The Explosion
Ken melihat kenyataan bahwa dahi Shion mengedut lebih dari dari biasanya, dan kaca matanya yang melorot dinaikkan dulu sebelum bertanya lagi. "Apa maksudmu?"
"Entahlah, perasaanku hanya bilang ada yang akan terjadi nanti."
Kalau Shion sudah berkata seperti itu, hal yang terjadi hanya berkemungkinan kecil meleset dari perkiraannya. Shion meminum matcha latte-nya dan memandangi liquid hijau di gelas putih tersebut. "Mimpi aneh dan ledakan yang saling berhubungan. Sebenarnya hal yang kupikirkan dari tadi adalah makna dari mimpi itu untuk ledakan yang terjadi di Ikebukuro."
"Dan?"
"Kupikir, hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi menurut pengalaman yang pernah kualami." papar gadis itu menunjukkan dua jarinya. "Pertama, Sakurako-lah yang menjadi korban insiden ini. Yang kedua, adikmu-lah yang nanti akan dalam bahaya seperti yang ditunjukkan di dalam mimpi adikmu oleh Sakurako, Shibakura-san."
Seketika Hibiki menegang dan ia berdiri dengan tiba-tiba, tangan besarnya menarik tangan Shion, mencengkramnya erat. "Aku mohon, jangan apa-apakan adiku. Aku akan melakukan apapun untuknya, jangan lukai adiku."
"Aku tidak bisa melakukan hal lain, ini masih kemungkinan Shibakura-san." Shion menenangkan lelaki yang tengah panik di depannya seraya mencoba melepaskan tangannya yang tercengkram erat. "Namun aku berusaha semua klien-ku selamat dan tugasku sukses, itulah yang akan kulakukan, Shibakura-san."
Hibiki membeku sejenak, lalu dia duduk kembali ke kursi tanpa mengatakan apapun. Tangan lelaki itu mengusap wajahnya, sedikit bergetar dan memancarkan rasa takut.
Melihat Hibiki panik itulah Shion mendengkus. "Kau tidak perlu panik begitu, telpon dia sekarang dan minta dia kemari."
Hibiki langsung mengeluarkan ponselnya dan terdengar suara panggilan dari benda itu. Hanya suara panjang, namun tidak tersambung.
"Oh Tuhan ..."
Itulah salah Shion, terlalu memengaruhi klien-nya. Sekarang Hibiki semakin panik, hal itu membuat kepala Shion semakin pening mengurusinya. "Kau dan adikmu sekolah di mana?"
"Di SMA Katolik Maria Gakuen." jawab Hibiki masih gemetaran.
Shion menghela napas, mau tak mau dia harus menghubungi orang lain.
"Siapa yang kau telpon Ki-chan?"
"Nanti kau tahu sendiri." jawab gadis itu pendek pada pertanyaan Ken.
Nada tersambung, suara lelaki di seberang menyahut. "Halo Ki-chan?"
"Kupikir kau pasti akan membantuku kalau aku minta bantuan kan, Yukki?" ujar Shion tanpa aba-aba begitu orang di seberang bersuara.
Suara seberang langsung berseru dengan nada naik. "Tentu saja! Apapun akan kupenuhi untukmu Ki-chan, katakan saja!"
"Kau ada di mana sekarang? Kau mendapatkan data klien kita hari ini?"
Sedikit suara berisik dari pihak Mayuki, Shion menghentak-hentakkan kakinya di lantai tak sabar. Mayuki tiba-tiba menyahut saat Shion tidak siap, sehingga ia terkejut dan telinganya berdenging.
"Aku masih di sekolah, dan aku dapat informasi klien dari formulir di website paranormal. Kau membutuhkannya?"
"Yang kubutuhkan sekarang adalah kau pergi ke alamat di formulir itu. Sekarang, secepatnya, Yukki."
Yui langsung berdiri mendengar perminataan Shion pada Mayuki di seberang, wajahnya nampak tidak senang. "Kenapa tidak kita saja yang pergi kalau kita memang perlu bertemu dengan adik Shibakura-san?"
"Nama yang dipakai adik Shibakura boleh nama kakaknya, tapi alamat rumah yang ditulis pasti alamatnya. SMA Akamichi lebih dekat dengan apartemen adik Shibakura daripada posisi kita sekarang." terang Shion dengan ponsel masih melekat di telinganya, disengaja agar dia tidak mengulang penjelasannya pada Mayuki. "Kau dengar Yukki? Kita harus menyelamatkan klien kita, karena itu kumohon berlarilah secepat mungkin ke alamat itu dan hentikan dia masuk ke apartemennya. Nyawanya ada di tanganmu."
