5 | Gara-gara Renjun
"KUBILANG, aku tidak setuju, Mark!" Jeno tiba-tiba bangkit, selagi menggebrak meja di hadapannya. Gejolak amarah dalam dada sudah meletup-letup sejak Mark lagi dan lagi membujuknya merekrut Renjun jadi bagian dari band. Sebab itu, tak lagi peduli dengan suasana ramai di kantin siang ini, Jeno meluapkan semua amarahnya.
Mark pun Jaemin agak terkejut sebenarnya. Lantaran, sebelum ini Jeno selalu lebih tenang dari gelapnya malam. "Setidaknya kau harus punya alasan, Lee Jeno!" Kesal, Mark menatap runcing bola mata Jeno.
"Sudahlah, semua orang melihat ke arah kita." Bisik-bisik mulai terdengar, pun tatap seluruh pengunjung kantin tak luput dari atensi Jaemin. Anak laki-laki itu mengelap sejenak kuah ramyeon yang tumpah sebab gebrakan tangan Jeno, sebelum menggenggam kepalan tangan Mark yang kini turut mengambil posisi berdiri.
"Kau pikir, permainan gitarmu itu sekelas dewa apa? Selalu saja kau berpikir tidak ada suara yang bagus untuk mengiringinya. Ck, omong kosong macam apa ini?"
"Sialan!" Dengan cukup keras, Jeno mendorong tubuh Mark. Tiada lagi peduli dengan imejnya yang mungkin akan hancur. Jeno hanya kesal dengan Mark. Dengan Renjun sebenarnya. Sialnya, Mark tidak jua berhenti membicarakan sosok itu.
Tak terima mendapat perlakuan kasar, Mark balik membalas dorongan Jeno.
"Orang-orang bodoh ini! Hentikan!" Jaemin berusaha merelai. Ia menarik tubuh Jeno agak menjauh dari Mark. Sadar bahwasanya bendera perkelahian telah dikibarkan kala Mark memberi pukulan tepat di wajah Jeno. Sementara itu seluruh orang mulai berkumpul guna menonton laga yang tengah berlangsung.
"Minggir kau, Na Jaemin!" Jeno mendorong Jaemin ke samping. Lantas berjalan mendekat ke arah Mark. "Kau ini teman macam apa, hah?!" Kuat, Jeno mencengkeram kerah seragam Mark.
"Kau yang teman macam apa? Egois, keras kepala, angkuh!"
"Hei, sudahlah! Jangan seperti anak kec——ugh!" Kalimat Jaemin terputus sebab baru saja sebuah tinju yang hendak Jeno layangkan ke arah Mark justru mendarat di wajahnya. Refleks, Jaemin menangkup hidungnya yang dirasa berdarah.
"Jaemin?" Sadar kalau Jaemin tidak baik-baik saja, Jeno dan Mark kompak memanggil dan menoleh ke arah temannya itu.
"Sungguh menyebalkan!" rutuk Jaemin seraya membawa langkahnya berlari. Menjauhi kerumunan yang tengah berlangsung. Menjauhi Jeno dan Mark yang sama-sama terpaku di tempatnya.
"Kau! Aish …." Sadar akan kesalahan fatal yang Jeno timbulkan, Mark nyaris melontar sumpah serapah. Namun, ia lebih khawatir akan kondisi Jaemin sehingga Mark memilih untuk mengulum kembali rutukannya dan segera menyusul langkah Jaemin.
Renjun baru saja membaringkan diri dan hendak menutup mata guna melepas penat, tatkala suara derit pintu UKS mengusik indra pendengaran. Sontak lensa matanya berotasi ke arah sumber suara. Memastikan siapa yang mengganggu rencana tidurnya.
"Ke mana Dokter Min?"
Sejenak, Renjun mengernyit melihat Jaemin datang dengan tangan menutupi sebagian wajahnya. "Kurasa dia pergi ke kantin sebentar." Saat datang, Renjun memang tidak menemukan Dokter Min di sana. Ia hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa begitu lemas, sehingga tidak terlalu peduli ke mana perginya dokter perempuan itu. "Ada apa memangnya?"
Pelan, Jaemin menjauhkan tangannya. "Sepertinya hidungku berdarah," akunya.
"Ya Tuhan!" Langsung saja, Renjun bangkit dari posisinya dan berjalan menghampiri Jaemin. Melupakan fakta kalau laki-laki berambut cokelat terang itu adalah salah satu teman Lee Jeno, Renjun menawarkan bantuan tanpa bermaksud mencuri perhatian. "Biar aku yang mengobatinya. Sepertinya Dokter Min akan sedikit lama."
Sejemang, Jaemin biarkan otaknya berpikir. Menimang. "Baiklah," putusnya selagi suara pintu yang kembali dibuka terdengar. Mark, dengan napas timbul tenggelam datang menghampiri. Berdiri di samping Jaemin dan juga Renjun.
