The Logic
"Jadi apa masalah yang ada di ruang musik Ryuzaki-san?"
"Bukan urusanmu." ujar Shion ketus. "Aku hargai usahamu untuk membantuku, tapi tidak terima kasih"
"Kenapa?"
Shion menatap keluar jendela Klub Cafe, sejenak matanya memancarkan hal lain yang jarang ia tunjukan, itulah yang dilihat Akaashi dan Raito.
"Kalian tidak akan mengerti."
Akaashi dan Raito merasakan hal aneh ketika itu. Shion menata semua bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya. Untuk sesaat Shion menatap gelas kopinya yang telah kosong lalu ia berucap.
"Aku tidak mau melibatkan kalian dalam masalahku. Kalau kalian bisanya membuatku repot, berhentilah mengangguku karena itu sangat merepotkan tahu."
"Kalau begitu kau harus menggunakan kami." Raito menjawabnya dengan pelan. "Beritahu apa masalahnya dan kami akan buat diri kami berguna."
Shion menghela lagi, ia menatap Sagara. "Kau bisa mendengarkan nyanyian itu bukan, Sagara?"
"Ya, jelas sekali." lelaki itu menelengkan kepalanya pada Shion. "Kenapa? Ada yang aneh dari itu?"
Shion menggeleng. "Ada yang menyanyikannya, dan dia juga mengawasi ruang musik saat itu. Dengan nyanyiannya, dia memanggil kita untuk menolong Takagami."
"Tentu ada yang menyanyikannya... tapi untuk menolong Takagami? Kenapa tidak ia tolong sendiri?" tanya Akaashi
"Karena dia bukan manusia. "
Hening sejenak, mereka terdiam mendengar ucapan Shion.
"Ha? "
Shion menaikkan alisnya. "Itulah kalian, mengerti tidak? Makanya aku malas memberitahu kalian, kalian tidak akan mengerti. "
Akaashi menelengkan kepala sejenak, "Maksudmu arwah orang yang sudah mati? "
Shion mengangguk. "Lebih tepatnya dia ada di ruang musik, tapi aku tidak tahu siapa dia. "
"Tentu kau tidak tahu, banyak orang yang pernah sekolah di sini dan akhirnya mati tahu. "
"Maksudku, arwah ini aneh Sagara. " nada bicara Shion menenang, rupanya Sagara tidak termasuk salah satu orang yang biasanya tidak percaya pada arwah orang mati. "Dia seorang wanita yang terlihat seperti guru, tapi aku tidak tahu jika ada laporan kematian seorang guru di sekolah ini. "
"Tidak ada. " Raito menggeleng. "Jika guru di sini, tidak ada. "
"Kau tahu hal lain tentang itu?"
Raito mengangguk dengan nada ragu. "Um ... kalian bisa melihat arwah orang mati benar? Bisakah kalian tidak mengatakan hal ini pada orang lain? "
"Oh? Kau takut Takagami? "
"Aku tidak takut! " Raito membela diri dikatai begitu. "Aku tahu kalau sampai main-main dengan benda magis seperti itu nanti kena petaka!"
"Jangan-jangan kau anggota Klub Supratural?" tanya Shion tak suka.
Raito menjawab cepat mendengar nada tajam Shion, "Tidak. Aku hanya suka membaca buku magis. Makanya aku tahu perasaan seperti itu. "
Shion menatap Raito sejenak, matanya yang datar nan dingin membuat Raito menegang. Akhirnya Shion membuang pandangannya ke arah pintu dan berdiri dari kursinya.
"Kalian bilang aku harus membuat kalian berguna ...." Shion melirik mereka berdua. "Kalau begitu jangan diam di situ saja, kita harus kembali ke ruang musik. "
Dengan itu, mereka kembali ke tempat awal mereka bertemu dengan Raito. Di koridor sebelum mencapai ruang musik, Shion kembali menatap Raito.
