Chapter 2
Chapter 1 di akun zypherdust
●●●
Hiruk pikuk murid kelas 11 MIPA 3 terdengar bersahut-sahutan saat bel pulang sekolah berdering nyaring. Bu Zidni hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah muridnya yang tak kalah dengan anak SD. Raut bahagia terlihat jelas di wajah mereka masing-masing, seakan telah bebas dari bui yang mencekam. Bu Zidni sering berpikir, semengerikan itukah pelajaran Matematika hingga banyak sekali siswa yang menghindari pelajaran ini. Mungkin mereka harus diberi tugas untuk menonton konten Battle Matematika dari youtuber Jerome Polin agar bisa belajar sekaligus mencari hiburan. Atau mungkin mereka akan semakin sakit kepala?
“Scar, jalan-jalan, yuk!” ajak Cherry saat mereka baru saja keluar dari kelas.
“Kenapa? Lo masih bete karena nilai 98?” goda Scarlet.
“Enggaklah, ada-ada aja lo. Masa gitu aja bete. Gue bosen aja, pengen jalan-jalan.”
“Males, ah. Gue mau pulang,” tolak Scarlet tanpa pikir panjang. Wajah Cherry yang penuh semangat seketika memberengut. “Gue mau beres-beres apartemen gue yang lo berantakin kemarin,” lanjutnya.
Mendengar perkataan Scarlet, Cherry langsung nyengir kuda. Gadis berambut pirang itu memang suka sekali mengacaukan apartemen Scarlet jika sedang main ke tempat tinggal sahabatnya itu. Cherry pun merangkul bahu Scarlet, lantas berkata, “Sorry, Sayang. Scarlet cantik, deh!”
“Apaan, sih!” Scarlet dengan iseng menggelitik pinggang Cherry hingga gadis itu tak bisa menahan tawa dan akhirnya lari kocar-kacir. Orang-orang sekeliling yang memperhatikan Scarlet dan Cherry, sungguh merasa takjub. Scarlet benar-benar berbeda jika bersama Cherry. Jauh sekali dengan Scarlet yang orang lain kenal.
“Scar, ini masih di sekolah, lo gak sadar? Nanti orang-orang makin yakin kalo lo itu bipolar,” bisik Cherry iseng agar Scarlet berhenti menggelitik pinggangnya. Caranya berhasil, Scarlet akhirnya berhenti dan berjalan menuruni tangga dengan tenang.
“Ha ha, dasar!” rapal Cherry diikuti tawa. Gadis aktif itu segera mengejar langkah Scarlet yang sudah semakin menjauh.
Bruk!!
“Aww!!” Cherry meringis setelah bertabrakan dengan seorang gadis tepat di bawah tangga. Scarlet yang sudah di depan, kembali menghampiri Cherry.
“Yah, tumpah.” Gadis yang bertabrakan dengan Cherry mengambil botol kuteksnya yang jatuh.
“Lo sih, pake lari-lari segala,” bisik Scarlet pada Cherry.
“Maaf banget, gak sengaja, sumpah!” ucap Cherry. Ia lalu melihat lambang kelas sepuluh di seragam gadis itu. “Kuteksnya gue ganti deh, lo kelas sepuluh, kan? Jurusan apa? Besok kuteksnya gue anterin ke kelas.”
Gadis berambut ikal itu terlihat kesal. Namun, sepertinya ia tak ingin memperpanjang masalah. “Gak apa-apa, Kak, tumpahnya cuma dikit, kok.”
Gadis itu pun pergi begitu saja.
“Gila kali ya anak kelas sepuluh, emang mereka gak tau kalau pake kuteks dilarang?” ujar Cherry.
Mendengar itu, Scarlet menatap sahabatnya dengan kening berkerut. “Terus, yang di kuku lo itu apa kalau bukan kuteks?”
Cherry cengar-cengir seperti biasa. “Makanya tadi gue hapus, sebelum ketahuan guru.”
