The Beginning
Pagi di awal bulan April membuat kebahagiaan anak sekolah meledak, karena mereka akan memasuki tahun ajaran baru mulai saat ini. Ditambah lagi pohon sakura yang merona dan perlahan berguguran ditiup angin, itu adalah pemandangan langka yang hanya bisa dinikmati pada bulan Maret sampai awal April seperti ini.
Namun dari sekian anak yang kebahagiaannya meledak itu, pasti ada yang menganggap hal itu cuma angin belaka yang bisa dilewati tanpa banyak berpikir. Contohnya seorang gadis yang memenuhi hari indahnya di bulan April ini dengan menyumpal telinganya dengan earphone, berjalan tanpa memberikan ekspresi manis yang biasanya ada di gadis bulan April kebanyakan.
Bagi seorang Ryuzaki Shion, tentunya mau musim semi bulan April, natal bulan Desember, atau bahkan liburan musim panas di bulan Juni adalah hal yang tidak perlu disambut dengan menebar senyum pada orang-orang di sekitarnya. Melangkahkan kakinya saat matahari bersinar terang untuk keluar dari kamarnya saja sudah membuat energinya terkuras.
Melangkahkan kaki ke lantai dasar dan melakukan kebiasaan untuk pelajar Jepang kebanyakan, mengganti sepatu dan mengecek benda di loker dijalani Shion dengan wajah datarnya yang menyiratkan kekesalan hati jika ada orang yang mau memperhatikan baik-baik.
Di loker kebanyakan mungkin untuk anak normal akan berisi sepatu dalam ruangan, atau dipenuhi surat cinta jika jadi anak terkenal, atau bisa lebih buruk jika jadi siswa yang ditindas maka yang ditemukan hanyalah coretan kata-kata kotor.
Namun, di mata Shion ia melihat sebuah kepala arwah jahil yang tiba-tiba muncul dan memberikan 'Penyambutan' yang sungguh membuatnya makin menyesali kenapa ia hari ini harus memulai kehidupannya sebagai anak kelas 2 SMA yang harus membuka loker berisi benda aneh.
Helaan panjang keluar dari mulutnya saat menutup pintu loker, lalu ia melangkah menuju papan pengumuman yang tak jauh dari tempatnya. Ia kembali menghela karena menyadari benda itu sedang dipenuhi lautan manusia yang notabene kelas junior, berebut mencari tahu soal kelasnya.
Shion memilih melangkahkan kakinya kembali menuju loker dan membuka loker itu, masih saja menemukan kepala arwah jahil di dalamnya.
"Jika kau tidak ada kerjaan, kenapa tidak melakukan sesuatu untukku?" pintanya dengan nada datar yang harusnya tidak baik untuk meminta bantuan orang lain.
Kepala arwah jahil itu memberikan senyuman tanpa ada rasa bersalah memakai tempat orang untuk nongkrong, lalu mengangguk.
"Lihatlah papan pengumuman itu, lalu beri tahu aku ke kelas mana aku harus pergi."
Sekejap saja kepala itu pergi, lalu setelah beberapa saat menghilang ia kembali lagi, matanya menunjuk laki-laki di baliknya yang sedang mengobrol dengan siswa lain.
"Hah ... aku kelas A lagi ...."
"Heee? Kenapa kau kesal? Bukankah kelas A dipenuhi perempuan cantik?"
"Aku kesal di kelas A karena kebanyakan temanku di kelas satu juga di sana, membosankan melihat wajah yang itu-itu saja."
"Aku sendiri bahkan tidak tahu kelasku di mana."
"Kalau kau malas melihat papan pengumuman, pergilah ke ruang guru, pasti di sana sepi, lagipula ruang guru hanya akan ada muridnya kalau ada anak pindahan atau anak tersesat."
"Merepotkan sekali deh ...."
Shion hanya mendengarkan saja, lalu memejamkan mata sejenak untuk berterima kasih pada arwah itu sebelum menutup lokernya dan berjalan menuju ruang guru.
Membuka pintu dan memandang guru yang ada, Shion menyapa dengan nada datar yang tidak bisa dimodifikasi lagi."Ohayou gozaimasu, Sensei."
Pria itu menoleh dan tersenyum. "Oh selamat pagi," lalu beliau berdiri, "ada yang bisa aku bantu?"
"Saya murid pindahan dari Hokkaido, mohon bantuannya."
Lelaki itu tak dipungkiri terkejut. "Benarkah? Aku akan cek dulu dokumenmu."
Shion masih menunggu tanpa melepas earphone yang melekat di telinganya, tanda sebenarnya ia juga malas berada di sana, tapi apa daya ini adalah aktifitas yang setidaknya dilakukan jika kau seorang anak baru di sekolah baru.
