The Shadow

Hari mulai berjalan, terlalu larut jika pelajar ada di sekolah semalam ini, namun Shion berdiri dengan tegak di koridor SMA Swasta Shinai. Shion menanti suatu objek yang ia, Ken, dan Masaomi diskusikan beberapa waktu yang lalu dengan sorot mata tajam.

Jika ditanya apakah ia ragu ataupun takut, kali ini Shion menjawab dengan jujur. Ini seperti mengulang masa lalu kelamnya, namun Shion tidak menerima kekalahan ketika ia sedang bekerja, jadi inilah yang ia lakukan sekarang, berusaha untuk menang dari lawannya di malam yang telah datang.

Rencana yang ia rancang juga berbeda dengan yang biasanya, karena ia memikirkan semuanya tanpa hati yang tenang. Apa yang ia pikirkan sekarang hanyalah menyelamatkan Ibara, karena ditekan akan masa lalunya.

Ketika harus mengingat masa lalu di mana ia juga bekerja pada kasus yang serupa, Shion mendesis frustasi dan mengepalkan kedua tangannya. Dari sekian kasus dan permasalahan yang telah ia temui, hanya kasus itu yang membuat Shion goyah.

Ya, satu-satunya kasus dimana Shion gagal, kalah dalam pertarungannya dalam dunia arwah, dan itu benar-benar mengguncang dirinya sebagai sosok yang peduli akan arwah orang mati.

Permasalahan yang sama, di dalam kegelapan yang sama, dan menghadapi sosok yang sama, semuanya serupa persis hingga berhasil membuat Shion goyah untuk kedua kalinya, takut akan kekalahan dan kegagalan menyelamatkan nyawa Ibara.  

Aku hanya ingin semuanya segera berakhir.

Shion akhirnya melangkahkan kakinya, mulai berpatroli demi menjauhkan kumpulan arwah jahat dari Ibara, sekaligus mencari arwah yang mengikat ikatan dengan gadis itu. Dalam pikirannya sekarang adalah rencana untuk memutuskan ikatan arwah itu dengan arwah Ibara, dengan begitu tugasnya selesai dan sang gadis pelajar dapat hidup kembali dengan tenang.

Berbekal ilmu hukum arwah, Shion mencari apa yang membuat arwah itu tetap ada di sekolah ini, namun di sisi yang lain ia waspada dengan arwah-arwah hitam yang mengincarnya ataupun mengincar arwah Ibara yang sedang dalam pengawasan Ken dan Masaomi. Bahaya bisa datang kapan saja, dan kemungkinan itu akan menjadi lebih buruk apabila tengah malam telah datang, Shion berusaha berbuat banyak dengan waktu yang sesingkat ini dengan keadaannya sekarang.

Di sisi lain, Ken hanya tertunduk dan terus membaca dalam hati Alkitab di genggamannya, satu-satunya barang yang dibawa Ken demi memberikan cahaya untuk dua sosok di depannya. Otaknya terus memikirkan Shion, ia tidak bisa berhenti melantunkan doa agar gadis itu selamat.

"Lalu apa yang harus kulakukan?"

“Tugasmu menjaga Ibara di kelas ini, itu saja.”

“Bagaimana denganmu? Kau benar-benar siap menghadapi mereka?”

“Aku akan berusaha sekuat tenaga, tapi tolong berlarilah sekuat yang kau bisa jika kau mendengar teriakanku. Aku benar-benar memohon bantuanmu Ken, aku … tidak mau mengulang memori itu lagi.

Dihantam memori kelam bertubi-tubi, Shion tetaplah berdiri dengan kokoh, namun kegagalan itu membekas begitu dalam di hatinya, Ken tahu hal itu. Ia pun mengutuk dirinya sendiri karena tidak bisa membantunya dengan apapun saat Shion menghadapi kasus yang terjadi di jembatan Hokkaido di masa lalu.

Saat itu, Shion menangis dengan keras karena tidak bisa menyelamatkan nyawa seorang anak kecil yang diseret ke dalam jembatan berhantu di Hokkaido. Sang arwah anak kecil ditarik oleh gerombolan arwah hitam yang menunggui jembatan itu, dan Shion terlambat menyadari keberadaannya hingga hal buruk pun terjadi.

Shion tidak sempat memberi cahaya pada arwah itu, dan Shion melihat betapa menyedihkannya wajah sang arwah anak sebelum menjadi satu dengan arwah gelap yang menangkapnya. Akibatnya Shion menangis begitu keras, Ken ingat kalau Shion memeluknya begitu erat dan meneriakkan nama arwah itu bertubi-tubi dalam waktu yang lama.

Menyedihkan ketika melihat Shion menangis begitu sedih hingga pingsan. Akhirnya jembatan itu disegel oleh beberapa biksu dan pendeta, dan ketika Shion siuman dan mendengar berita itu, matanya benar-benar menyorotkan kekosongan jiwa akibat kesedihannya.

