28. Hardipa: Pertanyaan Manusia
Aku menghubungi Allena kemarin dan memintanya memperkenalkanku dengan wanita yang ia ajak ke peragaan hamster ball Malachi. Ia Amara, dan ia bersedia untuk bertemu denganku siang ini di Pupet. Sebenarnya aku tidak ingin mengadakan reuni keluarga di laboratorium atau bengkel Pupet, tapi pekerjaan-pekerjaan rumah yang aku miliki benar-benar sangat mendesak. Kekurangan dalam sistem pertahanan para humanoid dan kabar mengenai hilangnya Satu. Ya, aku belum membuat laporan mengenai entah apa yang menimpa Satu hingga ia kabur dari rumah saudara asuhnya, atau mungkin saja diculik. Aku akan mengurus itu nanti, toh hal terpenting saat ini adalah membenahkan penampilanku, menyiapkan suguhan, dan menenangkan jantung untuk kemungkinan-kemungkinan terbaik, seperti Asmara yang Allena kenal adalah Kak Asmara yang aku kenal.
Pukul dua lebih dua puluh Allena dan Asmara memasuki gedung Pupet. Aku menyambutnya di depan laboratorium dan mengajak mereka bersantai di ruang sepuluh kali sepuluh—tempat yang dulu digunakan untuk mengamati interaksi antar humanoid. "Ah, Allena, bagaimana kondisi Sembilan?" Aku berbasa-basi dengan Allena sementara Asmara sibuk mengagumi desain ruangan yang futuristik.
"Sembilan baik-baik saja, ia menggemaskan, Allan bahkan senang berinteraksi dengan robot itu, maksudku Sembilan."
"Baguslah jika begitu, jadi Nona Asmara," wanita yang sangat mirip dan bahkan memiliki nama yang sama dengan kakak perempuanku menoleh. Ia menatapku dengan tepat dan akurat menggunakan bilah yang tajam lagi mempesona, persisi seperti milik Kak Asmara.
"Ya, Allena bilang anda ingin bertemu dengan saya, apakah kita pernah bertemu sebelumnya Tuan ...," ia menjeda seolah tidak mengetahu namaku. Allena menyikut lengan Asmara lalu membisikkan namaku dengan malu-malu. "Hardipa, saya Asmara."
"Ya, aku, maksudku saya merasa kita pernah bertemu sebelumnya, bahkan saling mengenal dan memiliki hubungan yang cukup baik." Asmara nampak kebingungan, ia menoleh ke kanan-kekiri sambil tersenyum kikuk. "Apakah anda tidak mengenali saya?"
"Maaf saya benar-benar tidak ingat, mungkin kita bertemu sebelum insiden naas yang menipa saya dulu, saya sedikit ... um ... kebingungan dan kehilangan ingatan sejak saat itu?"
"Benarkah, apa saya boleh tahu insiden apa yang terjadi, jika anda tidak keberatan." Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal sambil berharap Asmara di hadapanku benar-benar Kak Asmara yang mungkin mengalami benturan keras di kepala dan kehilangan sebagian ingatan. Termasuk ingatan tentangku, "ah, apa anda mengingat sesuatu tentang salju dan Pittsburg?"
"Saya rasa saya pernah tinggal di sana, tapi ...," Asmara tidak berhasil menamatkan kalimatnya sebab pintu ruang sepuluh kali sepuluh didobrak dengan tiba-tiba. Delphi melenggang masuk bersama kekasihnya yang diperban di sana-sini. Aku berdiri dengan wajah masam dan berkacak pinggang. Bagus sekali Delphi, berkatmu obrola pentingku dengan Asmara terhenti dengan sangat absurd.
"Aku butuh bantuanmu Dip." Delphi memohon sambil berlari kecil ke arahku lalu menggenggam kedua tanganku. Kekasihnya yang sibuk dengan beberapa map di tangan hanya menatap tidak suka dari kejauhan.
"Apa? Waktunya tidak tepat, aku akan membantumu nanti oke Del."
"Tidak bisa, kita harus memecahkan kode ini sebelum New Batavia dihancurkan seperti Jakarta!" Delphi memaksa sambil berbisik.
