The Tracking

Kiranya siang hari setelah pertemuan Shion dengan Haruka Saeko, siswi SMP Hanayama yang kemarin datang untuk membicarakan masalahnya, Shion jadi berpikir keras soal itu. Terlihat sekali ia lebih pendiam dari biasanya, setelah istirahat jam makan siang berbunyi, ia langsung melesat ke UKS untuk bertemu dengan Ken.

"Obat sakit kepala, lagi?"

Shion menggeleng dan duduk di kursi, memasukkan kedua tangannya ke dalam hoodie. "Apa berita terbaru yang muncul di koran pagi, Ken?"

"Oho? Kau menerima permintaan klien yang dikatakan Hikaru rupanya?" Ken melepas kacamatanya dan meletakkannya di meja. "Kalau kau bertanya begitu, aku harus menjawab kalau polisi belum menemukan pelakunya."

"Begitukah?" Shion mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai. "Aku menunggu info apapun darimu, aku tidak langganan koran pagi jadi aku akan minta bantuanmu untuk mencari tahu info terbaru yang ada di koran berkaitan dengan Jembatan Ikkaitte."

"Jangan memaksakan dirimu."

Shion tidak menjawab apapun dan langsung pergi dari sana menuju  lapangan sekolah belakang. Terlihat dari kejauhan, tiga lelaki yang ia kenal sudah menunggu di kursi taman.

"Kalian datang terlalu cepat."

"Setidaknya kami siap untukmu Ki-chan." Mayuki menyambutnya dan menujukkan bungkusan di atas meja. "Tuh, dimakan."

Saat itu pula Akaashi mendengkus. "Maaf Ryuzaki-chan, tapi dua orang keras kepala ini juga membuatkanmu makanan. Semoga kau bisa menghabiskannya."

Shion menaikkan alisnya dan meraih bungkusan-bungkusan yang bertumpuk di atas meja. Kotak yang terbesar adalah bagian bawah, jadi Shion mengambilnya. "Apa ini buatanmu Sagara?"

"Ya! Makanlah dengan lahap! Kau tidak alergi ikan bukan? Aku membuatkanmu onigiri isi tuna asam manis!"

Mayuki melihat Shion makan dengan alis dinaikkan. "Kau tidak makan buatanku? Aku membuatkan bento kesukaanmu loh."

"Mulutku hanya satu, jadi bersabarlah. Aku ini akan makan semuanya, aku tidak mau dianggap orang yang menolak berkah tahu." Shion menunjuk kotak paling kecil dengan sumpitnya. "Biar kutebak  kau membawa kudapan, Takagami? Macaron?"

Dengan jelas, lelaki itu merona. "B-bagaimana kau bisa tahu Ryuzaki-san?"

"Hmph, dari kotaknya, aku hapal yang seperti itu." komentar Shion datar. "Kuharap yang kau buat bukan rasa yang aneh-aneh."

"Tidak, aku membuatkanmu rasa coklat dan matcha."

Shion mengangguk-angguk. "Baiklah, katakan informasi yang sudah kalian dapatkan. Aku akan mendengarkan kalian sambil makan."

Dengan kalimat itu, Mayuki dan Raito mengeluarkan buku catatan mereka. Mayuki menyedot yogurt strawberry-nya, barulah menyampaikan, "Soal identitas Mayuko Ofumi, dia tinggal seeorang diri di apartemen yang ada di Prefektur Saitama, punya keluarga di Akita dan tidak punya saudara sama sekali. Pendiam dan jarang bersosialisasi dengan orang di sekitarnya, walau sebenarnya dia anak yang baik. Soal riwayat buruknya, ini terjadi dua tahun yang lalu."

"Terjadi kecelakaan yang menewaskan seorang siswa SMP di Osaka. Mayuko Ofumi menjadi saksi dalam peristiwa tersebut, namun desas-desus bilang kalau Mayuko adalah tersangka yang mendorong siswi tersebut ke rel kereta api ketika kereta hendak melintas. Diketahui siswi itu adalah teman dari Mayuko pula."

"Kau mencari info soal korban kecelakaan kereta itu?"

"Aku tahu kau akan bertanya, jadi aku mencarinya. Asukara Fuyumi, dia teman sekelas Mayuko ketika masih hidup. Menurut data yang berhasil kulacak, Asukara-san sangat dekat dengan Mayuko-san, namun dia sangat paranoid jika ada yang mendekati Mayuko-san. Semuanya berakhir sejak kecelakaan yang menimpa Asukara-san."

Shion sudah menghabiskan bento buatan Akaashi, mengambil kotak milik Mayuki dan membukanya. "Aku harap mereka berdua tidak menjalin hubungan aneh, aku benar-benar akan melepas kasus ini jika memang hal itu benar."

