The Message
"P-paranormal!?"
Para murid itu langsung berseru tak percaya sedangkan Shion semakin kesal karena waktunya terbuang percuma. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke jalan, dan Masaomi menyadari hal itu.
"Maaf atas ketidaknyamanannya Akiyama-san. Silahkan ikuti aku."
Shion memasukkan tangannya ke saku hoodie agar tidak dipegang-pegang lagi, meninggalkan kerumunan itu secepatnya.
"Maaf kalau mereka menyinggungmu Akiyama-san."
"Aku tidak masalah kalau mereka hanya ingin melindungi Harumi-san, tapi yang tadi itu sungguh mengangguku." Keluh Shion yang masih bermuka masam.
Masaomi menggaruk rambutnya yang masih saja berantakan di pandangan Shion. Perjalanan sepanjang koridor menuju kelas yang diampu Masaomi terasa hening, sisi Masaomi tidak tahu harus apa melihat Shion benar-benar tidak mau diajak bicara jika tidak penting, terlihat betapa dinginnya ekspresi gadis sekolah di sampingnya.
"Um ...."
"Ada apa Teruo-san?"
"Jadi saat bekerja seperti ini kamu selalu sendirian?"
"Ya. Lebih baik bekerja seorang diri seperti ini. " Shion mengangguk tenang. "Ada yang ingin Anda bicarakan soal itu?"
"Yah ... aku mencari informasi lebih banyak soalmu, dan aku tahu kalau kau dulunya bekerja di Hokkaido dan sangat terkenal di sana. Jadi aku berpikir, apakah kau punya suatu penyemangat untuk membuat dirimu tetap bekerja walaupun sendirian tanpa bantuan orang lain?"
Gadis itu melirik Masaomi dengan mata tanpa emosi. "Penyemangat ya? Sepertinya percaya kalau aku bisa, itu saja."
"Sungguh? Hebat sekali. Apakah keluargamu mendukungmu?"
Keluarga. Kata itu lagi, Shion dibuat tercenung dan muram karena itu. "Tidak, aku tidak punya keluarga."
"Oh maafkan aku! Sungguh aku minta maaf!"
Masaomi membungkuk penuh penyesalan, sedangkan Shion masih terdiam tanpa memberikan balasan. Sang lelaki yang lebih tua menggigit bibir, takut kalau membuat kesalahan lagi.
"Aku tidak terlalu memikirkannya, ayo jalan."
Langkah tanpa emosi kembali membuat Shion bergerak, perlahan meninggalkan Masaomi yang akhirnya bangkit dari posisi meminta maafnya. Pasti berat menjalaninya seorang diri, tidak salah kalau kelakuannya seperti itu, pikir Masaomi prihatin.
"Masih jauh kah kelas Harumi-san?"
"Kita hampir sampai." Jawab lelaki itu pelan. Shion melepas penutup kepala yang sedari tadi masih menyembunyikan kepalanya dari pandangan orang lain, jadi sekarang Masaomi dapat menatap kembali rambut coklat kehitaman panjang milik gadis itu.
Kelas 3-A, Shion dapat dengan jelas melihat tanda itu begitu langkah mereka berhenti. Fakta baru tentang Harumi Ibara, dia adalah gadis yang satu tingkat di atasnya. Namun juga Shion tidak berniat memanggilnya dengan panggilan 'Senpai', apalagi ia tidak mau ikut campur masalah apapun di luar kewenangannya.
Shion membuka pintu di depannya dan melihat realita yanga ada. Kelas itu kosong dengan satu buah jendela terbuka, angin melambaikan tirai perlahan dan menyalurkan sinar senja yang hangat. Masaomi menggiring Shion ke tempat Harumi duduk, dan tibalah mereka di kursi paling belakang dari barisan.
"Ini meja Harumi san .... Ah, sudah penuh dengan goresan lagi ...."
Shion meminta Masaomi mundur lewat sinyal tangannya, gadis itu juga mundur sedikit dari tempat duduk Harumi, dirasa terlalu dekat dengan zona beraura berbeda itu.
"Aku perlu menjauh lagi?"
"Sebaiknya Anda berdiri di depan pintu saja Teruo-san. Aku mohon jangan menggangguku sedikit saja."
Kembali lagi Shion berfokus pada bangku yang menjadi inti pekerjaannya sekarang, di sana ada arwah gadis yang duduk tertunduk tak bergeming. Mengawali pembicaraan dengan membuang napas, dan melontarkan kalimat pemecah kesunyian.
"Apakah kau yang namanya Harumi Ibara-san?"
Masaomi yang berdiri di ambang pintu terkejut saat Shion mulai bicara, apalagi melihat apa yang ia lontarkan dari mulutnya. Ia ingin mendekat, tapi karena tidak ingin menganggu Shion ia menahan diri untuk maju.
Arwah gadis itu perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Shion dengan wajah menginginkan harapan. Arwah Ibara mengangguk perlahan dan Shion melanjutkan percakapannya.