"Ryuzaki Shion ya?"
"Benar."
"Ah ... kamu cukup berprestasi di bahasa Inggris ... matematika ... dan ah? Kamu ikut ekstrakurikuler aikido saat kelas satu? Baik ... lalu alasanmu pindah ... alasan pribadi dari pihak keluarga? Bisa kamu jelaskan padaku?" Sang guru sedikit terkejut melihat gadis 'biasa' di depannya bisa menguasai teknik beladiri jepang yang mayoritas disenangi kaum lelaki.
Shion menjawabnya dengan nada datar, tidak begitu memperhatikan sang guru. "Saya akan tinggal di rumah kakak saya."
"Baiklah. Kamu berada di kelas 2-A. Itu berada di lantai dua dan kamu bisa melihatnya langsung setelah menaiki tangga. Selamat datang di SMA Swasta Akamichi. Semoga harimu menyenangkan Ryuzaki-san."
"Terima kasih Sensei."
Segera saja Shion pergi dari sana dan menghela, baginya menjawab pertanyaan umum seperti itu membuang energi. Ia kembali berjalan menuju kelasnya tanpa mood yang baik.
Untuk tahun ajaran pertama, ia cukup hafal dengan agenda yang akan dilakukan hari ini layaknya pidato kepala sekolah, pidato dari murid dengan nilai tertinggi kemudian hal membosankan lain, Shion hanya berharap ia dapat tidur dengan tenang di aula nantinya.
******
Tidak ada pelajaran untuk hari pertama, itu adalah hal pertama yang disyukuri oleh Shion beberapa saat yang lalu, tapi menyebalkannya acara penyambutan begitu lama dan sial lagi ia tidak bisa tidur karena bersebelahan dengan anggota OSIS.
Itulah kawan, masa-masa menyakitkan saat pertama kali kau memulai suatu tahun ajaran baru. Bukan apa-apa jika kau punya suatu teman yang dekat denganmu dan mau berbaik hati memberimu tour guide tentang sekolah ini, apalagi jika itu seorang senior, bukan main gembiranya.
Sayangnya kenyataannya begitu pahit, kau tidak kenal satu orangpun di sini, itulah yang membuat Shion menyesali kembali tibanya hari ini.
Hari ini sepertinya keberuntungan tidak berpihak padaku, batinnya kesal, kembali mendengkus sendiri.
"Hei kau yang di sana."
Shion menoleh malas dari tempatnya duduk di taman sekolah. Terlihat seorang lelaki yang tersenyum padanya. "Kau sendirian?"
"Seperti yang kau lihat sendiri," jawabnya sarkastik.
Lelaki itu memiliki wajah rupawan yang sangat cerah. Rambut hitamnya sejenak berkibar sedikit karena terpaan angin yang berhembus menanggalkan bunga sakura dari tempatnya. Jas almamater berwarna hitam minimalis itu terlihat sederhana, namun tanda berwarna merah mencolok yang melingkar di lengannya membuatnya terlihat istimewa di mata murid senior SMA Akamichi ini.
"Tenang, aku tidak menggigit." Siswa itu tertawa ringan. "Boleh aku duduk?"
Shion melirik laki-laki itu tidak minat, berusaha mengusirnya dengan pandangan gelapnya. "Terserah padamu, tapi aku tidak mau diganggu."
Lelaki yang tidak diketahui namanya itu mengambil kursi di hadapannya dan mulai duduk berseberangan dengan Shion. Tidak ada masalah yang terlihat di wajahnya untuk menyambut siapa pun hari ini, itulah yang terlukis pada kenyataan yang ada. Tangannya langsung terlipat di meja, dan senyumannya dilempar pada gadis bermuka dingin berhoodie hitam tersebut.
"Untuk murid di musim semi, kau lain dari yang lain." Tiba-tiba siswa itu mengatakan itu pada Shion, yang memberikan nol respon.
"Hari pertama sekolah kau minum kopi dan berwajah masam, seberapa buruk kah hari pertamamu sekolah?"
"Tidak ada gunanya aku menjawabmu." Shion mengertakkan giginya, merasa terganggu.
"Tentu berguna. Aku dari OSIS, namaku Nijou Haruki dan aku ingin tahu bagaimana pendapatmu soal sekolah ini."
"Aneh, karena banyak sekali ruang klub kosong walau begitu banyak klub yang ada," jawab Shion, mengingat ia sempat berputar-putar mencari hiburan dan menemukan banyak arwah anak sekolah yang berkeliaran di ruangan klub yang kosong itu.
Haruki tertawa ringan. "Hanya persediaan jika ada murid yang mau membentuk klub baru, kami menerima permintaan pembuatan klub dengan mudah."
