The Real Devil (bonus)
Aku berada dalam naungan iblis. Menggeliat penuh kegelisahan akibat merasakan panas api yang begitu membius ini. Suara isak tangis para gadis sebayaku ini membuatku takut sendiri. Yah, bagaimana tidak, mereka mengundang ancaman kematian lebih cepat sebelum hari yang ditentukan. Lagipula, menangis pun tidak ada gunanya, mereka hanya membuang waktu untuk merencanakan bagaimana cara melarikan diri dari tempat ini.
Kami ditempatkan pada sel-sel yang berbeda, setiap sel berisi tujuh sampai sepuluh orang, dan jika aku hitung, sel yang berada dalam tempat ini sekitar puluhan bahkan ratusan. Dan cobalah bayangkan berapa gadis yang berada dalam tempat ini.
Sel ini digantung dengan rantai baja tebal yang dikaitkan pada pengait yang ditanamkan di langit-langit batu ruangan ini, dibawah kami terdapat lautan lava panas, beberapa kali uap yang timbul menyebabkan gelembung itu meletus membuatku yang berpeluh ini melihatnya sembari berdoa dalam hati agar pengait yang tertanam di langit-langit batu itu tidak keluar dan membuatku terjatuh dalam lautan api itu. Woah, aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika itu benar-benar terjadi. Aku akan menjadi daging manusia panggang lezat makanan para iblis.
Jujur saja, aku sendiri tidak tahu mengapa bisa berada disini. Jika kuingat ulang, hal terakhir yang aku lihat saat itu adalah ... iblis itu menggenggam lenganku dengan tangan pucat keriput dan kuku panjangnya hingga aku tidak sadarkan diri.
Tempat ini lebih mendominan bebatuan yang menghiasi langit-langit juga dinding sekitar dan lava panas yang mengalir seperti sungai (bahkan aku tidak dapat melihat ujungnya), juga jalan setapak yang menghubungkan goa besar yang digunakan untuk tempat masuk dan tempat keluar dengan goa lainnya yang aku pun tidak tahu apa gunanya. Sedangkan dibawah hanya ada lautan lava yang jika kulihat dapat membuatku merinding seketika.
Sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki yang berasal dari goa yang terdapat disisi lain dari dinding bebatuan ditempat yang menyerupai neraka ini. Tak lama kemudian seekor iblis keluar dari goa besar yang aku tidak tahu apa gunanya dan mengarah kemana. Dengan mata merah darahnya yang menyala itu, dia memberi kami semua tatapan mengerikan, belum lagi wajahnya yang begitu buruk itu. Kedua ujung bibirnya yang tertarik kebawah menunjukkan dua taring yang bergantung juga gigi kuning banyak jigongnya itu, sedangkan dipertengahan wajahnya hanya menyisakan dua buah lubang kecil (yang kurasa digunakan untuk bernafas), ditambah lagi alis hitam tebal yang selalu tertekuk menghiasi wajah hancurnya.
Dua buah tanduk landai berwarna merah darah mencuat dari atas kepalanya, ekor hitam legam yang sebelumnya belum kulihat itu bergoyang-goyang mengibas angin hingga debu dari bebatuan yang ia pijak berterbangan. Yah, walau berjarak jauh dari sang iblis itu, aku masih dapat melihatnya dengan jelas. Sangat jelas malah. Aku tidak tahu kenapa.
“Apa kalian tidak bisa diam?!”
Bahkan suaranya tidak jauh berbeda dengan wajahnya itu. Seperti debuman mobil yang begitu parau yang bergema. Para gadis yang menangis yang mendengar suara mengerikan iblis itu sontak terdiam ketakutan. Aku melihat salah satu gadis yang berada dalam satu sel denganku, dia bergetar hebat, berusaha menahan tangisan agar tidak kembali keluar. Gadis blonde itu menggigit bibir bawahnya dan membuat kepalan dengan tangannya yang bergetar. Sebenarnya aku sangat berterima kasih kepada iblis itu, pasalnya, aku juga merasa risih mendengar suara tangisan mereka yang begitu nyaring itu (lebih terdengar seperti tangisan anjing, kalian tahulah bagaimana), belum lagi kebanyakan dari mereka menangis sembari merapalkan kata “mama”. Sebenarnya lagi, aku juga merasa tersinggung akan hal itu karena aku tidak mempunyai orangtua. Ah, masa bodoh 'lah.
“Jika kami mendengar suara tangisan kalian sekali lagi, jangan harap kalian masih bisa melihat dunia di esok hari.”
Iblis itu menatapku sekilas lalu berbalik meninggalkan ruangan terkutuk ini. Tiba-tiba dengan iseng, aku membayangkan wajah iblis itu berubah menjadi kawai. Dan itu membuatku tertawa sendiri, karena bahkan itu lebih dari menyeramkan.
