Last Chapter
"Ini bukan obat yang saya resepkan buat pasien."
Ayah Doyoung meremat kuat bahu putranya begitu mendengar penjelasan dokter yang ada di hadapan mereka. Sedangkan Doyoung berusaha mengatur emosi, ia masih harus mencari tahu penjelasan lebih lanjut tentang obat yang Ibunya beri akhir-akhir ini.
"Sesuai catatan, obat kamu emang saya ganti pas awal masuk kuliah, tapi ke dosis yang lebih rendah karena kondisi kamu membaik. Sedangkan ini bahkan bukan obat untuk penyakit kamu, ini obat sakit kepala tingkat lanjut." Jelas dokter lagi sambil menunjukkan rekam medis Doyoung di layar.
"Selain jantung, sakit apa lagi yang kamu rasain setelah minum obat?"
"Badan saya rasanya susah buat digerakin dan cuma bisa tiduran di ranjang seharian."
Dokter mengangguk paham, itu karena dosis kafein terlalu tinggi yang masuk ke dalam tubuh Doyoung.
"Siapa yang suruh kamu minum ini? Kita bisa tuntut dia karena udah kasih obat yang salah."
Doyoung menoleh ke arah Ayahnya yang ada di sebelah, berusaha bicara lewat tatapan mata. Dan ketika Doyoung menggeleng samar, Ayahnya hanya mengangguk paham.
Ia tidak ingin Ibunya dihukum hanya karena ini.
"Salah satu orang yang kerja di rumah saya, biar nanti saya cari tau dulu penyebabnya." Ucap Ayah Doyoung kemudian.
Mereka akhirnya keluar dari ruangan setelah dokter menjelaskan bahwa jantung Doyoung nyaris sembuh sepenuhnya, yang berarti ia sudah bertemu dengan belahan jiwanya.
Keduanya berjalan lurus ke arah mobil yang diparkir di depan ruang gawat darurat, namun tidak ada satupun dari mereka yang bicara, Doyoung yang tidak tahu harus berbuat apa, dan Ayahnya yang tengah berpikir keras, alasan apa yang membuat istrinya meracuni anaknya sendiri?
"Kamu pulang ke rumah Papa, berangkat ke asrama juga sama Papa. Soal Mama, biar Papa yang urus."
"Mama gak akan masuk penjara kan Pa?"
Pertanyaan Doyoung membuat gerak Ayahnya berhenti, mobil masih berada di tempat parkir, pria paruh baya itu menatap anaknya yang duduk di sebelah.
Ada perasaan bersalah karena membiarkan anak satu-satunya berada di tempat yang tidak seharusnya. Tapi siapa yang mengira bahwa mantan istrinya setega itu untuk membuat Doyoung tersiksa? Ia tahu bahwa mantan istrinya mencintai Doyoung lebih dari apapun yang ada di dunia.
Itu yang membuatnya rela hak asuh anak jatuh ke tangan mantan istrinya, karena Doyoung pasti akan diperlakukan dengan baik, bukan malah sebaliknya.
"Kamu mau Papa laporin Mama?" Tanyanya dengan suara lembut sambil mengusap surai legam anak laki-lakinya.
"Nggak mau." Jawab Doyoung sembari menggeleng pelan. "Gak usah dilaporin Pa, kasian Mama."
Ayah Doyoung tersenyum samar, bahkan setelah apa yang anaknya alami, ia masih berpikir soal orang lain, bukan dirinya sendiri.
"Iya, Papa gak akan laporin Mama. Tapi kamu harus tinggal sama Papa, ya? Mulai hari ini dan seterusnya, gak perlu ambil barang-barang di rumah, biar Papa beliin yang baru."
Dan Doyoung setuju, ia juga takut jika harus berhadapan lagi dengan Ibunya.
"What did you do to my son?" Pertanyaan yang langsung keluar dari mulut Ayah Doyoung begitu panggilan di ponselnya terhubung.