Shion bergumam tak jelas lalu meminum kopinya kembali, belum memberikan kontak mata pada Haruki yang selama ini terus memandanginya. Menarik, pikir Haruki sambil tersenyum sendiri.
"Kau tidak tertarik sepertinya," ujar Haruki, berusaha membuat Shion menatap dirinya.
"Seperti yang kau lihat dari wajahku."
"Kenapa begitu? Oh, aku bisa tambahkan komentarmu untuk pekerjaanku di meeting OSIS nanti."
"Kenapa kau begitu peduli?"
"Dengar, setidaknya murid SMA Akamichi dituntut aktif di sekolah, aku hanya berpikir untuk menarikmu ke salah satu klub agar kau bisa bicara pada orang lain."
"Maaf? Aku tersinggung." a
Akhirnya Shion menatap Haruki dengan sirat mata tajam. "Di sekolahku yang dulu, aku boleh tidak mengikuti klub, SMA Akamichi tidak ada klub seperti itu atau aku harus membuatnya sendiri jadi kau bisa berhenti bicara?"
Haruki tetap merasa masih perlu berusaha untuk membuat Shion membicarakan hal menyenangkan, jadi dia terus saja bicara. "Maafkan aku, tapi klub harus memberikan laporan setiap mid-semester, jika Klub Pulang Sekolah memang ada, laporan apa yang akan kau berikan?"
"Absensi murid yang tidak masuk atau bolos klub," jawab Shion seakan melucu.
Haruki berdeham dan bersikeras bicara pada Shion yang mukanya sudah muak menatapnya. "Baik, aku akan berhenti mengganggumu jika kau memberikan alasan dan penjelasan lebih logis menolak tawaran klub."
Shion mengetuk-ngetuk mejanya, menghela, "Aku bekerja, terlebih aku tidak mau menambah-nambah anggota klub yang diisi manusia dan 'mereka', kau tahu."
Waktu seakan berhenti, hening menyertai dan memenuhi keadaan sejenak. Haruki terdiam melihat begitu monotone-nya kalimat bermakna lain yang keluar dari mulut Shion. Suasana tadi yang masih dipenuhi aura menyenangkan dikarenakan tahun ajaran baru hilang seketika bagaikan ada angin yang menyapu bersih suasana itu, membuat otak Haruki yang penuh lelucon kosong dan syaraf melucunya putus tak bisa menyatu lagi.
"Apa maksudmu, 'mereka'?" tanya Haruki sambil mengedutkan alis.
Shion menjawab pertanyaan Haruki setelah tegukan terakhir kopinya. "Jika aku katakan banyak sekali arwah yang ada di sini, kau mau pergi dariku?"
"Hah?" Haruki meminta perulangan memastikan ia tidak salah dengar. "Hantu? Kau bisa melihat hantu?"
"Ck, hantu itu tidak ada." Shion berdecak pelan. "Hanya manusia yang tak terlihat, jika kau memang percaya ada hantu, kau harusnya melihat ribuan di sekolah ini. Memang apa salahnya jika aku bilang aku bisa?"
"Jika begitu kau harus ikut Klub Supranatural," jawab Haruki, tapi disambut tatapan tak ramah.
"Aku tidak melucu.", ujar Shion serius. "Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan soal aku sekarang, tapi Klub Supranatural adalah klub paling kubenci. Arwah membenci hal-hal supranatural karena mereka bukan golongan hal yang bisa dibuat permainan."
Haruki menelan ludahnya, mulai sedikit merasakan hawa aneh pada Shion. Dia merasa kalau sudah berhenti bercanda, tapi Shion semakin serius hingga aura gelap menggerumul keluar dari tubuhnya. "Tadi kau katakan ribuan, tapi kenapa tidak ada kasus jika begitu?"
"Kau rupanya mengharapkan bencana ya? Jika kau mau, aku akan minta mereka membuat masalah denganmu karena aku pikir kau menganggapku badut."
"Su-sungguh! Aku tidak ingin hal yang seperti itu terjadi!" jawab Haruki segera, ia sekarang sadar berurusan pada Shion yang terganggu bukanlah hal yang baik. "Baik, aku juga akan serius sekarang, sebenarnya ada suatu hal yang ingin kubicarakan padamu karena kau serius membahas soal hal ini."
"Kuharap itu bukan lelucon."
"Tidak, aku tidak bisa melucu lagi sekarang, terlebih kau tidak mau tersenyum dan menatapku seperti mengajak berkelahi saja."
Haruki melihat senyuman bisnis di muka Shion. "Namaku Ryuzaki Shion, dan ini rahasia kita berdua. Kau bisa beri tahu segala masalah arwah padaku, dan aku akan pikirkan kalau aku akan masuk klub."
"Baiklah. Selanjutnya-"
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top