#Chapter 01
#Rinai Hujan

Wilayah ibu kota negara yang bergelar sebagai kota terbesar di Indonesia ini sedang diguyur hujan. Tak ayal, kota yang mendapatkan julukan sebagai The Big Durian, karena dianggap kota yang sebanding dengan New York City (Big Apple) di Indonesia, tak akan harmoni bila musim penghujan tiba. Terlebih lagi, sejak diterbitkannya berita melalui media massa setempat, bahwa kota Jakarta diperkirakan akan mengalami curah hujan yang tinggi akibat suplai uap air dari wilayah Sumatera dan Jawa yang relatif meningkat sejak awal tahun.
Walaupun sudah diwanti-wanti untuk tetap waspada, sedikitnya warga di sana yang mematuhi pihak berwenang. Kota yang tak pernah tidur itu, tetaplah ramai meski sudah memasuki Jumat, penghujung hari sebelum menikmati dua hari di akhir pekan dengan segudang rencana.
Sementara di bagian sudut kota metropolitan, sosok gadis bersurai hingga pundak harus terjebak dalam gedung berlantai tujuh. Melalui jendela seukuran setengah badan, ia melihat berbagai ukuran gedung pencakar langit menjulang tinggi-tinggi. Rintik hujan pun terdengar walau samar-samar, memercikkan sebagian titik-titik air pada kaca luar.
Ia menghela napas. Lagi-lagi hujan, keluhnya sekian. Bertentangan dengan namanya, Rinai Aluna, Luna tidak pernah bersahabat dengan hujan. Mungkin bagi sebagian orang, hujan sering kali dianalogikan dengan kisah romantis, atau momentum terbaik untuk merindu, bahkan hingga dijadikan sebagai pelantara guna memanipulasi air mata.
Sedangkan bagi Luna, hujan itu bermakna merepotkan. Selain karena harus direpotkan dengan genangan air dimana-mana, hujan kali ini sepadan dengan tumpukkan pekerjaannya yang segunung. Ia pun menghela napas lelah, lalu menyeruput sisa coklat panas yang tersisa, sebelum beranjak menuju ruangan divisinya.
•oOo•
Dalam ruangan yang berkapasitas menampung enam ruang khusus yang disekat dengan kaca tak transparan, kini sedang meributkan gosip hangat yang beredar di kantor. Sekiranya sudah tiga puluh menit setelah waktu istirahat berlalu, tetapi rupanya mulut biang gosip itu sangat sulit disumpal agar diam barang sejenak.
Ratu gibah--Mona--yang menempati posisi paling strategis di ruangan divisi HRD, berada dekat dengan pintu keluar ruangan dan hanya berjarak beberapa langkah dari ruangan sang manajer. Ia bercerita menggebu-gebu, “Anak-anak divisi lain malah udah pada heboh! Kaget banget mereka sama Pak Dino!”
Suara lain menimpali propokator gibah. “Iya, muka-muka alim gitu, tahunya korup, ya! Ngeri banget.” Ia melongok lewat kaca pembatas di samping Mona. “Amit-amit, deh. Nyesel aku pernah kagum sama dia.” Mulutnya terus saja komat-kamit merapal kalimat yang entah apa, sambil menepuk-nepuk bibirnya pelan.
Luna yang baru kembali ke kubikel, lantas melambaikan tangan pada Mona yang berada di samping sekatnya. “Baru siang, Mon. Udah gosip aja,” tegurnya. “Nanti-nanti kamu lho yang bakalan jadi tranding topic di sini,” sambung Luna dengan diakhiri tawa kecil.
Sementara Mona mencebikkan bibir, tetapi ia tetap menanggapi perkataan Luna. “Aduh, Lun. Jangan lurus amat, deh.” Dia mendorong kursinya ke belakang, agar leluasa memandang Luna sambil memegang beberapa lembar dokumen di tangannya. “Gini, ya, Lun. Soal perilaku Pak Doni itu, udah semua orang tahu. Dia emang koruuup, Luna Sayaaang.”
“Shhht, Mon. Kecilin suara kamu,” peringat Ayu, usianya dua tahun di atas Luna. Dia berpindah tempat jadi menggibah di depan kubikel Luna. “Ibaratnya itu, sepandai-pandai membungkus, yang busuk berbau juga. Bukti-bukti juga emang ngarah ke dia.”
