The Missing Person

Hari ini di SMA Akamichi… terasa agak janggal. Ralat, bagi Shion, hari-hari di SMA-nya memang tidak pernah terasa normal yang menyenangkan baginya, namun hari ini adalah hari terjanggal selama dia menduduki status pelajar di sini. Bagaimana tidak? Dengan absensi lima siswa tanpa keterangan di tiga kelas, lengkap sudah apa yang aneh hari ini.

Mungkin bagi sebagian orang, berpikir bahwa absensi siswa bukan hal yang langka, apalagi kalau itu dicap membolos, jadi tidak perlu dipikir pusing. Namun yang terjadi di hari Jumat ini tidak demikian. Jika kelas 1-C mendapat lima absensi siswa tanpa alasan yang jelas dan itu juga terjadi pada kelas 2-A dan kelas 3-F, dua orang dari masing-masing kelas tersebut juga menghilang setelah istirahat makan siang sedangkan tas mereka masih berada di kelas masing-masing. Itu bukan hal yang normal lagi sekarang.

Tentu karena kelas 2-A adalah kelas dari Ryuzaki Shion, gadis tersebut juga merasa tidak tenang. Bukan karena hilangnya para siswa membuatnya khawatir, tapi keributan tersebut benar-benar membuatnya terusik karena suaranya terlalu keras, hal itu jadi lebih parah daripada gosip jatuhnya Ayamura Kanoka pada waktu yang lalu.

“Kau lari dari keramaian ya?”

Shion meletakkan gelas di meja agak keras karena frustasi, tangannya menempel di dahi dan sejenak memijatnya. “Keramaian itu… suara gosip itu… benar-benar membuatku pusing, aku jadi tidak ingin berangkat sekolah hari ini kalau tahu semuanya ribut membicarakan orang hilang.”

“Namun orang hilang sebanyak itu di sekolah kan juga mencurigakan.” Akaashi menelengkan kepalanya melihat teh yang diberikannya beberapa saat yang lalu telah lenyap tak bersisa. “Oh benar juga, bagimu itu sepertinya bukan hal yang penting ya?”

“Huh! Bagiku keramaian seperti itu bagusnya jika di pasar ikan.” gerutunya tanpa ampun. Akaashi hanya bisa tersenyum melihat gadis ber-hoodie di depannya menggerutu tak jelas tanpa henti, pemandangan ini adalah pemandangan langka yang tidak bisa ia lihat jika tidak di Klub Café, apalagi Raito tidak ada di sini.

“Ryuzaki-san, syukurlah kau di sini.”

Sayangnya, momen itu runtuh seketika begitu orang yang tengah ia pikirkan muncul membuka pintu klub, untuk beberapa saat Akaashi mengutuk Raito di dalam hati. Melihat Raito muncul dengan cara yang aneh, Shion langsung melirik ke arah orang yang mendekatinya.

“Apalagi sekarang?”

Raito duduk di sampingnya dan meredakan nafasnya yang terengah-engah sejenak, baru bicara. “Kau tahu tentang rumah tua di hutan belakang sekolah?”

Alis gadis itu naik karena heran. Kenapa Raito memberikan topik yang lebih aneh daripada masalah siswa hilang itu sekarang? batin gadis itu.Shion mengetuk-ngetuk meja saat berpikir sementara jarinya yang lain memberi sinyal pada Akaashi untuk membuatkannya secangkir teh lagi.

“Aku tahu, dan kenapa kau membahasnya sekarang?”

Raito nyengir, kurva di mulutnya itu sedikit ada rasa menyesal. “Aku menguping pembicaraan beberapa orang,” Namun kemudian senyuman itu sirna dan digantikan dengan wajah serius. “beberapa guru bilang kalau lima belas anak yang hilang itu juga tidak pulang ke rumah setelah sekolah kemarin, sedangkan teman-teman mereka mengatakan kalau beberapa siswa dari kelompok orang hilang itu membawa tas olahraga yang cukup besar dan mereka pergi ke rumah tua di hutan belakang sekolah itu.”

“Semalaman?” Akaashi yang menimbrung terkejut mendengarnya. “Yang benar? Tunggu ... tapi mereka hampir lima belas orang! Mereka sepertinya kawanan yang mencoba jurit malam di tempat berhantu deh.”

“Ekhem.” Shion berdeham mendengar kata-kata yang tidak ia senangi. “Jurit malam? Hal konyol apa lagi ini?”

Raito menggaruk kepala, juga merasakan titik keanehan pada informasi itu. “Karena itulah aku mendatangimu, itu hal yang tidak kumengerti. Apa yang bisa membuat lima belas orang murid sekolah menghilang sepulang sekolah tanpa alasan yang jelas lalu disusul enam orang yang menghilang juga?”

“Kau kira aku tahu?” balas Shion dengan nada kesal karena banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan tapi dia bahkan belum bisa menjawab satu saja.

