereka seorang diri. Tapi aku juga tidak mungkin bisa menolongnya dengan statusku sebagai manusia biasa.

Bayangan akan Damian yang dalam bahaya ternyata lebih kuat daripada logika yang berusaha kubangun. Aku harus melindunginya. Entah dengan cara apa tapi aku ingin berada di dekat Damian jikapun itu harus terluka. Aku tidak peduli itu. Bahkan haruslah diriku yang berada disisinya ketika salah satu tombak itu mengayun.

Namun langkah percaya diriku terhenti ketika sebuah sosok hadir di tengah pertarungan mata sengit antara Damian dan dan laki-laki berambut panjang itu.

Alec muncul diantara mereka. Ia membelakangi Damian dan menghadap kearah laki-laki berambut panjang. Dengan sikap sopan dan anggun Alec berlutut dan menyampingkan satu tangan dibahu. Kepalanya tertunduk seolah tengah memberikan penghormatan penuh pada laki-laki berambut panjang itu.

"Selamat datang, Raja Arthur Barnum."

Raja? Dia seorang Raja?

Tiba-tiba saja ini menjadi jauh lebih buruk dari ketakutanku.

"Kau boleh berdiri, Alec." Titahnya dengan tangan mengayun.

Alec berdiri dan memberikan anggukan setelah melihat kearah para pasukan yang masih menodongkan tombaknya kearah Damian. "Jika aku boleh tau, apa yang sedang terjadi disini."

Lagi, dengan isyarat tangan Raja Arthur meminta para pasukannya untuk mundur, hanya tertinggal Igor yang berdiri di sampingnya.

"Kau pasti tau tentang pelanggaran yang dilakukan Damian. Aku kesini khusus untuk memberinya peringatan."

"Aku sudah mendengar kabar tentang itu. Tapi aku tak tau jika itu sangat penting hingga Raja Kegelapan sepertimu harus turun dari kursi kebesaran hanya untuk menyampaikan ini. Kenapa tidak kau suruh Damian saja yang datang?"

"Kau tidak berhak mempertanyakan keputusanku, Alec. Lagipula, ini tentang pelanggaran yang dilakukan Damian. Seharusnya dia sudah kumusnahkan mengingat kematian dua iblis yang telah lalu sudah menjadi bukti yang cukup kuat untuk aku melenyapkannya. Tapi atas pertimbangan yang kau ajukan, dan karena sebenarnya aku juga mengagumi keahlian Damian, maka sudah sepantasnya Damian sedikit memiliki rasa hormatnya padaku karena hingga saat ini ia masih bisa memiliki kesempatan memperjuangkan takdir."

Aku menutup mulutku. Gema suara dari Raja Arthur seolah menusuk gendang telingaku. Jantungku beepacu cepat karena ketegangan yang sangat kental. Aku ingin memeluk Damian sekarang. Melindunginya dari para iblis itu. Aku tak cukup mampu untuk menyadari jika nyatanya aku tengah berjalan mendekat kearah mereka, hingga salah satu pengawal yang awalnya tadi menodongkan tombaknya kearah Damian berbalik menatapku dan mendekatiku dengan cepat . membuat langkahku berhenti ketika ujung lancip tombak itu berada di samping pipiku. Besi dingin itu seperti menyengat kulitku dengan meneriakkan ancaman bisa merobek wajahku kapan saja.

Damian yang melihat itu bergerak cepat untuk mundur kearahku namun pengawal yang lain menahannya dengan tombak. Hal itu membuatnya mengeram dan membagi tatapan menakutkannya kearah mereka. Membuat kalimat tersirat dari ujung matanya untuk tidak menghalanginya.

"Kalian tidak berpikir bisa menghalangiku, bukan?"

Disaat Damian sudah ingin menubrukkan tubuhnya, Alec menahan bahu Damian. Dengan menatap penuh arti padanya lalu memandang kearah Raja Arthur. Igor yang berdiri di belakang menyeringai di atas kakinya.

"Aku rasa pembicaraan tidak harus dilakukan didunia manusia. Kita semua bisa bicara di kerajaanmu. Kau tidak harus menyakiti siapapun disini." Ucap Alec.

"Kita memang akan bicara. Aku tidak memiliki niat untuk menyakiti siapapun. Kau sungguh berpikir demikian? Aku tau apa yang aku lakukan, Alec. Setidaknya aku belum ingin memicu sebuah perang terjadi. Kau lihat, Aku sudah membungkam manusia di dalam ruangan ini." Arthur menjelaskan. Ia menatap dengan kesombongan.