"Yang belum bisa kulacak sekarang adalah keberadaan Mayuko-san. Maaf kalau tidak memuaskanmu."

"Bahkan jika kau bisa membobol CCTV atau mencuri data keamanan, kalau dia lari ke tempat yang tidak punya sambungan juga tidak bisa disalahkan." Mata Shion yang datar sekarang mengarah ke Raito yang sedari tadi menyimak dengan khidmat. "Aku yang akan mengurus soal itu, dan sekarang bagaimana soal insiden Jembatan Ikkaitte, Taka?"

Sama seperti Mayuki, Raito mulai memberikan informasinya ketika disuruh, "Insiden pembunuhan 5 orang siswa SMP Nakayama di Jembatan Ikkaitte terjadi dua hari yang lalu. Ditemukan oleh polisi yang berpatroli pada dini hari, mereka dibunuh secara brutal di Jembatan Ikkaitte dan dihanyutkan di Sungai Midorigawa, lalu tubuh para korban ditemukan di hilir sungai itu. Tidak ada sidik jari maupun senjata pelaku yang bisa ditemukan oleh polisi di tubuh korban maupun di TKP. Pelaku masih buron."

Shion berhenti makan, ia mulai berpikir lebih serius setelah ucapan dari Raito terdengar di telinganya. Jarinya mengetuk meja beberapa kali, dan suasana menjadi hening sejenak.

"Jika Haruka melewati jembatan itu pukul sepuluh sedangkan polisi menemukan korban itu saat dini hari, berarti pelaku punya waktu sempit untuk melakukan pembunuhan itu. Namun kiranya butuh banyak orang untuk membunuh lima orang remaja SMP, apalagi mereka dibunuh secara brutal."

"Benar, itulah titik janggal yang mau kusampaikan padamu, Ryuzaki-san."

"Aku akan mencarinya, terima kasih Taka." Ketika smoked beef sandwich yang dibawakan Mayuki juga tandas di tangan Shion, tangannya meraih kotak kudapan Raito dan mulai makan pula. Akaashi yang ingin mengatakan sesuatu terlebih dahulu terkejut dengan nafsu makan sang gadis. "Kau lapar kah atau memang makanan itu enak sekali?"

"Aku tidak pernah makan sebanyak ini, jadi apapun yang disajikan untukku aku akan makan dengan rasa syukur. Makanan ini enak semua, jadi aku akan menghabiskannya untuk kalian."

"Tidak pernah? Yang benar?"

"Ya, kalaupun pernah itu hanyalah masa lalu." Ucap Shion biasa, walau hawa sendu yang dihasilkan membuat teman-temannya membisu.

"Kalau begitu aku akan membuatkanmu makanan dengan porsi besar besok!" Akaashi langsung mencoba menghiburnya. "Habiskan ya!"

Shion, untuk pertama kalinya menunjukkan secara terang-terangan senyum tipisnya, namun sangat menawan karena memberikan makna yang tulus. "Terima kasih, aku menantikannya Sagara."

Yang tidak bisa berkata-kata di sana adalah Mayuki, yang oleh Raito tertangkap basah mencengkram celana seragamnya. Ekspresi kali ini bukanlah cemburu seperti biasanya, namun sesuatu yang tersembunyi yang terlihat dengan keratan bibir Mayuki yang digigit gemetaran.

"Oh, bicara soal Mayuko ...."

Akaashi menatap Shion lurus. "Aku dihubungi Haruka, katanya Mayuko sudah kembali sekolah seperti biasa."

"Ha? Kenapa kau tidak bilang padaku dari awal? Lalu bagaimana caranya dia menghubungimu?”

"Aku tidak boleh menyela pembicaraan penting kan?" Lelaki bersurai berantakan itu menunjukkan ponselnya. "Aku cukup khawatir pada anak itu, jadi aku memberinya nomor ponselku agar dia bisa cepat-cepat menghubungi jika ada hal penting. Tahunya tadi pagi dia menelpon dan bilang kalau Mayuko sudah sekolah dan alasan gadis itu menghilang seharian kemarin karena dia sedang sakit dan pergi kontrol ke dokter."

Shion mengunyah macaron Raito dengan jari tangannya yang memegang dagu, kembali memikirkan ucapan Raito barusan. "Bagaimana bisa dia dengan mudah dipercaya semua orang?"

"Aku tidak tahu soal itu."

"Berikan aku nomor ponsel Haruka."

Setelah percakapan siang itu, bersamaan dengan habisnya semua makanan yang ada di hadapannya, Shion pergi dari bangku taman untuk kembali ke kelasnya. Akaashi pamit pula, karena ia teringat tugas yang harus diselesaikan jadi tinggal Mayuki dan Raito yang masih berada di bangku taman.