“Jangan ngikut yang gak baik, lo itu murid berprestasi, jangan cari masalah.”
“Iya, iya. Lagian tadi lo bilang 'padahal menurut gue bagus', sekarang malah sebaliknya.”
“Tadi gue khilaf,” kilah Scarlet.
“Dasar! Eh, tapi lo ingat gak? Siswa yang dulu sering banget pakai kuteks itu si Rub—” Cherry tiba-tiba menghentikan ucapannya ketika melihat Scarlet yang sudah menatap horor ke arahnya. Ia baru ingat bahwa Scarlet tak mau lagi mendengar nama itu. Nama yang akan selalu mengingatkan Scarlet tentang kejadian setahun lalu.
“Ayo pulang!” seru Cherry mengalihkan pembicaraan. Gadis itu menarik tangan Scarlet menuju parkiran.
***
“Scar,” panggil Cherry saat mobil yang ia kendarai keluar dari pelataran sekolah.
“Apa?”
“Lo itu jangan dingin banget deh jadi orang. Gue juga pengen teman-teman lain lihat sisi lo yang ceria. Gak kaku kayak kanebo kering.”
Scarlet langsung menatap Cherry. “Kok lo tiba-tiba ngomong gini?”
“Lo gak liat anak tadi? Gue rasa, tadi tuh dia mau marah, tapi karena dia lihat lo di samping gue, gak jadi deh marahnya.”
Scarlet berdecak. “Itu karena dia segan sama kakak kelas.”
“Mana ada? Segannya sama lo doang. Atau bahkan mungkin dia takut?”
“Emang gue hantu? Udah ah, ada-ada aja lo.” Scarlet membuka salah satu game di ponselnya. Kode untuk Cherry agar berhenti mengganggunya.
Mobil Cherry berhenti beberapa meter dari lampu lalu lintas, bukan karena traffic light sedang menunjukkan warna merah, melainkan karena jalan yang lumayan macet.
Mulai bosan dengan game, Scarlet menurunkan setengah kaca jendela mobil dan menilik suasana di sekitarnya. Ia melihat wajah-wajah lelah para pengendara yang mungkin ingin segera tiba di rumah. Para pedagang asongan mengambil kesempatan dan mulai beraksi menjajakan dagangannya. Mulai dari anak-anak, ibu-ibu, hingga pria renta. Di sisi lain, pedagang kaki lima di pinggir jalan duduk manis menunggu pembeli yang entah kapan akan datang, ada pula yang tengah melayani sang raja meski hanya membeli satu atau dua dagangan mereka. Di tengah kemacetan seperti ini, Scarlet selalu berpikir untuk tak mengeluh dengan kehidupannya. Meski tak bisa dipungkiri bahwa ia selalu merasa hidupnya tak adil.
“Bunganya, Kak.” Tiba-tiba seorang anak perempuan mendatangi Scarlet.
Scarlet tertegun beberapa detik. “Mawar,” ucapnya lirih. Netranya memandangi mawar merah itu lekat-lekat. Tanpa ia sadari, mata bulatnya mulai berkaca-kaca, tetapi senyum tipis menghiasi bibir merah mudanya.
***
“Ma, di antara banyaknya bunga, kenapa Mama paling suka mawar merah?” tanya Scarlet.
“Hmm ... karena mawar merah itu adalah bunga yang mempertemukan Mama dan Papa. Nanti Mama ceritakan kisahnya kalau Scarlet udah gede, ya.” Scarlet mengerucutkan bibir setelah mendengar jawaban ibunya. Itu bukan jawaban yang ia inginkan.
Melihat sang putri cemberut, ibu Scarlet melanjutkan jawabannya, “Katanya, mawar merah melambangkan cinta dan romantis. Orang-orang percaya kalau mawar merah itu lambang dari cinta sejati.”
Kali ini Scarlet menyimak jawaban ibunya dengan baik.