Luna menutupi sebagian wajahnya, hingga menyisakan bagian mata dan sepertiga hidungnya dengan kertas A4 yang masih terbebas dari coretan tinta. “Yah, kita semua punya aib masing-masing, hanya saja ditutupi secara apik. Buktinya, bukankah sekarang ini kita harus fokus bekerja, ya?” Sontak saja ucapan Luna membuat dua orang mengeluh bersamaan.
“Luuuun, jangan ngerusak suasana, dong!” rengekan Mona berakhir dengan kinerja wanita itu yang bekerja sambil mendumel-dumel.
Sedangkan Ayu sudah misuh-misuh karena harus mengantarkan berkas kepada atasan mereka yang memang terkenal dengan ketegasannya kepada para junior. Sebelum pergi, ia sempat berpamitan pada Luna. “Doain aku, ya, Lun. Semoga tubuhku keluar dengan keadaan utuh.”
“Semoga kupingmu masih aman,” gurau Luna. Ia mengangguk-angguk pelan. Lalu mengisyaratkan seolah mempersilakan Ayu untuk segera menemui sang Bos. “Selamat mendengarkan pidato!” ungkap Luna dengan girang.
Mona pun tidak tahan untuk tidak ikut mencibir kawanan The Gosiper itu. “Pastikan jangan tertidur di ruangan, Yuyayu!”
Sementara sang empu yang dinistakan oleh rekan setimnya, hanya menggerutu sambil mencak-mencak menuju ruangan. Ia hanya berharap bahwa sang Tuan sedang dalam mood baik. Karena biasanya, makin buruk suasana hatinya, maka makin tak aman pula telinga bawahannya yang bertandang ke ruangannya.
“Ingat, Yu. Tuhan itu baik, Tuhan itu baik.” Ayu terus melafalkan kata serupa, hingga berakhir di dalam ruangan yang bagaikan persidangan hidup dan mati.
•oOo•
Langit Jakarta masih dirundung sedih. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Layaknya menangisi sang kekasih yang lama tak bersemuka, langit bagai sedang berduka. Luna menjadi penghuni terakhir--minus office boy--yang keluar dari kantor. Berhubung tidak suka pada hujan, Luna kira saat dirinya tenggelam dalam tumpukkan tugas yang tenggat waktunya masih dua minggu ke depan, hujan akan berhenti dan dia pun dapat pulang dengan nyaman.
Sayang sekali, doanya tak terkabulkan. Meski sering kali Luna kecewa akibat kenyataan yang tak sejalan dengan harapan, mau bagaimanapun dia tidak bisa mengalahkan siapa pun. Apalagi menyalahkan Tuhan, ah tidak, tidak, tidak! Luna lantas menggeleng. Berusaha mengenyahkan pikiran yang menyimpang sebelum keyakinannya pada Sang Pencipta makin mengerucut.
“Pak Somad, aku duluan, ya!” pamit Luna pada satpam yang berjaga di gerbang depan.
Pria yang hampir sebaya dengan ayah Luna berkata nyaring sebelum Luna beranjak, “Hati-hati, Mbak! Masih hujan padahal.”
“Nggak apa, Pak. Daripada nanti pulang lebih malam,” sahut Luna.
“Lagian kenapa nggak dijemput sama pacar, Mbak? Masih belum ada yang nyantol, ya?” gurau Pak Somad.
Luna menanggapi dengan anggukan dan tawa kecil. “Hilal Mas Pacar belum nemu, Pak. Nanti kalau udah ada, aku kabarin, deh.”
“Siap, Mbak. Asalkan jangan sama yang kaku-kaku, Mbak. Nantinya makan hati.”
“Baik, Bapak Cinta, akan aku ingat petuah Bapak.”
Pak Somad tertawa dengan mengelus pelan perutnya yang lumayan buncit. “Mbak Luna ini ada-ada saja. Mentang-mentang nama anak saya Cinta, dipanggil segala.”
Luna tersenyum makin lebar. Percakapan singkat dengan Pak Somad sedikit-banyaknya dapat mengobati rasa rindunya terhadap sosok cinta pertamanya. Ia memandang langit yang sepenuhnya masih kelabu. “Apa kabar dengannya, ya?” Kemudian bulat sabit pun terbentuk lewat bibirnya yang tersimpul. Ia benar-benar sedang merindukannya. Meski sudah tidak ada lagi rasa sesak yang menghimpit rongga dadanya kala mengingat sosok yang kental dalam ingatan.
[
]
🍃 Salam Hijau 🍃
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top