"Jaemin-ah, aku benar-benar minta maaf." Mark meraih tangan Jaemin, menatap sosok itu dengan penuh rasa bersalah.
Renjun sebenarnya penasaran dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Namun, tak ingin terlalu ikut campur dengan melepas komentar macam-macam, Renjun hanya terus fokus membersihkan darah di hidung Jaemin. Sangat bersyukur ketika darah itu tak lagi berproduksi.
"Nanaaa …." Sadar tak ada respons berarti dari Jaemin, Mark merengek. Memanggil nama kecil teman baiknya itu dengan manja seraya menarik-narik tangan Jaemin bak anak kecil yang minta dibelikan balon.
"Diamlah! Kau tidak lihat hidungku berdarah? Aku akan mengomelimu nanti, kau tahu?" Geli rasanya melihat Mark merengek, sehingga Jaemin tak tahan jika harus mendiamkan Mark lama-lama. Pasalnya, Mark punya garis wajah tegas, terlalu pria, sampai-sampai rasanya begitu menjijikan jika memasang wajah pura-pura imut seperti itu.
"Kau sudah mengomel, Jaem." Mark berdecak.
Renjun tersenyum kecil melihat interaksi kedua bersahabat itu. Dalam hati, ia begitu menginginkan persahabatan itu. Renjun ingin memiliki sahabat sebagaimana Jeno memiliki Jaemin dan Mark. Namun, begitu menyadari siapa dan apa peran ia dalam hidupnya, Renjun berusaha menampar kesadarannya guna tak terlalu berharap lebih. Sedikit meratapi nasibnya, Renjun mengulum senyumnya dan mulai sibuk membereskan alat-alat UKS yang baru saja digunakannya.
"Na, kau baik-baik saja?"
Perhatian Renjun, pun Mark dan Jaemin teralih. Jeno dengan raut khawatir dan penuh rasa bersalah baru saja masuk ke dalam ruangan.
"Kau pikir, setelah kau jotos hingga hidungnya berdarah, masih bisa dibilang baik-baik saja? Idiot!" Mark berujar ketus. Sementara Renjun, kendati penasaran dengan apa yang sedang terjadi, hanya melengos meninggalkan ruangan. Ia tidak ingin Jeno berpikir macam-macam melihat keberadaannya di antara Mark dan Jaemin.
"Jaemin-ah, aku——"
"Aku tidak ingin mendengar apa pun. Pergilah!" Jaemin memalingkan muka ke arah lain. Tidak ingin berinteraksi lebih jauh dulu dengan Jeno. Masih tidak terima dengan pukulan yang Jeno berikan.
Begitu siluet sosok itu terekam lensa mata, sebelum kemudian pintu cokelat menelan tubuh itu, Jeno menarik Renjun dengan kasar. Mendorongnya dengan agak keras hingga punggung Renjun membentur dinding di belakanganya. "Kau tahu? Semua kekacauan ini gara-gara dirimu, anak haram!"
"A-apa maksudmu, Jeno-ya?" Renjun tak punya waktu untuk menikmati sakit di bagian punggungnya tatkala Jeno mengunci pergerakannya. Lengan besar Jeno menekan lehernya dengan kuat.
"Jaemin dan Mark, mereka … aish, tidak bisakah kau pergi dari hidupku?"
Renjun tak lalu merespons. Berusaha cukup keras menghimpun udara yang ada sebab kini lengan Jeno terasa menghambat oksigen masuk ke dalam paru-parunya. Susah payah, Renjun berusaha berujar dan menjelaskan. "Maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud mengusik hidupmu. Aku sudah berusaha menutup diri dan tak jadi perhatian teman-temanmu. Aku tidak tahu kalau—"
"Shit!" Jeno memutus kalimat Renjun, tak ingin mendengar lebih jauh kata-kata dan penjelasan Renjun lantaran suara mesin mobil Lee Jinwoo terdengar. Menajuhkan tangannya dari leher Renjun, Jeno segera beralu meninggalkan sosok itu. Sebelumnya, ia sempatkan diri untuk memukul bagian perut Renjun dengan kasar. "Sebaiknya kau lenyap saja, Huang Renjun!"
Renjun meringis kontan kala hantaman itu tepat mengenai ulu hatinya. Ia membungkuk, menahan sesak dan nyeri yang perlahan merambat hingga dada. Sekarang, Jeno bahkan sudah mulai berani main fisik padanya. Itu artinya, sosok itu benar-benar sudah tak tahan lagi dengan keberadaannya. Namun, mau bagaimana pun juga, Renjun sungguh tidak bisa meninggalkan tempatnya saat ini.
Bandung, 12 Juni 2021
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top