EMPAT2 - AURORA
"Nggak ada perempuan matrealistis, yang ada hanya perempuan logis. Hidup mahal, mati pun bayar," ceramahku.
"Saya mengerti." Ruly tertunduk lesu bagaikan orang kalah berjudi.
"Omong-omong soal menebus kesalahan, kamu nggak akan bisa melakukannya, anak SMA saja lebih oke daripada kamu," ejekku.
"Semalam adalah pengalaman pertamaku," Ruly mengaku.
Pantas permainannya payah dan serabutan.
"Makanya, aku ajari!" aku membentaknya.
Namun, Ruly menggeleng. "Cara menebus kesalahan bukan dengan melakukan kesalahan baru."
"Lalu bagaimana? Kamu mau menikahiku?" aku mengejek.
Ruly terdiam. Aku melihat penyesalan di matanya. Aku tidak memperkosanya, Ruly menyerahkan begitu saja keperjakaannya.
"Setidaknya biarkan saya mengantarmu pulang."
Aku mengabaikan permintaannya, berjalan menuju toilet. Di sanalah gaunku terserak. Agak basah karena terjatuh di lantai yang tergenang air bekas mandi. Aku membutuhkan pakaian lain. Kuambil ponselku.
"Di manaki?" tanya Tiara pada dering kedua.
"Masih di base camp."
"Kenapako nda pulang semalam?"
"Gimana aku mau pulang kalau ada orang asing di studio. Radit yang salah, bawa orang asing ke sini. Kan bisa dibawa ke rumahnya saja."
"Maaf saya terpaksa tinggalkan ko. Kau nda apa-apa ji?"
Semalam anak-anak punya urusan dan janji masing-masing sehingga terpaksa pulang duluan. Mereka pasti tak mengira Ruly yang bertampang baik-baik bisa binal juga.
"Ada sedikit kejadian. Nanti aku cerita. Tolong bawakan baju dong, Ti. Lengan panjang ya."
"Kan sudah saya bilangmi, jangko macam-macam."
"Tiara sayang, jangan bikin kepalaku makin pusing. Kamu ke base camp bawa baju ya."
Tiara mendesah. "Tungguka," katanya menutup pembicaraan.
Ketika aku muncul di ruang musik, Ruly masih duduk menungguku.
"Aku sudah meminta temanku datang ke sini, membawakan baju ganti. Kalau kamu mau pulang duluan, silakan."
Ruly menatapku lama. Tangannya menangkup. "Aurora – "
"Panggil aku Ora saja," potongku.
"Ora, saya sungguh minta maaf. Apa yang kita lakukan semalam murni kesalahan saya. Seharusnya saya tidak mabuk."
Aku mengibaskan tangan. "Sudahlah nggak usah dipikirin. Kecuali kamu mau les privat memuaskan wanita di tempat tidur, bolehlah kamu kembali ke sini. Pulang sana. Temanku mau datang."
"Kamu.... yakin?"
"Yakin, Ruly sayang."
Ruly sibuk dengan ponselnya. Sepuluh menit kemudian mobil Avanza perak menjemputnya. "Saya pulang dulu," pamit Ruly.
Aku mengantarkan Ruly ke pintu, kemudian meluncur ke kamar mandi. Kaca besar memantulkan sosokku. Astaga, bekas bibir laki-laki itu masih tercetak jelas di tengkuk, pundak, punggung, dan puncak dadaku. Kerinduannya pada Elvira dia lampiaskan padaku. Setiap kali aku menyentuh jejak kemerahan itu, rasanya seperti menyentuh guratan nama Elvira.
Sisa permainan kami mengering dan lengket di sela paha. Semalam akulah yang memandu Ruly sampai dia terpuaskan, sementara aku tidak sama sekali! Kalau saja Ruly tidak mengucapkan nama Elvira, aku tak akan sesebal ini.
Air pancuran menyala. Kugosok seluruh tubuhku, berdoa semoga tak usah berjumpa dengan Ruly. Kami tidak bertukar nomer telepon. Kecil kemungkinan dia bakal kembali.
"Ora! Aurora!" Tiara datang saat aku membilas tubuh. "Oraaaa!"
"Iyaaa," teriakku, membalas agar dia tidak panik. Buru-buru menyelubungi diri memakai handuk lebar, handuk yang kemarin ditarik Ruly hingga kami berakhir melakukan.... Ah sudahlah.
Langkah Tiara berjingkat cepat. Dia mendesah lega melihatku.
"Ora, nda apa-apa jako? Baik-baik ji?" Tiara mengguncang lenganku.
"Iya. Aku baik-baik aja, kok."
"Mana laki-laki semalam?" Tiara celingukan mencari-cari.
"Sudah pulang."
"Dia nda menyakitimu, nda mencuri barang?"
"Semua aman, nggak ada yang hilang kok, Tiara sayang."
Tiara menoleh lagi padaku, mengamati leher dan bahuku. "Itu apa merah-merah?"
Jantungku serasa minta pensiun berdetak.
"Aku bisa jelaskan. Mana bajunya? Dingin."
Tiara menyerahkan totebag hitam. Di dalamnya ada celana jins dan T-shirt lengan panjang. Baguslah.
"Bajumu mana?" tanya Tiara.
