The Problem

"Ryuzaki-san, jadi bagaimana penjelasanmu soal ini? "

Chihiro duduk di depan Shion yang hanya menatap kopi kaleng di meja tanpa ekspresi. Setelah kejadian yang dialami Kitaoka Majima di UKS, Chihiro memutuskan untuk membawa Majima ke ruang Klub Supranatural karena ruangan itu lebih luas dan Shion bisa keluar masuk dengan mudah.

Sedangkan Majima sendiri, ia hanya diam dengan wajah ketakutan duduk di samping Chihiro, berhadapan dengan Shion yang sibuk berpikir.

"Ayamura-san menjatuhkan dirinya sendiri dengan sengaja. "

Satu kalimat dari mulut Shion membuat Chihiro dan Majima terdiam, sejenak terkejut karena Shion dengan mudahnya memberikan jawaban di tengah masalah yang sedang terjadi.

"Benar bukan, Kitaoka-san? "

"Tu-tunggu! Bagaimana kau bisa berpikiran begitu? "

"Kau telah melihatnya sendiri kejadian di UKS tadi dengan nyata, jadi itu membuat kesimpulan bahwa Kitaoka tidak bersalah. "

"Apa hubungannya dengan itu?" Chihiro meletakkan tangannya di atas meja untuk bicara lebih serius. "Dengar, kau bisa berkata seperti itu Ryuzaki-san, tapi polisi membutuhkan alasan lebih logis untuk membuat Kitaoka-san ini lepas dari posisi tersangka, apalagi semua tahu posisi sebelum kecelakaan terjadi—maaf, bukannya aku menganggapmu sebagai pelakunya lho, Kitaoka-san. "

Kedua tangan Majima mengepal di atas pahanya, ia menunduk belum berkata apapun.

"Tapi jika kau memang mau terus lanjut soal masalah ini, kau tak perlu menjawabku jadi polisi lah yang akan mengurusimu. ", ujar Shion sambil meminum kopi kalengnya yang ada di meja. "Aku ada di sini gara-gara ditarik paksa saja, jadi jika kau tak mau buka mulut, terserah padamu Kitaoka-san.", Shion mengedikkan bahunya dengan wajah tak peduli.

Lambat laun akhirnya Majima membuka mulutnya, mengucapkan satu kata penjelas semuanya.

"Iya .... "

"Tunggu! Jadi benar jika Ayamura-san sengaja melakukan ini? "

"Hah... dia kan sudah bilang, kenapa kau tanya lagi? " sahut Shion dengan malasnya. "Namun jika aku bilang motif semua ini karena balas dendam, apa kalian percaya padaku? "

Majima menatap Shion tak percaya, begitu pula Chihiro. Kemudian terbesit di pikiran sang lelaki jika Shion bisa bicara pada arwah yang nyaris mencelakakan Majima, membuat Chihiro duduk tegak dan berkata, "Ah ... aku ingat kau bisa melihat hantu, tapi bagaimana bisa—"

Pastinya Shion mengawalinya dengan mendecih, langsung memotong ucapan lelaki itu. "Ayolah, selalu saja mereka dilabeli dengan 'Hantu'. Hantu itu tidak ada. Ck! Aku bosan ditanyai seperti itu. " Kemudian Shion mendecih lagi sambil memalingkan padangannya, walau pada akhirnya Shion menjelaskannya juga.

"Sudah kelihatan hawa dendam yang terasa dari tempat jatuhnya Ayamura-san, dan aku bisa melihat hawa itu dengan jelas. Aku juga merasakan keberadaan Ayamura-san yang benar-benar tidak suka padamu. Lagipula aku lihat Majima bisa takut tanpa akting begitu dan arwah Ayamura begitu agresif, bagaimana aku bisa menyebutmu jadi tersangka?"

"Kenapa kau tak mengatakannya dari awal!?"

"Heh ... lihat siapa sekarang yang bicara." dengus Shion kemudian melontarkan kalimat tajam pada Chihiro. "Kau bilang tadi aku perlu bukti yang jelas saat aku bilang Ayamura-san menjatuhkan dirinya sendiri, dan sekarang kau menyalahkanku hanya karena tidak bilang kalau aku bisa melihat hal mistis demikian. Hmph, baik sekali. "

Chihiro terpana, dibuat diam dengan ucapannya sendiri, sedangkan Majima memegang lehernya, sesaat terasa sakit karena cekikan tadi.

Shion kembali meminum kopinya sambil menatap jendela yang sudah terbuka, kemudian ia berkata, "Kalau dia sudah berani menemuimu, berarti ia bisa kembali kapan saja, tapi hukum arwah tetap berlaku jadi aku tidak bisa mengurusnya di rumah sakit." Kemudian matanya melirik Majima yang memandangnya. "Jika aku bisa membantumu, kau mau menyelesaikan ini dengan otak dingin tidak? "

Mata Majima melebar, ia mengangguk pelan namun mantap. "Aku ingin memperjelas semua ini dan minta maaf pada Aya tentang kesalahanku. "

Shion menaikkan alisnya dan bangkit dari kursi, meninggalkan ruangan tanpa berkata apa-apa lagi, membuat Chihiro dengan tergesa-gesa mengejarnya.

