# Chapter 03

#Tagihan Kost

Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan yang memiliki infrastruktur penunjang yang cukup beragam. Beberapa di antaranya, berupa jalan, listrik, telekomunikasi, air bersih, gas, serat optik, bandara, dan pelabuhan. Keberagaman infrastruktur tersebut membuat wilayah di Jakarta disesaki oleh jumlah penduduk yang padat.

Di tengah wilayah yang sesak dengan jumlah populasi manusia, keberadaan beberapa taman di sekitar Jakarta bagaikan oase yang menyejukkan. Salah satunya adalah Taman Suropati, di Menteng. Taman tersebut dikelilingi oleh beberapa bangunan Belanda kuno dan patung modern karya artis-artis ASEAN. Bahkan memiliki julukan lain sebagai Taman Persahabatan Seniman ASEAN.

Saat lembayung senja datang beserta kemacetan di jalan raya, kian memekakkan gendang telinga. Cahaya temaram dari lampu-lampu di bahu jalan, menemani perjalanan orang-orang yang berlalu-lalang. Entah berjalan, mengedarai kendaraan pribadi atau hanya sebagai penikmat jalan raya. Belum lagi segala keramaian dari berbagai toko-toko yang menyajikan segala keperluan, kian memecah keheningan yang ada di antara insan berjarak dekat.

Luna sudah berada di jok belakang motor sport merah milik Aryan, saat laki-laki itu mengambil jalan untuk berbelok ke arah Menteng. Ragam manusia dengan segala aktivasinya terlihat jelas oleh matanya. Ia bersyukur karena lewat jalan tersebut, selain dapat menikmati suasana malam di Taman Suropati secara kilat, ia terhindar dari kemacetan yang parah.  Sebab, air matanya masih belum sepenuhnya puas ia tumpahkan.

Luna butuh waktu lebih untuk membiasakan diri. Hingga tak terasa, mereka akhirnya tiba di gerbang kost, yang ternyata sudah ada wanita bersanggul yang bersiaga di depan pintu sambil memandangi mereka dengan tampang debit kolektor dadakan.

Luna menepuk dahi. Ia baru saja turun dari motor Aryan dan seketika baru mengingat tagihan kost-nya yang sudah kena jatuh tempo. Mampus aku! paniknya.

“Aluna? Kamu tidak akan kabur, kan?”

Suara pemilik kost itu seketika menciutkan niat hati Luna untuk melarikan diri. Ia tersenyum sungkan sambil membungkuk beberapa kali di depan Bu Ai, pemilik kost.

Sementara itu, Bu Ai mengernyitkan dahinya. “Bukan itu yang saya maksud, Aluna,” ungkap Bu Ai. “Maksudnya, orang tuamu sudah beberapa kali menghubungi Ibu. Mereka menyuruhmu untuk pulang, jangan pergi tanpa pamit seperti dulu-dulu,” jelasnya kemudian.

Bibir Luna ditarik kembali. Ia hanya menampilkan wajah dengan muka lurus-lurus saja. Situasi canggung yang ia rasakan, sudah menguap begitu saja, ketika Bu Ai menyebutkan dua orang yang asing dan akrab di saat bersamaan bagi Luna.

Bu Ai tersenyum mafhum ke arah Luna. Ia menepuk-nepuk bahu Luna. “Segera kabari mereka, ya, Lun. Bagi mereka, melepaskan anaknya untuk merantau ke luar kota, sudah banyak kekhawatiran yang mereka rasakan. Jangan sampai menyesal, ya!” Kemudian sesaat sebelum Bu Ai beranjak, wanita ikal yang memakai daster bermotif batik itu, sedikit mengangkat sudut bibirnya hingga menyeringai. “Saya baru ingat, jangan lupa bayar sewa kost, Luna. Tenggatnya tinggal dua minggu lagi.”

Saat pandangan Bu Ai bersemuka dengan Aryan, air mukanya seketika berubah memerah. Ia berkacak pinggang ketika lelaki berkulit sawo matang itu hendak menyalimi Bu Ai.

“Sore, Bu!” sapa Aryan kelewat riang dengan jajaran gigi yang tampak berderet rapi.

“Hooo, dari mana kamu?” Bu Ai menatap sinis pada Aryan. “Tumben jam segini baru pulang. Biasanya suka sampe gedor-gedor pintu segala,” cibirnya. Bu Ai sepertinya masih belum bisa memaafkan kesalahan Aryan. Pria itu memang selalu membuat Bu Ai kerepotan bergadang, karena tidak bisa tidur akibat terjaga dengan ketukan pintu untuk membuka gerbang kost yang sudah terkunci.

Dalam kost Bu Ai, memang berlaku jam malam. Namun, sikap Aryan selalu membuat Bu Ai mengusap dada, saking sabarnya. Pria itu kerap kali pulang melebihi jam malam dan mengganggu waktu tidurnya, hanya demi dibukakan gerbang kost. Astaga! keluhnya dalam hati.

