09 : SLEEPOVER NIGHT

Live While We're Young - One Direction

1:27 ━━━○─────── 3:17

⇄ ◁◁ II ▷▷ ↻

|

Waktu yang indah selalu berlalu dengan cepat.

|

REGALO BAGIAN 09 : SLEEPOVER NIGHT

Ken kini berada di kamar. Gadis itu sedang memainkan ponselnya di atas kasur. Ia baru saja makan malam dengan para abangnya. Besok adalah hari Minggu jadi ia ingin mencari hiburan dan melupakan urusan sekolah sejenak.

ೋ•◦𝐆𝐄𝐌𝐀𝐙◦ೋ

Nadhila Ikhsani
P

Syafa Rezanas
Waalaikumsalam

Nadhila Ikhsani
Hari ini jadi nginep di rumah Ghea kan?

Firania Hidaningrum
Jadi lah, awas aja kalo cm wacana.

Gheanda Rizkita
Sini sini cepet ke rumah, udah ditunggu sama Bunda

Kenya Agatha
Gue otw bentar lagi.

Afidel Salih
Gue otw juga
Otw turun dr kasur maksudnya :V

Nadhila Ikhsani
Typingnya tidak mencerminkan remaja islami

Naida Ramawar
Guys
Gue sm Kayla lagi di Pusat Kuliner nih
Ada yg mau titip?

Kumara Laura Salma
Gue nitip, Daa!
Martabak manis 1
Thai tea original 1
Ayam geprek level sedengan 1
Es teh 1
Sama pentol 10rb pake saos

Anggraeni Salshabila
Lo nitip jajan apa ngasih bil resto hah?

Kumara Laura Salma
Sirik ae lo tapir!

Anggraeni Salshabila
Lambenya minta bgt dibetot ya?

Kumara Laura Salma
Hah? Apa? Gue nggak liat lagi pake konde.

Anggraeni Salshabila
Woi salmon!

Kumara Laura Salma
Apaan tapir?

Anggraeni Salshabila
Ayok ke lapangan
Gue jabanin dah kalo lo mau gelud sm gue

Syafa Rezanas
Gelud!
Gelud!
Gelud!

Anda telah mengeluarkan Kumara Laura Salma dan Anggraeni Salshabila.

Syafa Rezanas
Ah Ken lo gk seru ihhh!

Kenya Agatha
Biar cepet bubar. Kalo gk gini lo pada pasti ngaret ke rumah Ghea.

Ken menutup matanya sejenak. Tangannya bergerak untuk memijat daerah sekitar matanya. Gadis itu menderita rabun jauh sejak kelas 6 SD. Itu semua berawal dari niatnya yang ingin ambis dalam belajar namun justru malah merusak matanya.

Dulu saat hendak mempersiapkan diri menghadapi UN, ia belajar tak kenal waktu dan tempat. Selama ia sedang luang maka ia akan belajar. Terkadang ia belajar sambil tiduran atau pun dalam ruangan dengan pencahayaan kurang.

Sampai saat ini, hanya GEMAZ yang tahu soal penyakitnya. Ken tak berani memberitahu para abangnya, terutama Kel. Ia yakin sekali ia pasti akan dimarahi, mengingat Kel sendiri sudah sejak dulu mewanti-wanti Ken jika ingin belajar harus di tempat yang terang dan tidak boleh sambil tiduran. Gadis itu menyesal karena bandel dan tidak mendengarkan kakaknya.

Ceklek

"Punten slurr!"

Bruk

Ken sukses dibuat darah tinggi dalam waktu sekejap oleh seorang Ngalingka Harris. Abangnya yang satu itu sudah masuk ke kamarnya tanpa izin dan permisi, lalu berseru seenaknya, kemudian merebahkan diri di kasurnya dengan tampang watados.

Harris memiringkan tubuhnya agar bisa menghadap Ken.

"Cantik," panggil Harris dengan nada genit.

"Iya gue tau. Makasih udah ngatain gue cantik. Ke mana aja lo selama ini, hm? Nguli bareng Dora?" balas Ken. Gadis itu lalu kembali memainkan ponselnya.

"Bukan. Gue abis nyate bareng Barbie di Bikini Bottom," jawab Harris ngawur.

"Ooh, pantes Barbie yang di serial 'Dream House' otaknya sengklek. Mutualan sama lo ternyata," sahut Ken makin ngawur.

Harris menoyor kepala Ken.

"Apaan, sih, Bang?" protes Ken.

"Lagi testimoni aja, sih, siapa tau otak lo ketinggalan di rumahnya Pakde Samsul," ujar Harris.

"Pakde Samsul?"

"Julukannya Amrik apaan?"

"Negeri Paman Sam."

"Di Jawa sebutan buat paman apaan?"

"Pakde."