“Tuhan sudah mempertemukan Mama dan Papa melalui perantara mawar merah, lalu Scarlet lahir ke dunia. Keluarga kecil ini adalah anugerah yang luar biasa. Mama ingin keluarga kita penuh cinta seperti mawar merah.” Ibu Scarlet menutup jawabannya dengan mengelus rambut hitam Scarlet.
Gadis tiga belas tahun itu tersenyum. Belum puas dengan satu pertanyaan, ia melempar pertanyaan lain, “Terus, kenapa aku diberi nama Scarlet?”
Sang ibu tersenyum. “Karena Mama suka warna merah, Sayang. Selain melambangkan cinta, merah juga berarti berani, bersemangat, juga kegembiraan. Mama mau Scarlet tumbuh jadi gadis yang berani dan selalu ceria.”
“Terus, kenapa harus Scarlet? Kan banyak nama lain yang artinya juga merah?”
“Anak kamu tuh, Ma, makin gede makin cerewet.” Seorang pria paruh baya datang dengan secangkir kopi di tangannya.
“Papa yang ngajarin Scarlet jadi cerewet,” tuduh Scarlet, membuat tawa kedua orang tuanya pecah seketika. “Jawab dong, Ma,” desaknya setelah tawa dua malaikatnya reda.
“Hmm ... biar jadi 3S, kembaran sama inisial Mama dan Papa. Biar keren. Keren gak?”
“Sandy, Stella, Scarlet!” seru Scarlet semangat.
“Nah, pintar anak Mama.” Sang ibu mengecup kening putri semata wayangnya itu.
“Scar, Scarlet, oii!!”
Deg!!
“Hah?!” Scarlet tersentak. Suara Cherry membuyarkan kenangan indah yang sedang berputar di otaknya.
“Mau beli gak? Adeknya nungguin, tuh.”
Pertanyaan Cherry, serta anak perempuan yang masih berdiri di samping mobil, menyadarkan Scarlet bahwa ia telah kembali ke dunia nyata. Dunia yang hanya ada dia, tak ada Mama, dan jauh dari Papa.
“Kakak beli mawar merahnya dua, ya.”
Setelah menyelesaikan urusan mawar merah, Cherry tanpa aba-aba menggenggam tangan Scarlet. “Kangen nyokap, ya?”
Alih-alih menjawab, Scarlet malah menatap sahabatnya itu dengan mata yang sudah berair.
“Jangan nangis, please. Mau mampir? Gue anterin sekarang, ya.”
“Macet, Cher. Makam Mama bukan ke arah sini, gak mungkin putar balik.”
“Scarlet....”
“Gak apa-apa, Cher. Besok aja gue mampir.”
Cherry akhirnya hanya bisa mengangguk. “Tante Stella pasti udah bahagia di surga. Jangan pernah berhenti doa ya.”
“Aamiin. Makasih ya, Cher,” ucap Scarlet lembut.
“Geli banget woy, gak usah makasih-makasih gitu deh!”
Scarlet tertawa mendengar ucapan Cherry. Sahabatnya itu memang selalu berusaha melakukan apa saja untuk menghiburnya. Jika tak ada Cherry, sepertinya hidup Scarlet akan sangat kesulitan.
“Ini kenapa macetnya gini amat, ya? Di depan ada apaan, sih? Antri minta foto sama Raffi Ahmad?” Cherry mulai uring-uringan.
“Haha, ngeluh lo, udah gitu tadi mau ngajak muter balik?”
“Ya, namanya juga basa-basi, Scarlet cantik.”
Scarlet terus dibuat tertawa oleh Cherry. Hingga tak terasa hampir satu jam berlalu. Mereka akhirnya bisa terbebas dari kemacetan dan melaju dengan tenang.
Cherry menghentikan mobilnya di depan sebuah apartemen. “Gue pulang, ya. Jangan lupa telfon Papa lo, mentang-mentang tinggal jauh dari orang tua jangan lupa diri lo.”
