1‿fight! Ruby
.
.
Pekikan kagum menjelajah seluruh area studio. Gadis surai dark brown bergaya dengan ceria, segala macam pose terus menerus si gadis peragakan mengikuti arahan sang fotografer di hadapan yang terus menerus memotretnya.
"Ruby, tersenyumlah lebih lebar!" Perintah dari fotografer dibalas dengan senyum yang kian merekah di bibir red pinky's itu. Jemari yang sedari tadi memamerkan sebuah produk lipstik jua terus melentik, meminta agar atensi tetap tertuju pada apa yang ingin dipamerkan.
...
"Terima kasih atas kerja kerasnya Ruby!"
"Terima kasih juga untuk kalian!"
Ruby, si gadis belia, model yang tengah naik daun. Ia tersenyum ramah, ber 'ojigi dengan santun yang kemudian berlalu keluar dari studio pemotretan.
Helaan napas meluncur tatkala tubuh relaks di dalam lift yang kini mulai turun, gadis lain yang berada di samping Ruby menggelengkan kepala pelan dengan mata yang berotasi jengah. "Kalau kau tidak nyaman harusnya tidak perlu berusaha sekeras itu, Ruby."
Ruby hanya dapat mengulaskan senyum sebagai respon, senyumnya agak terkesan dipaksakan namun tetap nampak tulus jika dilihat sekilas.
"Neesan tahu sendirikan kalau aku perlu banyak uang." Jawaban Ruby membuat gadis yang dipanggil Neesan---manajer Ruby menghela napas kasar sembari atensi tertuju dengan tajam ke arah gadis surai dark brown tersebut.
"Ceh, mintalah pada kekasihmu, bukannya dia orang kaya?" Ruby bereaksi dengan mata yang tertuju tajam pada Neesan nya itu. Kesal.
"Kekasih yang mana? Aku mana punya kekasih, Neesan!" Ruby agak menghentakkan kakinya tak terima.
"Halah, lalu si Kenken itu siapa kalau bukan kekasih?" cibir Neesan. Decakan tak bersahabat terdengar dari si model. Sedang si gadis manajer menghela napas, meskipun ia tahu jika Ruby memang tidaklah mempuanyai kekasih tapi entahlah ... kedekatan kedua adam--hawa itu begitu menggemaskan menurut ia, dan tanpa sadar membuatnya mendorong Ruby untuk membuat sebuah status bersama pemuda tersebut.
ユエ
Musik jazz mengalun dengan lembut di tengah suasana ramai pengunjung restoran. Pipet yang berada dalam gelas jus terus Ruby goyangkan tanpa ada niat meminum. Suasana agak canggung, apalagi dengan tatapan-tatapan menelisik dari pengunjung lain yang berlalu lalang dan duduk tak jauh dari meja pesanan Ruby dan Kenma.
"Cukup jangan hiraukan saja, bisa?" tanya Kenma. Pemuda itu menyuapkan sepotong daging bakso ke dalam mulut, dengan tatapan fokus pada ponsel yang kini nampak sibuk.
"Tidak semudah yang kau katakan Kenma, aku tidak terbiasa dengan ini."
Beginilah, rutinitas makan siang bersama selalu berakhir canggung. Meskipun hampir setiap waktu luang setiap minggunya mereka melakukan itu, Ruby yang notaben nya orang biasa---di balik profesi model yang digeluti, sangat tidak menyukai tatapan-tatapan penuh selidik sekitar. Sangat terasa tak nyaman.
Pipet yang sebelumnya diaduk kini diisap pelan, membawa rasa manis--asam jus menyentuh indra perasa. Oke, sekiranya setelah Kenma mengucapkan beberapa patah kata pada Ruby kini ia merasa tidak terlalu canggung seperti tadi. Ruby berdehem pelan, membawa atensi pemuda di depan mengarah padanya.
"Apa?" tanya Kenma.
"Berhenti bermain ponsel dan fokuslah padaku." Kenma menghela napasnya sembari meletakkan ponselnya ke meja, setelahnya Kenma mengatensikan seluruh diri dengan tetap memakan pasta miliknya pada Ruby, sebelah alis naik menunggu tanggapan Ruby namun gadis itu masih diam dengan pipet setia mengapit di bibir.
"Kau kenapa sih? Tidak seperti biasanya?" Nada heran Kenma menggema dengan hanya keduanya yang mendengar. Biasanya, gadis itu tidak akan sedingin seperti kini walau mulanya akan canggung seperti tadi, namun lama kelamaan gadis itu akan santai, berceloteh ria meskipun Kenma tertuju pada ponsel selama Kenma merespon baik segala celotehan Ruby.
"Aku hanya ingin mempertanyakan tentang hubungan kita ..."
"Kenapa?"
Kenapa? Kenapa, katanya. Ruby meringis pelan mendengarnya, meskipun sudah tahu akan reaksi itu namun tetap saja rasanya agak perih. Ruby berusaha tersenyum, pipet yang menggantung di bibir dilepas, cukup sudah merasakan manis--asam jus yang diminum.
"Aku mencintaimu loh, Kenma ...," lirih Ruby. Ia tak mau ada orang lain yang mendengar apa yang terucap dari bibirnya.
"Lantas?"
"Terimalah rasa cintaku dan jadilah kekasihku."
Netra kucing bertemu dengan netra blueberry, tak ada kecanggungan serta keraguan, yang ada hanya mata penuh harap yang nampak tersakiti. Kenma menghelakan napas, pertemuan dua mata diputus oleh ia yang kini memandang sembarang arah. Dan Ruby tahu artinya---
"Maaf, tapi aku tidak mencintaimu Ruby," ucap Kenma.
Lemas jiwa dan raga, hancur setelah dihancurkan entah berapa kali oleh orang yang sama, Ruby tahu tapi tak pernah siap menghadapi. Tentang Kenma yang menganggapnya tak lebih dari teman semata. Hah, padahal Ruby berharap semuanya dapat dibalikkan, tapi percuma karena apa yang diharapkan oleh ia seolah tak pernah benar. Apalagi, yang dicintai olehmu tidak mencintaimu balik Kenma.
"Sudahlah, ayo kita pulang."
Ruby mengangguk, dengan Kenma yang sudah mendahuluinya beranjak dari sana. Ruby tahu Kenma akan menunggu diparkiran yang membuat Ruby dengan kaki yang terasa berat bangun melangkah agak gontai dan goyah.
Pintu mobil dibuka, lantas masuk ke dalam. Musim gugur yang akan pergi nampaknya membuat Ruby mengeratkan lebih baju hangat yang dikenakan, atau karena suasananya? Ruby tak bisa membedakan sebab otak kini kelimpungan kehilangan arah sebab penolakan yang sudah kerap kali ia dengar dari pemuda yang dicinta.
Puk
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan, ya?"
Ruby hanya mengangguk, Kenma yang memintanya untuk tak memikirkan hal tadi dengan lembut serta tangan yang membelai pucuk surai dark brown miliknya terasa begitu menghangatkan. Ah, Ruby yakin ia masih punya kesempatan. Pasti.
Mengingat itu Ruby kembali semangat, senyum terulas tipis dibibirnya. Dan Ruby sangat yakin ia masih punya kesempatan.
'Semangatlah Ruby...'
...[🌷]
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top