6. Asmara: Bukan Manusia

Silakan baca 3. Hardipa: Pertemuan/Perpisahan Manusia terlebih dahulu

__________

Bangsa Tria dan Angullar telah berbenturan selama lebih dari dua ratus tiga puluh satu tahun kalender Nebula. Mereka memperebutkan kekuasaan mutlak atas galaksi spiral berdiameter enam puluh ribu tahun cahaya tidak jauh dari Milky Way, Galaksi Kerdil Triangulum. Aku termasuk dalam ras Tria yang kurang beruntung, sebab lahir setelah sembilan puluh lima persen Triangulum dikuasai oleh Angullar. Tentu aku dan saudara-saudaraku—termasuk seluruh bangsa Tria—harus berjuang setengah mampus agar tidak tertangkap atau terbunuh.

Kami—ras Tria—telah menyerah dan memasrahkan diri kepada Angullar, tapi mereka tetap setia menghujani kapal induk Tria dengan berbagai sinar warna-warni. Makhluk-makhluk non sentient berbentuk setengah reptil turut diseludupkan ke dalam kapal induk bersama beberapa Angullar yang bertugas sebagai pawang, atau pemberi komando. Aku bersama lima Tria lain termasuk Kak Kiel berlarian sepanjang lorong, berusaha meloloskan diri dari kejaran Reptien—sebutan untuk reptil non sentient ciptaan bangsa Angullar. Sesekali Kak Kiel menembaki mereka yang berusaha mendekat, sesekali Tria gembul di belakangku menendang dan memukuli beberapa yang persisten.

Satu yang memimpin dan membuka jalan mengayunkan pedang laser ke sana-kemari menghalau pertahanan kapal induk yang rusak dan terkadang menyerang penghuninya sendiri. “Ke sini,” ia—si pembuka jalan—berteriak sambil menarikku masuk ke dalam gudang bahan makanan. Kak Kiel dan Tria yang gembul mengikuti lalu si pembuka jalan menutup kembali pintu besi sebelum para Reptien menyerbu masuk. Salah satu yang gigih telah berhasil menjulurkan lidahnya ke dalam, tapi terputus saat pintu besi tertutup sempurna.

“Oh ya ampun, menjijikan,” si gembul berkomentar. Aku memilih bersandar dan mendudukkan diri sambil mengatur napas serta degup jantung. Sejujurnya aku tidak menyangka akan lolos dari kejaran segerombol Reptien, terlebih kami berlima masih remaja dan tidak terlatih.

“Apa kamu terluka?” Kak Kiel bertanya. Ia mendekat lalu menggeledah tubuhku yang tiga senti lebih pendek.

“Aku baik-baik saja, lagipula ada yang lebih mendesak daripada kondisi tubuhku.” Si gembul dan si pembuka jalan mengangguk bersamaan sedang Kak Kiel mengembus kasar. “Kita harus mengabarkan Tetua tentang peledak itu sebelum semuanya terlambat.” Kami secara kebetulan mendengar percakapan antara para Angullar yang menjadi pawang Reptien saat sembunyi. Mereka telah menanamkan peledak di sayap-sayap dan bagian bawah kapal induk. “Tria-Tria dewasa akan mengurus peledaknya jika saja mereka tahu,” pungkasku.

“Tapi segerombol Reptien menjijikan menunggu di depan pintu dan gudang ini tertutup,” si gembul berpikiran pesimis.

“Pun kalau kita berhasil mengabarkan Tetua tentang peledak itu, apa Tria-Tria dewasa mampu mengurusnya? Sementara Angullar terus menyusup masuk dan menyerang dengan membabi-buta seperti itu?” Kak Kiel menanyakan sesuatu yang sulit. “Aku berpikir bahwa, cepat atau lambat kita akan mati dibunuh oleh Angullar, mereka tidak suka dengan kita, itu saja, karena itu mereka tetap menyerang meski kita telah menyerah.” Tanpa disangka, si pembuka jalan mulai meneteskan air mata, ia meracau setelahnya mengatakan tidak ingin mati dan merindukan keluarganya.

Kami ini hanya lima Tria muda yang kebingungan dan hampir kehabisan harapan.  Si gembul menyusur gudang, mencari celah yang munkin bisa dilewati, sesuatu seperti saluran angin atau pembuangan. Sementara Kak Kiel menenangkan si pembuka jalan yang masih sesengukan. Aku diam, memikirkan masa depan menakjubkan dan menyenangkan, sebuah momen yang mungkin tidak akan hadir dalam kehidupan para Tria malang seperti kami—aku, Kak Kiel, si gembul, dan si pembuka jalan.