"Ya udah. Paman Sam versi Jawa itu Pakde Samsul."

Ken sukses dibuat tertawa karenanya. "Apaan, sih, jokes lo garing amat!"

"Ngatain garing tapi lo ketawa. Jokes gue yang garing apa elo yang receh? Didikannya Bang Kel bener-bener, dah," ucap Harris.

"GUE DENGER LO NGOMONG APA, RIS!"

Harris reflek menutup mulutnya. Ia lupa bahwa kamar Kel berseberangan dengan kamar Ken. Ditambah pintu kamar Ken belum ia tutup jadi suaranya dapat didengar hingga luar.

Harris lalu mengganti posisinya menghadap langit-langit kamar Ken. "Lo nggak ada niatan nanyain kabar gue apa? Gue kangen sama lo."

"Sa ae ngardusnya," balas Ken masih dengan pandangan yang terfokus pada ponsel.

"Seriusan, Markonah! Selama lo di Amrik nggak ada bahan buat gue bully. Kalo gue bully Raja yang ada gue digas tujuh tahun tujuh purnama, bisa budek telinga gue. Kalo Careez, tuh, bocah kalo diladenin malah makin jadi. Bisa-bisa topik adu bacot gue sama dia menjerumus ke body streaming lagi," ujar Harris.

"Body shaming, elah. Ngomong aja pake typo lo!"

"Ya mana saya tau, saya, kan, lembu. Terus, nih, ya, kalo gue ajak Jihan, yang ada dia ngadu ke Kel. Lo tau sendiri dia anaknya ngaduan."

Ken menatap Harris sesaat. "Lo ke kamar gue buat ngajakkin gibah apa gimana?"

Harris tertawa.

"Gimana rasanya study tour kemarin?" tanya Ken. Ya ... begitulah. Ken tidak bisa menyangkal bahwa ia juga merindukan Harris. Ia tak menyangka sikap jail Harris yang selama ini membuatnya menderita hipertensi dini justru sangat ia rindukan selama di Amerika. Haha, sangat menggelikan.

"Ya gitu. Rasanya itu seperti Anda menjadi iron men," jawab Harris.

Plak

"Aw!"

Ken memukul lengan Harris. Saat ia sudah serius bertanya, Harris justru menjawabnya dengan lelucon.

Ken beranjak dari posisi berbaringnya. Ia merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan. Gadis itu telah berganti pakaian untuk ke rumah Ghea tadi sehabis makan malam.

"Eh, gue baru ngeh lo nggak pake baju rumah. Lo mau ke mana?" tanya Harris penasaran.

"Ke London mau ketemu sama 1D," jawab Ken.

"Gilee lo masih ngefans sama mereka?"

"Ya masih lah. Emang lo fans musiman?"

"Heh, Markonah!" Harris berseru karena Ken meninggalkannya.

Harris menggidikkan bahunya. Ia mengambil toples camilan yang ada di meja belajar Ken. Gadis itu memang rutin menyetok cemilan agar tidak bosan saat belajar. Pemuda itu lalu keluar dari kamar Ken dengan membawa toples tersebut.

***

Di sebuah dapur restoran dari hotel ternama di Ibukota, seorang pemuda tengah disibukkan dengan berbagai macam alat masak di depannya. Pemuda itu mengolah sebuah ikan tuna segar dengan lihainya. Tidak ada yang bisa mngalihkan fokusnya dari ikan tuna itu. Bahkan hiruk pikuk kesibukan dapur seolah tak terdengar di indera pendengarnya.

"Jadi dia anaknya Presiden?" bisik salah seorang pegawai perempuan pada temannya. Posisi mereka cukup jauh dari keberadaan pemuda tadi.

"Iya, dia anaknya Tuan Bryant, Arsen namanya. Dia ahli waris dari Bryant Group."

Pegawai perempuan yang tadi bertanya mengangguk-angguk. "Tapi kenapa dia masak di dapur? Kan, ada koki sendiri buat masak makanan restoran."

"Entah, aku juga nggak tau. Bukan urusan kita juga."

"Eh, tapi dia ganteng."

"Dasar matanya!"

"Dia jomlo, kan?"

"Iya mungkin. Selama delapan tahun kerja di hotel ini, nggak pernah aku denger gosip Tuan Muda lagi deket sama cewek."

"Aku pepet boleh kali, ya?"

"Mimpi aja selagi bisa. Lagian mana mau Tuan Muda sama kamu."

"Jadi temen doain yang baik, kek!"

Percakapan kedua pegawai itu terhenti saat pintu dapur dibuka dari luar. Tuan Bryant datang bersama Leo, sekretarisnya.

"Selamat malam, Tuan Bryant," sapa semua pegawai yang ada di dapur.