"Sayangnya kita melupakan seorang wanita, Tuan. Dia bisa saja mendengar semua ini. Aku yakin dia sudah mendengar semuanya." Tubuhku bergetar karena perkataan Igor. "Aku hanya ingin berkenalan sebenarnya, tapi Damian membuatnya jadi semakin menarik karena terlalu amat melindungi wanita itu." Lanjutnya terkekeh.

Damian berbalik. Tidak menunggu apapun lagi ia mencengkram leher Igor dengan kekuatan penuh. Terlihat dari urat disekitar punggung tangannya yang mencuat. 

"Damian..." Alec menahan tangan Damian. Mencoba menenangkannya.

"Sebegitu takutkan kau? Kau ingin aku membantumu mengatakannya pada wanita itu?"ucap Igor tidak terlihat terganggu dengan cengkraman Damian.

"Tutup. Mulutmu." Damian menahan gejolak emosi di matanya. Setiap kata yang ia ucapkan penuh penekanan dan rasa amarah yang membakar.

"Aku berani bertaruh ia pasti tidak tau apa yang sebenarnya berada disekitarnya."

"Aku bisa merobek mulutmu sekarang jika kau mau." Bentak Damian.

Igor tertawa. Dengan susah payah Alec menarik tangan Damian. Membawanya menjauh hingga membuat cukup jarak agar Damian tidak bisa menjangkau Igor. Damian yang berontak mendapat cekalan keras Alec hingga ia bisa mendiamkan Damian.

Raja Arthur mengangkat tangannya, membuat ujung tombak yang runcing itu menjauhiku dan membuatku bisa menarik nafas kembali. "Aku sama sekali tidak berpikir kunjunganku menjadi sebuah ancaman. Kau tentu sadar jika aku mengetahui apa saja yang harus atau tidak boleh diketahui oleh manusia. Mungkin sebaiknya kau ikut denganku untuk membicarakan pelanggaranmu di tempat lain."

Damian menoleh kearahku. Sesaat, matanya menyorotkan sinar sedih di sana. Membuatku semakin ingin menggapainya. Aku tidak peduli apakah itu iblis atau raja iblis sekalipun. Aku hanya ingin melindungi Damian-ku.

Raja Arthur diikuti bersama Igor dan pasukannya berbalik menuju lantai dansa dimana kepulan asap hitam masih abadi di sana. Mereka masuk ke dalam gumpalan asap itu satu persatu, menghilang dibalik pekatnya asap hitam. Jantungku seakan berhenti berdetak karena melihat Damian juga mengikuti Raja Arthur masuk ke dalam asap itu.

Aku berlari menyusulnya. Apa yang dipikirkan Damian? Untuk apa ia mengikuti mereka. Aku tidak akan membiarkan Damian pergi sendirian kemanapun King Arthur membawanya. Namun tanganku tertahan oleh cekalan Alec yang menghentikanku.

"Alec, Lepaskan. Mereka membawa Damian. "

"Damian akan kembali," Sahut Alec.

Bagaimana aku bisa mempercayai itu ketika tatapan terakhir yang Damian berikan adalah tatapan kesedihan. Aku masih berontak di dalam cekalan tangan Alec ketika kusadari semuanya terlambat dengan menghilangnya asap hitam itu. Membawa Damian pergi.

Aku masih memandang lantai dansa itu ketika tubuh-tubuh yang mengambang di udara mulai turun dan kembali ke tempat semula. Music kembali menghentak bersamaan dengan teriakan serta sorakan yang kembali mengusik. Orang-orang di dalam bar kembali berdansa dan menikmati minumannya seolah tidak pernah terjadi apapun sebelumnya. Anggela masih memasang wajah tidak sukanya menatap Sheila yang semakin berani menari di atas meja.

Sedangkan Alec menarikku keluar bersama air mataku yang akhirnya jatuh.

***

Alec membawaku pulang. Tidak ada yang bicara diantara kami hingga sampai di dalam rumah. Ada banyak hal yang patut kutanyakan, tapi saking banyaknya, aku bingung harus memulainya dari mana.

"Tanyakanlah, Alice." seolah mengerti tentang kekalutan yang tercetak di wajahku, Alec membuka pembicaraan.