Dan itu terjadi lagi sekarang, Ken tidak bisa berbuat banyak, hanya bisa memberikan sedikit cahaya dari lantunan doa di setiap detik yang terlewat, berharap Shion baik-baik saja dan berhasil dengan tugasnya.

Sekarang Shion tiba di UKS SMA Shinai, di sana hawa lebih gelap. Bukan karena model anatomi manusia yang separuh berupa otot-otot merah dan separuh lainnya adalah organ-organ manusia, melainkan banyak arwah yang merana ada di ruangan ini.

Ruang kesahatan yang menyedihkan, pikir Shion mencoba untuk menghiraukan arwah-arwah yang memanggil-manggilnya.

"Di mana kau melihat arwah gantung diri itu?”

DI RUANG KESEHATAN SEKOLAH.

Itulah alasan Shion berada di sana, untuk mencari sumber hukum arwah yang menyebabkan arwah pengikat ikatan dengan Ibara berada di sekolah ini. Hukum arwah terjadi tidak hanya karena tempat, tapi jika ada benda tertinggal milik arwah ketika masih hidup, maka sosok arwah pun masih bisa muncul karenanya.

Jika masalahnya adalah gantung diri, maka langit-langit adalah salah satu hal penting yang perlu diselidiki. Namun hasilnya nihil yang terlihat karena kemungkinan bunuh diri itu sudah begitu lama terlupakan, terpampang karena langit-langit telah direnovasi sebaik mungkin.

Shion menyentuh dinding, dirasakan hawanya perlahan-lahan. Ketika menyadari hawa itu semakin gelap dan suram di bagian pojok dekat lemari obat, Shion bergerak mendekati objek itu. Di sana tersembunyi suatu bekas, namun lemari obat sulit untuk digeser. Shion menelan ludahnya dan menyingsingkan lengan hoodie-nya, bersiap untuk bekerja keras.

Jam menunjukkan sepuluh menit sebelum tengah malam, Shion tidak memiliki waktu lebih banyak lagi. Lemari obat perlahan mulai berpindah beberapa senti dari posisi awalnya, dan ia menemukan sebuah kotak yang disegel dengan lakban di belakang lemari obat yang ia dorong.

Shion mengeluarkan cutter dari tasnya, membaca doa seperti biasa sebelum melakukan kontak arwah, kemudian membuka lakban yang menyegel kotak di hadapannya dengan segera.

Jam dua belas tepat, dan kotak itu pun terbuka dengan sempurna.

“Ternyata benar .…”

Tali yang berdarah kering, beberapa helai lambut masih ada pula di kotak itu. Shion menutupnya dengan cepat dan membawanya dalam genggamannya.

MAU LARI?

Spontan ia bergeser dengan segera, gerombolan arwah itu berada cukup dekat dengannya. Rencananya untuk menarik perhatian dengan menemukan benda arwah gantung diri itu berhasil, dengan begini setidaknya Ibara selamat untuk beberapa saat.

Shion berusaha tidak termakan bisikan iblis gerombolan hitam itu dengan terus berlari dan menggenggam  kalung salibnya, sementara tangannya yang lain melindungi kotak itu agar tidak terjatuh atau menumpahkan isinya.

Bohlam lampu mulai pecah, sedikit merobek kain hoodie yang dipakai Shion dan melukai pipinya, namun gadis itu tidak berhenti menuju jalan keluar, sekarang tujuan selanjutnya adalah mencari ruang terbuka untuk memusnahkan kotak itu agar semuanya segera usai.

Ken menyadari kalau angin ganjil mulai bertiup, ia berdiri dan itu mengagetkan Masaomi dari posisinya.
"Ada apa Katayanagi-san? "

"Ki-chan ...."

Masaomi melihat Alkitab yang ditutup oleh Ken, matanya menyorot ke pintu yang tertutup dengan khawatir.

"Jika kau ingin menyusul Akiyama-san, silakan. "

"Tidak, tugasku ada di sini. Aku percaya dia bisa melakukannya tanpaku. "

"Sungguh? Walaupun Akiyama-san seorang pro sekalipun, bukankah lebih baik kalau ada yang membantunya? "

"Karena ini menyangkut dirinya secara pribadi, aku memilih untuk tetap ada di sini. " Ken menghela napas dan tersenyum paksa agar Masaomi tidak khawatir. "Aku jauh mementingkan keselamatan Harumi-san, lagipula sudah berkali-kali dia menantang maut, tapi tetap selamat kok. "

Masaomi yang tidak mengerti apapun meragukan ucapan Ken yang bernada layaknya lelucon. Ken menatap jam tangannya, dan sepuluh menit telah terlewat setelah tengah malam.

"Ki-chan, kumohon panggil aku. "

Prang!

