Part 3 - Personal Thoughts

"Mama! Papa! Cia pulang!" Seru Felicia sambil berhambur memeluk punggung kedua orang tuanya dari balik sofa di ruang tamu mereka.

"Cia sayang," panggilnya Mamanya, Andrea dengan terkejut menyadari kehadiran putri mereka yang tiba-tiba, "kok mau pulang nggak bilang-bilang? Kamu pulang naik apa? Kenapa nggak minta Pak Pri jemput?"

Pak Pri adalah supir keluarga mereka, yang biasa mengantar jemputnya untuk kuliah dan pergi kemanapun.

"Mama pertanyaannya rame banget, satu-satu nanyanya kenapa?" Keluhnya sambil berjalan mengitari sofa untuk duduk di antara kedua orang tuanya dan bergelayut manja di pundak Mama kesayangannya, sebelum menjawab tuntutan itu, "Cia dianterin temen, Ma. Jadi Pak Pri nggak usah repot jemput Cia ke airport segala."

"Gimana liburannya? Seru?" Tanya Davin, papanya sambil memandang putrinya dengan lembut.

Felicia mengangguk dengan ceria.

"Temen-temen baru Cia gimana? Mereka nggak jahat kan?" Tanya Mama penuh selidik.

Felicia menggeleng masih dengan senyum di wajahnya.

Mama Andrea menghela napas lega, "bagus deh."

"Tapi Cia kok pake baju turtleneck gitu? Kamu bawa kaos kayak gini ke Bali? Nggak panas emangnya?" Lanjut Mama sambil memandangi kaos berleher tinggi yang melekat ditubuh putrinya itu dengan bingung.

Felicia menyengir. Sebenarnya dia sudah mengendap-endap masuk ke kamarnya terlebih dahulu setelah Aldrich mengantarkannya sampai ke depan rumah untuk mengganti tanktopnya dengan kaos turtleneck dalam upaya memyembunyikan tanda buatan lelaki itu di sekujur tubuhnya.

"Cia salah bawa kaos, Ma," bohongnya sambil memamerkan giginya.

Mama Andrea menggeleng-geleng sambil berdecak merespons kebodohan putrinya itu. Tangannya menyisir lembut rambut ikal Felicia yang sangat mirip dengan rambutnya sendiri. Matanya memperhatikan wajah, yang akibat genetiknya, memiliki garis sempurna seperti miliknya sendiri saat muda dulu.

"Cia capek ya, sayang?" Tanyanya lagi saat mengawasi lingkaran gelap di bawah mata gadis itu.

Felicia mengangguk jujur, karena dia memang benar-benar lelah dan butuh tidur. Dia mengerucutkan wajahnya manja sambil memeluk Mamanya semakin erat.

Liburan dua hari satu malam ke Bali, dengan tambahan aktivitas malam dan tadi pagi yang membuat kurang tidur memang benar menguras tenaganya.

"Ya udah Cia istirahat, gih. Besok kan Cia udah mulai kuliah lagi." Lanjut Papa Davin.

"Iya, Cia mau tidur dulu ya, Ma, Pa. Good nite, Mama Papa."

Felicia buru-buru pergi dari sana dan masuk ke kamarnya.

***

Felicia masuk ke kamar mandi yang terletak di kamar tidurnya. Dia melepaskan kaos turtleneck yang tadi dipakainya dengan terburu-buru sambil berdiri di depan cermin. Pandangannya terpaku pada bekas-bekas ciuman di sekujur lehernya hingga bagian dadanya.

Wajahnya bersemu kemerahan saat mengingat apa yang Aldrich lakukan kepadanya selama di Bali. Dan di saat yang bersamaan, perasaan bersalah menusuk-nusuk perutnya.

Dia tahu bahwa dirinya sudah mengkhianati kepercayaan kedua orang tuanya dan dia terlalu bodoh untuk menyerahkan segalanya kepada lelaki yang baru dikenalnya kurang dari satu bulan.

Aldrich adalah pacar pertamanya, ciuman pertamanya dan pemilik dirinya setelah semalam. Dan yang paling terpenting dari semuanya, Aldrich adalah cinta pertamanya. Sejak pertama kali dia bertemu dengan lelaki itu yang berstatus kakak kelasnya, yang selalu membantunya dan baik kepadanya selama masa orientasi, Felicia jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan Felicia tidak pernah merasa seberuntung ini dalam hidupnya saat lelaki itu memintanya menjadi pacarnya, yang membuatnya langsung menerima tanpa berpikir panjang. Felicia memang cukup fakir pengalaman untuk mengetahui arti tarik ulur dalam sebuah hubungan, untuk membuat lelaki merasa penasaran.

Salahkan dirinya yang takut membuat lelaki itu kecewa, namun Felicia benar-benar tidak kuasa membantah saat Aldrich memintanya memenuhi hasratnya semalam. Dan membuat lelaki itu memilikinya, mengambil bukti kegadisannya, tidak membuatnya menyesal sama sekali.

