7. Awang: Kasihan Manusia
Silakan baca 2. Sammy: Kenangan Manusia terlebih dahulu
__________
Allan marah-marah sejak tadi sebab maha karya yang kami—aku, Allan, dan Bang Sammy—buat kalah pamor dengan video senam bersama iringan lagu Dj Gagak. Padahal ia—Allan—telah bekerja siang-malam hingga lupa makan dan kadang bernapas demi mengejar kesempurnaan serta mungkin dampak luar biasa. Aku dan Bang Sammy juga mencurahkan segenap jiwa raga demi tiga puluh menit video dokumenter mengenai Dusun Kalapa serta budaya Betawi, kekesalan jelas muncul dalam benak, tapi Allan lah yang paling ekspresif.
“Aku sudah susah-susah edit ini-itu, ambil video ini-itu, sampai kena semprot Nyai Murti, bangsat memang,” ia berserapah untuk kesekian kalinya. Bang Sammy yang duduk di sofa sambil memetik gitar hanya cengengesan menonton tingkah kekanakan Allan. Laki-laki dua puluh limaan tahun itu memang misterius dan sulit ditebak pun dimengerti.
“Sabar, kalem Lan, contoh Bang Sam ini loh, santuy,” ucapku mencoba menenangkan. “Tapi memang kalau sudah begini, dokumenter kita jadi tidak punya banyak andil,” lanjutku. Tujuan kami bertiga membuat video dokumenter adalah untuk mengenalkan atau menginfokan mengenai keberadaan Dusun Kalapa dan warisan budaya di dalamnya. Kami berharap penghuni New Batavia menyadari identitas asli mereka setelah menonton dokumenter kami, lalu mungkin mereka akan membantu merealisasikan pemindahan Dusun Kalapa ke New Batavia. Sayang sekali bukan jika seni warisan leluhur hilang ditelan air bah.
“Kalian terlalu tegang, santai saja,” Bang Sammy angkat bicara. Ia masih asik memetik gitarnya serabutan sambil sesekali menggumam. “Itu video yang viral asik juga.”
“Asik apanya Bang!” Allan membentak. Aku terkejut begitu juga Bang Sammy yang menghentikan petikannya. Ia—Bang Sammy—lantas bangkit dari duduk dan tertawa, gitarnya kembali dipetik serampangan sambil menebar senyum ke sana-kemari.
“Sebentar lagi videonya turun, tenang sudah diurus,” ucap Bang Sammy. Aku menanyakan maksud dari kalimat yang baru saja keluar dari mulut Bang Sammy, murni karena rasa ingin tahu. Namun Bang Sammy menolak menjelaskan, ia malah berputar-putar dalam markas—alias ruang tamu di rumahnya sendiri—sambil menyanyikan lagu yang membuat Allan geram. “Entah apa yang merasukimu, hingga kau tega mengkhianatiku, yang tulus mencintaimu.”
“Anjing Bang!” Allan mengonggong. Aku tertawa menonton tingkah ajaib Bang Sammy, ia biasanya sangat tenang dan tidak punya sisi konyol, sungguh.
“Salah apa diriku padamu, hingga kau tega menyakiti aku, kau sia-siakan cintaku.” Allan memukul tembok keras-keras lalu kabur menuju teras. Aku menatap Bang Sammy meminta ia melakukan sesuatu untuk mengendalikan kemarahan serta kejengkelan Allan. Namun Bang Sammy hanya mengedik lalu melanjutkan bicara. “Selera orang memang berbeda-beda, ada yang senang menonton video berbobot seperti dokumenter kita, ada pula yang lebih suka hal-hal lucu seperti lagu tadi.” Aku mengangguk.
“Aku angkat tangan masalah Allan ya Bang, toh aku dari tadi diam saja.”
Bang Sammy cekikikan sebelum melanjutkan. “Ya, ya, menurutmu kenapa orang-orang lebih suka video Dj Gagak?” Aku diam sambil berusaha berpikir, satu-satunya alasan yang muncul dalam kepalaku adalah karena lucu tapi kurasa itu tidak cukup. Aku hendak menjawab dengan selera, tapi Bang Sammy kembali mengutarakan isi pikirannya. “Karena kita semua tidak bahagia, lalu mencari hiburan, sesuatu yang bisa mengundang gelak tawa atau paling tidak membuat kita lupa kalau hidup itu sulit dibawa santai, kita ini sejatinya adalah makhluk sial yang patut dikasihani Wang.”
__________
7. Wajib memasukan lirik lagu (yaitu lah liriknya)
Allan yang kesal dengan kekalahan dokumenter Dusun Kalapa atas video senam beriringan lagu ngak-ngak-ngak
__________
Ah, yaudah, itu aja.
Pandu
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top