The Plan

Mayuki telah duduk di kursinya sejak bubar dari perkumpulan Shion, menatap monitor komputernya yang menyala terang menggantikan lampu di kamar. Di mulutnya, Mayuki tengah menyesap permen gagang dan manik coklatnya mengawasi setiap notifikasi baru dari website yang dia temukan. Jarinya yang lain terjun ke keyboard, yang siaga menekan tombol space jika ada yang menganggu matanya.

Manik itu kembali mengarah ke layer ponselnya yang tergeletak di meja, juga menunjukan artikel yang dicarinya. Namun ia lebih fokus ke angka digital yang tertera, hingga akhirnya lelaki berkaca mata itu menghela napas.

Pukul sepuluh malam, dan pekerjaannya belum selesai. Di satu sisi Mayuki frustasi dengan ini, di satu sisi lain ia tidak mau membuat Shion kecewa padanya. Sudah cukup dirinya merasa kalah karena tugasnya untuk melindungi Shibakura Ayumi dilalaikan dan menimpa Akaashi, dia tidak ingin citranya bertambah buruk di mata Shion.

Pip!

Suara notifikasi itu membuat Mayuki terkejut, dengan segera dia langsung siaga setelah notifikasi baru muncul di layarnya. Sekarang giginya beradu dan permen gagang yang tinggal sedikit itu diretakkannya dengan giginya, Mayuki hanya menggumam dengan kesal seraya men-scroll artikel yang dibaca.

“Walau CCTV yang orang itu pakai adalah CCTV tanpa kabel, susah juga kalau mencarinya online begini ….”

Mayuki mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya, kemudian meraih ponsel yang tergeletak tak jauh darinya untuk menghubungi suatu nomor.

"Halo, ini Shibakura Hibiki.”

“Sebelumnya maaf mengganggumu, tapi aku asisten Akiyama Okino.” Mayuki telah menyiapkan aplikasi pengetik di komputernya. “Bisa aku mengajukan sesuatu?”

“Ng … aku tidak yakin denganmu. Akiyama-san mengatakan kalau dia bekerja sendiri selama ini. Beri tahu namamu, dan aku akan memikirkannya sejenak.”

Mayuki nyaris mendecih kesal, tapi dia menahan diri karena yang dia urus adalah klien Shion. “Akiyama-san memanggilku Yukki, semua informasi yang dia butuhkan akan masuk padaku lebih dulu, karena itulah aku menghubungimu Shibakura-san.”

“Ah maafkan aku Yukki-san, kau orang yang duduk di samping Akiyama-san saat di café tadi benar? Maafkan aku.”

“Baiklah. Apakah kau mengetahui orang yang terkait dengan Sakurako Ririka?”

Kiranya apapun yang Hibiki katakan pada Mayuki, secepatnya lelaki berkaca mata itu mencatatnya dalam untaian kata di layar komputer. “Yah … aku sendiri tidak dekat dengan Sakurako, tapi adikku adalah teman dekatnya.”

“Kalau begitu, boleh aku minta informasi dari adikmu, siapa saja yang dihubungi Sakurako Ririka sebelum dia menghilang?”

"Adiku sudah tidur sekarang, tapi jika kau memintaku untuk mengecek ponselnya, akan kulakukan untukmu Yukki-san.”

“Tidak bisa ditolong, mohon bantuannya Shibakura-san. Oh … dan jangan matikan dulu panggilannya.”

Menunggu sejenak karena panggilan dijeda, Hibiki kembali dan mengawali penjelasan tentang nomor ponsel Sakurako Ririka, kemudian sang kakak juga memberitahu nomor ponsel adiknya untuk berjaga-jaga.

“Tolong periksa riwayat email ponsel adikmu juga, fokus ke email Sakurako Ririka.”

“Tunggu, kenapa kau meminta hal yang sifatnya pribadi seperti ini? Maaf, tapi itu … kurang sopan.”

Akhirnya Mayuki menghela dan memijat keningnya. “Akiyama-san bekerja tanpa melihat rasa sopan, begitu juga denganku. Asalkan masalah ini segera selesai, begitu saja sudah cukup. Maaf atas ketidaksopananku, tapi aku benar-benar mengandalkanmu soal ini.”

