-FLAVIA-
Namaku Flavia Chandra Netta.
Kalian bisa panggil aku, Fla atau Via tapi tolong jangan panggil aku Chandra. Jangan pula memanggilku Netta, karena entah kenapa nama itu terdengar aneh di telingaku. Aku lahir dari keluarga sederhana.
Ibu hanya seorang apoteker biasa, gajinya hanya mampu untuk menjaga dapur kami tetap mengebul. Ya, hanya ada aku dan Ibu. Karena Bapak berpulang kepada yang Kuasa sejak umurku sepuluh tahun. Kehidupan dulu tidak seberat sekarang. Lalu Ibu meninggal dua tahan lalu. Yang berat kemudian makin berat.
Hari-hariku setelahnya diisi tagihan demi tagihan. Mulai dari listrik, air, sampai tagihan utang Ibu. Dua masa akhir kuliah kuhabiskan siang-malam di kampus dan menjadi guru privat anak SD setelahnya. Semua demi sesuap nasi dan hidup lebih baik.
Lelah? Tentu saja.
Dan sialnya dengan gelar sarjana tanpa embel-embel lebih ternyata tak sanggup membawaku kepada pekerjaan dengan hasil berlimpah ruah.
Tok... tok... tok...
Aku melirik ke arah pintu depan, mencoba mengingat hari apa ini. Sepertinya bukan jadwal penagih utang datang kemari.
Aku memperhatikan bayangan dari balik tiari, samar terlihat bayangan seorang wanita dan seorang pria.
"Via...," suara yang sangat kukenal memecahkan kebingunganku.
Tanpa menunggu lebih lama, aku bangun dari kursi dan berlari kecil untuk membuka pintu, tak peduli keadaan rumah yang terlalu berantakan untuk menerima tamu. Masa bodohlah. Toh, wanita di depan ini sudah sering melihat kekacauan rumahku. Dia tidak akan terkejut.
"FLAVIA!"
Aku membuka pintu setelah dia berseru untuk kedua kali, keningnya sudah mengkerut tidak sabar. Dia memelukku sebentar lalu masuk ke rumah tanpa mengucapkan apa pun, meninggalkan rekannya begitu saja.
"Tumben siang-siang ke sini, Del? Mobilmu mogok lagi?" Alasan yang selalu dia gunakan untuk mengunjungi rumahku. Sejak kami sama-sama lulus dari kampus, waktu bertemu kami jadi berkurang banyak. Dela berubah menjadi wanita karier. Dia selalu sibuk bekerja. Berbeda denganku, pendapatan yang Dela hasilkan sangat menggiurkan. Jadi, tidak masalah baginya jika harus bekerja keras sepanjang hari—bahkan sepanjang malam.
Belum apa-apa, Dela sudah duduk manis di sofa panjang, tangannya ke atas memberi tanda kepada temannya supaya mengikuti. Pria dengan postur tinggi tegap, wajah blasteran, seakan meminta izinku.
Aku tersenyum, dan dia masuk ke dalam rumah. Aku memiringkan kepala mengamati penampilan pria itu. Penampilan khas eksekutif muda—kemeja, celana bahan, sepatu pantofel hitam, rambut... hmm... aku tidak yakin itu berwarna apa. Jika dia menoleh ke arah yang gelap rambutnya berwarna hitam namun, saat dia menoleh ke arah yang bercahaya aku menemukan warna merah samar-samar di sana. Yang bisa aku nilai dengan pasti adalah kerampian rambutnya yang terjaga berkat bantuan pomade. Aku menggigit bagian dalam bibir bawahku, menahan diri agar kata 'wow' tidak keluar dari mulutku. Pria itu benar-benar nampak bak pangeran dalam dongeng yang sering kudengar saat kanak-kanak. Dan entah kenapa saat keduanya duduk berdampingan, aku merasa mereka cocok. Dela dan pria-yang-tidak-aku-ketahui-namanya.
"Jadi ada keperluan apa, Del? Biasanya kamu hubungi aku dulu kalau mau ke rumah?" tanyaku, ikut duduk di bangku berhadapan langsung dengan Dela.
"Eh, tunggu! Sebelum aku jawab pertanyaan kamu, aku mau kenalin kamu sama Arkana." Dela menoleh ke arah pria bernama Arkana. "Ka, ini Flavia, teman mojok aku di perpustakaan." Dela kembali memandang ke arahku, dia seperti menunggu reaksi dariku saat mendengar nama Arkana. "Tuh kan, Ka. Aku bilang juga apa. Walaupun dulu kamu terkenal di kampus, Via pasti nggak akan pernah merasa tahu nama kamu. Lihat aja tuh, keningnya mengerut gitu. Sok-sok mau mikir, tapi aku berani jamin hasilnya akan tetap sama. Dia nggak tahu nama kamu dan dia merasa nggak pernah ketemu kamu." Aku meringis dan Dela tersenyum semakin lebar. "Udah-udah nggak usah mikir lagi. Kita bertiga tuh satu kampus cuman beda fakultas. Dia satu fakultas bareng aku."