Aku mengangkat wajahku yang tertunduk untuk menatapnya. Kami duduk di pelataran teras yang mengarah ke taman. Taman yang Damian buatkan untukku. Lampu-lampu gemerlap sudah dinyalakan, membuatnya terlihat indah dibawah sinar bulan. Jika saja pikiranku tidak kalut saat ini, tentu aku tidak berpikir dua kali untuk duduk di ayunan itu.

"Dimana Damian?"

"Menurut dugaanku, sepertinya ia mengikuti Raja Arthur ke kerajaannya."

"Apa yang dimaksud oleh Raja Arthur bahwa Damian melanggar peraturan? karena membunuh Iblis?"

Alec terdiam. Ia membuka mulutnya namun kembali tertutup, seolah sedang memilah kata yang tepat untuk ia ucapkan.

"Kau sudah tau jika Damian memiliki tugas menjagamu bukan? Untuk menemukan takdirnya." Aku mengangguk, tidak ingin menyela apapun yang ingin Alec katakan. 

"Dan menjaga itu termasuk dari serangan iblis. Kau tentu masih ingat iblis berupa anjing yang menyerangmu ketika di hutan. Dan juga iblis yang menyerangmu di gudang kampus. Damian tidak seharusnya membunuh iblis-iblis itu, kerena itu melanggar peraturan."

"Tapi itu ia lakukan untuk melindungiku. Iblis itu datang menyerangku, dan apa yang dilakukan Damian hanya untuk menyelamatkanku dari serangan mereka. bukankah itu tugasnya."

"Damian bertugas melindungi, bukan membunuh Alice. Kau masih ingat kenapa Damian membawamu kesini? Ketika itu penyerangan iblis pertama kali terjadi di dapur rumahmu. Tapi Damian tidak melawan iblis itu dan justru membawamu kesini. Itu yang seharusnya ia lakukan. Itu adalah tindakan yang benar. Menjauhkanmu dari bahaya. Menjadi pelindungmu, tanpa berhak untuk membunuh iblis yang berusaha mengganggumu."

Jadi ini semua kesalahanku? 

"Aku sudah pernah memperingatkan Damian ketika ia membunuh iblis anjing itu. Aku sudah mengatakan padanya jika apa yang ia lakukan adalah kesalahan. Hanya menunggu waktu sampai Raja Arthur mengetahuinya. Dan iblis kedua yang di bunuh Damian sudah tidak bisa ditutupi lagi dari raja kegelapan.

"Aku sudah mencoba menolongnya. Aku memberikan saran-saran yang sekiranya bisa meringankan Damian. Tapi aku tak bisa melakukan lebih dari itu karena tentu saja Raja Arthur tak boleh mengetahui persahabatanku dengan Damian. Aku hanya mengatakan hal-hal menguntungkan dari Damian. Yang bisa membuat Raja Arhtur menahan keputusan untuk melenyapkan Damian. Aku kira Raja Arthur sudah sepakat untuk membebaskan Damian dan memberinya kesempatan terakhir. Aku tak menyangka ia justru turun ke bumi dan mendatangi kalian."

Aku sudah tidak memperdulikan air mata yang kembali turun. Hembusan udara membuat wajahku yang basah menjadi dingin. "Apa yang akan terjadi pada Damian?"

"Sejujurnya, aku tidak tau. Raja Arthur bisa melakukan banyak hal. Tapi aku yakin Damian akan baik-baik saja, Alice."

Aku menyeruput hidungku yang berair dan mengusap air mataku dengan punggung tangan. Satu-satunya yang kuperlukan sekarang hanya mempercayai perkataan Alec. bisa kurasakan tatapan prihatin Alec di sampingku. Alec menyuruhku untuk kembali ke kamar dan istirahat. Seperti robot, tubuhku mengikuti apa yang ia ucapkan. Karena memang tidak ada yang benar-benar kuinginkan saat ini selain Damian.

Aku tidak percaya, hanya beberapa saat aku tidak melihatnya aku sudah merindukan Damian. Aku bahkan merindukan perasaan berdebar di dekatnya. Aku tidak bisa menghilangkan kekhawatiran yang semakin menyiksaku seiring dengan meningginya malam.

Aku memutuskan untuk mandi. Membasahi kepalaku dengan air dingin hanya untuk menghentikan isakan yang sudah menyakiti hidung dan tenggorokanku. Aku tidak sadar sudah berapa lama aku menangis hingga kutemukan mataku yang sembab dengan warna merah mengerikan. Setidaknya air dingin di tengah malam bisa sedikit menyegarkan kepalaku.