Daripada aku meretas ponsel adikmu dan melihat seluruh isinya, itu lebih tidak sopan, batin Mayuki setelah bicara pada Hibiki.

Ugh … baiklah. Aku akan mengeceknya sekarang. Ada hal khusus yang kau minta?”

“Cek saja email adikmu yang membicarakan soal seorang lelaki pada Sakurako.”

Ini benar-benar masalah pribadi adiku, Yukki-san. Aku pun sebenarnya tidak boleh melakukan ini.”

Nada bicara Hibiki yang sedikit bertele-tele menaikkan emosi Mayuki, dia menaikkan volume bicaranya. “Mau kau bilang bagaimana pun juga, ini pekerjaanku. Jika kau membantuku, aku akan membantu Akiyama-san bekerja dan Akiyama-san juga akan segera menyelesaikan masalah yang menimpa Sakurako dan adikmu. Aku benar-benar mohon bantuanmu kali ini.”

"… Baiklah. Namun jika pekerjaanmu gagal, aku akan mengadu pada Akiyama-san.”

Astaga, aku benar-benar ingin menghajar orang ini, batin Mayuki menahan perempatan emosi yang hampir membuat darahnya mendidih. Akhirnya dia hanya menghela napas lagi. “Baik-baik, mari kita bangun hubungan mutualisme. Jadi beri tahu segala informasi yang ada di email adikmu dan aku akan segera menemukan lokasi Sakurako.”

Kau bisa melakukannya?”

“Jika kau banyak bicara, tentu tidak.”

Akhirnya keributan itu berhenti dan Hibiki menuruti kemauan Mayuki, lelaki itu mendengar beberapa pesan yang mencolok di email Shibakura Ayumi yang tak luput ditandainya agar tidak terlupa.

“Baiklah, itu saja?”

“Selanjutnya, kau pernah mendengar nama Mikio Ouji ini? Adikmu banyak memberitahu Sakurako tentang lelaki itu.”

"Asal kau tahu, aku dan adiku  tinggal di rumah yang berbeda. Apakah aku kelihatan peduli tentang pembicaraan wanita yang mereka berdua bahas?”

Aku jadi ingin berkata sarkas seperti Ki-chan, Mayuki menahan emosinya dengan kembali memijat pelipis. “Hah … setidaknya beri tahu aku. Kau kenal dia?”

“Apa yang kuingat dari Mikio hanyalah dia menjadi teman satu angkatanku, oh dia anggota tim basket sekolah.”

Akhirnya senyum Mayuki muncul, tapi senyum itu memberikan makna yang sering diberikan Shion. “Hm … baik. Jika adikmu memiliki nomor ponsel ataupun email Mikio Ouji, tolong beri tahu aku.”

Tunggu ….”

Setelah menerima nomor ponsel dan email Mikio, senyum Mayuki menjadi semakin lebar. “Bagus, inilah yang kuinginkan. Terima kasih, hal terakhir yang kuminta padamu adalah awasi Mikio besok di sekolah dan hubungi Akiyama-san jika ada berita baru. Kau bisa menghubungiku jika Akiyama-san tidak mengangkat panggilanmu.”

Panggilan diakhiri, Mayuki merenggangkan tubuhnya sejenak dan sekarang dia menatap monitor komputernya mantap.

“Saatnya bekerja.”

*****

Walaupun terbantu banyak oleh Mayuki, Shion tidak merasakan kesenangan sedikit pun. Gadis itu hanya menatapnya datar saat dia datang ke UKS untuk menjenguk Mayuki yang terkapar di kasur karena kurang tidur.

“Kerja bagus.”

“Aku akan bahagia dan langsung sembuh jika kau memberiku senyuman daripada wajah datar begitu, Ki-chan.” lirih sang lelaki berkaca mata dengan nada tersakiti.

Sekali lagi Shion menanggapinya dengan cuek, tangannya dilipat dan dipangku. “Kau bergadang untukku dan akhirnya terkapar di sini? Kalau aku jadi kau, tidak tidur sehari tidak akan membuatku mati.”

“Aku tidak minum kopi karena kupikir pekerjaanku akan cepat selesai, tapi aku diperlambat oleh beberapa masalah, jadi ya maaf.” Mayuki memijat pelipisnya, melihat respon memprihatinkan dari gadis di depannya itu.