Satu kaca koridor pecah dan Shion tidak memerdulikan hal itu walaupun luka di tubuhnya bertambah karena serpihan kaca yang beterbangan. Nafasnya memburu menuruni tangga, terasa dingin karena darah yang mengalir, tapi sebentar lagi semuanya akaj berakhir karena masa tengah malam akan usai dan pintu keluar mulai terlihat.

KAU TIDAK AKAN LOLOS!!!!

Shion mengerem kakinya dan segera mengeluarkan senjatanya yang lain, yang akan mengakhiri semuanya.

"Kumohon, bebaskan temanku dan bebaslah. "

Kotak itu perlahan terbakar, seiring Shion mematikan pematik api yang ada di genggamannya. Masa tengah malam telah berakhir, satu arwah dari gerombolan itu terbakar, sedangkan yang lain memisahkan diri untuk menghilang.

Shion menatap arwah itu sedih. "Jika kau ingin punya teman, hiduplah dengan baik di alam sana, aku juga tidak mau melakukan ini padamu. Namun kau menyeret temanku dalam masalahmu, aku minta maaf sudah melakukan ini semua. "

Arwah itu perlahan berhenti mengerang, kemudian ia mengatakan sesuatu dengan singkat sebelum menghilang.

Terima kasih, kau menemukannya untukku.

Hal itu juga terjadi pada arwah Ibara, ia tiba-tiba meredup dan menghilang. Hal itu membuat Masaomi panik, sedangkan Ken mulai membuka pintu dan terkejut dengan keadaan di luar.

Kacau, penuh dengan serpihan bohlam lampu.

"AKIO!! "

Ken berteriak karena takut akan hal yang telah terjadi, dengan keadaan yang begitu berantakan tentu hal yang buruk telah terjadi pada Shion. Ken berlari menuruni tangga, disusul dengan Masaomi, dengan hati berdetak kencang berisi penuh dengan kekhawatiran.

"AKIO JAWAB AKU!! "

"... Ken ...."

Suara yang lirih, Ken menoleh dengan cepat ke tangga menuju lantai dasar, mereka berdua berlari lagi. Keadaan lantai dasar jauh parah dengan satu kaca jendela pecah dan beberapa tetes darah baru menempel di lantai.

"... Ken ... di sini ...."

Pintu belakang, dan pengejaran mereka terhenti. Shion bersandar di tembok, memegang lengannya yang terluka, namun di wajahnya tergores senyum yang indah.

"Aku berhasil. "

*****

Hari selanjutnya Shion tentu tidak berangkat ke sekolah karena luka-lukanya akibat kejadian itu. Harumi Ibara telah bangun dari komanya, menghubungi Shion yang ada di rumah untuk beristirahat.

Ibara benar-benar berterima kasih, dan ia juga meminta maaf karena Shion terluka, tapi Shion hanya menganggapnya enteng dan tidak mempermasalahkannya.

Sekarang, Shion hanya duduk di atas kasurnya, memandang agenda harian yang biasa ia bawa di saku. Rasa ragu dan takut memanglah telah hilang, namun memori tentang arwah anak itu tetaplah bersarang di pikirannya, dan itu tidak akan hilang dengan mudah.

Menghela dan menhiraukan, itulah yang Shion lakukan setelah itu. Ia mengambil gelas air putih di meja terdekat dan meminumnya sampai habis. Dengan itu, ia menyadadi kalau hal kecil belum ia tuntaskan.

Soal website itu.

Ting tong

Bel rumah berbunyi, Shion menaikkan alis karena merasa aneh. Ia bangun dengan perlahan, mulai bergerak menuju jendela untuk mengintip. Di depan pintu ada seseorang dengan hoodie hitam membawa sebuah kotak.

"Siapa itu? "

Kepalanya mengarah ke jendela, dan mata mereka berdua bertemu.

Orang asing itu tersenyum dan Shion tersentak. Gadis itu tertatih-tatih keluar dari kamarnya dan menuju lantai bawah.

"Mana mungkin orang itu ada di sini, 'kan? " gumamnya tak percaya.

"Sebentar. "

Shion akhirnya menarik napas dan membuka pintu rumahnya, terbelalak sekali lagi.

"Hisashiburi, Ki-chan. " [1]

*****

[1] Lama tak jumpa

Terima kasih telah mengikuti Ghost Hunter sejauh ini, dan terima kasih atas vote dan comment kalian hingga Ghost Hunter mencapai 2k vote.

Ini adalah akhir dari ark awal Shion di Tokyo, ark selanjutnya masih rahasia, jadi mohon bantuan kalian kedepannya.

Di update selanjutnya akan ada karakter baru dari Ghost Hunter yang lama, dan karakter kunci di ark selanjutnya. Saya memunculkannya kembali sebagai rasa senang GH yang telah mendapat 2k vote!

Sampai jumpa di sesi selanjutnya!

- Session Four : Clear -

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top