Aryan menjawab pertanyaan sarkas Bu Ai dengan cengiran jenaka. “Pulang lebih awal salah, pulang paling akhir pun salah.” Ia pura-pura mendramatisir dengan mimik memelas dan helaan napas. “Ibu benar-benar, ya! Saya tuh, seperti digenggam takut mati, dilepas takut terbang, Bu!”

Bu Ai membeliakkan mata. Ia mendengkus kemudian. Lalu menarik telinga Aryan layaknya mengomentari perilaku buruk anak laki-lakinya. “Kamu, tuh, ya! Orang tua khawatir bukannya dikasih penjelasan, malah ngomong yang aneh-aneh,” omelnya.

Belum puas dengan melampiaskan amarahnya pada Aryan, Bu Ai menunjuk Luna dan Aryan secara bergantian. “Pokoknya buat kalian berdua, jangan bertingkah macam-macam lagi!” peringatnya. “Pulang tepat waktu, bayar awal waktu, itu lebih bagus. Jangan keseringan ngebuat wanita tua ini senam jantung, sudah tidak jaman lagi!”

Bu Ai menggeleng pelan, kemudian kembali berkata, “Yang ada bukan lagi senam jantung, tapi saya jantungan beneran!” gerutunya, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan kedua makhluk yang baru saja terkena ceramahan khas ibu kost.

Baik Luna dan Aryan, saling pandang beberapa detik. Hingga akhirnya mereka tertawa bersama, entah menertawakan kelakukan mereka yang menjadi aib dan saling ketahuan satu sama lain, ataukah tentang sikap Bu Ai yang mengingatkan mereka pada penagih hutang, tetapi dalam versi yang lebih lunak.

Luna adalah orang pertama kali berhenti tertawa. Ia terkesima saat memandangi Aryan yang tertawa lepas. Perpaduan antara mata bulat dengan hidung mancung yang membingkai wajah Aryan, membuat laki-laki itu terasa manis dipandang. Kulit coklat kemerah-merahan itu bersatu padu membentuk postur tubuh yang tinggi lagi kekar dibalik jaket denim yang dipakainya.

“Kamu keren,” ujar Luna.

Aryan mengerutkan kening. Masih dengan sisa tawa, ia menatap Luna dengan muka bingung. “Maksudnya? Keren karena berhasil bikin Bu Ai jadi punya banyak stok sabar?”

Luna menggeleng. Ia tersenyum sebentar. “Bukan itu. Kamu keren karena punya hubungan romatis kayak gitu sama Bu Ai.”

“Eh, hubungan romantis apaan? Nggak ada, ya!” protes Aryan. “Jangan ngomong ngaco-ngaco.”

“Ih, Aryan, bukan tentang ituuu,” kata Luna. Ia kembali membenarkan kalimatnya supaya Aryan tidak salah memahaminya. “Maksudnya, meski Bu Ai bukan ibu kandung sendiri, hubungan kalian seperti pertemanan. Bisa bercanda sesuka hati, marah, atau pura-pura marah. Bahkan dapat menyuarakan rasa khawatir dan bergurau ria tanpa ada sekat yang menjadi rasa canggung.”

Luna memandang iri pada hubungan ibu-anak tersebut. Baginya yang mendapatkan dunia pendidikan keluarga yang berbeda dari Aryan, keramahtamahan antara Aryan dengan sang ibu kost, menjadi magnet tersendiri yang membuat Luna menaruh pengharapan bahwa keluargannya dapat menjalin hubungan sebaik itu.

Kemudian, karena tidak ingin terlihat murung lebih lagi, Luna segera memamerkan senyuman khasnya. “Candaaa, Aryaaan,” ucapnya dengan riang. Mimik mendungnya sudah berganti layaknya membalikkan telapak tangan. “Dah, ya! Aku duluan,” pamit Luna.

Padahal niat Luna bukan untuk segera meninggalkan Aryan di tempat gerbang kost, melainkan karena ia tidak sanggup lagi untuk menanggulangi perasaan hatinya yang sedang kacau balau. Hati gatal, mata digaruk adalah peribahasa yang pantas menggambarkan keadaannya saat ini. Luna ingin sekali mengungkapkan banyak hal pada keluarganya, pada ibunya. Namun, lidahnya senantiasa kelu. Ia tak kuasa membicarakan apa pun yang telah Luna rencanakan sebelumnya. Ia hanya berharap, bahwa Tuhan mau berbaik hati memberikan kesempatan bagi lisannya untuk membicarakan apa yang hatinya bisikkan.

Semoga.

~TBC~

Alhamdulillah~
Sekian untuk hari ini.
Semoga hari-harimu
menyenangkan, ya!✨
.
.
Jangan lupa bersyukur
dengan yang kita miliki
sekarang ini.
Sayangi diri,
cintai keluarga sendiri.
Berbahagialah
kamu hari ini.
.
.
Pye-pye~

🍃 Salam Miss Hijau

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top