Chapter 14
Mona dengan buru-buru menyusul Arventa kemudian menahan tangan sahabatnya dengan sedikit gemas, Cici melipat tangannya dan menyaksikan hal apa yang dilakukan oleh mereka berdua.
"Ish, Arventa. Lo gak liat Geo yang tulus sama, lo?" tanya Mona.
"Iyah, dia emang tulus. Tapi, gue yang nggak bisa bales perasaan dia, Mon. Gue gak bisa," jawab Arventa.
"Gini aja, lo terima dia. Lama kelamaan kita bakal tau bagaimana perubahan dalam diri lo, apa perasaan lo udah sirna untuk Rega dan beralih untuk Geo atau tetap pada lingkaran yang sama," saran Mona.
Arventa menghembus napas berulang kali, heran dengan Mona yang tidak memikirkan nasib akhirnya. Arventa jelas-jelas tidak akan menerima Geo, kenapa? Ia tidak bisa! Karena perasaannya masih separuh kepada Rega.
"Terus yang terluka pada akhirnya adalah Geo, gue harus gimana, Mon? Sorry, gue gak bisa, gak mau nyakitin hati orang," balas Arventa.
Cici membenarkan apa yang diucapkan Arventa karena tidak baik untuk menerima perasaan seseorang sedangkan diri sendiri tidak mencintainya. Cici sendiri merasa bingung kepada Mona yang berpikir pendek seperti itu sampai-sampai hanya mementingkan Arventa dan lupa kepada hati Geo yang akan tersakiti jika pada akhirnya perasaan Arventa tetap tidak berubah.
"Mon, Mon. Pikir matang-matang dulu, jangan langsung ambil keputusan yang bisa melukai perasaan orang. Emangnya kalau lo yang jadi Geo bakalan mau diterima cewek yang gak cinta sama lo?" tanya Cici dan Mona menggeleng.
"Nah, maka dari itu, kita coba cara lain," lanjut Cici.
Mereka berdua antara lain Cici dan Mona berpikir, bagaimana cara agar sahabatnya bisa move on secara cepat, kalaupun perlahan tidak masalah, asalkan Arventa bangkit dari masa lalunya.
"Vent, barang yang Rega kasih ke lo, masih lo simpan?" tanya Cici tiba-tiba.
"Iyah, masih aku simpan dalam lemari," jawab Arventa.
Dan Cici tersenyum miring, apa yang dicurigainya memang benar bahwa Arventa masih menyimpan barang Rega dengan baik karena barang apapun yang diberikan oleh mantannya akan Arventa simpan sebaik mungkin.
"Buang barang itu, kalau perlu kubur atau bakar!" Cici dengan semangatnya menyarankan cara tersebut dan Arventa menolak keras.
"Ihh, gak mau gue, berharga banget itu!"
Mona memutar bola matanya malas, "Pantesan gagal move on, barangnya aja masih disimpen."
Cici membenarkan, dengan tegas mereka berdua berseru, "Bakar!"
Kemudian tertawa dengan lebar membuat Arventa bergedik ngeri, takut jika lalat masuk ke dalam mulut mereka.
"Lebar banget."
Yah, sepulang kampus, mereka lanjut ke rumah Arventa dan membongkar semua barang-barang yang ada di lemari Arventa.
"Ish, jadi berantakan kamar, aku," kesal Arventa.
"Bersih juga nanti, secara barang yang ada di lemari lo punya Rega semuanya," balas Mona sebal dan Arventa langsung cengengesan.
Cici dengan senyum iblisnya memandang barang tersebut dengan semangat, mulai dari pisau, korek gas, dan minyak tanah telah ia persiapkan semuanya. Apa yang dilakukan Cici nantinya begitu menyeramkan untuk barang tersebut.
Satu per satu, barang yang telah berserakan disayat-sayat oleh Cici dan Mona, terutama pada boneka beruang yang besar pemberian dari Rega untuk memperingati hari mantan sedunia.
"Kasian beruang, tangannya udah terpisah semua," sedih Arventa.
Sedangkan Mona dan Cici tertawa puas, kemudian mengumpulkan semua barang tersebut ke dalam karung dan membawanya keluar untuk dibakar.
"Mulai saat ini, semua barang yang terbakar ikut membakar hati Arventa yang masih luluh," ujar Mona kemudian membakar semua barang pemberian dari Rega di halaman rumah Arventa.
Setelah barang tersebut terbakar menjadi serpihan abu, Arventa berubah dalam mode murung kemudian masuk ke rumah. Mona dan Cici saling memandang lalu mengedikkan bahu tak acuh, karena semua yang mereka lakukan demi kebaikan Arventa kedepannya.
"Hua! Maafin Venta yah, Ga. Semuanya udah kebakar," tangis Arventa histeris, gadis tersebut bukannya bangkit malah kembali terjatuh.
Cici dan Mona geleng-geleng kepala, heran kepada Arventa yang masih saja merindukan barang yang layaknya sampah dari Rega, mereka membatin 'manfaatnya apa coba?' gak ada sama sekali, malahan menambah beban yang ada.
Sebenarnya mereka juga sedih melihat Arventa yang terlalu sakit ditinggalkan oleh Rega brengsek itu, sampai-sampai mereka sangat geram kepada Rega yang menyia-nyiakan Arventa yang tulus kepadanya, 'benar-benar pria yang bodoh.'
"Haduh, Vent, katanya lo mau bangkit. Tapi mana buktinya? Lo aja masih menye-menye gini, cengeng tau gak, gak bakalan bisa move on kalau begini terus," resah Mona.
Arventa mengusap air matanya dan menatap Mona lekat, Mona yang ditatap seperti itu merasa risih dan mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Ew, jangan liat gue gitu amat kali, iyah-iyah lain kali gue bantu lagi deh biar bisa move on," bujuk Mona.
Cici hanya diam, perempuan itu masih saja berpikir untuk mencari cara kedua yang lebih ampuh dari cara pertama, melihat respon Arventa sekarang ini membuatnya miris juga. Sebagai sahabat dia ikut merasakan, namun dirinya selalu pandai menutupi, lebih jelasnya bertindak dalam diam.
Lama berpikir, membuat Cici menyerah. Gadis tersebut butuh waktu untuk menenangkan otaknya yang dalam mode lelahnya.
"Argh, otak gue gak bisa mikir lagi. Oh, Tuhan. Andai ada pria yang mampu meluluhkan hati Arventa!" frustasi Cici.
"Yeah! Itu caranya, mendapat cowok yang baru untuk Arventa," ujar Mona dengan semangat.
Cici mengangkat tangan menyerah, tidak ingin ikut campur sementara ini. Biarlah Mona mengutarakan seluruh ide gilanya kepada Arventa.
"Gimana caranya?" tanya Arventa.
"Lo harus buktiin bahwa lo bisa move on, tak jauh beda dengan saran pertama gue, yaitu buat para cowok di kampus jatuh hati sama lo, terus-"
"Terus terima mereka gituh? Layaknya playgirl?" potong Arventa dan langsung bertanya.
"Tepat, sayang!" jawab Mona dengan pekikannya.
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top