Ken di belakang hanya menggeleng-geleng, setelah itu dia mendekati Shion dan duduk di sampingnya. ”Jadi bagaimana prosesnya?”

“Tinggal menunggu pelaku kembali ke rumah, semuanya lancar. Semua berkat Mayuki, walaupun ini menambah pekerjaan Chisato, itu pantas untuknya.”

Mayuki yang dikatai begitu tersenyum senang. “Ah … akhirnya aku berguna untuk Ki-chan.”

“Kau tidak berguna untuku, tapi untuk Chisato.”

Mayuki beku dalam beberapa saat, dia melototi Shion layaknya matanya hendak keluar dari tempatnya. “J-jadi selama ini, aku bekerja untuk Chisato!?”

“Dia secara tidak langsung memaksaku untuk membantunya, akupun tidak ada cara selain memintamu mengumpulkan informasi untuknya. Sekarang biarkan Chisato bekerja, aku baru akan mulai setelah pelakunya ditangkap. Lagipula pekerjaanku hanyalah menetralkan arwah yang ada di reruntuhan agar tidak ribut saat ada penghuni lain masuk ke ruangan itu.”

Mayuki semakin merana, dia menjadi pucat dan lemas karena mendengar orang yang diharapkannya  memujinya lebih banyak rupanya malah tidak meminta apapun yang sangat penting.

“Jangan depresi seperti itu, kau bisa minta uang sebagai harga informasi yang kau berikan, Hikaru.” hibur Ken agar pasiennya sekarang tidak dirundung depresi lebih parah.

“Ta-tapi … Ki-chan ….”

“Jangan banyak merengek. Minum obatmu dan istirahat, merajuk tidak akan berguna.”

Setelah itu Shion mendapat panggilan, rupanya dari Shibakura Hibiki.

Yukki-san memberitahuku untuk menghubungimu tentang Mikio Ouji, jadi aku ingin bilang kalau sepertinya dia salah orang.”

“Maksudmu kau berpikir kalau yang Yukki kerjakan itu salah?”

Errr … dengar, Mikio adalah orang baik-baik. Kupikir tidak masuk akal kalau dia adalah pelakunya. Lagipula aku sekarang ada di gym bersamanya dan dia terlihat baik-baik saja. Apa yang salah darinya?”

Shion memutar matanya, merasakan kenaifan lawan bicaranya. “Aku banyak melihat orang zaman sekarang sok berperilaku baik padahal dia sudah melakukan kejahatan besar. Harusnya kau tahu itu, atau kau berusaha melindungi Mikio sekarang?”

“Apa kau punya bukti menuduh Mikio?”

“Aku bisa bilang aku memilikinya, tapi aku tidak bisa memberitahumu. Semua pekerjaan yang dikerjakan Yukki telah diserahkan pada detektif perempuan itu.” Shion menjelaskan itu dan membuat Mayuki menaikan alisnya.

“Ada apa?” tanya lelaki itu karena dia mendengar suara lelaki di panggilan Shion.

“Bukan apa-apa, diam saja kau.”

Kembali ke panggilan, Shion menekankan suaranya pada Hibiki. “Apa yang kelompoku lakukan hanya membantu polisi menangkap pelakunya, karena sebenarnya pekerjaanku adalah menetralkan arwah yang ada di puing-puing apartemen Sakurako. Jika kau menghubungiku hanya untuk bicara jika kau melindungi Mikio, itu tidak berguna.”

“Tunggu, maksudmu—”

Shion tersenyum miring, dan bicara lebih sarkas. “Menangkap Mikio bukanlah urusanku, tapi urusan gadis polisi itu. Hari ini Chisato Yui, si gadis detektif, tidak ada di kelasnya dan pasti sudah dalam perjalanan mencari Sakurako. Jika kau melindunginya, sepertinya kau berurusan pada orang yang salah. Kalau aku jadi kau, aku tidak akan ikut campur masalah ini.”

Nada bergetar Hibiki terdengar. “Tunggu! Apa yang kalian lakukan adalah suatu kesalahan besar!”

