Chapter 3

Arventa Ralova Valencia, nama gadis tersebut keluar dalam lubang penutup botol untuk menjalan sebuah tantangan dari teman-temannya.

"Akhirnya, nama lo keluar juga Va," setiap mereka bermain, nama Arventa tidak pernah keluar sehingga mereka menunggu moment ini terjadi.

"Yahh, tantangannya apa dong?" tanya Arventa mendesah malas.

"Tuh, lo liat cowok yang lagi lari?" tanya Mona melihat Rejav yang sedang lari pagi dengan santainya, sedangkan Arventa menatap cowok itu dengan fokus.

"Cowok serem itu?" tanya Arventa takut.

"Ish, masa serem sih? Ganteng gitu. Nih, kasih botol mineral ini ke dia," suruh Mona.

Sedikit kesal, karena Arventa tipe pemalu dengan orang yang baru dikenalnya, sedangkan Mona terkikik pelan melihat sahabatnya yang masih ragu-ragu untuk menghampiri cowok ganteng itu.

Kali ini, Mona tidak mau melewatkan kesempatan emas karena dia tahu bahwa sahabatnya belum move on dari kekasih brengseknya. Dengan cara ini Mona berpikir bahwa Arventa tertarik hatinya ke cowok itu.

Arventa memanggil Rejav dan menawarkan air mineral namun Rejav menolaknya dengan tegas, "Gak!"

Arventa menggerutu sebal, dirinya tak putus asa mengejar langkah lebar cowok tersebut dan berhasil menyusulnya.

"Apa?!" bentak Rejav.

Arventa memundurkan langkahnya sambil menunduk takut, tanpa ia sangka, Rejav merebut botol mineralnya sedikit kasar kemudian melenggang pergi.

Untuk kedua kalinya, Arventa kembali mengejar Rejav untuk meminta tanda terimakasih dari cowok itu.

"Kak, bilang terimakasih dong!" teriak Arventa.

"Apa?!" bentak Rejav kedua kalinya pula.

"Ish, gak tau terimakasih," Arventa kembali menggerutu sebal setelah Rejav melanjutkan larinya yang semakin jauh.

"Jauh-jauh sana!" usir Arventa lalu kembali ke teman-temannya.

"Berhasil gak?" tanya Mona.

"Berhasil, sayangnya cowok itu garang banget," jawab Arventa.

Mona tertawa geli, "Lumayan dapat yang garang, dari pada yang sebelumnya? Lembut tapi hatinya tajam," balas Mona dan Arventa membenarkannya.

Mood Arventa menjadi buruk, kenangan bersama mantan kembali berputar dalam ingatannya.

"Arventa, harus move on dong, jangan gini terus!" kesal Arventa kepada diri sendiri, gadis itu terus membentak hingga suara teriakan mengagetkan Mona dan Cici.

"Ish, Arventa! move on dong!"

Mona dan Cici menutup mulut Arventa, mereka harus mencegah agar mulut Arventa tidak lagi mengeluarkan suara yang membahana.

"Stop, kita pulang," putus Cici.

"Lo baik-baik yah di sini, ingat! Jangan bunuh diri gara-gara gagal move on, ribet ngurusin mayat lo ntar," peringat Mona dan Arventa menatap sinis dua sahabatnya.

"Pikiran gue gak sependek itu, pulang sana!" usir Arventa dan dua cewek itu menggerutu terlebih dahulu lalu pulang.

Arventa menghela napas panjang, bayangan itu kembali terputar layaknya flm yang panjang.

Kata putus harus terucap dari sang pujaan hati yang menemaninya selama 9 bulan penuh, awal bulan 10 ini Arventa merayakan ulang tahunnya bersama dia, sang kekasih hati, namun kado yang diharapkannya begitu menyakitkan dan memilukan hati.

"Selamat ulang tahun, kekasih lama. Selamat datang kekasih baru," ucap dia, dan seorang cewek yang tidak dikenal Arventa datang memeluk sang kekasih dari belakang.

"Sosweet banget sih, kamu. Liat deh, pacar kamu itu, mau nangis, hihihi," ucap cewek itu, seperti nenek sihir di depan mata Arventa.

"Maksud kamu apa sih?" tanya Arventa.

"Yah, maksud aku gini, kita putus. Kamu gak liat pacar baru aku? Lebih cantik dari kamu, semok, pintar muasin aku, gak kayak kamu yang sok polos, pura-pura gak tau apa-apa, muak aku, tau gak?!" bentaknya diakhir kalimat, sungguh Arventa tidak dapat menahan derai air mata yang menggunung di pelupuk mata.

Saat itu, Mona tibatiba datang dan menampar sang mantan begitu kerasnya membuat pipi tersebut merah membekas, bukan hanya sang mantan, tapi cewek perebut laki orang itu yang ia tampar juga.

"Pergi lo berdua! Sama-sama sampah, cocok jadi pasangan!" sinis Mona.

"Sayangnya, sampah ini udah berguna buat nyakitin sahabat, lo, hahaha," balasnya.

"Brengsek lo, banci!" teriak Mona saat sang mantan pergi dengan bangganya bersama cewek perebut itu.

"Gue baik-baik aja kok, dari segi fisik sih, dari segi batin? Gue hancur, Na!"

"Lupain, yah. Banyak kok cowok yang baik buat lo di luar sana, tenang aja, ntar gue bantu cariin deh yang lebih ganteng terus baik lagi," bujuk Mona, Arventa yang mengerti bahwa Mona sedang menghiburnya, tentu menghargai perlakuan sahabatnya itu dengan tertawa kecil.

"Makasih, yah, Na. Aku tagih yah besok," balas Arventa kemudian tertawa bersama Mona.

"Ish, makin sakit nih hati," ucap Arventa sedikit sesak, dalam ingatannya ia tidak ingin menyebut nama pengkhianat itu, seakan mulutnya langsung alergi menyebut nama sang mantan.

"Bekas, palingan juga udah bahagia sama pelakor itu," ucap Arventa cemberut.

Malam hari, Arventa hanya membaca novel di atas ranjangnya, satu novel ia selesaikan dalam beberapa jam.

Setelah meletakkan novel tersebut di atas meja, Arventa menarik selimut sampai ke bahu dan merapalkan doa sebelum tidur, tapi, sesuatu ingin keluar di bawah sana dan terasa begitu sesak.

"Ish, udah baca doa malah mau pipis! Sebel, ah," kesal Arventa lalu beranjak dari ranjang.

Berkat mantan, arti kata meninggalkan itu begitu berarti, membuatku tidak akan melakukan hal yang sama.

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top