“Bawel lo ah, pergi sana!”
“Haha... bye.”
Mobil Cherry pun menjauh hingga akhirnya hilang dari pandangan Scarlet. Secercah senyum lagi-lagi terlihat di bibir merah mudanya. Selama ini Cherry selalu ada untuknya, entah ia sedang di atas atau di bawah, sahabat yang menerima kekurangannya. Meski sekarang Scarlet jauh dari orang tua, ia masih bisa merasakan kebahagiaan karena kehadiran Cherry.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Sang ayah akhirnya menelepon setelah beberapa minggu sibuk dengan pekerjaannya di luar negeri.
***
“Huh, akhirnya selesai juga.” Seorang lelaki jangkung merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah sebelumnya disibukkan dengan mengatur barang. Pindah tempat tinggal memang merupakan hal paling melelahkan.
“Udah kan, Than? Gue balik, ya?” Lelaki berkacamata bangkit dari duduknya.
“Buru-buru amat lo, mau ke mana, sih?”
Si kacamata tak menjawab, ia malah menunjukkan ponselnya pada lelaki bernama Ethan itu. Terlihat sebuah pesan whatsapp dari kontak dengan nama ‘Mother’.
Randy, selesai bantuin Ethan beresin tempat tinggal barunya, kamu langsung pulang ya. Anterin Mama ke rumah sakit, teman mama lahiran.
“Yaelah, emang bokap lo ke mana? Atau adik perempuan manja kesayangan lo itu mana?”
“Gak tau. Udah ya, gue balik, entar gue ke sini lagi.”
Ethan hanya bisa mendengus. Ia bangkit dengan rasa malas dan mengantar sepupunya itu hingga ke pintu apartemennya.
“Ngomong-ngomong, Than, kenapa lo gak jadi ambil yang lantai tiga puluh?” tanya Randy.
“Ketinggian,” respons Ethan singkat.
Mendengar jawaban Ethan, Randy hanya bisa melongo. Sepupunya ini memang agak sedikit konyol. “Ini lantai dua puluh sembilan, beda satu doang, Than.”
“Lumayan, itu bisa menghemat waktu di lift.”
Randy diam dengan wajah penuh keprihatinan.
“Ck, dua puluh sembilan biar keren, Ran, itu tanggal lahir gue. Terus kamar nomor tujuh, bulan kelahiran gue. Keren, kan?” Ethan membanggakan diri.
“Serah lu dah, gue balik ya?”
“Haha, yoi. Hati-hati lo!”
Baru saja Ethan masuk dan akan menutup pintu, terdengar suara seorang gadis yang lewat depan kamarnya. Jantung Ethan seakan berhenti sepersekian detik, suara itu sangat familiar di telinganya. Ethan pun memilih untuk keluar dan memuaskan rasa penasarannya.
“Iya, Pa. Gak usah khawatir, Papa jaga kesehatan ya di sana. Apalagi di Jepang kan lagi musim dingin, jangan sampai kena flu.” Gadis dengan rambut hitam sepunggung itu berhenti di kamar nomor sepuluh yang letaknya paling ujung.
Ethan masih sibuk memperhatikan. Posisi gadis itu membelakanginya sehingga ia tak bisa melihat apa-apa selain punggung dan rambut.
Gadis itu menjepit ponselnya di antara telinga dan bahu, lantas sibuk mengorek tas yang Ethan tebak sedang mencari kartu akses. Benar saja, setelah menemukan kartu akses kamarnya, gadis itu segera masuk, meninggalkan Ethan yang masih mematung memandangnya.
Lama Ethan terdiam. Pikirannya berkecamuk. Gadis itu mirip sekali dengan orang yang pernah ia kenal.
Masa sih itu dia? Gak mungkin, kan?
●●●
Masih banyak kekurangan, masih butuh masukan🤗
Chapter 3 di akun zypherdust
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top