EMPAT1 - AURORA
Kenapa aku mau bercinta dengan pria mabuk payah yang baru kukenal? Yah, perempuan kan punya hasrat juga. Sepuluh tahun lebih aku menerima jatah dari pacar yang berganti-ganti. Pengalaman pertamaku dimulai bersama Arya, bassist SMA Negeri tetangga yang kutemui saat pensi. Hubungan kami berlangsung seumur jagung. Arya bukan pacar perhatian, tetapi cukup memuaskan untuk ukuran anak SMA. Caranya mengecup setiap senti kulitku, mempermainkan bagian-bagian sensitifku, membisikkan kata manis, membisikkan kata cinta meskipun omong kosong belaka, membuatku lupa daratan.
Arya sanggup meyakinkan seorang Aurora Nayara melepas status perawan dan membuatku mencandu. Lepas dari Arya, belasan laki-laki memuaskan kebutuhan biologisku. Lebih tepatnya simbiosis mutualisme. Anak SMA, teman-temanku itu tak sealim penampakan luar. Kenapa juga aku menceritakan Arya dan mantan-mantanku? Kalau saja laki-laki dewasa mabuk ini hebat di ranjang, upsss... Maksudku di atas sofa dan mampu memuaskan roh jalang kelaparan yang sudah tidak melakukan 'itu' selama setahun, aku tidak akan sejengkel ini.
Bercinta dengan laki-laki mabuk entah siapa namanya ini, tidak ada enaknya. Sudah berbau tak sedap, menyebut nama orang lain, setelah puas langsung tidur pula. Salah satu mantanku pernah mengajakku bercinta dalam keadaan dikuasai alkohol. Permainannya jelek, hanya kepercayaan dirinya saja meningkat. Menyesal pun tak berguna.
Bagusnya, laki-laki semalam yang kucurigai adalah mantan Elvira ini tak sadar saat aku mendorongnya jatuh. Bukannya kejam, sofa hanya muat ditiduri satu orang. Dia tak butuh tempat empuk untuk tidur. Aku lah yang lebih perlu.
Mataku terbuka ketika sofa terasa diduduki seseorang. Tubuhku telah diselubungi jas hitam. Baik juga dia padahal sudah kubuat tidur di lantai.
"Apa yang kita lakukan?" tanyanya pelan begitu aku duduk, masih mengumpulkan nyawa.
Pusat tubuhku masih terasa aneh setelah setahun tak melakukan hubungan intim dengan laki-laki.
"Sebentar, aku lupa nama kamu," kataku sambil menguap. Jas hitam itu melorot waktu aku merenggangkan tubuh.
Mata si laki-laki melotot seakan mau loncat dari rongganya saat dua asetku terpampang sempurna, buru-buru dia menaikkan jasnya menutupinya.
"Ruly, nama saya Ruly. Dan kamu?"
"Aurora."
"Aurora...." Ruly terdiam sejenak, terlihat agak ragu, "apakah kita sudah..."
Aku mengangguk. "Ya, kita sudah melakukannya."
Mata Ruly membelalak lagi, terlihat syok. Namun dia kembali menguasai diri.
"Bagaimana semuanya terjadi? Bagaimana saya bisa di sini?"
"Hmmm...," aku menggumam, bangkit dari sofa menanggalkan jas hitam itu, membiarkan Ruly melihatku tanpa benang. Ngeces saja sekalian sana, toh semalaman sudah melihat semuanya bahkan meletakkan tangannya di mana-mana.
Ruly menunduk, menolak menatapku yang berjalan menuju kulkas.
"Mau minum apa, Ruly? Di dalam hanya ada soda dan jus. Mau kubuatkan kopi?" tanyaku sambil meraih sekotak jus jeruk.
"Tolong jelaskan saja," jawab Ruly canggung.
Aku menusukkan sedotan ke kotak kemasan jus jeruk, mengisapnya sembari berjalan lambat ke arah Ruly, sengaja demi menyiksanya. Sudahlah, berhenti berpura-pura. Dia pikir aku tak melihat matanya yang berusaha keras menghindari menatap keindahan ciptaan Tuhan ini? Kucing kok mau menolak ikan salmon?
Terlintas pikiran iseng. Aku menjatuhkan diri ke pangkuannya. "Minum," kataku menyodorkan kotak jus jeruk ke depan hidungnya.
Ruly menggeleng. Tangannya sama sekali menolak menyentuhku.
"Semalam aku dan anak-anak nemuin kamu di sofa ruang ganti Upper Hills. Satpam hampir membawamu ke kantor polisi soalnya nggak nemuin identitas kamu, tapi tahu kan kerepotannya? Semalam kami sudah lelah untuk diinterogasi dan semacamnya. Radit, pemilik studio ini, ketua Wonder Band berinisiatif membawamu ke sini. Tumben dia baik." Aku terkekeh. Ruly tak mengucap sepatah kata pun. "Kamu nggak lupa, 'kan resepsi pernikahan Elvira dan Fahri?" Aku melingkarkan lengan ke lehernya, jemariku memuntir-muntir daun telinganya, turun ke leher meraba jakunnya yang naik turun.
Ruly gelisah, entah karena kata 'resepsi pernikahan Elvira dan Fahri' atau karena hasratnya mulai bangkit lagi.
"Kamu mabuk sampai menyebut nama Elvira," rajukku, sekarang menggerayangi kancing kemejanya, membuka satu persatu. Area sensitif di sela pahaku berdenyut-denyut, ingin membalas kekecewaan semalam.