"Doyoung is my son, not yours. Suruh dia pulang sekarang, saya udah bolak-balik rumah kamu tapi semuanya bilang kalau kalian gak ada di sana."
"Dia anakku juga, mulai sekarang Doyoung tinggal sama saya."
"Nggak, Doyoung punya saya."
"Kamu masih mau ngeracunin anak saya dengan obat yang kamu kasih? Harus saya lapor polisi biar kamu gak ganggu anak saya lagi?"
"Saya punya alasan!"
"Apa? Kamu gak rela Doyoung ketemu takdirnya? He's twenty one, udah sepantasnya dia ketemu sama belahan jiwanya."
"No, saya beneran gak bisa hidup tanpa dia."
"Kamu mau Doyoung bernasib sama kayak orang tuanya? Maksa buat nikah sama orang yang bahkan bukan takdirnya dan berakhir seburuk kita?"
Ibu Doyoung diam, semua usaha untuk membuat Doyoung terus berada di sisinya ternyata sia-sia. Ia hanya tidak ingin Doyoung pergi dari hidupnya seperti apa yang Ayahnya lakukan. Doyoung adalah sumber kebahagiaan satu-satunya yang tersisa.
"Saya izinin kamu buat ketemu Doyoung, tapi nanti, nggak sekarang. Anak saya masih takut buat ketemu orang yang hampir ngebunuh dia."
Panggilan mereka berakhir, Doyoung yang sejak tadi menguping dari depan pintu akhirnya berbalik dan kembali ke kamarnya.
Doyoung menghela napas, ia seharusnya lega karena kini dirinya tahu bahwa penyakit sialan itu sudah tidak lagi bersarang di tubuhnya dan Junghwan ternyata adalah belahan jiwanya.
Namun masih ada hal mengganjal di hatinya, ia merasa tidak pantas bahagia di atas penderitaan Ibunya, apalagi setelah tahu alasan yang membuat Ibunya bertindak demikian.
Dirinya masih sibuk berpikir sampai tiba-tiba ponsel yang ada di atas mejanya berdering keras.
Itu Junghwan.
"Keluar dong, aku di depan rumah Papa kamu."
Dengan terburu-buru Doyoung beranjak dari ranjangnya, berlari menuju halaman depan dan tersenyum senang ketika melihat sosok yang begitu ia rindukan.
Tanpa ragu Doyoung berlari untuk memeluk Junghwan, ia hampir menangis begitu menyadari bahwa jantungnya tidak lagi berdegup kuat meskipun tubuhnya dipaksa bekerja lebih keras.
"I love you, I love you so much Junghwan." Ucap Doyoung sambil memeluk erat tubuh yang lebih tinggi.
Junghwan yang masih belum tahu apa-apa hanya membalas pelukan Doyoung dengan sama eratnya, juga menjawab pernyataan cinta dari kekasihnya.
"Kamu gapapa? Gak sakit dadanya? Kan tadi habis lari?" Tanya Junghwan setelah Doyoung melepas pegangan di tubuhnya.
Dan Doyoung menggeleng, ia tersenyum lebar lalu mengecup singkat bibir Junghwan. "Hello, my savior." Ucapnya sebelum kembali memeluk erat tubuh kekasihnya.
***
"Jadi maksud kamu, kita beneran soulmate?" Tanya Junghwan setelah mendengar semua cerita Doyoung.
Laki-laki manis yang ada di sampingnya mengangguk semangat, ia mengangkat kedua kakinya untuk naik ke atas gazebo lalu mengubah posisi untuk duduk menghadap Junghwan. Sebelah tangannya terulur, menarik tangan besar Junghwan untuk diletakkan tepat di depan dada.
"Detaknya udah normal, kan?"
Junghwan mengangguk karena jantung Doyoung memang tidak berdegup sekuat biasanya, "Iya, ini kamu beneran udah sembuh?" Tanyanya lagi, memastikan bahwa ucapan Doyoung bukan bualan.
"Iya Junghwan, aku udah sembuh."