Hanya setitik rasa takut yang muncul dari dirinya setelahnya. Entah hanya perasaannya saja atau memang lelaki itu berubah dingin kepadanya. Perasaan itu sempat menghilang saat mereka kembali berhubungan badan tadi pagi sebelum mereka kembali ke Jakarta, walau firasat itu kembali muncul ketika mereka hendak pulang dari sana, bahkan saat Aldrich mengantarkannya ke rumah.

Felicia masuk ke bathtub dan menyalakan shower untuk mengguyur tubuhnya, berusaha menghilangkan pikiran buruk tidak berdasarnya tersebut.

Kemudian dia mengenakan piyama tidurnya dan merebahkan tubuhnya yang memang benar-benar lelah ke atas kasur.

Felicia mengambil ponselnya dan mengetik kalimat di bagian chatnya dengan Aldrich.

Al udah sampe rmh? Aku baru kelar mandi mau tidur.

Dalam hitungan detik, chat yang dikirimnya bertanda centang dua dan berwarna biru yang artinya sudah langsung dibaca pemiliknya.

Udh. K.

Felicia menghela napas atas balasan singkat tersebut sambil kembali membalas.

Aku seneng kamu ajak aku ke bali, Al. Makasih. Love u.

Me too.

Good nite, Al.

Dua tanda centang berwarna biru tanpa balasan menjadi akhir chat mereka malam itu.

Felicia kembali menghela napas sambil memejamkan mata.

Aldrich cuma capek, makanya bales singkat-singkat. Besok pasti Aldrich balik kayak biasa.

Katanya dalam hati sambil berusaha menghipnotis dirinya sendiri untuk segera tidur.

***

Aldrich memasukkan ponselnya ke dalam kantung celananya lagi setelah melihat balasan terakhir dari Felicia, tanpa membalasnya.

Dia tidak kembali ke rumahnya setelah mengantarkan Felicia pulang, seperti yang tadi disampaikannya kepada gadis itu melalui chatnya. Kini dia malahan berada di depan rumah Jonathan, baru saja memarkirkan honda civicnya.

Ya, dia baru saja berbohong kepada gadis berstatus pacarnya itu, dengan mengatakan bahwa dia sudah tiba di rumahnya sendiri, tanpa alasan yang dapat dipahaminya sendiri. Karena dia seharusnya tidak perlu melakukannya. Aldrich hanya sedang malas menjelaskan, apapun itu, kepada Felicia.

Aldrich bukan merasa jenuh. Karena tidak ada hubungan berusia satu minggu yang membuat jenuh. Mungkin dia hanya merasa segalanya terlalu mudah dan membuatnya kurang tertantang. Atau ada sesuatu pada Felicia yang membuatnya takut, sesuatu yang membuatnya ingin mundur beberapa langkah setiap dia satu kali melangkah maju, sesuatu berbau komitmen.

Oke, harus diakuinya bahwa dia salah mengambil langkah. Dia mengira Felicia adalah partner yang sesuai untuk diajak bersenang-senang dan membuatnya memulai sesuatu yang salah dengan gadis itu, namun ternyata Felicia tidak sesuai dengan dugaannya. Hidup gadis itu terlalu lurus untuk ukuran wanita tercantik di kampusnya.

Wanita tercantik di kampusnya. Itu alasan utamanya mendekati gadis itu saat pertama kali dia melihatnya di acara orientasi mahasiswa baru dua minggu yang lalu. Dan Aldrich memang memiliki kelebihan dari segi apapun untuk mendekati gadis manapun yang diinginkannya, baik dari segi fisik, popularitas ataupun finansial. Satu hal yang diluar dugaannya adalah fakta bahwa terlalu mudah mendapatkan perempuan sesempurna Felicia.

Aldrich masuk ke rumah Jonathan tanpa sungkan seolah itu adalah rumahnya sendiri. Hanya ada pembantu yang menyambutnya dan mengatakan bahwa Jonathan dan Andreas sudah berada di teras belakang. Mereka memang berjanji untuk bertemu setelah mengantarkan pacar mereka masing-masing untuk pulang ke rumahnya.

Teras belakang rumah Jonathan memang selalu menjadi markas berkumpul untuk mereka bertiga. Alasannya karena Jonathan memiliki rumah paling besar dan sunyi dibandingkan rumah milik Andreas yang penuh dengan keluarganya dan rumah Aldrich yang walaupun hampir sama luasnya dengan rumah Jonathan, namun dihuni oleh Mamanya yang unik dan suka mengganggu mereka.

"Mana Andreas?" tanya Aldrich sambil mengitarkan pandangannya ke sekeliling teras tersebut saat hanya menemukan Jonathan bermain game sendirian di sana. Dia menempatkan dirinya di samping Jonathan. Tangannya mengambil kotak rokok yang bertengger di meja sofa sambil kemudian menyalakannya dan menghirupnya.