"Ap-apa? "
"Kau tahu sesuatu tentang kecelakaan seorang guru, benar bukan? "
Akaashi yang mendengarnya juga menghentikan langkah kakinya. "Tahu? "
Ekspresi Raito mendadak memucat, ia mengalihkan pandangannya. "Jika kau berjanji melindungiku, aku akan cerita pada kalian. "
"Hmph, aku tidak mengatakan sepenuhnya, tapi aku tidak pernah gagal dalam pekerjaanku. "
Akaashi menatap Shion menyelidik karena ucapan yang ia katakan barusan, namun ia mengerem mulutnya untuk bertanya karena tahu mood Shion akan semakin buruk. "Beri tahu kami Takagami-kun, percayalah. "
Raito bersandar di tembok koridor, matanya menerawang jendela yang menampilkan pemandangan senja.
"Sebelum tahun ajaran baru, lebih tepatnya saat liburan kelulusan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau ada seorang wanita tertabrak mini truk pengangkut barang. Dari polisi yang mengamankan tempat itu, aku tahu wanita itu seorang guru dan dia ditabrak lantaran sopir truk itu mengantuk. Aku tidak tahu hal lain selain itu. "
"Namanya? "
"Tidak terdengar. "
Shion menatap lantai, wajahnya ditekuk dan terlihat serius, namun ia melontarkan sesuatu, terdengar seperti lelucon yang mengejek. "Kau punya bakat jadi penguping ya? "
"Enak saja! Bukan salahku! Polisi itu agaknya polisi amatir. Suaranya saja keras padahal dia sedang membicarakan orang mati, itu tidak baik." Balas Raito yang menganggap lelucon itu terlalu serius.
Akaashi menengahi. "Lalu apa yang membawa arwah itu sampai ke sini? Kecelakaan itu dekat dari sekolah kita? "
"Tidak, itu lumayan jauh. "
Shion tidak memberikan respon lebih lanjut dan lanjut berjalan. "Waktu bicara habis, kembali ke pekerjaan. "
Raito menahan Akaashi yang mulai merasa kesal. Dirasanya gadis itu bertindak seenak jidatnya sendiri, kelakuannya itu membuat kesabaran orang jadi habis lantaran jengkel.
Shion membuka ruang musik dan tidak melihat adanya perubahan sedikitpun. Ia menyentuh lantai untuk beberapa saat, dan kembali berdiri.
"Belum ada yang kemari. "
"Tentu saja, kenapa harus ada orang kemari kalau sekolah sudah usai? "
"Untuk memeriksa keadaan Takagami tentunya. " Shion menjawab itu dengan ringan sambil berjalan menuju rak koleksi. Ia memperhatikan sebuah piala sembari meneruskan kalimatnya, "Orang yang memukul Takagami, bahkan itu memukul kepala, harusnya kembali ke ruangan ini untuk memastikan tidak ada siapapun yang menemukan Takagami dalam keadaan seperti itu. Jika dia ketahuan, dia bisa kena hukuman yang berat, bahkan polisi bisa ikut campur dalam masalah ini. "
"Po-polisi!?" Akaashi terkejut, ia segera menatap Raito di sampingnya. "Yang benar? Tapi kan Takagami cuma terluka? "
"Kalau kita tidak datang, dia pasti sudah mati. "
Jawaban singkat Shion membuat tubuh Raito gemetaran, keringatnya dingin dan wajahnya ngeri membayangkan kalau dia sudah tak bernyawa.
"Aku bersyukur aku masih bernafas..." Raito tak sadar menggumam seperti itu karena terlalu ngeri.
"Ya ya, aku juga bersyukur karena itu. Aku tidak mau kau menghantui ruang musik dengan kepala berdarah-darah Takagami-kun. " Akaashi ikut setuju dengan gumaman Raito.
"Sebaiknya kalian tetap di situ. "
Tiba-tiba Shion berkata demikian, gerakannya berhenti saat menggenggam suatu vas kecil.
"Kenapa? "
"Biar tidak menganggu saja. "
Shion berkata seperti itu karena tangannya disentuh oleh arwah wanita yang ia lihat tadi. Shion memandang arwah tersebut dan mulai bicara padanya.
"Anda mencari seseorang? "
Arwah itu menggeleng.
Aku menunggunya.