Bibirku membentuk huruf vokal O tanpa suara.
Pantas saja pria ini tidak ada dalam ingatanku, masa kuliahku memang tidak meriah seperti mahasiswi pada umumnya. Aku jarang berkenalan dengan mahasiswa yang berbeda fakultas denganku, bahkan teman beda fakultasku hanya tiga orang; Dela, Nora, dan Rissa. Aku lebih banyak menghabiskan waktu menyendiri di perpustakaan, mengerjakan tugas, menjaga agar nilaiku stabil atau mengobrol bersama mereka bertiga di perpustakaan.
"Hai," sapa Arka ramah. Aku mengangguk kecil sebagai bentuk kesopanan.
"Balik lagi ke pertanyaan kamu tadi. Aku tuh udah WhatsApp kamu, tapi kamu nggak balas," ucap Dela tidak sabaran.
Aku meringis. "Kuota internetku habis, Bu. Dan belum sempat beli."
Dela tersenyum maklum. "Bagaimana pekerjaanmu?"
"Nggak ada yang menarik untuk diceritakan," jawabku, "aku sedang berniat untuk menambah pekerjaan di pagi hari, ternyata satu pekerjaan saja nggak cukup untukku."
"Memang apa perkejaan kamu sekarang?" Arka tiba-tiba masuk dalam obrolanku dan Dela. "Sori, kalau saya lancang ikut obrolan kalian. Saya hanya—penasaran."
"Nggak masalah." Aku mengulum senyum. "Saya bekerja sebagai kasir restoran dari sore sampai malam. Tadinya dari jam sembilan pagi sampai jam dua belas siang saya mengajar sebagai guru home schooling di PKBM Trinitas, mendampingi siswa SD. Tapi sudah tujuh bulan ini saya hanya bekerja di satu tempat."
Arka mengangguk mendengar jawabanku, sementara Dela kembali mengembangkan senyum tipisnya. Dari awal perjumpaan kami di perpustakaan kampus, aku sangat menyukai senyum Dela. Menghangatkan, membuat damai. Dan di antara sahabat baru yang kutemui dulu, Dela masih favoritku.
"Oh ya, kalian mau minum apa? Air putih? Teh manis? Sirup?" Aku memandang Dela dan Arka bergantian.
"Air putih," jawab mereka bersamaan.
Aku menaikkan satu alisku. Lihat, duduk bersama saja sudah membuat mereka terlihat pantas satu sama lain. Ditambah kekompakan mereka dalam menjawab, membuat diriku semakin yakin, mereka pasang serasi.
Dela sepertinya tahu jalan pikiranku. Dia bergerak gelisah, lalu memberi kode untukku segera membawakan minuman yang aku tawarkan. Aku meninggalkan mereka menuju dapur dan kembali tak lama kemudian membawa dua aqua gelas dingin.
"By the way, kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu datang ke rumahku?" tanyaku seraya meletakkan dua aqua di atas meja. "Kamu hanya menjawab kalau sudah menghubungiku sebelum ke sini."
"Pekerjaan," jawab Dela, seraya mengambil satu aqua untuk Arka dan sisanya untuk dirinya sendiri.
Aku mencoba untuk tetap fokus dengan kata pekerjaan namun, gagal interaksi keduanya membuat rasa penasaranku semakin tinggi. Sebenarnya kalau semua interaksi ini dilakukan Nora, aku yakin, aku tidak akan penasaran. Karena Nora memang terbiasa dekat dengan pria, tapi ini Dela. Saat kuliah dulu Dela jarang bergaul dengan pria, ya—kami sebelas dua belas dalam hal 'berteman' dengan pria.
Aku menggeleng pelan untuk mengusir rasa penasaranku. Dela sudah bekerja dan aku jamin dia dikeliling eksekutif muda macam Arka. Mungkin saja, dia memang terbiasa dekat dengan pria sekarang.
"Pekerjaan?" tanyaku mengulang perkataan Dela.
"Iya. Aku ada kenalan yang butuh guru home schooling buat anak-anaknya. Kembar, umurnya empat jalan lima. Kira-kira kamu berminat, nggak? Gajinya oke."
Empat jalan lima? Aku langsung bergidik mendengar umur siswa yang ditawarkan Dela padaku, aku tidak punya pengalaman mengajar anak sekecil itu. Siswa terakhirku berumur sepuluh dan seingatku siswa paling kecil berumur tujuh. Aku menelan ludah susah payah, sedikit khawatir dengan lanjutan kalimat Dela. Percaya atau tidak, aku mengambil sarjana pendidikan bukan karena aku menyukai atau bahkan tergila-gila dengan anak-anak tanpa batas umur. Aku mengambil fakultas itu karena dari sekian banyak pengajuan beasiswa, fakultas itu paling sedikit menerima surat pengajuan. Dan itu menguntungkan untukku. Sementara untuk pekerjaan, aku paling suka menangani anak SD. Tidak rewel seperti anak TK, tidak juga rumit seperti Remaja SMP dan SMA.