"Tapi kenapa? Mama kamu gak suka sama aku, ya?"
"Bukan gitu, Mama emang belum rela liat aku yang udah ketemu sama soulmateku. She only had me." Jawab Doyoung, berusaha memposisikan diri di pihak Ibunya karena ia tahu bahwa Ibunya memang benar-benar menyayanginya.
Hanya saja caranya yang salah.
"Jadi kamu udah bisa aku ajak balapan?" Ledek Junghwan, padahal motornya baru keluar dari bengkel dan masih betah di parkiran karena Doyoung yang tidak mengizinkan.
"Nggak lah! Nanti kalau kamu mati gimana? Masa aku ditinggal mati belahan jiwaku?" Omel Doyoung sambil memukul kuat lengan kekasihnya.
Dan Junghwan mengaduh karena sumpah demi apapun yang ia punya, pukulan Doyoung terasa jauh lebih menyakitkan dibanding sebelumnya.
"Aduh," Protes Junghwan sambil mengusap lengannya, "Tenaga kamu kenceng banget sih?"
"Tuh kan, berarti bener, aku udah sembuh." Pamer Doyoung sembari menunjukkan otot lengan yang belum terlihat wujudnya.
Junghwan tertawa sebelum ikut menaikkan kedua kakinya ke atas, menarik tubuh Doyoung agar lebih dekat dan menatap sekeliling.
Ia ingin mencium Doyoung namun takut adegan tidak senonoh ini dilihat oleh keluarganya, karena siapa tahu ada cctv yang diletakkan di sekitar mereka?
"Kenapa? Kamu mau cium aku ya?" Tanya Doyoung dengan senyum jahil di wajah.
"Nggak! Kamu jangan kepedean." Sanggah Junghwan.
"Kalau aku yang cium kamu, boleh?" Tawar Doyoung.
"Nggak, nanti diliat sama Papa kamu gimana?"
"Ya gapapa, kan aku udah gede."
Junghwan tertawa, ia lalu menangkup pipi Doyoung dan mencubit kedua sisinya dengan gemas. "Bandel banget, pacar siapa sih ini?"
"Pacar Junghwan! Soulmate Junghwan, takdirnya Junghwan." Jawab Doyoung sambil tersenyum lebar, senyum paling indah karena tidak lagi ada beban di hatinya.
Sebab Junghwan yang tengah duduk di hadapannya ternyata adalah orang yang selama ini ia cari.
Dirinya melepas tangan Junghwan dari wajahnya dan membawanya masuk ke dalam genggaman, sedikit iri saat melihat bagaimana jemari kecilnya tenggelam di dalam telapak besar tangan Junghwan.
"I love you." Ucap Doyoung kemudian.
"Kamu udah ngomong itu belasan kali hari ini."
"I love you I love you I love you I love you I love you I love you, niatnya aku mau bilang I love you terus sampe ribuan kali."
Junghwan ikut tertawa mendengar ucapan konyol kekasihnya, "Iya, I love you too Doyoungie." Jawabnya, kepalanya bergerak maju untuk mengecup pipi Doyoung yang memerah dan berlanjut dengan kecupan-kecupan lembut berikutnya.
Meskipun mereka tahu bahwa ini bukan akhir dari segalanya karena masih banyak hal dan masalah yang menanti. Namun setidaknya mereka akan menghadapinya berdua, tanpa penyakit yang selalu berusaha menghalangi.
...
ya tamat...
seperti biasa aku selalu gak puas sama ending yang aku buat sendiri (maaf) tapi semoga kalian gak berpikiran sama yaa.
ada buku baru setelah ini, hwanbby lagi dan kalian udah tau temanya apa kan? kayaknya bakal aku drop nanti, masih mau cari konflik yang gak terlalu mainstream karena bau baunya bakal mirip sama wgm.
kalau kangen hwanbby, boleh baca buku yang lain dulu ya, dan makasih udah baca savior sampai habis! makasih komentar dan votenya, aku gak absen bacain semua respon kalian.
see you!
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top