"Hm ... ternyata menunggunya ya .... "
Shion menggumam seperti itu, wanita itu diam, beliau juga memandang vas yang Shion pegang, dan menunjuk bagian yang retak dan telah diperbaiki dengan lem.
"Anda tahu soal guci ini? "
Arwah wanita itu mengangguk. Shion kembali meneliti vas itu dan meletakkan kembali di rak. Kemudian, mengeluarkan pin itu daru sakunya dan menunjukkannya.
"Anda tahu soal pin ini? "
Arwah itu mengangguk.
Shion mendekati kursi yang ada dan duduk untuk berpikir, Raito mendekatinya seandaikan kalau gadis itu mulai lelah.
"Ada yang bisa kubantu? "
Shion mengetuk-ngetuk meja. "Sejauh ini, baru beberapa hal yang aku tahu soal penyelesaian masalah ini. Jika kau mau membantuku, kau bisa menebak pelakunya siapa? "
Raito melipat tangannya. "Aku tidak menuduh siapa pun, tapi aku mengakui kalau pelakunya akan kembali kemari, seperti yang kau katakan Ryuzaki-san. "
"Kau begitu percaya dengan apa yang aku katakan ya? "
Raito melihat tempatnya tergeletak tadi dan mengelusnya. "Seorang murid SMA, kalau tidak seorang psikopat atau yakuza pasti takut melakukan kekerasan yang melibatkan kepala. Secara mentalis, mereka yang memukulku pasti akan pergi karena takut, dan kembali untuk mengecek kembali. Jika aku masih terbaring di sini, dia harus menyembunyikanku—"
"Aku puji pikiran ala detektifmu itu. "
Entah daripada pujian, itu lebih mirip sebuah ledekan, itulah yang Raito pikirkan jika Shion mulai bicara.
"Kau benar, tapi sesaat aku berpikir kalau teoriku bisa salah .... "
Raito mendengar gumaman pelan Shion, mulai merasakan hal yang mengganjal.
Saat Shion menoleh, arwah itu mulai bergerak. Tangan transparantnya menunjuk pintu.
Ada yang datang.
"Hm?"
"He-hei! Jangan pergi! "
Akaashi menarik tangan seseorang, seorang perempuan muda dengan seragam yang sama seperti mereka.
"Ke-kenapa aku ditarik paksa!? Aku bisa jalan sendiri Senpai! "
Senpai? Seorang adik kelas?
"Untuk apa kau kemari? " serobot Akaashi.
"A-aku cuma mengecek seluruh ruangan sudah kosong atau belum! I-ini juga sudah hampir senja, dan ada satu orang dari klub baseball tidak hadir. Kata beberapa orang dia berkeliaran di sekitar gedung khusus, makanya aku kemari untuk mencarinya! " seru orang itu kesal bernada cepat, lalu ia menggumam betapa kuatnya cengkraman Akaashi sampai membuat lengannya sakit.
"M-maaf untuk itu."
Melihat ada orang lain bersama Akaashi, gadis itu menjadi gugup. "Anu ... M-maaf? Apakah kalian melihat anak kelas satu berkeliaran di sini?"
"Satu-satunya adik kelas yang mungkin ada di gedung khusus sesore ini mungkin hanya kau. " jawab Raito datar.
Junior itu terkejut melihat kepala Raito yang diplester. "I-itu kenapa? "
"Jatuh. "
"Y-ya ampun ... kasihan sekali ...."
Shion mendekati adik kelas itu dan menatapnya tajam. Sang adik kelas bergidik melihat pandangan Shion yang menyeramkan.
Jelas-jelas ia tidak bisa mengalihkan pandangannya, karena junior itu tidak terlihat memakai pin tanda angkatannya.
*****
Terima kasih sudah membaca Rewrite Ghost Hunter sampai sejauh ini. Apakah kalian puas dengan rewrite? Atau memilih Ghost Hunter yang lama? Kalian bisa memilih, dan aku akan meneruskan kasus selanjutnya melihat jawaban kalian.
Seperti yang ditanyakan Shion.
"Apa kau tahu siapa pelakunya? "
Kalian bisa menjawab Shion? Itu cuma pertanyaan sederhana bukan?
Salam dari Reon
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top