Jam sudah menunjuk ke angka 2, itu berarti sudah lima jam Damian pergi. Selama ini yang kulakukan hanya menjelejahi isi kamar dengan pikiran tak menentu. Aku tak bisa tidur. Aku tidak bisa istirahat meski tubuhku sangat lelah. Aku terus menatap kearah jendela, berharap aku akan melihat sosok Damian.

Tapi hingga saat ini, jendela itu hanya membiarkan angin malam saja yang masuk. Aku menarik kursi ke dekat jendela. Menjatuhkan tubuhku disana yang masih mengenakan bathrobe. Dari sini aku bisa melihat langit malam yang tak berbintang. Membayangkan apa yang sedang dilakukan Damian. Apakah ia sudah tidur? Atau ia sedang dalam masalah.

Pikiran terakhir itu yang kubuang jauh dan membayangkan jika Damian tengah baik-baik saja sekarang.

Aku tau sebentar lagi aku akan gila karena memikirkannya. Aku tidak menyangkal itu karena berjauhan dengan Damian tanpa tau bagaimana keadaannya, rasanya seperti di neraka. Aku lebih menginginkan saat dimana ia menjadi menyebalkan dan membuatku kesal. Setidaknya aku masih bisa melihatnya disisiku.

Hembusan angin malam kembali menyapu wajahku. Rambutku yang masih basah tidak membuatku merasakan kedinginan disaat hatiku sedang berkabut. Justru mataku mulai berat dibuatnya. Dengan menjatuhkan kepala kesandaran kursi, aku merelakan mataku tertutup dengan kembali membayangkan Damian disampingku.

***

Mataku masih tertutup ketika kurasakan tubuhku berguncang pelan. Tubuhku melayang beberapa saat sampai jatuh ditempat empuk yang menyangga seluruh tubuhku. Perlahan mataku mengerjap dan menemukan sepasang mata biru yang tersenyum padaku. Aku melonjak bangun hingga membuat kepalaku membentur dahi Damian cukup keras.

"Maaf," ucapku. Damian terkekeh geli sembari mengusap dahinya lalu beralih mengusap kepalaku yang membenturnya. Dadaku mengembang dengan tidak tau diri melihat ia tersenyum disaat aku hampir mati mengkhawatirkannya.

"Kenapa tidur di kursi, Alicia?"

"Kau baik-baik saja?" tanpa menghiraukan pertanyaan Damian aku meraba wajahnya, memeriksa tubuhnya untuk mencari sesuatu yang tidak kuinginkan seperti luka atau semacamnya. Tanganku meraup kepalanya dan membawanya mendekat. Melihat reaksiku Damian justru tertawa dan menangkap kedua tanganku. Menjadikannya satu dan menggenggamnya hangat.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Lagipula, kenapa aku harus tidak baik-baik saja." Damian menjumput rambut yang lolos di samping wajahku. Mengaitkannya ke belakang telinga dan menelusuri helaiannya dengan jari.

"Kau baru saja pergi dengan Raja Iblis!" 

"lalu itu membuatmu cemburu?" ia berusaha membuat itu sebuah candaan.

"Aku takut mereka melakukan sesuatu yang jahat padamu."

"Itu hanya pikiran burukmu." Ujarnya dengan menjentikkan tangannya di dahiku. Aku merengut karena sakit, namun tergantikan dengan Damian yang mengelus dahiku.

"Apa yang terjadi?"

Damian tidak menjawab. Ia justru menggenggam tanganku dan menggesekkannya dengan tangannya. "Tanganmu dingin. Ini pasti karena kau tidur di kursi dengan tidak memakai pakaian yang benar. Kau juga membuka jendelanya." Tunjuknya dengan mata ke arah tubuhku.

"Aku sengaja membukanya untuk menunggumu pulang. Damian.. apa yang terjadi ? apa yang dikatakan Raja Arthur padamu? Aku sudah mendengar ceritanya dari Alec. tentang pelanggaran yang kau lakukan."

Damian mengerutkan dahinya. "Benarkah?"