"Oi! Tunggu dulu! Kau tidak bisa meninggalkan kami begitu saja! "

Shion menghela. "Aku mau ke toilet, ikut? "

Chihiro jadi salah tingkah, ia berbalik dan hendak menyiapkan langkah secepatnya kembali ke ruangan tadi, tapi Shion memanggilnya lebih dulu.

"Jaga Kitaoka."

Chihiro yang mendengarnya tentu tidak mengerti kenapa Shion memintanya dengan suara pelan begitu, apakah ia menggumam atau benar-benar meminta Chihiro tidak bisa memastikan yang benar tapi tetap melakukan apa yang dikatakan Shion.

Saat gadis itu pergi, Majima hanya memandang ponsel yang ber-wallpaper-kan fotonya bersama Ayamura dan seorang gadis lain. Pandangannya benar-benar sedih ketika mengingat masa lalu yang terlukis di layar ponselnya, bahkan menggenggam ponsel saja sudah gemetaran.

"Aku tahu itu memang memukul benakmu. Kita tetap bisa menyelesaikan masalah ini dengan bantuan Ryuzaki kok. "

Chihiro mencoba memberikan harapan pada Majima, namun tetap saja gadis itu hanya mengangguk dengan wajah muram.

Chihiro kembali duduk dan memperhatikan kaleng-kaleng kopi di meja milik Shion. Semuanya telah habis, Chihiro takjub dengan dua kaleng kopi rasa cappuccino Shion bisa berpikir sangat banyak bahkan memikirkan hal yang tak bisa dipikirkan polisi sekalipun.

"Anu, itu ... gadis bernama Ryuzaki itu lama juga perginya ya."

Majima bertanya dengan nada muram, di hatinya tidak tenang jika Shion tidak dapat membantunya,nanti justru berakhir dengan arwah Ayamura Kanoka yang menghantui otaknya seumur hidup.

"Hm ... dia sedang buang air."

Chihiro mengatakan itu dengan pelan namun ceplas-ceplos, Majima menatap lelaki itu dengan raut curiga di wajahnya yang dipenuhi kemuraman.

"Dia bilang padaku tadi. "

Padahal Majima tidak tanya, tapi Chihiro menjawab seakan tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Akhirnya Majima menghela napas dengan terang-terangan, nafasnya berat sekali.

"Aku masih belum bisa yakin kita benar-benar bisa menyelesaikan semua ini."

"Ya sudah, aku tarik lagi kata-kataku kalau begitu. "

Suara Shion yang tiba-tiba muncul itu menyentakkan dua insan di dalam ruangan. Dikatai begitu, Shion hanya bermuka datar dan bersandar di pintu tanpa mendekat.

"Ma-maafkan aku ...."

"Kau bilang apa? "

Entah Shion hanya berlagak atau benar-benar tidak dengar, Chihiro juga mulai ragu apakah semua yang dilakukan Shion dapat dipercaya, dilihat dari kelakukannya yang meragukan itu siapa yang kepercayaannya tidak luntur?

Mungkin hanya orang sabar saja yang begitu, sayang Chihiro bukan orang yang demikian.

"A-aku minta maaf Ryuzaki-san." Ulang Majima lebih keras agar terdengar. Shion tidak menunjukan ekspresi apapun, akhirnya mendekati mereka berdua dan kembali duduk.

"Setelah ini, apa yang kita lakukan? "

"Menunggu senja."

Jawaban pendek Shion menaikkan alis Chihiro. "Ini sudah pulang sekolah, kenapa kita harus menunggu senja? Mau sampai malam kita di sini? "

"Aku tidak bilang begitu. " Shion menyahut datar. "Aku harus melakukan sesuatu, dan ini tidak bisa selesai jika senja belum datang."

Majima kembali menatap ponselnya, fokus pada Ayamura di foto itu, menggumam, "Keadaan Aya bagaimana ya .... "

"Dia masih koma. "

"Bagaimana kau tahu? "

"Dengan caraku sendiri. "

Shion lagi-lagi membuat mereka berdua mencurigai dirinya. Bagaimana bisa dia tahu soal itu, padahal ia bahkan tidak benar-benar tahu rupa Kanoka dan hanya tahu dari arwahnya saja?

"Harusnya aku diam saja ya? Kalian jadi berpikir keras begitu. "

Shion menolehkan kepalanya hingga terdengar bunyi dari lehernya, dari matanya itu ia melirik Chihiro. "Semuanya sudah pulang? "

"Jika kau bertanya begitu, tentu masih ada murid yang ada di sekolah ini. "

"Bagaimana dengan anggota klub ini?"

Chihiro memeriksa ponselnya. "Sedang melakukan ... ritual di ... dekat TKP."

"Konyol. " Satu kata menusuk kembali meluncur dari mulut gadis itu. Wajahnya seakan berkata 'Dia melakukan hal bodoh.' Majima dan Chihiro seakan tahu kalau Shion ingin mengatakan itu.

"Yah... senja segera tiba. Setidaknya basuh muka kalian. " Ujar Shion kemudian kembali meninggalkan kursinya.

"Ke-kenapa? Harus ya? "

Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, Shion menjawab itu sambil menguap malas.

"Biar tidak ngantuk seperti aku. "

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top