"Rupanya kau menantangku hm?"

Di sisi lain, Raito yang terusik dengan perilaku Mayuki bertanya pada lelaki itu. "Ada masalah yang mengganggumu menyangkut masa lalu Ryuzaki-san?"

Mayuki menelan ludah dan membuang mukanya. "Bukan urusanmu."

"Itu urusanku."

"Kenapa kau peduli?"

"Karena aku menyukai Ryuzaki-san."

Jawaban pendek itu membuat Mayuki menjauhkan posisi duduknya dari Raito. "Kalau aku tak mau bilang, bagaimana?"

"Aku tidak akan memaksamu, tapi aku akan terus bertanya apa yang ingin kuketahui." Walau Raito terlihat ekspresionless selama yang telah terlihat, kali ini ia benar-benar menyorot Mayuki dengan serius. "Aku tahu kau, Katayanagi-sensei, dan Ryuzaki-san punya keterkaitan di Hokkaido. Apakah sesulit itu memberitahuku apa yang sudah terjadi? Apakah tidak cukup jika aku teman yang dipercaya Ryuzaki sehingga kalian tidak mau buka mulut bahkan jika aku membantu Ryuzaki-san?"

"Memangnya Ryuzaki menganggap kau teman?"

Pertanyaan Mayuki sejenak membuat pihak lain bungkam, tapi Raito mengangguk tanpa ragu. "Sebelum kau muncul, Ryuzaki bilang kalau aku dan Sagara bisa menjadi teman yang bisa membantunya. Apakah itu cukup?"

"Tidak."

"Ayolah Hikaru, apakah kau tidak mau membagi masalah ini?"

Mayuki berdiri dari tempatnya, tangannya mengepal dan Raito merasakan emosi Mayuki menjalar sering waktu.

"Aku tidak mau membuat Ki-chan kembali terluka. Aku tidak mau bilang karena aku tidak mau bilang. Tutup mulutmu dan lupakan soal hal itu Takagami!"

"Aku tidak mau berhenti bertanya."

"Sialan."

Tersulut emosi, Raito bangkit dan menarik kerah Mayuki, menatapnya marah.

"Shion adalah gadis yang kusukai, jadi akan kulakukan apapun untuknya. Kalau ia punya memori kelam, akan kuhapus memori itu dengan tanganku sendiri. Tapi aku mendapatkan jawaban yang menyebalkan darimu, aku tidak bisa menahan emosiku lagi." Raito menjatuhkan Mayuki dan menatapnya dari atas.

"Aku tahu kau juga menyukainya, tapi bukan berarti kau bisa menyimpan masalahnya agar aku tidak tahu. Itu benar-benar membuatku muak Hikaru. Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi, tapi kau tidak mau membantuku. Aku akan menanyakannya langsung pada Ryuzaki, karena kau tidak memberiku pilihan lain."

"Aku akan menghajarmu jika kau melakukannya."

"Lalu? Beritahu aku soal masa lalu Ryuzaki, Hikaru." Raito membalasnya dengan nada menekan. "Jika kau tidak mau melihat Ryuzaki terluka seperti yang kau katakan, beri tahu aku segalanya."

Gigi Mayuki beradu frustasi, ia berdiri dari tempatnya dan meninggalkan Raito sendiri di sana.

"Sudah kubilang, aku tidak akan mengatakannya padamu."

Raito menghela, ia melepas kacamatanya dan memejamkan matanya. "Kau yang membuatku melakukannya, Hikaru."

*****

Untuk kesekian kalianya, sepatu sekolah Shion mencium trotoar yang dingin, membawanya ke tempat yang telah ia pikirkan sejak tadi. Layar ponselnya menunjukkan suatu pesan, dan ia memandanginya selama perjalanan menuju tempat yang ditujunya.

Tepat di depan fasilitas umum bercatkan merah, Shion memasukkan kembali ponselnya ke saku hoodie-nya dan menatap sosok lain yang berdiri di seberang.

"Rupanya kau tahu jika aku kemari ya?"

Sosok manusia di sana hanya diam, namun sesosok arwah di belakang manusia itu tersenyum lebar dengan menyeramkan.

"Kau benar-benar merepotkan." Shion menghela napas. "Sebenarnya aku tidak mau melakukan hal ini, tapi kau tidak memberiku pilihan lain."

Kedua insan yang berada di titik berlawanan mendekat, masuk ke area Jembatan Ikkaitte, yang menjadi saksi bisu pertumpahan darah beberapa saat yang lalu.

"Karena kita saling melacak dan itu melelahkan, tidak ada salahnya kita 'berbasa-basi' sejenak, Asukara-san?”

*****

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top