“Hey, ada saluran pengantar barang di sana, tapi aku terlalu besar, kalian ingin mencoba?” si gembul memberi harapan. Sebagai Tria dengan postur paling mungil aku mengajukan diri untuk pergi, mungkin mencari bantuan, atau menghentikan prosesi pemusnahan bangsa Tria oleh Angullar.

“Hati-hati,” Kak Kiel berpesan sambil menghadiahi senapan laser. “Untuk jaga-jaga, aku punya dua.” Aku mengangguk lalu memeluk Kak Kiel sebelum merangkak masuk ke dalam saluran barang. Semakin jauh, cahaya mulai hilang, membutakan aku dan indraku, tidak tahu arah, tidak pula tujuan, aku hanya merangkak terus hingga.

“Seseorang berada di saluran!” Suara-suara bersautan terdengar dari berbagai sisi. “Siapa? Reptien?” Suara lainnya terdengar. “Tidak terlalu kecil, ini seperti mungkinkah!” Aku disambut dengan cahaya dan senyum sumringah dari belasan Tria dewasa. “Ya ampun nona kecil, kamu sangat hebat dan beruntung,” salah satu yang paling tinggi memuji. Aku berusaha menjelaskan mengenai keberadaan peledak dalam kapal induk serta empat Tria kecil yang membutuhkan bantuan.

“Tenang, kami yang akan mengurus semuanya, tapi sebaiknya kamu naik ke dalam pod terlebih dahulu,” Tria dewasa tinggi memeberi janji. “Kami akan menyelamatkan teman-teman kecilmu, jadi kamu tidak perlu cemas.” Lanjutnya sambil memamerkan senjata. Aku mengangguk dan menurut, memasuki pod dan tertidur untuk … entah berapa lama.

Aku terbangun di tempat yang asing dan berbau harum seperti kuncup bunga Matria yang hanya hidup di planet utama bangsa Tria. Seseorang yang berambut panjang dan kemerahan menyambutku dengan sayu. “Oh, bangun juga, kupikir kamu sudah mati.” Aku yakin ia bicara dengan bahasa asing tapi entah bagaimana aku mengerti apa yang ia ucapkan. “Kalau begitu selamat.” Aku terkejut saat sadar bahwa sosoknya sangat mirip denganku, kami seperti sepasang kembar.

“Siapa? Di mana?” tanyaku berusaha bangkit dari tidur.

“Di Bumi, lebih tepatnya di Pittsburgh. Kota yang gila dan penuh kegilaan. Aku Asmara, tapi tidak lama lagi nama itu akan menjadi milikmu. Karena aku telah ….”

“Aku tidak mengerti,” potongku.

“Aku telah menyelamatkanmu dasar makhluk asing tidak tahu terima kasih, kamu berhutang nyawa padaku, jadi sekarang kamu adalah Asmara dan aku adalah alien.”

“Aku Asmara?” tanyaku memastikan.

“Ya, kamu Asmara, putri tertua dari pasangan gila yang melakukan bunuh diri di dekat balai kota Pittsburgh setahun lalu. Duh, aku tidak punya banyak waktu, jadwal kaburku sangat padat, intinya mulai hari ini kamu adalah Asmara.”

Makhluk yang menyelamatkanku pergi setelahnya dan tidak pernah kembali lagi, lalu aku terpaksa hidup di Bumi sebagai manusia bernama Asmara. Aku terus berusaha untuk mencari kabar mengenai bangsa Tria dan kawan-kawanku, tapi hingga salju pertama tidak lagi turun di daratan Pittsburgh hasilnya nihil. 







__________

6. Space Opera

Perseteruan bangsa Tria dengan Angullar dalam memperebutkan galaksi Triangulum, berakhir dengan ketidakpastian dan terlemparnya gadis bangsa Tria ke Bumi.

Ketika kamu sendiri teteup enggak paham bedanya space opera sama sci-fi selain space opera settingnya di luwar angkasa, padahal udah riset sana-sini.

__________

Sudah itu saja, semoga sejalan dengan tema. Saya lagi gobl//bodoh, memang pernah pintar? lol

Pandu

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top