23 | Ad Meloria
Penyihir Agung.
Kalimat itu terus terlintas di kepala Shanks sejak semalam. Membuatnya tidak bisa tidur dan menghawatirkan kondisi putrinya bungsunya.
Dari yang Shanks tahu, Nerina adalah keturunan dari sekian ratus penyihir agung yang berhasil kabur dan selamat dari jeratan pemerintah. Wanita itu sejak kecil hidup dalam pelarian, menyamar menyembunyikan wajah dan fisiknya dari semua orang yang dia temui. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Shanks.
Pria itu melindunginya, membuatnya nyaman dan mau menunjukkan fisik aslinya yang begitu sempurna. Shanks tidak pernah menyangka jika perpaduan perak akan pas dengan biru laut. Nerina begitu sempurna di matanya. Dia seperti permata di dasar laut.
Dari Nerina, Shanks pun tahu bahwa terdapat banyak penyihir yang tersebar di dunia. Namun di antara semua penyihir, penyihir agung lah yang paling dicari oleh pemerintah. Sejak dulu, Celestial Dragon menggunakan kemampuan penyihir agung untuk mengabulkan banyak permintaan. Itulah salah satu alasan besar mengapa ada legenda mengatakan jika kaum penghuni dataran Red Line adalah orang-orang suci yang setara dengan Tuhan. Mereka dipercaya memiliki kekuatan ilahi, yang pada kenyataannya itu semua mereka dapatkan dari penyihir agung.
Shanks tidak tahu pasti apa perbedaan antara penyihir biasa dengan penyihir agung. Nerina tidak terlalu menjelaskannya dengan gamblang. Yang pasti Mana yang mereka miliki lebih banyak, membuat mereka mudah meregenerasi dan sulit untuk mati. Entah apa yang terjadi oleh Thalassa sampai para agen pemerintah bisa mengetahui siapa dia sebenarnya.
“Jika salah satu cirinya yang tidak mudah mati, seharusnya penduduk pulau Deer sudah lebih dulu melaporkannya kepada pemerintah. Belum lagi salah satu julukannya yang mengatakan jika dia adalah anak seorang penyihir!”
Shanks duduk menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Menunggu respon apa yang akan diberikan oleh wakilnya itu.
“Kurasa pemahaman mereka dan lokasi pulau Deer yang terisolasi menjadi faktornya. Mereka hanya tahu salah satu ciri penyihir adalah seseorang yang memiliki tanda lahir bulan sabit di punggungnya. Tidak lebih.”
“...”
“Nerina bukan wanita yang bodoh. Dia ahli dalam bersembunyi. Mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa dia tinggal di sana, Shanks.”
Shanks menghela napas kasar. “Sial. Andai aku datang lebih cepat,” gumamnya. “Mereka telah melapor pada petingginya jika penyihir agung masih hidup dan berlayar bersama kita.”
Kini gantian, Benn yang terdiam. Dia tidak menyangka situasinya akan rumit seperti ini.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Shanks putus asa.
“Kau tidak ingin mencoba meminta bantuan pada pria itu?” usul Benn.
Sang kapten tertawa sarkas. Dia tahu siapa yang Benn maksud. “Sudah cukup aku merepotkannya. Aku tidak ingin menumpuk hutang budi.”
“Lalu kita harus apa? Membawanya terus berlayar bersama kita? Dia akan terus dikejar, Shanks!”
“Bukankah, hidup kita nyatanya adalah pelarian? Tidak ada bajak laut yang tidak dikejar oleh aparat, Benn!”
Benn lagi-lagi terdiam. Pria itu mengurut keningnya sejenak. “Sejak semalam aku memikirkan sesuatu.”
Shanks menaikkan salah satu alisnya.
“Aku punya kenalan seorang guru. Dia mengajar di sekolah asrama perempuan yang cukup terkenal di pulau Terracotta, West Blue.”
Shanks terdiam menatap wakilnya dengan tatapan menilai. Seketika otaknya berputar dengan cepat. “Dan kau berpikir aku akan tega membuang putriku di sana? Apa kau gila?!” tanyanya tiba-tiba tersulut emosi.
“Aku tidak bilang kau harus membuangnya. Kita hanya perlu menyembunyikannya.”
“Tch! Kita bisa menyembunyikannya tanpa meninggalkannya. Aku sudah terpisah dengannya bertahun-tahun, dan aku tidak ingin itu terulang lagi!”
“Shanks, dengarkan aku dulu. Aku paham apa yang kau rasakan!” sanggah Benn. “Keamanannya akan terancam jika dia tetap bersama kita. Mungkin sekarang Angkatan Laut sedang melacak keberadaan kita hanya untuk menangkap gadis itu!”
“...”
“Hanya 6 bulan sampai setahun. Kita akan mengelabui pemerintah dan Angkatan Laut jika penyihir agung yang mereka kira sudah tidak lagi bersama kita. Setelahnya kita akan kembali menjemput Thalassa. Masalah selesai!”
“Itu terlalu mudah untuk diucapkan, Benn! Bagaimana jika pihak sekolah mengetahui tentang Thalassa dan garis keturunannya?”
“Kenalanku akan bertanggung jawab soal itu. Aku akan pastikan dia menjaga rahasianya.”
Shanks berdecak, mengusap wajahnya dengan kasar. “Kau semakin membuat kepalaku pusing, sialan!”