Tuan Bryant tersenyum seraya mengangguk. Beliau mempersilakan para pegawainya untuk melanjutkan aktivitasnya.

"Habis ini kamu masih ada les privat sama Miss Chloe, Sen. Jangan sampai telat!" ucap Tuan Bryant.

Arsen menyelesaikan platting ikan tunanya yang sudah diolah. "Hm."

"Selesai les kamu akan dijemput Leo untuk kembali ke kantor. Kita kedatangan tamu seorang investor dari Meksiko," ucap Tuan Bryant lagi.

"Hm."

"Dan jangan lupa persiapkan dirimu untuk besok. Setelah selesai kelas panahan, kamu dan Papa akan ikut rapat komite sekolah kamu untuk membahas kegiatan akhir tahun. Jangan mempermalukan Papa seperti yang sudah-sudah!"

"Hm."

Tuan Bryant pun berlalu.

"Usahakan kau sudah ada di rumah paling lambat lima belas menit dari sekarang. Jangan buat Miss Chloe menunggu. Aku pergi dulu," kata Leo.

***

Di sinilah Arsen berada sekarang. Istana keluarga Bryant yang mewah. Tempat ia dibesarkan dan tumbuh menjadi seorang remaja seperti sekarang. Di sebuah gazebo yang ada di rooftop rumahnya, cowok itu duduk di hadapan guru privatnya, Miss Chloe.

"Any questions for today?" tanya Miss Chole.

"Nope."

"Okay. If you think you can already understand the material, I'll go home. See you," pamit Miss Chloe.

"Thanks."

Arsen menyalakan ponselnya. Pukul sembilan malam. Begitulah keterangan yang tertera pada layar ponsel Arsen. Cowok itu kemudian beranjak menuju kamarnya. Ia masih mempunyai kegiatan setelah ini.

"Halo?" ucap Arsen ketika ia tersambung ke sebuah panggilan telepon.

"Kau sudah selesai?"

"Hm."

"Cepatlah bersiap. Aku sedang dalam perjalanan menjemputmu."

"Oke."

Tut

Panggilan berakhir.

***

Seluruh personel GEMAZ telah berkumpul di rumah Ghea seperti yang direncanakan. Mereka kini berada di taman belakang rumah gadis itu, memakai piyama dengan warna yang berbeda-beda, tepatnya duduk bergerombol di pinggir kolam renang. Para gadis itu sibuk membahas berbagai topik sambil menikmati jagung bakar yang mereka olah sendiri. Mereka mengobrol santai setelah selesai berenang. Gila memang memutuskan berenang di jam-jam malam seperti ini, tapi namanya juga anak muda, semangatnya seolah tidak pernah habis.

"Tidurnya nanti jangan kemaleman, ya! Bunda masuk dulu," ujar Bunda Ghea dari ambang pintu kaca yang memisahkan rumah dengan taman belakang.

"Siap, Bundaaa!" balas GEMAZ serempak.

"Dadah, Bunda! Selamat beristirahat! Jangan kangen sama Naida, ya, Bun?" ucap Naida.

Bunda Ghea tertawa mendengar candaan Naida. Wanita paruh baya itu lalu mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

"Eh, betewe, tadi itu siapa yang rame-rame dateng ke rumah, Ghe?" tanya Fidel penasaran. Gadis itu berbaring di atas balon flamingo berukuran besar yang terapung di atas kolam renang.

"Ooh, itu temen bisnisnya Ayah dari Amrik. Kebetulan lagi main ke Indo jadi mampir ke rumah," jawab Ghea.

"Ooh yang kata lo salah satu petinggi di Disney, ya?" tanya Kayla memastikan.

Ghea mengangguk.

"Enak, ya, jadi lo. Kalo mau ke Disneyland tinggal nunjukkin kartu nama lo aja abis itu bisa main di sana sepuasnya," ujar Fidel iri.

"Walaupun bokapnya Ghea adalah salah satu orang penting di Disney, Ghea nggak pernah manfaatin hal itu buat main sepuasnya di Disneyland. Emangnya lo?" sahut Naida.

Fidel cemberut. Ia selalu kalah jika berdebat dengan Naida.

"Eh, kalian inget nggak sama sepuluh wish list yang kita buat waktu masih kelas delapan?" tanya Nana.

Seluruh personel GEMAZ mengangguk.

"Gue bener-bener berharap itu kejadian. Lo masih nyimpen kertasnya, kan, Ni?" ujar Nana pada Nia.

Nia mengangguk. Ia pamit sebentar untuk mengambil ponselnya di kamar Ghea, mengingat perjanjian mereka yang selalu mengumpulkan ponsel ketika sedang berkumpul. Tak butuh waktu lama ia pun kembali. Nia melepas case ponselnya dan mengeluarkan secarik kertas yang terlipat rapi di balik case itu.