"Saya rasa kamu pasti cocok dengan pekerjaan ini." Aku memandang Arka. Dia tersenyum, berusaha meyakinkan aku jika pekerjaan yang ditawarkan oleh Dela memang cocok untukku. "Karena ini memang bidang yang sesuai dengan jurusan kuliah kamu, ditambah dengan pengalaman mengajar kamu."
"Gajinya lumayan. Serius, Via. Aku yakin, kamu nggak akan kecewa." Dela menyipitkan mata. "Dia buka harga..." Dela merentangkan kesepuluh jarinya.
"1 juta?" tanyaku apa adanya.
"Sepuluh, Via."
Aku melotot. " Sepuluh? Sepuluh juta? Kok gede banget? Yakin itu gaji guru TK? Bercanda kali kenalan kamu ini." Aku gelagapan sendiri mendengar jumlah yang ditawarkan. Jarang-jarang orang berani menawarkan gaji sebesar itu untuk mengajar anak TK, kalau mengajar SMP atau SMA, aku masih bisa percaya.
"Serius, Via. Tapi kamu diwajibkan tinggal di rumah kenalan aku ini. Urusan makan dan keperluan kamu semuanya dia yang tanggung. Cuma ya itu, waktu kamu hanya untuk anak-anak itu."
"Tapi kan aku punya kerjaan lain, Del."
"Kamu bisa mengundurkan diri dari pekerjaan kamu yang sekarang. Lagi pula hasil bekerja di satu tempat ini lebih besar dengan hasil kerja dua tempat." Arka membantu Dela meyakinkanku untuk kedua kalinya.
Tambah ngeri aku membayangkannya. "Aduh..."
Aku takut kalau aku terlanjur melepaskan pekerjaan di restoran, ternyata aku tidak cocok dengan pekerjaan guru home schooling ini. Bisa gawat kalau hal itu terjadi.
"Coba kamu kenalan dulu sama mereka. Manis kok mereka, nggak nakal. Lagi pula, gajinya, Via... aku yakin pekerjaan ini bisa melepaskanmu dari surat-surat cinta itu," Dela melirik tumpukan kertas tagihan di meja.
Inilah Dela, selalu punya cara untuk menjabarkan fakta dan membuatku setuju.
"Kalau kamu mau, kita bisa ketemu sama kenalanku sekarang. Rumahnya dekat dengan tempatmu bekerja, di Alam Sutera. Kebetulan aku dam Arka mau ke sana. Sekalian saja, daripada kamu kelamaan mikir."
"Tapi, Del..."
"Sekarang kamu ganti baju terus kita pergi." Dela bangun dari tempat duduknya, meraih kedua pundakku dan memberi intruksi supaya aku cepat mengangkat bokong dari kursi.
"Del..."
"Nggak ada tapi-tapian, Via. Aku nggak mau kamu tua sebelum waktunya karena mikirin utang yang nggak habis-habis." Dela mendorong tubuhku masuk kamarku. "Kamu nggak mau terima bantuan aku ataupun Nora secara cuma-cuma. Kali ini aku nggak nawarin bantuan tapi pekerjaan, jadi jangan coba-coba kamu tolak."
Dela menutup pintu kamarku dan kembali duduk untuk kemudian mengobrol berasama Arka. Jarak ruang tamu dan kamarku tidak jauh, terlalu dekat malah, jadi mau tidak mau aku bisa mendengarkan obrolan mereka sementara aku berganti pakaian.
"Kamu yakin temanmu ini mau?"
"Via itu lagi kepepet. Nggak mungkin dia nolak."
Aku melayangkan tinju ke udara, sebal dengan ucapan Dela. Dia gadis baik, tapi terkadang omongannya terlalu frontal. Maksudku, informasi itu bukan untuk konsumsi orang asing yang baru tadi kutemui. Dan aku sebal harus mengakui jika Dela benar, aku tidak punya pilihan. Pekerjaan ini terlalu menggiurkan.
Gaji sepuluh juta sebulan, kebutuhan ditanggung, tinggal di rumah tanpa mikirin listrik dan air.
Mengurus anak umur empat tahun? Aku rasa tidak masalah. Toh, kata Dela mereka manis.
Perkenalkan dia Flavia, sebagian pembaca lamaku pasti kenal dia siapa. Buat pembaca baru, ini adalah cerita awal yang aku publish di wp sebelum bagaskara family.
Dan ini kisah tentang dia... selamat membaca. Jangan lupa vote dan comment ya... :)
Tenang, CERITA The Pilots lover masih rutin aku update... :)
Btw, selamat sahur buat kalian... dan ak baru mau tidur... 😂
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top