“Jangan membuatku tertawa, kau bukanlah orang yang tahu tindak kriminal. Di sini aku hanya ingin menegakan keadilan, tapi jika kau ingin Mikio juga meledakan apartemenmu dan menculik adikmu, aku tidak akan berkomentar lagi.”

Dengan begitu, Hibiki tidak bicara lagi, dan itu membuat senyum miring Shion menjadi-jadi. “Aku sudah melihat dari reaksimu, jadi aku hanya tinggal menunggu adikmu membayar jasa exorcist-ku. Itu masih terhitung loh, nah sampai jumpa lagi Shibakura-san.”

Panggilan diputusnya dan Shion langsung membuka buku kecilnya untuk menutupi tawanya. Mayuki menaikan alis, sedangkan Ken kembali menggeleng-geleng. “Kau memperlakukan klien kurang baik Ki-chan.”

“Bukan salahku.”

Mayuki melihat tawa sarkas Shion yang ditutupi dengan buku sakunya, menelengkan kepalanya. “Sepertinya pihak Shibakura-san sendiri sulit menerima hasil akhir dari kasus ini.”

“Memang benar, soalnya dia adalah orang yang tidak tahu apa-apa pada masalah ini Mungkin akan beda cerita jika Shibakura Ayumi yang mengatasi semua ini dari awal, bukan kakaknya.”

Ponsel Shion kembali berbunyi, dan kali ini adalah panggilan yang telah dinantikannya.

Kami berhasil melakukan lima puluh persen dari rencana yang kau sampaikan Akiyama-san. Dengan pemadaman listrik di apartemen pelaku, kami dapat bergerak dengan leluasa.”

“Bagus, sekarang pelaku tidak akan mendeteksi kalian. Berjuanglah saat membobol gemboknya.”

Kami sudah menyiapkan orang khusus untuk itu. Aku sempat berpikir, bagaimana kau bisa memikirkan semua ini? Kupikir rencana ini berjalan sangat mulus tanpa ada gangguan.”

“Untuk mengatasi seorang kriminal, maka kau harus punya kemampuan kriminal. Kupikir aku terlalu sering memainkan game stealth dan survival, jadi pengetahuan seperti itu bukan lagi hal yang tabu.”

Semuanya berkat Yukki-san, sampaikan terima kasih kami untuknya.”

Shion melirik Yukki, yang kembali cemberut karena masalah yang telah berlalu diungkit kembali. Sambil sedikit tersenyum, ia menyampaikan hal yang biasa ia sampaikan. “Karena Yukki sudah bekerja keras, ada baiknya kau membayarnya dengan setimpal.”

Aku akan membicarakan hal itu nanti. Ah, pintunya sudah terbuka!”

“Semuanya terserah padamu mulai sekarang, aku akan mulai pekerjaanku ketika kau selesai.”

Baiklah. Terima kasih Akiyama-san.”

Shion menutup panggilan itu dengan senyuman kecil, dia menepuk-nepuk kepala Mayuki dengan buku sakunya perlahan. “Kau bisa senang sekarang.”

Dengan begitu, Mayuki berhasil sembuh dari penyakitnya.

*****

“Aku kembali.”

Shion membuka pintu puing-puing apartemen Sakurako Ririka, dan arwah cermin itu menunjukan wujudnya.

Kau benar-benar kembali untuku.

“Aku serius dalam membebaskanmu, jadi mari kita mulai saja.”

Shion berjongkok di depan cermin itu dan mengumpulkan serpihan yang masih terlihat dan meletakannya di atas sebuah kertas.

“Oh, ngomong-ngomong kenapa kau menghantui cermin ini?”

Arwah itu menatap Shion sendu, mengulang kembali memorinya yang dulu terkubur dalam-dalam.

Aku dan mamaku dulu tinggal di apartemen ini, tapi ketika itu aku masih anak nakal, aku bermain api di kamar dan terjadi kebakaran.

“Kau hanya tinggal dengan ibumu?”

Iya. Mama meninggal karena aku, dan aku tidak tenang sejak itu. Aku mengawasi kamar ini sejak direnovasi untuk menghentikan kebakaran jika hal itu akan terjadi lagi.

“Tapi harusnya kau tahu kau tidak bisa melakukan itu.”

Arwah itu menunduk dan tersungkur di lantai dengan wujud hampanya.