10 Daftar Harapan GEMAZ

Dengan berlandaskan mimpi, tekad, dan rasa cinta satu sama lain, kami berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk:

1. Merintis yayasan GEMAZ.
2. Mendirikan sekolah di bawah naungan yayasan GEMAZ untuk orang yang kurang mampu.
3. Mendirikan rumah sakit di bawah naungan yayasan GEMAZ untuk orang yang kurang mampu.
4. Mendirikan panti asuhan dan panti jompo di bawah naungan yayasan GEMAZ.
5. Mendirikan taman bermain untuk rekreasi keluarga di bawah naungan yayasan GEMAZ.
6. Mendirikan perpustakaan di bawah naungan yayasan GEMAZ untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat.
7. Mendirikan lembaga UMKM di bawah naungan yayasan GEMAZ untuk membantu masyarakat kelas bawah yang ingin merintis sebuah usaha.
8. Mendirikan organisasi GEMAZ untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan kemanusiaan.
9. Mendirikan sebuah label untuk membantu perekonomian masyarakat pedesaan.
10. Mendirikan sebuah label untuk membantu perekonomian masyarakat pesisir.

Semoga kelak di masa depan, harapan-harapan ini bisa terwujud. Aamiin.

──GEMAZ

Ken tersenyum. Otaknya memutar memori beberapa tahun yang lalu ketika mereka menulis kesepuluh daftar harapan itu saat masih duduk di bangku kelas dua SMP. Ken ingat betul, saat itu sedang istirahat dan mereka sedang berkumpul di kantin. Berhubung pada hari itu sedang ada kegiatan jeda tengah semester yang di mana kegiatan KBM tidak berjalan efektif seperti biasanya, mereka memanfaatkan waktu bebas dengan berkumpul. Berbagai hal random pun menjadi topik pembicaraan mereka. Hingga pada akhirnya kesepuluh daftar harapan tersebut lahir.

Saat atmosfer haru sedang menyelimuti mereka, tiba-tiba terdengar sebuah yang menginterupsi mereka. Mereka semua menatap Kayla.

"Hehe, maap. Perut gue suka resek kalo laper," ujar Kayla.

Syafa menyikut Ghea. "Noh temen lo ngode. Buruan kasih makan lagi. Sebelum pulangnya nggak dijemput."

"Bahasa lo ngeri amat. Dikira gue jelangkung apa?" ucap Kayla.

"Lah, kan, lo sepupunya. Kaylangkung," balas Syafa.

Kayla bersiap melempar sandalnya, namun Syafa dengan gesit menghindar. Alhasil, sandal Kayla meleset dan mengenai Fidel yang sedang berbaring dengan tenteram di atas balon flamingo.

Fidel terkejut. Ia secara reflek berusaha menangkap sandal Kayla agar tidak jatuh ke air. Namun nahas, nasib sial menimpa dirinya. Bukan hanya sandal Kayla yang tercebur, Fidel juga ikut tercebur ke kolam. Gelak tawa GEMAZ pecah seketika.

"Woi ini siapa yang ngelempar?!"

Saat Fidel berusaha menyeimbangkan diri di dalam air, saat itu juga semua personel GEMAZ melarikan diri. Mereka meninggalkan Fidel yang baru saja melakukan misi penyelamatan pada sandal Kayla. Wajah gadis itu berubah cengo saat menyadari bahwa tidak ada satu pun orang di sekitarnya, tak lama kemudian wajah kesalnya mulai terbentuk.

"AKU JIJIK SAMA KAMU, SAHABAT!"

Ken tertawa dari dalam rumah Ghea. Melihat Fidel yang hanya terlihat kepalanya saja dari kejauhan lengkap dengan wajah kesalnya membuat humornya dan sahabat-sahabatnya terjun bebas. Bahkan laknatnya, sahabat-sahabatnya mengabadikan momen tersebut dalam bentuk foto dan video. Bahkan ada yang langsung mengunggahnya ke media sosial.

Malam menginap para gadis yang indah. Ken berharap waktu berjalan lambat agar ia bisa lebih lama menghabiskan waktu bersama orang-orang tersayangnya ini.

REGALO

Hellaw swag people!

Welkam tu mai nyu stori. Ai hop yu laik it. So, apa first impression kalian terhadap cerita baruku ini?

Mulai detik ini juga, hari indah kalian akan ditemani oleh Ken yang ambis, Adam yang easy going, dan Arsen yang bodo amatan. Selamat berpetualang di semesta mereka!

Tinggalkan jejak sebagai bukti bahwa kalian telah membaca bagian ini dengan pemberian vote dan komen, biar nggak jadi sider aja.

Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.

Read REGALO until the end.

Thanks and see you 💙


Best regards,
Styakna

Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top