6. lost
Aku kembali (T▽T)
*****
.
.
.
"Hai Yaya, oma di mana?" Eyara memasuki kawasan rumah oma-nya setelah membenahi sepatu miliknya.
"Eh, umm... ada di kamar. Kenapa?" Eyara menggeleng sambil tersenyum lembut. Setelah kecelakaan dulu, kepribadian Yaya sangat lah tertutup dan cenderung pemalu.
Ya, ini Yaya. Wanita yang didambakan Boboiboy.
"Yaya, bagaimana kabarmu?" tanya Eyara ramah sembari mendaratkan tubuhnya pada sofa panjang yang Yaya duduki.
"Baik, kamu?"
"Seperti kelihatannya," jawab Eyara. Yaya tersenyum, tak tau bagaimana harus membalas.
Canggung beberapa saat. Aku harap kalian mengerti sifat Yaya yang berubah drastis akibat kecelakaan dulu.
Bukan hanya kepribadiannya yang berubah, sebagian ingatannya hilang karena kecelakaan tersebut.
"Yaya, kau sudah makan?"
"Hum."
"Ah, kita jadi canggung ya sekarang, tidak seperti dulu." Eyara memicingkan matanya, seolah mengingat kenangan lama yang masih menari di dalam benaknya.
"Maaf," ucap Yaya lirih.
"Tidak apa, ini bukan salahmu.
Yaya, kau ingat tidak? Dulu kita sering merangkai bunga dan mengalungkannya di leher masing-masing. Tidak'kah itu indah?" Eyara membuka topik baru. Namun Yaya nampak kebingungan dengan perkataan Eyara.
Ah, ia lupa bahwa Yaya amnesia.
"Ah, maaf kau pasti tidak mengingatnya." Eyara tersenyum dan berusaha mengerti keadaan yang dialami saudarinya itu.
"Eh aku ingat. Kamu sering menumpahkan kuah pop mie, kan?" Yaya menoleh ke arah Eyara dengan antusias. Berharap bahwa tebakan nya benar.
"Haa...? Aku suka kuah mie instan, kau salah ingat."
"Begitukah? Lalu, apa kau pernah menganjakku bolos saat masih SMA?" Yaya menebak kembali, namun semuanya sia-sia, tak ada yang benar.
"Aku tidak pernah mengajakmu bolos. Sekalipun tidak!"
"Oh, maaf."
"Ya, aku tidak marah. Aku tau kau sangat tersiksa atas semua ini." Eyara menghela napas gusar, melemaskan tubuhnya, dan menatap mata Yaya dengan intens.
"Kau dulu dijodohkan dengan lelaki tampan. Dan, jujur saja, aku iri dengan kemesraan kalian."
"Kalian yang kau maksud itu salah satunya aku'kah?" Yaya menatap wajah Eyara dengan polosnya.
"Tentu saja, kalau bukan kau siapa lagi!?" geram Eyara.
Aduh, kenapa saudarinya yang satu ini jadi lelet sekali?
"Oh, maaf aku kira kau sedang bergumam, hehe..."
"Terserah apa katamu. Aku lelah, izinkan aku tidur."
"Kau tidur atau mati pun aku tidak peduli."
"HEY!!!"
***
"Taufan, demi sempak kerang ajaib aku mengutuk-mu agar nasibmu menjadi sedih dan perjaka! Ini semua sepadan dengan yang kau lakukan pada daftar belanjaanku!" cecar Blaze panjang lebar. Sementara Taufan Tenga bersungut-sungut dibawah Blaze.
"Maaf maaf maaf maaf maaf! Gw gak mau jadi perjaka, gw mau ngehalalin cewe, plis maafin gw!" mohon Taufan.
Habis lah kamu Taufan, kutukan Blaze seakan menjadi nyata jika ia bersungguh-sungguh.
"Balze tolong Blaze, jangan jadiin gua perjaka! Gua mau ngerasain kawin! Blazeeee!!" Taufan bersungut-sungut, ia merasa diperlakukan tidak adil. Bagaimana bisa harga dirinya dibilang sepadan dengan secarik kertas?