"Aku di sini akan membantumu, jadi kau bisa menyampaikan semuanya padaku."
Arwah gadis itu mengangguk lagi berdiri, meminta Shion untuk mengikutinya menuju ke depan papan tulis. Masaomi memperhatikan gerak-gerik Shion dengan sungguh-sungguh, apapun yang dilakukan Shion bisa aja memberi sinyal apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
Arwah Ibara menunjuk kapur dan Shion mengambilnya. Gadis itu menatap sosok tak terlihat itu dengan anggukan kepala. "Bimbing aku Harumi-san, kau boleh memegang tanganku."
Tangan Shion perlahan terangkat tapi yang bekerja adalah matanya, memandang tangannya yang dibimbing arwah Ibara dalam menulis rangkaian huruf menuju kata dan kalimat. Dari posisinya, Masaomi bisa melihat dan membaca tulisan yang diukir Shion, perlahan matanya terbelalak melihat apa yang ditulis gadis itu.
BAWA AKU PERGI DARI SINI SEBELUM TENGAH MALAM. AKU TIDAK BISA KELUAR DARI SINI SENDIRIAN.
Tangan lain Shion memegang dagunya dan kepalanya ditelengkan masih melihat Ibara. "Beritahu aku alasannya."
Tangan Shion menulis lagi, namun sekarang kalimat yang tercipta jauh lebih panjang.
MEREKA SELALU DATANG SAAT TENGAH MALAM, MENGEJARKU TANPA HENTI. MEREKA BEGITU BESAR DAN MENGERIKAN, WALAU HANYA MUNCUL DI TENGAH MALAM, AKU TIDAK TAHAN BERADA DI SINI LEBIH LAMA.
"Jadi kau meminta bantuan dengan menggunakan gurumu?"
Arwah Ibara mengangguk dan melihat sosok sang guru yang ada di ambang pintu. Pandangan yang diberikan sang arwah menyendu, membuat Shion mengerti apa yang ia coba sampaikan.
"Karena kau tidak bisa bicara dan menyampaikan maksudmu pada temanmu, kau memilih gurumu begitu? Aku mengerti, aku mengerti." Shion juga memandang Masaomi yang masih berdiam diri di ambang pintu. "Berarti kebetulan juga gurumu bisa menghubungiku, jadi kita bisa bertemu dan aku bisa membantumu seperti ini ya, Harumi-san."
Arwah Ibara mengangguk.
Shion mengetuk-ngetuk papan tulis di depannya dengan jari, berpikir jauh lebih keras. "Beritahu aku rupa 'mereka' yang mengejarmu setiap malam Harumi-san."
Di pandangannya sekarang wajah sang arwah kembali muram dan diselimuti ketakutan. Tangan transparan-nya kembali menuntun Shion untuk menulis apa yang ia sampaikan.
MEREKA BESAR DAN SANGAT GELAP, MEREKA JUGA SANGAT MENAKUTKAN. AKU MELIHAT ARWAH-ARWAH LAIN JUGA MELARIKAN DARI MEREKA DAN MENYURUHKU UNTUK MENJAUH. PARA ARWAH ITU MENGATAKAN AKU TIDAK AKAN BISA KEMBALI HIDUP JIKA TERTANGKAP MEREKA.
Shion tiba-tiba terdiam dan wajahnya mengeras saat mengerti yang di sampikan arwah Ibara. Matanya memadang tempat lain untuk memikirkan hal yang menganggu pikirannya.
Tidak mungkin aku mengulangnya, rencana itu benar-benar beresiko, pikir Shion lalu mulutnya mendesis kesal.
"Um ... kau butuh bantuan Akiyama-san?"
Shion menggigit bibirnya dan menggeleng. "Tidak, aku hanya sedang berpikir saja." Tuturnya pelan, mecoba tidak membuat masalah baru. Jarinya beralih mengetuk-ngetuk dahinya, mendesis lagi. Aku benar-benar butuh bantuan kalau situasinya seperti ini, tidak bisa nekat, pikirnya lagi walau sebenarnya ia juga berkonflik dengan dirinya sendiri mengigat ia selalu menolak mentah bantuan yang disondorkan untuknya.
Gadis itu menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang kering, mengangguk membuat dirinya sendiri tenang. Arwah itu meminta dengan sungguh-sungguh dan memegang pundak Shion, memberikan ekspresi berharap. Shion memejamkan matanya dan mengangguk dengan senyum tipis. "Aku akan berusaha membawamu keluar dari sini, mohon bantuannya ya Harumi-san."
Arwah itu mengangguk penuh. Kemudian Shion meminta izin pada arwah itu dan Masaomi di depannya. "Aku tidak menyangka akan bekerja pada situasi ini Harumi-san, apakah kau keberatan jika aku meminta bantuan seorang teman?"
Sosok Ibara kembali mengangguk namun tidak untuk Masaomi yang memandang bingung Shion. "Kau punya asisten?"
Shion berbalik. "Tidak, hanya pahlawan kesiangan yang sering membantuku saja."
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top