Tak lama kemudian, aku merasakan sesuatu yang aneh. Pandanganku berputar-putar dengan aneh, lalu menampilkan sebuah kegelapan.
***
Aku melihatnya, sama seperti dulu, ia menatapku dengan tatapan bengisnya. Ia memainkan sebuah belati ditangan kanannya seakan itu hanyalah sebuah tongkat tumpul biasa yang di putar-putar.
Aku berada dalam ruangan megah yang kulihat sebelumnya. Berbaring dalam tempat tidur king size dengan tubuh yang berbalut gaun sutera yang begitu nyaman (aku tidak dapat melihat apa warnanya).
“Kau begitu cantik. Sayangnya, tubuh ini harus mati....”
Tidak seperti pertama kali, saat ia membuatku pingsan saat di asrama, kali ini ia berubah menjadi sosok lelaki tampan dengan suara bariton khas yang terdengar maskulin. Tapi tetap saja, mendengar suaranya membuatku ngeri sendiri.
“Tidak susah ternyata menemukanmu ... adik.”
Cleyv menunjukkan taring panjang itu lagi, lalu dengan sekali hentakkan mata, ia membuatku sulit bernafas. Ingin sekali aku berteriak saat ia tertawa dengan sangat mengerikan. Suara tawa nyaringnya itu seakan membuat setruman tersendiri terhadap seluruh tubuhku.
Mata hitam pekat Cleyv terlihat sangat bergairah untuk membunuhku. Ia mengangkat tanganku secara perlahan lalu mengusap punggung tanganku secara lembut dengan tangan pucat dinginnya, ia bergumam sesuatu, namun aku tidak dapat mendengarnya. Aku merasakan cairan kental yang mengalir keluar dari lubang telingaku.
Lalu ia menyayat setiap nadi ditanganku menggunakan belati yang ia genggam tadi, dan meminum darah yang keluar tersebut. Aku merasakan sakit yang teramat sangat saat ia menancapkan kedua taring besar itu ke dalam nadiku, menyebabkan airmataku keluar dengan sangat deras dan cepat.
Tubuhku benar-benar mati rasa, bahkan menolehpun rasanya sulit, sehingga aku merasa benar-benar kalut.
Tapi selain dari itu, aku tahu apa yang menyebabkan pandanganku terhadap setiap orang berbeda pada manusia normal kebanyakan. Aku tahu ... ya ... aku tahu saat ia menyatakan alasan itu.
***
Lupa. Aku benar-benar lupa bagaimana caranya berkedip saat menyadari diriku sedang berada dalam sebuah ruangan gelap berbau anyir darah yang sangat menyengat. Tubuhku benar-benar tidak dapat merasakan apa-apa lagi, dan aku sangat yakin bahwa beberapa bagian dari tubuhku sudah tidak lagi utuh, dan hanya tinggal menghitung detik, aku tidak meraga lagi.
Kakakku, Cleyv Setafhir, ternyata ... Sang Terkuat. Memimpin kawanan iblis yang selalu memakan gadis-gadis sepertiku. Ia memilihku karena aku adalah adiknya, yang otomatis memiliki darah iblis yang sangat kental sama dengannya.
Ia hanya takut. Takut karena akulah Sang ... Iblis yang Sesungguhnya yang lebih kuat darinya.
A/n :
Chapter ini didedikasikan kepada = kakak-kakak GKBF_Indo (bagi yang membaca, maaf lupa :v) dan kak steefoy :3
Yah, aku sengaja buat part bonus untuk para pembaca yang telah membaca cerita ini :v maaf jika banyak keanehan dalam cerita tak seberapa ini xx maklum, karena aku juga tergolong orang freak yang terlalu berpengalaman dalam berimajinasi /nyedh. Aku kepikiran untuk membuat part tambahan ini karena ending yang tidak memuaskan dari part sebelah. Aku rasa, aku perlu menambahkan sedikit imajinasi lagi untuk menyelesaikan cerita ini dengan penuh, hihi. Hm, Sebenarnya imajinasi di part ini kurang fatal, jadi maafkanlah yah.
Baiklah, aku berterimakasih banyak kepada kalian yang telah membaca, vote, juga comment. I appreciate it. Dukungan kalian adalah semangat bagiku. Aku juga minta maaf atas ketidaknyamanan kalian dalam membaca cerita freakku yang benar-benar kelewat batas gila ini, dan penggunaan bahasa Indonesia yang kurang maupin tidak tepat, juga typo yang berlebih. Saran dan kritik kalian membangun setiap karyaku.
[Tambahan: menurut kalian, bagaimana jika aku membuat wattpad novel terhadap cerita ini juga cerita aku satu lagi yang berjudul "Listen" dan oneshoot trilogi ketiga yang selanjutnya?]
Once again, Thanks alot!
[]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top