"Apa maksudnya? Aku benar-benar sedang dalam situasi genting, aku akan membantumu nanti."
"Kondisiku lebih genting, Sam!" Kekasih Delphi mendekat lantas menata beberapa lembar dokumen di atas meja. Ia juga menyingkirkan suguhan yang sudah kusiapkan sejak tadi untuk Asmara dan Allena.
"Aku akan menjelaskan secara singkat dan aku yakin orang pintar sepertimu akan cepat paham," kekasih Delphi angkat bicara. Aku mengalah dan membiarkan Delphi memaksaku duduk kembali sambil menyimak dokumen-dokumen yang tercecar di atas meja. "Alat ini disebut sebagai pengendali jarak jauh, ia membuat manusia bisa mengendalikan seluruh alat elektronik dalam radius enam ratus kilometer hanya dengan pikiran, atau lebih tepatnya gelombang otak." Ia bicara dengan tampang super serius.
"Pertama ia berfungsi sebagai mesin penerjemah ia menangkap apa-apa yang dipancarkan oleh otak pemiliknya lalu mengubahnya menjadi gelombang magnetik dengan berbagai informasi yang tidak berhasil aku pelajari lebih lanjut." Anak ini gila! Benda seperti itu hanya ada di novel-novel fiksi ilmiah atau film-film saja. Gelombang otak terlalu rumit untuk diterjemahkan oleh seonggok benda silindris berdiameter kurang dari satu setengah senti. "Benda ini telah menenggelamkan Jakarta sepuluh tahun silam."
Asmara mengambil selembar yang berisi ilustrasi fisik, bilahnya yang cokelat membulat dan bibirnya terbuka sedikit. "Dari mana kamu mendapatkan ini?" ia—Asmara—bertanya.
"Delphi yang menemukannya di pekarangan rumah saat ia masih berumur lima belas tahun, ibu angkat Delphi dan ayahku lalu mempelajari alat itu. Setelah itu tepat sepuluh tahun lalu aku dimanfaatkan untuk melakukan uji coba, dampaknya adalah meledaknya hampir seluruh peralatan elektronik di Jakarta, termasuk peralatan vital yang menjaga aliran air dalam gorong-gorong dan tinggi tanggul." Kekasih Delphi memberi jawaban panjang lebar. "Kita harus merebut benda itu dari ayahku, fenomena Jakarta yang semakin tenggelam sejak kemarin adalah akibat dari penggunaan benda itu, alat-alat yang tersisa dalam reruntuhan telah diledakan dan menyebabkan daratan Jakarta semakin turun."
"Sayangnya, benda itu disembunyikan dan hanya pesan ini yang mampu dijadikan petunjuk." Aku menggeleng lalu menatap Delphi dengan tampag tidak percaya. "Ini adalah catatan yang Ayah Sammy tinggalkan," lanjut Delphi sambil menyerahkan salinan dari tulisan tangan yang untungnya mudah dibaca.
Tidak perlu dicari, ia telah berada dekat dengan jantungmu, mendengar deru dari aliran darahmu dan menyatu dengan setelan-setelanmu, ia telah bermetamorfosis menjadi lebih indah dan lebih berguna dari kupu-kupu, dibalut bola emas dan ujung permata, dilingkup selaput graphene pekat hitam dan dipenuhi oleh kegelapan, ia mampu menyinari dan bahkan memperi petunjuk, ia bisa menjadi senjata paling ampuh dengan pengorbanan terkecil, ayunkan satu-dua kali lalu mereka akan jatuh di bawah telapak kakimu.
"Oh apa ayahmu sedang membicarakan pena-nya? Ah, tidak ada yang menggunakan pena di jaman sekarang, itu pasti ballpoint mewah bermerek yang mengkilap dengan tambahan sinar laser, ah, ujung penanya bahkan dibuat dari permata, pasti mahal sekali," jawabku sekenanya.
"Dip! Kamu jenius!" Delphi berteriak.
__________
28. Riddle tentang ballpoint
Saya bahkan enggak paham ini nulis apa, udah lah
__________
Pandu
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top