The Fall

"Ada orang jatuh dari tangga!!!"

Haruki melotot dan segera berdiri dari kursinya, mencari asal teriakan yang tak lazim ada pada hari di mana tahun ajaran pertama dimulai. Semua siswa, terkecuali Shion panik dan segera berlari ke gedung utama, melihat apa yang terjadi di sana.

"Pergilah."

Haruki menatap Ryuzaki dengan ekspresi tidak percaya, melihat Shion hanya menopang dagunya malas ditengah kenyataan bahwa bisa saja orang yang jauh di sana bisa mati.

"Bukannya kau OSIS? Kenapa tidak ke sana?" tanya Shion cuek, masih meneruskan meminum kopinya.

Mengurusi Shion tidak akan membuahkan hasil, Haruki segera berlari ke gedung utama tanpa bicara apa-apa lagi, meninggalkan Shion yang terdiam di kursi taman sekolah.

Sedangkan pada nyatanya, Shion telah berhadapan pada makhluk lain yang mengambil alih tempat duduk Haruki, tapi tentunya, Shion tidak akan begitu peduli pada arwah itu jika ia tidak meminta bantuan, terlebih dia hanya arwah gadis kecil yang justru memberikan senyuman padanya.

Kau tidak ke sana?

"Tidak, aku tidak tertarik," jawab Shion datar. "Tapi jika kau tahu apa yang terjadi, aku senang bisa mendengarnya."

Siswi satu angkatan denganmu jatuh dari lantai empat, dia berdarah-darah di lantai tiga kalau kau ingin tahu.

Shion berdeham lagi. "Tidak disengaja atau ada pem-bully-an?"

Itulah yang harus kau cari tahu. Gadis itu sedang berjalan sendirian, sedangkan gadis lain di belakangnya mengikutinya tanpa bicara, dan tak jauh dari mereka berdua ada arwah sebayaku melihat mereka. Tiba-tiba sampai di tangga, gadis di depan jatuh dan terguling-guling, mendarat di lantai tiga bersimbah darah.

"Lanjutkan."

Siswi itu sempat mengatakan sesuatu sebelum tak sadar diri.

"Kau tahu soal itu?"

Ucapan patah-patah yang tak jelas.

Shion menghancurkan kaleng kopinya setelah selesai mendengarkan penjelasan dari arwah itu. Ia melirik ke gedung utama, menghiraukan senyuman arwah gadis itu. "Hari yang buruk untuk memulai tahun ajaran baru huh?"

Fufufu... kau tidak akan tahu jika tidak mencari tahu. Setidaknya kau pergi jika tidak ingin masalah mengincarmu.

Shion berdecak, menjadi satu-satunya orang yang tidak peduli kasus besar seperti ini bisa mendatangkan masalah, ia mengiyakan perkataan arwah itu dan pergi menuju gedung utama.

Berusaha tidak memerdulikan sirene ambulan di depan sekolah, Shion tetap berjalan lurus untuk mencari tahu masalah yang terjadi beberapa saat yang lalu. Melewati murid-murid yang mulai bergosip soal siswa jatuh itu, Shion tak bisa tidak menggumam kesal karena mereka terlalu berisik untuk berbisik, membuatnya tidak memiliki kenyamanan sedikit saja untuk mendengarkan lagu lewat earphone-nya.

"Sepertinya Kitaoka-san yang menjatuhkan Ayamura-san."

"Tidak mungkin! Mereka itu teman baik!"

"Tapi bisa saja kan? Tadi Kitaoka-san berjalan di belakang Ayamura-san, bisa jadi dia yang mendorong Ayamura-san. Kau tidak tahu kalau hubungan mereka beberapa hari ini memburuk?"

"Memburuk bagaimana?"

"Tidak saling menyapa, menolak acuh tak acuh, lalu bertingkah seperti kau tidak ada, bukankah itu kelewatan sebagai seorang sahabat? Tapi jelas-jelas Ayamura-san melakukan hal itu pada Kitaoka-san."