Benn juga ikutan berdecak. Shanks terkadang suka keras kepala. “Jika menurutmu itu ide buruk. Bagaimana jika menitipkan saja Thalassa pada kakek—”
“Tidak akan aku biarkan itu terjadi!” potong Shanks seraya menggebrak meja kerjanya. “Dia mungkin kakeknya, tapi aku tidak sudi membiarkannya bertemu apalagi membawanya!”
Pria berambut hitam panjang itu lagi-lagi berdecak. “Baiklah. Sekarang apa pilihanmu? Saranku yang tadi itu sudah paling masuk akal!”
Shanks memejamkan matanya. Ini terlalu berat untuk dia putuskan. Dia tidak ingin berpisah lagi dengan Thalassa. Tapi di sisi lain, jika gadis itu tetap bersamanya maka keselamatannya tidak akan bisa terjamin. “Suruh Snake dan yang lain untuk putar haluan. Kita ke West Blue.”
* * *
Thalassa tidak begitu ingat apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Yang dia ingat, rasa takutnya memuncak karena teringat kejadian di mana lehernya tertusuk dan nyaris mati karena menahan rasa sakit luar biasa. Yang jelas dia merasa ada sesuatu yang aneh di tubuhnya. Sama seperti saat dia tenggelam, energi sihir seperti menyelimuti tubuhnya dan apa yang dia lakukan sepenuhnya berada di bawah alam sadarnya.
Tapi anehnya, Shanks maupun yang lain tidak pernah mengungkit hal tersebut. Sekedar menanyakan padanya apa yang terjadi pun tidak. Thalassa jadi sungkan untuk bertanya langsung.
“Thalassa.”
Thalassa baru saja keluar dari ruang makan selepas membantu Roo mengupas kulit jeruk, dia langsung berpapasan dengan Shanks di dek kapal. Gadis itu tersenyum dan menghampiri pria itu.
Shanks sedikit membungkuk untuk menerima pelukan gadis itu, tak lupa memberikan kecupan kecil di pipinya. “Kau sibuk?” tanyanya.
Gadis itu menggeleng. “Tidak. Ada apa?”
“Ada yang ingin Papa bicarakan padamu. Kemarilah,” ajak Shanks, menarik Thalassa untuk duduk lesehan di dekat pagar pembatas.
Thalassa menatap ke bawah laut. Melihat buih-buih yang bermunculan bersamaan dengan pergerakan kapal. Shanks mengelus kepalanya dengan lembut, lalu berkata. “Kita sekarang sudah berada di West Blue.”
Gadis itu diam menunggu kelanjutannya.
Shanks menarik napas dalam-dalam. “Aku mengkhawatirkan keselamatanmu sejak kejadian waktu itu, Thalassa.”
Dari ekspresi yang diberikan oleh pria itu, Thalassa bisa menebak jika kejadian 3 bulan yang lalu tidak bisa dilupakan begitu saja. Bahkan gadis itu saja tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bagaimana energi sihir sebesar itu bisa dia dapatkan dalam waktu yang singkat.
“Ibumu adalah salah satu keturunan penyihir agung yang paling dicari oleh pemerintah. Dan kau pun mungkin akan mewarisi 100% kemampuannya.” Shanks menarik tubuh Thalassa agar duduk berhadapan dengannya. Ditatap iris biru laut tersebut lekat-lekat. “Apapun yang terjadi, maukah kau percaya pada Papa, Thalassa?”
Jujur, Thalassa tidak mengerti apa yang dimaksud oleh papanya itu. “Apa maksud Papa? Aku tidak mengerti.”
“Mereka sekarang tahu keberadaanmu, Thalassa. Kekuatanmu kemarin berhasil menarik perhatian mereka untuk menangkapmu.”
“...”
“Papa dan Benn berencana untuk sementara waktu menyembunyikan dirimu di salah satu sekolah asrama. Di sana, ada salah satu kenalan Benn. Kau aman di sana hingga Papa memastikan mereka tidak lagi mencarimu—”
Kalimat Shanks terpotong oleh Thalassa. “Kalian akan meninggalkanku?”
“Tidak!” Shanks langsung mengelak. Namun beberapa detik kemudian dia menghela napasnya. Ini pasti terlalu berat untuk gadis itu terima. “Maksudku, untuk sementara waktu kau harus bersembunyi. Jauh dari kami. Karena jika kau tetap bersama kami, itu akan sangat berbahaya bagimu.”
Thalassa terdiam. Gadis itu juga sama-sama menatap pria itu lekat-lekat. “Kenapa ... Kenapa aku?”
Shanks memilih untuk memeluknya. Dia tidak sanggup melihat gadis itu menangis. “Karena aku menyayangimu. Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Tolong percaya padaku.”
Tangis gadis itu akhirnya pecah. Dia terisak di dada Shanks dalam diam. Hingga beberapa menit kemudian akhirnya dia kembali tenang. “Berapa lama?”
“Paling lama setahun. Setelah kami memastikan pemerintah atau Angkatan Laut berhenti mencurigai bajak laut Akagami, aku akan datang kembali untuk menjemputmu.”
“Kau berjanji?” tanya Thalassa memastikan.
Shanks mengecup keningnya. “Tentu saja. Aku janji.”
* * *
Note:
Ad Meloria (latin) I believe.
Terima kasih sudah mau membaca. Jangan lupa tinggalkan jejak.
Sincerely, Nanda.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top