Jonathan mengangkat kedua bahunya tanpa melepaskan pandangan dari game di tangannya, "lagi jerit-jerit di telepon. Tadi kayaknya masuk ke kamar gue."

"Sama siapa?" Aldrich mengerutkan kedua alis tebalnya bingung.

"Retha kayaknya."

"Bukannya dia baru nganter Retha pulang?"

Sekali lagi Jonathan mengangkat bahunya acuh.

"Mau taruhan nggak?" Tambah Jonathan santai seperti yang sudah sangat sering dilakukannya.

"Kalo mereka putus?" tebak Aldrich, "Gue pegang mereka putus kalo gitu."

"Yah, mana bisa taruhan kita kalo sama-sama megang mereka putus."

"Kalo gitu taruhan siapa yang mutusin?" usulnya.

Jonathan terdiam sebentar sebelum akhirnya berkata, "gue pegang Retha."

"Boleh, gue pegang Andreas. Taruhannya apa?"

"Terserah."

Aldrich berpikir sejenak sebelum menunjuk Jagerbom di meja mereka, "Yang kalah dua gelas Jagerbom in one shot."

"Call," jawab Jonathan mantap.

Aldrich kembali melekatkan puntung rokok dengan bibirnya untuk kembali menghirup panjang sambil memperhatikan car race game yang dimainkan oleh Jonathan.

Tidak berapa lama Andreas mengacak rambutnya frustasi sambil keluar ke teras dan menghempaskan tubuhnya di salah satu sofa yang kosong, membuat kedua sahabatnya memperhatikannya dan menunggu kalimatnya selanjutnya.

"Gue putus sama Retha," jelasnya yang sudah diduga kedua orang lainnya.

"Siapa yang putusin siapa?" tanya Jonathan sambil menunggu penuh harap.

"Retha putusin gue."

Jonathan mengepalkan tangan tanda keberhasilan dan Aldrich mengutuk dengan suara kecil. Tangannya menuangkan segelas Jagerbom ke gelas Jagerbom lainnya dan menegaknya dalam satu tegukan. Sengatan alkohol terasa menusuk otaknya seketika dan membuatnya menyernyitkan keningnya sejenak sebelum kembali meletakan gelas itu ke meja dan menghisap rokok di tangannya kembali.

Seketika Andreas tahu apa yang baru saja dilakukan kedua sahabatnya tersebut.

"Br*ngs*k! Kalian jadiin gue bahan taruhan ya?!" makinya penuh kekesalan.

Aldrich dan Jonathan menjauhkan sedikit tubuh mereka walau tahu tidak akan ada hal berbahaya yang akan dilakukan sahabatnya itu kepada mereka.

"Just for fun, Man!" kata Jonathan menenangkan, "Kita buat lo jadi taruhan ataupun nggak kan kalian tetap putus. Kita cuma menebak siapa yang putusin siapa."

Andreas memutuskan bahwa terlalu konyol untuk berdebat dengan kedua sahabatnya itu mengenai hal ini. Dan ini memang bukan pertama kalinya dia berpacaran dan putus. Bahkan dia sudah tidak tahu lagi keberapa kalinya.

"Emang sialan tuh cewek," makinya melampiaskan kekesalannya entah kepada siapa.

"Ya udahlah, Retha bukan satu-satunya cewek kan?" kata Aldrich membuat pernyataan untuk menghiburnya, "gue yakin besok juga lo udah deketin cewek lain lagi. Lo bukannya udah ngincer Prita anak Psikologi? Kejarlah besok."

Seketika segaris senyum kembali muncul di bibir Andreas. Semudah itu menghibur sahabat playboy-nya itu.

Aldrich memang suka berganti pacar. Tapi dia akan selalu menyelesaikan hubungan dan perasaannya bersamaan sebelum memulai hubungan yang baru. Berbeda dengan sahabatnya yang satu ini, yang memasukkan sebanyak-banyaknya perempuan dalam list antrian hubungannya.

Dan jangan samakan Jonathan dengan mereka berdua, karena bagi Aldrich, tidak ada lelaki yang dikenalnya yang lebih setia dari Jonathan-kecuali Papanya sendiri tentunya- karena Jonathan dan Bianca sudah berpacaran sejak SMA.

Walaupun masing-masing dari mereka memiliki tingkat kesetiaan dan pilihan atas pasangan berbeda-beda, namun tidak mengubah fakta bahwa baik Jonathan, Andreas maupun dirinya sendiri menjalani kehidupan mereka dengan bebas dan tanpa beban.

Dan memiliki hubungan dengan Felicia saat ini membuat Aldrich merasa kebebasannya sedikit tergelitik, walau tidak ada yang dilakukan Felicia kepadanya.

***

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top