# Chapter 05

#Soal lamar-melamar kerja

Selebaran cetak yang memuat informasi singkat, tetapi lengkap dari perusahaan perbankan yang tertera dalam genggaman Luna, mengingat gadis itu akan pengalaman pertamanya ketika hendak melamar pekerjaannya dulu. Banyak sekali langkah yang harus ia ambil sebelum menempati posisinya dahulu. Akan tetapi, kini ia harus mengulangi masa-masa tersebut dengan lapang dada. Sebab, jika tidak bertindak segera, mungkin saja terjadi hal buruk yang membuatnya diseret dari perantauannya dan kembali berada dalam sangkar keluarganya.

Sudah barang yang lazim ketika sebuah perusahaan mengadakan perekrutan, orang-orang akan berbondong-bondong untuk melamarnya. Segala persyaratan dan teknis administrasi lainnya pun akan berusaha dipenuhi agar mendapatkan posisi pekerjaan yang diinginkan. Tak sedikit dari perusahaan tersebut mengadakan sistem seleksi super ketat guna merekrut para pelamar.

Seorang pelamar pekerjaan pun harus memiliki kesiapan yang mumpuni sebelum melamar pekerjaan, seperti yang tengah Luna lakukan sekarang ini. Berkat koneksi yang dimiliki Pak Kaisar--meski ada orang yang mengatakan bahwa memiliki jaringan merupakan bagian tidak wajar--tetapi memiliki jaringan sewaktu melamar pekerjaan merupakan salah satu bagian penting dalam proses ini. Luna merasa beruntung, karena setidaknya ia sudah selangkah lebih dekat dengan perusahaan tersebut, jika dibandingkan dengan orang lain.

Sementara Luna sibuk dengan resume dirinya dan mencari-cari informasi terkait perusahaan yang ia lamar, ponsel yang berada tak jauh dari laptopnya terus berdering hingga pikirannya mengalami distraksi.

Luna berdecak kesal. Ia menyumpahi dalam hati, bahwa siapa pun yang mengganggunya kali ini akan Tuhan balas. Lalu, ketika perhatiannya teralihkan pada id caller, kening Luna berkerut. Ia sudah tidak hubungan kerja apa pun dengan Ayu, tetapi mengapa rekannya--mantan rekan kerjanya--mau merepotkan diri meneleponnya di jam segini?

Enggan menerka-nerka maksud si penelepon, akhirnya Luna pun menjawab panggilan tersebut. “Kenapa, Yu?” Ia mengapit ponselnya di antara bahu dan telinga kiri. Sementara kedua tangannya bergerak untuk mengetik sepatah dua kata dalam resumenya.

“Lunaaa!”

Sang empu pemilik nama, lantas buru-buru menjauhkan ponsel dari gendang telinga, demi kesehatan indra pendengarannya. Luna memilih alternatif lain. Ia membiarkan ponselnya yang masih terhubung dalam panggilannya bersama Ayu, di atas meja sebelah laptop, dan memasang loudspeaker.

“Kenapa? Ganggu tahu,” gerutu Luna, karena jika tidak ada distraksi apa pun saat ini, resumenya sudah pasti selesai lebih awal.

Bagai tidak punya rasa malu dan pengertian, orang di seberang telepon mulai menceritakan pengalaman kerjanya sejak keabsenan Luna di kantor dengan heboh. “Horor banget tahu, Lun. Kantor kerasa sepi, pawangnya udah ngilang, sih. Jadinya para dedemit kembali berulah,” rancau Ayu, tampak menggebu-gebu saat ia mengatakan kalau para dedemit itu kembali berulah.

Senyuman terpatri pada wajah Luna. Ia merasa bernostalgia berkat perkataan Ayu. Dedemit yang Ayu katakan adalah ungkapan yang menjurus pada klien lama. Mereka cenderung punya pemikiran kolot, hingga sulit sekali menghadapinya selain berbekal kesabaran hati seluas samudera.

Luna tertawa kecil menanggapi ucapan Ayu barusan. “Yang sabar, ya, Mbaknya.” Ia berdeham singkat sebelum kembali melanjutkan. “Sori, ya. Karena aku, kamu jadi makin kerepotan.”

Luna merasa baik itu dirinya berada dalam kantornya dulu, maupun setelah didepak dari sana tanpa ada salam perpisahan sama sekali, lantaran perusahaannya dulu memasuki masa paling sibuk untuk memulihkan nama mereka, Luna jadi merasa tidak enak hati pada Ayu yang dilimpahkan tugas Luna.

Seandainya saja aku lebih kompeten.

Seandainya saja aku tidak merepotkan orang-orang dan bisa lebih mandiri.

Seandainya saja aku bisa mengatasi permasalahan perusahaan dengan lebih efesien.

Seandainya saja ... seandainya ada kesempatan untuk memutarkan kembali waktu yang kupunya kemarin hari.