"BLAZE! DEMI KERANG AJAIB, GUA JANJI BAKAL BELIIN LU PS 4 ASAL JANGAN DOA-IN GUA JADI PERJAKA!!! JANJI GUA JANJI, NO INGKAR!" pekik Taufan seakan sedang bersumpah pada pertiwi.
"Oke Deal! PS 4, gua kasih waktu tiga minggu!"
"Nah gitu dong, sip bray PS 4 otw."
"Deal?"
"Deal!"
Taufan dan Blaze saling berjabat tangan, sementara Boboiboy yang sedari tadi memperhatikan drama keduanya merasa diasingkan.
"Gw gak dibeliin?"
"Anji—" Taufan hampir mengucapkan kata keramat, namun ditahan oleh Blaze yang notabenya nakal tapi pada waktunya.
"Tahan, tahan, santai bro!" cegah Blaze
"Ngagetin aja lu setan!" Taufan melempar pena milik Blaze tepat ke wajah Boboiboy, membuat Boboiboy meringis karena sedikit terbeset.
"Shh.. jahat lu Fan sama gw, perih anying..." Boboiboy bangkit dari ranjangnya dan mengambil kotak kecil yang ada di laci mejanya. Di dalam kotak tersebut terdapat obat-obatan khusus P3K.
Dengan telaten, Boboiboy membersihkan besetan itu sembari bercermin, agar obat yang ia oleskan tidak merembes ke mana-mana.
"Sakit Boy?" tanya Taufan gamblang
"Paling perih dikit," jawab Blaze tak acuh sembari mengoreksi keadaan pulpen korban lemparan Taufan tadi. "Pulpennya tidak lecet, aman."
"Pulpen, kertas, buku, PS, lu tu anak titisan apa sih Blaze? Kerjaannya bikin gua tersiksa mulu..." ujar Taufan kesal.
"Titisan malaikat," jawab Blaze santai
"Malaikat bangsat anjir, mana ada malaikat semyebelin elu!" sarkas Taufan
Entah dendam apa yang sedang dialami oleh Taufan. Namun kali ini ia sebal dengan prilaku Blaze yang irasional menurutnya.
"Sut, di kamar gw gak boleh ada yang berantem kecuali kalo olahraga!" ujar Boboiboy.
Perkataan Boboiboy membuat Taufan dan Blaze tersentak dan membisu. Pasalnya, kalimat itu cukup membuat otak kotor mereka berkerja.
"Boy sialan!"
"Najis otak kotor."
***
"Bagaimana, polisi atau apa pun tidak ada yang mencurigai kejadian 5 tahun lalu, kan?"
Salah seorang wanita membuka topik pembicaraan antar rekan kerja. Wanita dengan pakaian tertutup bahkan mengenakan topi dan masker membuatnya sulit dikenali orang.
"Sampai saat ini tidak ada yang mengetahui kebenaran dari kasus tersebut. Meskipun pihak kita membawa mobil dan melukai 2 orang sekaligus, kita berhasil memikat hati keluarga korban bahwa kita juga korban yang cukup memprihatinkan," jelas salah seorang pria.
"Bagus, kerjamu itu sangat perfeksionis. Sekarang, aku hanya perlu mencari data tentang Boboiboy. Kau tau, dia pria yang sangat keren!" tutur sang wanita
"Ya, saya tau rasa kagum anda. Namun jangan lupakan saya yang sudah menjadi rekan anda selama 5 tahun. Hubungi saya jika ada yang ingin anda lakukan." Pria itu menjadikan kalimat terakhirnya kalimat penutup sebelum akhirnya pergi dari hadapan sang wanita.
"Yes, thank you!"
.
.
.
ෆ⃛ෆ⃛ෆ⃛ ♡♡[τ̲̅н̲̅a̲̅и̲̅κ̲̅ ч̲̅o̲̅u̲̅]ᴗ͈ₒᴗ͈♡
FYI:
Akan berusaha untuk rajin updet :)
Papay~
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top