"Terlalu terbuka." Bisa langsung dipecat sebagai anak kalau Ibu melihat tanda merah bertebaran di sekujur tubuhku.
"Bukannya ko suka pakaian terbuka?" tanyanya heran.
"Iya, tapi nggak hari ini." Udah deh, Tiara, jangan bawel.
"Saya bawa makanan. Ko sudah sarapan?" Tiara membuka sekotak omelet dan kentang yang direbus bersama bawang putih serta sedikit merica.
"Tiara memang paling baiiik," pujiku lantas mengecup pipinya.
"Kenapako nda pulang?" tanya Tiara.
"Kalau Ruly mencuri peralatan band bagaimana?"
"Siapa Ruly?"
"Laki-laki yang semalam kita tolong."
"Jadi ko menginap semalaman dengannya?"
Aku menusukkan garpu ke potongan kentang, lantas mengangguk. "Elvira adalah mantan pacarnya," jelasku.
"Pantas sampai mabuk begitu. Kasihan," kata Tiara prihatin.
"Ruly terlalu cinta makanya patah hati separah itu. Saat dia 'sampai', dia menyebut nama Elvira."
"Sampai?" Tiara memicingkan mata curiga. "Sampai apa?"
Aku membekap mulutku sendiri. Dasar baskom bocor. Tiara seumuran denganku, tetapi otaknya masih tujuh tahun. Manonton orang ciuman dalam film romantis saja kadang dia menutup muka.
"Nggak, kok. Sampai Pare-pare."
"Pare-pare? Siapa ke Pare-pare?"
"Sudahlah, makanmi," kataku menyuapkan kentang ke mulutnya. Tiara menepis suapanku. Gawat.
"Ko belum jawab, kenapa ada merah-merah di leher dan pundakmu nah?"
"Kami melakukannya," ujarku pasrah.
Mulut Tiara menganga. Ya ampun, sepasang manusia berbeda jenis kelamin tidur bersama saja reaksinya berlebihan. Kalau Radit mantap-mantap dengan Rizky, bolehlah dia kaget.
"Apa? Gilako! Ko nda kenal dia, gimana kalian bisa...."
"Yah, aku sudah setahun jomblo. Ruly pun semalam kalap...."
Seks adalah anugerah Tuhan bagi manusia. Bagus untuk membakar kalori dengan cara menyenangkan. Aku tertawa. Kenapa malah ingat Tuhan padahal kami berbuat dosa?
"Jangko tertawa. Dia perkosa ko?" Mata Tiara melotot menakutkan.
"Nggak, dia kangen Elvira. Lalu kami melakukannya begitu saja karena sama-sama membutuhkan. Spontan."
Tiara meletakkan garpu. "Kalau ko hamil bagaimana?"
"Ya ampun," aku menertawakannya lagi, "nggak mungkin lah hamil karena sekali gituan. Selama ini aku berkali-kali dengan pacarku pun nggak hamil."
Tiara berdecak. "Ingat penyakit kamu, Ora. Kalau sampai hamil, berbahaya sekali."
Penyakit begitu saja diungkit-ungkit. Dokter Khalid bilang, semua beres. Aku mau hamil pun bisa asalkan banyak istirahat agar tak keguguran. Tapi itu soal lain. Tiara akan tambah meledak kalau aku mendebatnya.
"Iya, iya. Nggak bakalan kok kalau hanya sekali. Kamu tenang saja, Tiara sayang."
Tiara selalu menganggapku ceroboh. Dia tahu deretan mantanku. Mulai dari anak SMA, mahasiswa sampai pegawai bank. Tenang, semuanya belum menikah. Aku malas drama kalau memacari suami orang. Tiara berkali-kali mengingatkan soal kehamilan serta risiko penyakit. Katanya, seks sembarangan mengakibatkan kanker rahim.
"Sudah, selesaikan makan kita. Aku lupa bawa obat, mesti buru-buru pulang."
Obat yang diberikan Dokter Khalid sifatnya sementara. Hanya sampai gejalaku sembuh.
Usai makan, aku dan Tiara membersihkan studio. Radit bakal menggantungku kalau tahu ada yang berbuat mesum. Selain menyapu agar tak satu pun helai rambut Ruly tertinggal, kami mengepel lantai serta mengelap sofa dan paling penting membersihkan kamar mandi.
"Aman!" sorakku. Semua barang bukti sudah tersingkir dari TKP. Kepalaku agak pening mungkin karena bau karbol yang menyengat.
"Ayo pulang." Tiara membawa motornya. "Sore nanti kita isi acara ulang tahun PT. Kakao Celebes Indonesia. Ingat kan?"
Ketika akan membuka pintu, pening semakin mengaburkan pandanganku. keringat dingin merembes. Aku terhuyung-huyung.
"Ora!" seru Tiara yang memapahku sehingga tak membentur ubin.
Ruangan musik berputar. Kepalaku serasa ditusuki jarum. "Ayo, saya antar ko ke Dokter Khalid," cetus Tiara.
***
Ora kenapa nih? Apa udah seperti penulisnya yang mulai suka amnesia sesaat? Minggu kemarin saya lupa update lagi 🤦♂️ Maafkan 🙏 lanjut baca yuk, komen juga ya.
12 Feb 2024
Salam
Widi & BelladonnaTossici9
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top