Mayuki saat itu sudah hendak berlari meninggalkan kelasnya, saat Shion memintanya untuk benar-benar bekerja keras. Lelaki berkaca mata itu menjawab dengan tegas, lalu langsung tancap gas untuk meninggalkan sekolahnya.
"Beri tahu aku orang yang harus kutemui Ki-chan!"
"Dia satu-satunya gadis di kompleks itu yang bersekolah di Maria Gakuen, untuk itu cegat gadis berseragam sekolah Katolik itu!"
Berusaha tidak menabrak agar tidak diperlambat adalah yang dipikirkan Mayuki, sehingga ia memutuskan untuk mematikan ponselnya untuk fokus tinggi. Saat keluar gerbang sekolah, Akaashi melihatnya tergesa-gesa keluar dengan wajah begitu serius.
"Oi! Ada apa denganmu?" tanya Akaashi dengan berseru walau Mayuki telah berlari menjauhinya.
Akaashi tidak bisa mendapatkan jawaban Mayuki, tapi ia tahu satu-satunya hal yang bisa membuatnya berlari kencang seperti itu, dan hal itu pastilah Shion. Akaashi tidak perlu berpikir dua kali untuk ikut berlari menyusulnya.
Pujilah Akaashi atas kecepatan larinya karena dia menang di atletik, dengan cepat Akaashi menyusul Mayuki yang masih belum bergeming selain berlari dengan fokus tingkat tinggi.
"Kau mau ke mana?!"
"Klien Ki-chan." jawab Mayuki pendek. "Satu-satunya gadis yang sekolah di Maria Gakuen. Aku harus menghentikannya sampai di apartemennya. "
"Kenapa kita tidak ke Maria Gakuen saja kalau begitu!?"
"Ki-chan memintaku untuk pergi ke alamat kliennya. " Mayuki menoleh ke Akaashi yang mulai berkeringat akibat maraton bersamanya. "Harus ke alamat itu."
"Tapi bagaimana kalau gadis itu masih di sekolahnya?! Kita tidak punya pedoman di mana gadis itu berada sekarang!" seru Akaashi mencoba berpikir logis.
"Aku tidak peduli, apa yang diminta Shion adalah mutlak, aku tidak akan mengubahnya."
Akaashi berdecak, temannya benar-benar seperti robot sekarang. Berusaha mengikuti instingnya, Akaashi berbelok di pertigaan. "Kau cegat dari depan dan aku dari Maria Gakuen!"
Akaashi hafal jalan-jalan di kota ini karena sering lari pagi semasa masih latihan kendo dulu, jadi ia mengambil jalan pintas tercepat dan sampailah dia di depan bangunan besar berpagar besi yang tinggi. Sejenak ia berhenti di sana untuk mengecek website paranormal Shion.
Jika aku lurus dari gerbang ini, aku bisa ke alamat itu cukup cepat, batin Akaashi lalu mengangguk mantap setelah mengecek formulir klien sebagai admin website itu, kemudian ia kembali berlari seperti tujuan awalnya.
Akaashi tidak menemukan Mayuki sepanjang jalan yang ia lalui, namun di depannya sekarang berjalanlah seorang gadis sendirian dengan rambut bob yang hendak menuju suatu apartemen.
"Hei tunggu! Berhenti! "
Gadis di depannya terkejut bukan main hingga melompat mendengar teriakan Akaashi. Dia berbalik, dan berhenti berjalan.
Terengah-engah, Akaashi mengerem kakinya dan akhirnya berhenti total di hadapan gadis itu. "Kau ... akhirnya ketemu juga! "
"Maaf? Siapa kau? Kenapa kau mencariku?" tanya gadis itu melihat perbedaan seragam mereka berdua. "SMA Akamichi? "
"Aku ... diminta Ryuzaki untuk menghentikanmu!"
"Ng ... siapa itu Ryuzaki? "
Ah benar, nama kerja Ryuzaki adalah Akiyama Okino, pikir Akaashi. "Maksudku, Akiyama Okino! Aku diminta Akiyama untuk menghentikanmu di sini! "
Mendengar nama lain yang familiar disebutkan, gadis itu mendekati Akaashi. "Kau datang untuk menolong temanku? "
"Ng ... begitulah! "
"Terima kasih! Tapi bagaimana kau bisa tahu itu aku? Apakah Akiyama-san memberitahumu soal aku? "
Akaashi yang tidak tahu apa-apa kebingungan menjelaskannya, dan itu membuat si gadis harus menunggu hingga Akaashi bicara dengan jelas.
Tiba-tiba ada suara ponsel berdering, sang gadis merogoh jas almamater-nya dan bersiap menerima panggilan, namun nada itu berhenti berbunyi.