"Aku tau jika seharusnya kau tidak diperbolehkan membunuh iblis yang menyerangku. Aku hanya masih tidak mengerti, Alec bilang kalau kau tau peraturan itu. Kau mengerti itu dengan jelas. Lalu jika kau tau bagaimana resikonya, kenapa kau masih melakukan itu? Kenapa kau melenyapkan iblis disaat kau sendiri sudah mengetahui jika hal itu merupakan sebuah pelanggaran?"

"Aku tidak tau, Alicia. Kurasa aku hanya tak mampu berpikir dengan baik."

"Tidak. Pertama kali ketika iblis menyerang di rumahku, kau bisa mengendalikan situasi dengan baik. Kau tidak melawan iblis itu dan melindungi dengan membawaku kesini. Kau bisa melakukan itu pada awalnya. Lalu kenapa kau memilih untuk melakukan hal yang dilarang? Kenapa Damian? Kenapa kau melakukannya?"

"Karena aku tak tahan melihat iblis-iblis itu menyerangmu." Ucap Damian membungkamku. Wajahnya mendekat sehingga aku bisa merasakan nafasnya membelai.

"Saat melihatmu diserang oleh para iblis itu, aku tidak bisa lagi mengontrol semuanya. Bahkan diriku sendiri. Yang ada di kepalaku hanya bagaimana caranya aku bisa menolongmu, menyelamatkanmu dan melindungmu dari mereka. Aku tidak memiliki jalan lain di kepalaku selain menghabisi mereka saat itu juga. Aku sudah berusaha melawannya, sungguh aku tidak ingin melakukan hal itu. Tapi ketakutanku melihatmu terluka lebih kuat daripada peringatan pelanggaran yang kulakukan. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu disaat aku sendiri sadar bisa mencegahnya."

Ujung jari Damian mengusap daguku pelan seolah memintaku untuk menanggapi perkataannya. Aku kehabisan kata karena semua yang menjadi pilihannya membunuh iblis hanya karena rasa melindunginya padaku yang begitu besar.

"Tapi kenapa? Kenapa kau harus bersikeras seperti ini. Kau bisa saja membawaku pergi , menghindari mereka dan menjauh dari para iblis yang menyerang."

"Aku hanya tidak sanggup menahan. Mungkin disitulah kesalahanku yang sebenarnya." Ada jeda beberapa saat ketika ibu jarinya masih mengusap daguku lembut. "Kau sudah menjadi wanita yang terlalu berharga bagiku, Alicia."

Hatiku bergetar mendengar pengakuannya. Kehangatan ini, kehangatan yang mejalar disela tubuhku ini lah yang sangat kusukai ketika bersama Damian.

"Aku merindukanmu." Aku tidak bisa menahan mulutku mengatakan itu.

"Ini bahkan belum satu hari." Ucapnya geli. 

Betapa besar pengaruh Damian menjungkir balikkan duniaku dalam semalam. Baru saja aku kelelahan karena mecemaskannya, sekarang ia sudah memancing sudut bibirku tak bisa menahan senyum.

Tapi aku benar-benar memang merindukan Damian. Selama duduk dan mencemaskannya, rasanya seperti melewati waktu yang lama tanpa dirinya. Aku merindukan Damian. Rindu yang cukup untuk membuatku menarik lehernya mendekat dan mengecup bibirnya.

Hal itu membuat Damian terkejut, dilihat dari tubuhnya yang kaku. Bibirnya hanya diam meresapi pertemuan antara lembutnya bibir diantara kami. Letupan-letupan menyenangkan yang kusukai muncul di dalam dada dan mengalir jatuh keperutku. Menciptakan riak geli yang kunikmati. Senikmat halusnya bibir Damian menempel padaku.

Hembusan kasar nafas Damian mengakhiri bibirnya yang kaku dan mulai akan bergerak, namun dengan cepat kutarik wajahku menjauh dan melepaskan bibirnya.

Damian menatapku dengan alis terkait. Sedangkan aku tak biaa menahan senyuman. Ini kali kedua aku menciumnya terlebih dulu dan rasanya masih sama seperti pertama kali aku merasakan bibirnya.

"Kita belum selesai, Alicia." ucap Damian serak.

Tanpa bisa mengelak, Damian menelusupkan tangannya dirumpun rambut bagian belakang kepalaku. Menariknya mendekat untuk menyatukan bibirku dengan bibirnya. Menciptakan lumatan yang mendebarkan hingga tak ada jalan bagiku selain melenguh halus di bibirnya.

***

TBC

Oke . Segitu aja. Bhayy!

Faradita

Penulis Amatir,

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top