“Ah ... apa aku membebanimu? Maaf, aku juga pusing karena sedikit orang yang datang ke Klub Perfilman.” Raito menggaruk pipinya tanda ia bingung karena bahkan temannya yang pintar saja tidak bisa membantunya.

“Berapa jumlah anggota klubmu itu?”

“Sekitar 20 orang, dan karena 15 orang menghilang, hanya 5 yang tersisa, dan salah satunya aku.”

Akaashi mengedutkan dahinya. “Jadi 15 orang yang menghilang itu semuanya dari Klub Perfilman?”

Ketika Raito mengangguk, Shion berkedip beberapa kali, kemudian mengeluarkan buku dari tasnya dan memandangi halaman yang kosong.

“Apa yang kau lakukan?”

“Hm… bayaran apa yang kalian berikan padaku seandaikan jika aku memang bisa membantu atau bahkan menyelesaikan masalah ini?”

“Oh! Kau sudah tahu jawabannya Ryuzaki?”

“Aku tidak mau bilang apa-apa jika aku nanti hanya diberi ucapan terima kasih saja.” ujar Shion cuek sambil membuang mukanya dari pandangan Raito dan Akaashi.

Mereka berdua berpandangan. Benar juga, untuk seorang Ryuzaki Shion, tenaganya harus dibayar dengan pantas. Tentu saja dia tidak mau melakukan apapun bahkan jika itu menolong nyawa manusia jika baginya itu adalah hal yang merugikan dirinya sendiri. Sekarang, yang perlu dipikirkan adalah, bagaimana mereka bisa mendapatkan kerja sama Shion yang notabene gadis irit energi dan anti-sosial.

“Apakah sebuah buku cukup untukmu?”

“Tidak.”

“Lalu apa yang kau inginkan?”

Shion menatap mereka kembali, menelengkan kepalanya dan pandangannya datar tanpa ekspresi. “Jika kalian berhadapan dengan seorang paranormal sekarang dan kalian bertanya seperti itu, harusnya kalian tahu apa yang kumau.”

“Maksudmu, uang?”

Shion menutup mulutnya dengan buku di meja. “Jika aku minta uang, para arwah itu akan berbuat buruk padaku. Pikirkan yang lain.”

“Hm… bagaimana kalau aku membelikanmu sesuatu lebih dari sekedar 'buku', Ryuzaki-san?”

Di ambang pintu Klub Café, muncul seorang pria muda dengan rambut acak-acakan dan kacamata yang menggantung di hidungnya. Yang jelas, dia bukanlah murid, karena seragamnya adalah seragam petugas kesehatan.

“Katayanagi-sensei, a-ada perlu apa kemari?” tanya Akaashi terkejut dengan sesopan mungkin karena kemunculan sang petugas kesehatan secara tiba-tiba.

Pria itu masuk dan tersenyum pada sang gadis, yang berusaha menghindari pandangannya. “Aku mendengarmu mengatakan kalau kau mau membantu masalah ini jika diberi imbalan, jadi bagaimana?”

“…….”

“Kenapa kau diam? Itu yang kau inginkan bukan? Aku tahu kau selalu melewati toko buku dan cuma diam di depan etalase melihat benda 'itu'. Kau suka bukan?”

“Dasar guru penguntit…” Shion mendesis dan mengutuk gurunya pelan.

Raito menyela pembicaraan mereka berdua sebelum terlalu jauh, karena curiga dengan hubungan kedua orang ini. “Maaf, sebenarnya tujuan Katayanagi-sensei kemari itu apa?”

“Oh, aku kemari karena mencari gadis ini, juga membahas hal yang sama dengan kalian.” Pria itu terkekeh dan duduk di samping Shion. “Aku tahu Ryuzaki Shion adalah seorang paranormal, tapi kau selalu takut jika dibayar dengan uang ne? Atau jika aku bisa panggil, Akio-chan?”

Brak!

Shion memukul counter dengan tangan mengepal, membuat mereka bertiga terdiam dan suasana jadi mencekam. Aura hitam yang mengerikan keluar dari tubuh Shion, itulah yang membuat suasana semakin menakutkan dan Klub Café semakin sunyi.

“Tutup mulut saja jika tidak bicara yang berguna.”

Hanya itulah yang dikatakan Shion, ia memandang sang petugas kesehatan tajam dan gelap.

“Aku benci orang yang terlalu banyak omong, buat dirimu diam dan bahas yang penting saja.”

Raito dan Akaashi ngeri melihat betapa berbahayanya Shion jika naik pitam. Gadis itu berdiri untuk beberapa saat, menghela napas dan kembali duduk.

“Aku sudah mengerti beberapa hal soal masalah ini, dengarkan dengan baik karena aku tidak mau mengulangi apa yang kukatakan. Jangan keluar topik, atau aku tidak akan peduli lagi dengan masalah ini.”

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top