"Eh? Misscall? "
Akaashi ingin tahu siapa itu, namun dilihatnya mata sang gadis terbelalak dan ia mengambil langkah berlari. "Maaf! Aku sudah menemukan temanku! Aku harus pergi! "
Secepat itu? Aneh sekali, hal itu tidak mungkin kebetulan bukan? Akaashi mengikuti gadis itu dan menarik tangannya untuk menghentikannya lagi, alhasil gadis itu tersinggung.
"Lepaskan aku, aku harus menemui temanku! "
"Aku mungkin tidak tahu apa-apa, tapi aku tahu Akiyama memintamu untuk tidak ke apartemenmu sekarang. " tegasnya dengan wajah serius.
"Tapi temanku menunggu di apartemenku!"
"Kenapa kau tidak mencurigai panggilan itu?" tanya Akaashi lebih lanjut, tangannya semakin menggenggam erat tangan gadis itu. "Ketika temanmu menghilang dan tiba-tiba menelpon, bukankah itu aneh? "
Sang gadis menatap Akaashi cukup lama, namun ia menggeleng dan menghempaskan tangan Akaashi. "Pokoknya aku mau pergi! Ririka sudah menungguku! "
Perintah Shion adalah mutlak, seperti Mayuki pula Akaashi tidak bisa bertindak di luar kewenangannya. Jadi Akaashi berlari lebih cepat untuk menghadang gadis itu yang hampir mencapai pintu utama dan menariknya sekuat tenaga.
"Lepaskan aku! "
"Maaf, tapi aku diperintah Akiyama untuk menghentikanmu!"
Tentu tenaga Akaashi lebih besar dibanding gadis itu sehingga ia dapat membawa sang gadis menjauhi pintu utama gedung apartemen di depannya walau harus menerima hantaman dari si gadis.
"Lepaskan aku! Lepas! "
"Lari Sagara! Menjauh dari sana! "
Suara yang dinantinya telah terdengar, Akaashi membopong gadis itu dan berlari menjauh dari sana dan ....
BLAARRR!!!
Ledakan itu terjadi sungguhan, sesuai prediksi Shion, yang sekarang ada di sisi lain jalan bersama Mayuki. Akaashi dan adik Shibakura tersungkur tak jauh dari mereka.
"Sagara! "
Akaashi bangkit dengan terbatuk-batuk, tak sedikit dari tubuhnya terluka karena melindungi adik Shibakura dari ledakan itu. "Ach ... keparat ...."
Adik Shibakura sendiri gemetaran di pelukan Akaashi yang melindunginya. Wajahnya pucat pasi, melihat tempat yang dipijakinya tadi terlalap api dan habis akibat ledakan yang terlewat beberapa detik yang lalu.
Tangisannya pecah, ia memeluk Akaashi karena shock bercampur takut yang luar biasa, karena kalau bukan karena Akaashi, dia sudah tamat akibat ledakan itu.
Shion menghampiri mereka berdua bersama Shibakura Hibiki, yang memeluk adiknya erat sebagai obat rasa takutnya. Sementara itu tangan Shion terulur pada sang lelaki yang berada di aspal jalan.
"Aku minta maaf merepotkanmu, Sagara. " sesal Shion, walau tentu wajah dinginnya masih mendominasi. "Kenapa kau terluka adalah salahku, aku minta maaf sebesar-besarnya."
Akaashi melihat Shion, dengan tangannya yang lecet-lecet itu dia meraih pipi Shion dan mencubitnya.
"Sialan kau, lain kali jelaskan lebih jelas padaku kalau punya masalah, kalau begini repot bukan ...."
Ken yang ada di sana pula menatap Yui yang sibuk dengan ponselnya. "Menghubungi damkar? "
"Ya, hal ini jadi lebih serius. " Yui menggigit bibir bawahnya. "Hal ini tidak boleh dibiarkan terjadi lagi, kita harus melindungi Shibakura-san, Akiyama-san. "
Shion berdiri dan menatap Yui dari posisinya, mengangguk kecil. "Kali ini kau benar, mau tak mau kita harus kerja berdua, Chisato. "
Mereka berdua menatap api yang melalap gedung itu, masih menyisakan pertanyaan besar di benak semua orang.
Sakurako Ririka, kau di mana?
*****
Terima kasih sudah menikmati Ghost Hunter sampai sejauh ini. Terima kasih pula untuk vote dan comment kalian, saya sangat menghargai kesetiaan kalian.
Saya hanya ingin menyampaikan sedikit hal, bukan hal penting juga sih *uhuk
Saya telah mem-publish story baru, berjudul Butterfly Kiss bergenre mystery. Jika kalian tertarik, silakan mampir ke lapak sebelah ya. Vote dan comment kalian sangat membantu meningkatkan mood menulis saya :)
Hanya itu saja, sekian cuap-cuap saya.
Reon.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top