Napas Ruly memburu ketika kubelai rahangnya, tetapi sesuatu menahannya bereaksi. Aku menengadah, mengecup bibir Ruly. Dadaku menempel pada kemejanya. Ruly membalas. Ciumannya terasa frustrasi, kasar, dan bingung. Aku tak peduli, ini awal yang bagus. Namun, dia melepaskanku ketika aku mendamba lebih.
"Saya tidak bisa." Ruly mengembuskan napas berat. Manik mata hitamnya kembali digayuti kesedihan mendalam.
Aku mulai kesal. Siapa yang membuat laki-laki ini mengabaikan godaan sampai rela menyiksa diri sendiri?
"Elvira mantanmu?" tanyaku penasaran. Kalau ya, berarti cintanya pada wanita itu sangat besar.
Ruly mencengkeram tanganku, memindahkan tubuhku ke sofa. Sikapnya kelewat sopan. "Maafkan saya," ucap Ruly lirih. "Saya tidak bermaksud...."
Aku mendecak jengkel, meletakkan kemasan jus jeruk ke atas meja di depan sofa. "Kamu menyebalkan. Semalam menyebut nama perempuan lain saat kita melakukannya. Dan sekarang...."
"Maaf," kata Ruly penuh sesal.
Maaf, maaf, maaf, membosankan sekali. Kalau Elvira sungguh pernah pacaran dengan Ruly, aku menebak-nebak berapa kali Ruly mengucap kata itu.
"Orang yang terlalu sering mengucap kata maaf adalah orang yang tidak pernah memperbaiki kesalahannya," ucapku ketus.
Ruly tampak terhenyak. Matanya menerawang seperti ikan asin. "Apa yang harus saya lakukan?"
"Setidaknya tebuslah kesalahanmu," jawabku seraya mengelus lututnya. "Bagaimana?"
Perlahan elusanku naik ke pahanya, sedikit mencakarnya. Dari sana, tanganku beralih ke area yang menggembung, meremasnya dari balik celana bahan.
"Kita bebaskan, biarkan dia mendarat di tempat yang tepat," bisikku seraya menurunkan ritsleting celananya. Desahan pelan lolos dari sela bibirnya ketika jemariku menyusup. Ah, ah, jangan berbohong. Kamu juga menginginkannya. Setahun sudah aku mengekang roh jalang pasca putus dari pacar terakhirku. Pria pasif ini menyalakan saklar penasaranku.
"Stop!" perintah Ruly tegas. Dia menyentakkan tanganku, menatapku tajam. Wajahnya merah padam.
"Kenapa? Kamu bilang mau menebus kesalahan. Semalam aku yang lebih banyak bekerja, tahu. Sudah begitu, kamu mengucapkan nama Elvira saat berada di puncak. Menyebalkan!"
"Elvira memang mantan saya," Ruly mengakui penuh kepahitan. "Dia memilih harta daripada cinta."
Membandingkan Fahri Syahrul dengan Ruly, entah siapa nama panjangnya yang kumal dan menyedihkan ini, jelas siapa pemenangnya. Perempuan sehat mana pun pasti akan memilih pria bergelimang harta. Malang sekali nasibmu, Daeng!
Aku tertawa, meraih tasku yang berada tak jauh. Kukeluarkan dua dompet kosmetik yang biasa kubawa ke mana-mana.
"Kamu tahu ini harganya berapa?" Aku mengeluarkan botol kecil kemasan sepuluh mililiter.
Ruly menggeleng.
"Tebak."
"Sepuluh ribu?" ucapnya.
"Hei, Anda meremehkan penghasilan saya?" aku mencak-mencak. "Ini primer antioksidan made in USA, bukan buatan pedagang pisang ijo Pantai Losari. Harganya empat ratus ribu."
"Rupiah?" tanya Ruly kaget.
"Dollar."
Ruly menganga.
"Nggak kok, bohong. Iya Rupiah." Aku nyengir, melanjutkan membongkar koleksi make up. "Ini tebak berapa harganya?" tanyaku semakin bersemangat menyodorkan tube mungil tiga puluh mililiter.
"Delapan belas ribu?" Ruly berkonsentrasi tak yakin. Ah, tebak-tebak tak berhadiah ini mulai mengasyikkan.
"Salah, Daeng. Satu juta." Ruly mengambil tube itu, membaca tulisan kecil-kecil yang tertera.
"Itu primer juga tapi fungsinya agar wajah kelihatan glowing, shinning, shimmering, splendid." Aku menyanyi ala Putri Jasmine dalam film fantasi Aladdin.
Ruly buru-buru mengembalikannya.
"Baru harga primer saja sudah bikin syok ya. Belum foundation, maskara, dan lain-lain. Hello, cantik itu mahal. Kamu kira bisa menyendoki lumpur gratis dari depan rumah, menjadikannya masker, lalu triiing.... Cantik kayak Ibu peri mengubah Cinderella? Kamu mau punya pacar secantik Elvira, tetapi," aku menelengkan kepala, "ah.... Sudahlah. Nanti kamu semakin terpuruk mendengar kata-kataku."
Ruly tampak terpukul.
❤️❤️❤️
Halo, Widers & Sexy Readers
Maafkan saya karena lupa update minggu lalu. Ada kesibukan di dunia nyata yang harus saya lakukan sampai kadang lupa waktu. 😅
Semoga kalian sehat dan selalu bahagia ya.
30 Jan 2024
Salam,
Widi & BelladonnaTossici9
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top