Shion merasa terganggu dengan gosip tajam itu, tapi ia tetap mendengarkan sampai selesai, sayangnya tidak kesampaian, karena tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

"Apa yang kau lakukan?

Shion menoleh pelan, terkesan kesal karena kegiatannya diganggu, tapi ia hanya bisa menatap orang itu sejenak karena melirik badge di tangan kirinya, tulisan OSIS besar di sana.

"Aku?"

"Siapa lagi?" tanya lelaki itu. "Kau pura-pura tidak jadi siapa-siapa saat berdiri di situ, tapi apa yang kau dengarkan?"

"Gosip." jawabnya singkat, padat nan jelas. "Apa lagi selain itu memangnya?"

"Setidaknya jika tidak bisa membantu apapun, jauhi tempat ini. Kau tidak mau dicurigai polisi karena terlalu dekat dengan TKP benar?" lelaki itu melipat tangannya, memandang Shion heran. "Tunggu, aku merasa asing dengan wajahmu, siapa kau?"

Shion menunjuk pin di jaketnya. "Kelas dua, aku pindahan dari Hokkaido."

"Chihiro-san!"

Shion mendengus diam-diam, menggerutu tak jelas karena suara yang ia benci terdengar lagi. Haruki berlari ke arah lelaki di depannya itu, wajahnya terlihat sangat khawatir.

"Kitaoka-san pingsan! Bagaimana ini?"

Orang bernama 'Chihiro' itu menghela napas dan menyeka peluhnya. "Melelahkan, kenapa kita harus mengurus hal ini? Kenapa tidak kepala sekolah saja? Aku akan menghubungi kepala sekolah, bawa Kitaoka-san ke UKS."

Sebelum kembali ke pekerjaannya, Haruki menyadari kalau Shion berhadapan dengan ketua OSIS itu, memberikan sapaan berupa panggilan nama, "Ryuzaki-san!"

"Aku mau pulang.", gumam Shion langsung berbalik dan menjauhi keduanya, tapi kembali menemui kegagalan karena Haruki menarik tangannya.

"Jangan! Ikut aku dulu!"

Shion mendecih, dia benci berurusan dengan orang-orang penting seperti OSIS, langsung mengibaskan tangan lelaki itu dan memandangnya kesal. "Tidak perlu menyentuhku, aku bisa jalan sendiri."

"Ada apa ini?" tanya lelaki bernama Chihiro itu. "Kenalanmu?"

"Aku menemukan petunjuk, tapi ini janggal jika dipikir pakai logika, yang bisa menolong cuma Klub Supranatural dan gadis ini, Ketua!"

Shion akhirnya dengan terang-terangan mendengkus kesal, suaranya keras hingga membuat kedua lelaki itu menoleh. Wajahnya mengatakan kalau ia sangat terganggu dengan keberadaan dua orang yang ia hadapi.

"Maaf kalau kami mengganggumu, tapi jika Nijou sudah bilang begitu, mau tak mau kau harus ikut kami."

"Apa yang aku dapatkan sebagai upahnya?" sodok Shion tanpa lihat siapa yang ia hadapi sekarang.

"Aku... akan membelikan benda yang kau mau. Setuju?" tawar Chihiro melihat kalau gadis di depannya bukanlah gadis centil yang berbau gula-gula.

Tahu saja, Shion hanya menghela dan ikut berjalan bersama mereka, hal ini bisa dibilang kalau dia kalah telak dan menurut pada kedua lelaki itu.

Lebih tepatnya saat berada di depan suatu ruangan klub bernuansa goth, Shion kembali mendengkus keras dan memasukkan semua tangannya ke dalam saku jaketnya.

"Tokio-senpai, kami bawa orangnya.", teriak Haruki dari luar.

"Masuklah."

Chihiro membuka pintu klub itu, dan pemandangan menusuk mata telah Shion rasakan. Dinding ditutupi kain hitam, jendela ditutup tirai gelap, lantai dengan tanda pemanggil iblis, patung di sana-sini, dan orang-orang yang di dalamnya pun tidak enak dipandang oleh matanya, tapi apa daya Shion tidak bisa mengambil langkah mundur.

