2. Sammy: Kenangan Manusia


Reruntuhan gedung dan atap-atap bangunan yang mengintip dari balik air bah menjadi bukti kekalahan umat manusia, terutama mereka—atau mungkin kami—yang bertempat tinggal di Jakarta, Nusantara sepuluh tahun silam. Lantas, alih-alih memperbaiki mereka—atau mungkin kami—kabur tunggang-langgang, bergeser ke timur dan dengan serakah mengklaim daratan seluas delapan ratus kilometer persegi sebagai New Batavia. Tidak ada yang mengecam, sebab seluruh rakyat Nusantara pandai serta mengerti bahwa pusat ekonomi baru harus segera dibangun kembali.

“Bang Sammy, ini ke kanan atau ke kiri?” Allan bertanya dari ujung sampan sambil menatap melalui binokulernya. Aku mengedik, membiarkan ia dan Awang yang bertugas mendayung kebingungan tidak tahu arah. “Aih Bang, nanti kita tersesat!”

“Cap-cip-cup saja Lan,” Awang memberi solusi. “Memang dusunnya belum kelihatan ya?”

“Masa cap-cip-cup, kamu pikir ini pilihan ganda.” Protes Allan sambil tetap menerawang mencari keberadaan segerombol bangunan panggung.

“Pantas nilaimu jelek Lan.” Aku terkekeh mengamati interaksi Allan-Awang. Keduanya belum genap dua puluh tahun, masih muda, masih penuh semangat serta gurauan.  

“Ke kanan,” aku mengalah. Awang mengatur laju sampan dan kami berbelok menuju Dusun Kalapa yang menjadi tujuan. Tempat itu dibangun di timur Jakarta yang dulunya tidak terendam banjir oleh para pegiat seni dan budaya. Namun penurunan muka daratan dan kenaikan air laut perlahan menghantui hingga akhirnya menelan bulat-bulat. Sebagian penduduknya telah menyerah dan berpindah, sisanya tetap gigih untuk melestarikan kenangan-kenangan sambil bernostalgia.

Aku lebih dari sekedar mampu untuk menjelaskan mengenai tragedi tenggelamnya Jakarta serta hubungannya dengan rongsokan-rongsokan yang kini disebut sebagai humanoid. Namun waktunya tidak tepat, aku tidak ingin menemui warga Dusun Kalapa sebagai pemuda dua puluh lima tahun yang cengeng dan sentimental.

“Akhirnya nampak juga.” Awang terdengar senang, sementara Allan memuji-muji kemampuan navigasinya. Segerombol bangunan panggung khas suku Betawi Nusantara dengan jalanan sempit yang mengapung-apung terpampang jelas di hadapan mata. Awang sibuk menambatkan sampan ke tiang-tiang di ujung setapak, sementara Allan membereskan barang-barang yang hendak kami bawa. Aku turun terakhir sambil menenteng sekardus kecil dokumen penting, menginjak lempengan aerofiberglass yang mengapung berderetan dan terikat dengan tiang-tiang pancak berbahan graphene.

“Lama sekali Bang Sammy, Bapak kira tidak jadi datang,” Pak Kus selaku yang dituakan di kawasan Dusun Kalapa menyambut meriah. Aku berbasa-basi dengan Pak Kus, menceritakan pertengkaran kecil antara Allan dengan Awang perihal arah menuju Dusun Kalapa. Sementara Allan dan Awang melakukan serah terima atas obat-obatan dan peralatan tukang yang kami bawa.

Kami—aku, Allan, dan Awang—digiring setelahnya, menuju kediaman Pak Kus yang hanya berjarak tiga rumah dari ujung setapak apung. Sepanjang perjalanan orang-orang tua melambai dari pagar-pagar teras. Sementara yang sedikit lebih muda berdiri di antara balaksuji—tangga depan rumah panggung—dan memberi jabatan tangan. Muka air memang sedang rendah hingga tangga-tangga yang biasanya terendam sebagian hampir terlihat penuh.

Aku masuk dan duduk di ruang tamu bersama Allan, sementara Awang memilih tidur-tiduran di teras, tepatnya di atas tapang sambil menikmati semilir angin dan lantunan lagu-lagu lawas dari bibir Nyai Murti—tetangga Pak Kus. Istri Pak Kus yang awet muda dan lembut seperti Mama datang kemudian, bersama cangkir-cangkir berisi teh herbal, sepiring kue geplak, dan setoples kembang goyang.

“Jadi bagaimana perkembangannya Sam?” tanya Pak Kus. Allan sigap membongkar kardus berisi dokumen dan menyerahkan beberapa lembar kepada Pak Kus.

“Pemindahan Dusun Kalapa ke New Batavia sebenarnya sudah disetujui oleh Gubernur secara langsung, namun untuk area yang tepat masih diperdebatkan, beberapa alternatif yang sempat saya dan teman-teman usulkan ditolak oleh ahli tata kota dan orang-orang perwakilan Pupet, memang sulit karena imej New Batavia saat ini sebagai pusat pengembangan teknologi,” jelasku panjang lebar.

 “Sebenarnya saya sudah menduga, orang-orang yang dulunya tinggal di Jakarta pasti lebih ingin menghapus kenangan-kenangan mengenai tempat tinggalnya dulu termasuk kebudayaan yang sejatinya mengalir dalam tubuh mereka, tragedi sepuluh tahun silam memang tidak mudah dilupakan,” Pak Kus menanggapi. “Lagipula Dusun Kalapa yang berisikan rumah-rumah panggung pasti membutuhkan lahan yang luas, sementara saat ini pembangunan di New Batavia telah mencapai puncak, seluruhnya menjulang ke atas.” Aku tidak merespon sedang Allan mengangguk pelan.

“Tapi ada alternatif lain Pak, provinsi sebelah sepertinya tertarik untuk meletakkan Dusun Kalapa di salah satu lahan kosong miliknya,” sergah Allan. Pak Kus mengangguk lalu mengambil sepotong kue geplak dari piring.

“Tenang saja Pak, saya yakin Dusun Kalapa dapat dipindahkan,” lanjutku. Sebenarnya tidak, tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk mengatakan bahwa New Batavia menolak para pegiat seni budaya dan relokasi Dusun Kalapa. Sebab mereka—penghuni New Batavia—telah bertekad untuk kabur, melupakan, dan meninggalkan kampung halamannya.    









__________

2. Artikel pilihan Wikipedia tanggal 2 November 2019: rumah panggung

Pemindahan Dusun Kalapa yang dihuni seniman Betawi ke New Batavia mengalami kendala karena keterbatasan lahan untuk rumah-rumah panggung dan imej New Batavia.

__________

Anggap saja seirama dengan artikel pilihan Wikipedia.

Lucky-nya latar tempat yang saya usung alias New Batavia punya hubungan dengan Jakarta, jadi enggak pusing-pusing amad—meski tetap pusing—masukin rumah panggung yang kata Wikipedia—ensiklopedi seribu umad—bagian dari kebudayaan Betawi.

Pandu

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top