Benar, aku pun tidak bisa menyelamatkan Riri-chan juga ….

“Semua bukan salahmu, jadi jangan merutuki dirimu sendiri.” Shion tersenyum dan mengambil bingkai cermin yang tersisa di dinding, mengumpulkannya jadi satu dengan serpihan yang sudah dikumpulkannya.

“Jadi, kau mau pembebasan yang seperti apa? Aku memberikan kebebasan untukmu.”

Arwah itu menatap Shion dan kumpulan barang yang sudah dikumpulkan bergantian, lalu menyatukan tangannya dan mulai memohon.

Tolong, bebaskan aku dan hilangkan trauma-ku terhadap api.

Shion mengangguk dan mengeluarkan benda yang biasa dibawanya, ditambah dengan sebotol minyak di hadapan sang arwah anak itu.

“Karena kau memilih Metode Bakar daripada Metode Doa, maka aku akan melakukan pemusnahan. Apakah itu tidak apa-apa bagimu?”

Asalkan aku bisa pergi dengan tenang, tidak apa.

Akhirnya setelah Shion mengangguk, benda yang telah dikumpulkannya terlalap dengan api, dan perlahan arwah itu menghilang dari pandangannya.

“Lawan trauma-mu dengan apa yang membuatmu takut, semoga kau tenang bersama ibumu.”

Terima kasih banyak.

Shion menutup korek apinya, dan menyegel puing-puing itu setelah pembakaran selesai.

*****

“Hikaru dapat lebih banyak dari Ryuzaki-chan? Bagaimana bisa?”

Akaashi melotot tak percaya mendengarkan cerita Ken di Klub Café tentang bayaran jasa yang didapatkan antara Mayuki dan Shion. Gadis itu sendiri sedang berhadapan dengan Mayuki yang menyerahkan dua lembar 1000 yen.

“Kumohon diterima saja Ki-chan.”

“Aku tidak mau menerima uang hasil kerja orang lain.”

“Tapi aku bekerja untukmu!”

“Aku tidak mau, aku punya uangku sendiri. Kau bekerja untuk polisi, bukan untuk Agen Penjemput Arwah. Walau aku memang menyuruhmu melakukannya, itu bukan dilakukan untuk pekerjaanku.”

“Ayolah Ki-chan! Ini juga uangmu!”

“Itu uangmu, terima saja. Aku bisa makan dengan uangku sendiri.”

Akaashi menggaruk kepalanya, sedangkan Ken menyeruput teh dengan tenang. “Ah benar, aku baru kepikiran.”

Ucapan Ken itu membuat Shion melirik sedikit, dan tangan Penjaga UKS menujuk  Akaashi. “Kenapa kau tidak membagi uangmu dengan Sagara-kun? Sagara-kun juga mempertaruhkan nyawanya untuk klien Ki-chan loh.”

Akaashi menolak dengan gugup, namun Shion mengiyakan dengan mantap. “Aku akan sangat menghargaimu jika uangmu kau berikan pada Sagara, Yukki. Dengan begitu, kau akan jadi anak yang sangat baik.”

“Nah, uang untukmu Sagara.”

Akaashi terbelalak melihat uang yang tadinya untuk Shion sekarang ada di hadapannya. Mayuki benar-benar menuruti Shion seperti anak anjing yang patuh pada pemiliknya.

“Tapi kenapa bisa sebanyak itu? Empat ribu yen untuk pelajar?” tanya Akaashi masih dengan nada tidak percayanya.

“Karena pelakunya adalah Mikio Ouji, pelajar yang bisa membuat bom, melakukan hacking pada sistem keamanan, dan melakukan penculikan yang mengancam nyawa, tentu itu sebanding dengan apa yang dilakukan Yukki untuk kepolisisan. Empat ribu yen bukanlah apa-apa.”

Shion menjawabnya dengan tenang, wajahnya tidak mempermasalahkan apapun yang sudah diterimanya.

“Tidak perlu banyak pusing, diterima saja kok repot. Kalian juga harus bersyukur karena itu.”

Satu kalimat yang membuat tiga orang lelaki di sana menurut akhirnya mengembalikan ketenangan di Klub Café.

— Session Six : Clear —

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top