Kicauan dibenak Luna terbuyarkan oleh sederet omelan Ayu yang mengatakan bahwa Luna jangan sungkan padanya. Luna harusnya lebih peduli pada diri sendiri. Luna seharusnya tidak meminta maaf atas kesalahan yang bukan diperbuatnya, serta serangkaian kalimat yang menegaskan bahwa dirinya harus mampu menghargai usahanya sendiri, tanpa perlu memikirkan orang lain karena takdir yang menimpanya.

“Aku nggak bisa, Yu,” bantah Luna. Ia menghela napas. “Tetap saja, kamu yang direpotkan sekarang ini, itu karena aku yang nggak becus sewaktu kerja di sana.”

Astaga, Lunaaa! Kapan sih, rasa gampang bersalahmu itu hilang? Aku tuh, gemas sekaliii.” Ayu terdengar betulan sudah meradang akibat sikap Luna yang satu ini. “Sudahlah, daripada kamu fokus dengan derita yang kualami saat ini  ... yah, padahal niatku bukan untuk membuatmu merasa tidak padaku, padahal ... ya, kan, sudah seharusnya seorang sahabat saling berkabar, bukan?”

Jemari yang sedari tadi lihai mengetik di atas papan keyboard seketika terhenti juga. Luna termenung. Perkataan ganjil yang selama ini sudah mulai luntur dalam benaknya, kini kembali mencuat. Badannya sudah bergetar tak karuan. Bahkan tanpa ia sadari, bulir air yang sudah tidak dapat ditampung oleh kelopak matanya, sudah membasahi kedua pipinya.

Ayu sampai-sampai sudah menyuarakan nama Luna berkali-kali. Hingga akhirnya, kesadaran pun dapat diperoleh oleh Luna kembali.

“Iya, Yu. Sori,” ujar Luna.

Lagi-lagi terdengar decakan kesal dari arah seberang telepon. “Ya ampun, Lun. Sehari saja, jangan berkata 'maaf' untuk sesuatu yang seharusnya nggak perlu dimintamaafkan,” balas Ayu dengan suara yang nelangsa. Rupa-rupanya kemungkinan Ayu sudah cukup bersabar menghadapi Luna hari ini.

Luna yang tahu diri, segera menyeka air matanya. Ia mengulas senyum sebelum kembali berkata, “Baiklah, baiklah. Semoga harimu menyenangkan, Yu. Lain kali, mampir sini ke kost.”

Sontak saja perubahan topik pembicaraan mereka membuat Ayu berteriak sumringah. Luna pun ikut merasakan euforia yang tidak dapat ia sembunyikan dalam kalimat percakapannya dengan Ayu. Wanita itu menjanjikan pertemuan mereka di hari lusa nanti. Tentu saja hal tersebut disambut oleh persetujuan Luna.

Percakapan dua orang wanita itu terhenti karena Ayu yang hendak bersiap pulang. Ia pun akan mengabari Luna jika sudah sampai di rumah dan hendak melanjutkan cerita mereka yang sempat tertunda.

“Hati-hati di jalan, Yu.” Perkataan Luna pun menjadi akhir percakapannya dengan Ayu. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Resume yang sudah dibuatnya--meski molor dari waktu yang sudah ia sepakati dengan dirinya sendiri--tetapi  terselesaikan juga, bersamaan dengan berakhirnya percakapan barusan.

Perkataan Ayu yang menyebutkan bahwa hubungan mereka bukan hanya sekadar mantan rekan kerja, menumbuhkan pengharapan dalam hatinya. Di saat yang sama, Luna merasakan bahagia yang tak terkira, karena sesuatu yang sudah dianggap tabu baginya, kini kembali hadir dalam hidup Luna. Namun, di saat yang sama pun, ia merasa kegelisahan. Sulit rasanya jika harus menghapus jejak masa lalu dalam hati dan pikirannya begitu saja.

Luna menghela napas, menutupi kedua matanya dengan punggung tangan. Ia berusaha menghalau segala pemikiran yang saling bertentangan satu sama lain, hingga akhirnya ia melupakan janjinya untuk bertelepon dengan Ayu. Luna lebih dulu menghampiri alam mimpi guna menghentikan pergulatan batin dan logikanya.

Semoga saja, semuanya baik-baik.

~TBC~

Woah, alhamdulillah aku bisa up lagi.
.
.
.
Terima kasih untuk kamu yang telah bertahan sejauh ini
Kamu hebat dan tentu saja kuat
Kamu hanya kurang memperhatikan dirimu sendiri.

Menolehlah ke belakang
Lihatlah, sudah sejauh apa kamu melangkah hingga sampai pada titik sekarang ini
Sudah jauh, bukan?
Banyak juga yang telah kamu lalui
Tapi kamu mampu bertahan sejauh ini
Kamu sungguh hebat
Terima kasih karena sudah mau berjuang sampai saat ini.
.
.
.
Pye-pye~
See u next chapter
Salam Hijau🍃

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top