Dan orang yang bernama Tokio itu menggunakan jubah, matanya berkantung, rambutnya acak-acakan, benar-benar seorang maniak supranatural berada tepat di depannya.

"Sebelumnya, aku Tokio Takehara, ketua Klub Supranatural."

"Hm. Salam kenal, aku Ryuzaki Shion," jawab Shion singkat. "Jadi?"

Ia menutup buku yang ia bawa, lalu menoleh ke lantai dengan karpet pemangggil iblis. "Hasil ritual kami terasa sangat janggal, apa yang kami panggil entah ada dua dan kami bingung sekali karena bentuknya tidak jelas."

"Hah. Memangnya biasanya tidak begitu?" cibir Shion.

Takehara menggeleng. Shion menghela, "Pertama, aku ingin lampunya dihidupkan. Tidak enak tahu bicara gelap-gelap begini."

Takehara awalnya enggan, tapi melihat pandangan Chihiro dan Haruki padanya, ia menghidupkan lampu dan teranglah ruangan Klub Supranatural. Jika terang begini, nampak jelas kalau anggota Klub Supranatural sedang berkumpul, ada dua orang gadis dan tiga orang lelaki lain yang ada di dalam ruangan ini, mereka juga berpenampilan goth,memakai tudung dan mempunyai kantung mata di wajahnya.

Shion, Si Ketua OSIS, dan Haruki duduk di kursi yang ada, bertatapan muka dengan Takehara

"Apakah alasan aku dipanggil di sini adalah karena aku bisa melihat arwah, jadi kalian ingin aku ikut berpikir tentang hasil ritual kalian?"

Takehara mengangguk tanpa rasa percaya diri karena sudah merasakan hawa muak dari wajah Shion, ia kemudian berkata, "Aku dengar dari Nijou-kun, kau bisa melihat arwah dan hantu... mungkin juga iblis... jadi bagaimana menurutmu? Apakah hasil ritual kami benar?"

"Ah... aku tidak tahu siapakah yang menjatuhkan Ayamura-san dan apakah kalian berhasil memanggil orang itu dengan benar, tapi kalau aku boleh bilang, apa yang kalian lakukan itu sia-sia," jawab Shion dengan nada malasnya. "karena sebenarnya apa yang kalian kerjakan itu berbeda konsep dengan apa yang kita tangani sekarang."

"Apa maksudmu?"

"Ada beberapa kemungkinan kenapa Ayamura-san jatuh, dimulai dari jatuh karena kecerobohannya sendiri, didorong orang lain, dan jatuh karena ulah arwah-arwah itu, sedangkan kalian para anggota Klub Supranatural mengira bahwa semua ini disebabkan oleh iblis. Bahkan jika dipikirkan dengan otak imajinatif, iblis apa yang kurang kerjaan sampai-sampai mengganggu murid sekolah? Kecuali kalau memang ada iblis yang menyimpan dendam pada Ayamura-san."

Takehara terkejut bukan main sedangkan Haruki khawatir karena ucapan Shion terbilang keterlaluan karena terlalu blak-blakan. Sekarang yang terbayang di benaknya adalah, mungkin ketua Klub Supranatural itu akan mengebrak meja dan mulai marah, namun kenyataannya Takehara malah tertunduk seakan kalah dikatai begitu oleh Shion.

Shion kembali melanjutkan penjelasannya dengan nada tak acuh, "Aku sudah berkeliling sekolah hari ini dan tidak ada arwah yang punya niat mencari gara-gara pada Ayamura-san, tapi bukan berarti aku bilang kalau Kitaoka-san lah pelaku insiden hari ini,"

Sejenak hening, Takehara belum bisa menjawab apa-apa sementara Si Ketua OSIS sibuk dengan catatannya,Haruki memandang Shion yang sedang menguap dengan malasnya, yang kemudian gadis itu berbalik memandang Haruki.

"Aku mau melihat keadaan Kitaoka-san, bisa?"

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top