1. Something Between
Taylor Swift - All Too Well (10 Minutes)
_______
LAMPU hijau di depan berganti menjadi kuning sebelum berganti lagi memjadi merah. Akbar menginjak rem di belakang Fortuner hitam. Merasakan bahunya dicolek, laki-laki itu menoleh ke sebelah, menerima suapan dari perempuan berambut pendek di sebelahnya, Rere— pacarnya.
Sontak, Rere mengecilkan volume tape, dan menegakkan tubuhnya. Penasaran apa yang akan dikomentari pacarnya. Satu tangannya menggenggam dessert box varian red velvet buatannya.
"Enak," ucap Akbar, setelah menelan suapan ke-dua.
"Boong." Rere refleks bersandar dengan bahu sebelah kanan, menghadap Akbar, sejujurnya ia senang, tapi ia masih ragu.
"Beneran. Kalo dibandingin sama yang kemaren, sih ini menang telak."
"Ini kamu lagi nggak nyenengin hati aku doang kan?"
"Demi Allah, Realita Kusuma!" Seru Akbar, langsung menoleh. "Tuh. Sampe sumpah loh aku."
Rere melihat sosok laki-laki berparas mirip Kevin Julio versi tanpa tattoo dan kulit lebih gelap—tengah fokus lagi pada jalanan di hadapannya.
"Berarti aman ya kalo aku jual?"
"Kamu bawa ke kampus juga sehari langsung sold out."
"Lebay!" Sembur Rere.
"Lah? Perlu sumpah lagi nih?"
Rere menggeleng dan tertawa geli. "Yaudah, yaudah! Tapi, kalo boong nanti matinya melotot ya?"
Tawa Akbar meledak. Tangan kirinya refleks mengacak rambut Rere. Sementara Rere hanya mencibir pelan. Lalu, mereka terdiam selama dua puluh detik.
"Gimana hari ini?" Suara Akbar kembali terdengar.
Melihat Rere langsung meletakkan cup dessert box-nya ke jok belakang, Akbar yakin jika hari ini ada musibah ringan yang menimpa pacarnya.
"Parah si. Tadi dosen aku sialan banget masa?" Rere menyelipkan rambutnya dibalik daun telinga, nampak ingin bercerita.
"Dia bisa-bisanya nge-prank aku, jam setengah sembilan nyuruh kelompok aku ke seminar di Trisakti, katanya dia udah di sana." Rere mengubah posisi duduknya. "Nah, posisinya aku tuh baru bangun jam delapan! Ya otomatis aku gak mandi dong! Buru-buru lah aku nyuruh abang ojek ngebut!" Lanjutnya, berapi-api.
Kemudian Rere memelankan intonasinya, "Pas nyampe, aku sama anak-anak nanyain dong posisi dia dimana. Coba tebak dia malah bilang apa?"
"Apa?" Sahut Akbar, geli.
"Saya tidak bisa hadir. Sukses ya acaranya, tolong kamu kirim link zoom kegiatan di sana." Rere membulatkan suaranya, menirukan dosennya. Lalu ia melotot. "Sumpah ya tu orang rasanya pengen banget aku teriakin "SITU OKE PAK?!"
Akbar tergelak melihat ekspresi pacarnya yang sangat cepat berubahnya. Dari yang sewot, ke datar, lalu kembali ke sewot lagi. Tambah lagi intonasinya yang naik turun dengan cepat.
"Kayaknya dia bukan satu-satunya dosenmu yang ngeselin, deh?"
"Tapi dia yang terngeselin sekarang!" Seru Rere, sewot. "Sialan emang tuh si muka kartun!"
"Eh, gak boleh gitu!"
"Lah? Siapa yang gak kesel coba digituin?!"
Akbar tertawa geli melihat Rere menggertakkan giginya.
"Terus tadi kok kamu sempet bikin dessert box?"
"Tadi aku sama anak-anak ngumpul sebentar di rumah Aca, terus yaudah aku iseng aja bikin. Sekalian jadiin tester," ujar Rere dengan sisa kekesalan.
"Keren emang cewekku."
Rere tak menyahut apa-apa, tetapi kekesalannya mereda.
Saat Akbar hendak membuka mulut lagi, ponselnya berdering. Otomatis, ia langsung menoleh ke benda yang tegeletak di dashboard jendela sebelahnya. Akbar meraih benda itu dan menoleh sepintas ke Rere.
"Siapa?" Tanya Rere.
"Mama," ia lalu menjawab panggilan. "Halo iya, ma?"
"Lagi di jalan, anterin Rere," kata Akbar. Satu tangannya memegang ponsel, dan tangan yang lain masih mengendalikan kemudi. "Iya masih di mobil. Kenapa?"
"Lah? Terakhir taro dimana?"
Rere yang tadinya ingin menyapa mama Akbar, langsung membungkam mulutnya saat melihat Akbar menurunkan ponsel.
"Re, coba deh buka dashboard kamu deh, ada iPad-nya Echa gak?" Akbar menoleh ke kiri, menatap Rere.
Rere membuka penutup dashboard, dan mendapati sebuah benda pipih agak besar yang tergeletak di sana. Perempuan itu langsung mengambilnya, dan menoleh ke Akbar.
"Ada, nih."
Akbar menghela napas lega. "Kan. Bener ma ketinggalan,"
Rere menelan ludahnya, seketika mood-nya untuk berbicara dengan mama Akbar langsung lenyap ditelan bumi. Tangannya menggenggam benda pipih itu.
"Yaudah, aku simpen di rumah aja," Akbar menjeda sejenak. "Kalian sampe minggu depan kan?"
Cengkraman Rere pada iPad menguat, telinganya tidak terlalu fokus mendengar omongan Akbar. Pandangan kosongnya tertuju pada jalanan di depan.
"Onty Rere, kita nonton princess di iPad-ku yuk!" Seruan Echa, membuat Rere mengangkat matanya setelah dua puluh menit belakangan menghabiskan waktu untuk scrolling random.
Walau hanya ditemani Rere seorang, anak perempuan berumur enam tahun itu bahagia. Karena, ia merasa begitu dekat dengan pacar omnya. Kedua orangtuanya kerja, neneknya sedang melayat kerabat yang meninggal, pamannya sedang kuliah di Malang, dan pembantu di rumah sudah selesai bertugas.
"Ayook!" Seru Rere, semringah.
Anak perempuan berambut sepunggung itu berlari kecil menuju Rere yang anteng duduk di sofa ruang tamu. Kedua tangan mungilnya menggenggam iPad.
"Onty sukanya princess siapa?"
"Aurora."
"Kalo aku sukanya Ariel. Kita nontonnya Ariel dulu aja ya?"
"Iya, boleh."
Rere yang tidak memerhatikan iPad keponakan pacarnya memilih fokus lagi pada ponsel di genggamannya.
"Onty liat iPad aku ih!" Sungut Echa, mendapati Rere malah fokus pada ponselnya.
"Iya iya. Onty nonton kok." Rere terpaksa ikut menonton.
Alih-alih berusaha mencuri fokus ke ponselnya lagi, fokus Rere langsung tercuri pada sebuah notifikasi dari Instagram yang tiba-tiba muncul.
INSTAGRAM
[akbar.kurniawan] febrianniptry
Replied your story: udah otw blm sih? Lama banget! Panas tau.
"Echa, coba onty numpang buka IG bentar ya di iPad kamu."
"Yah? Kan lagi nonton?"
"Sebentar aja kok. Beneran. Gak sampe itungan ke-sepuluh deh?"
"Oke!"
Hanya selang lima detik, muncul pesan baru lagi.
[akbar.kurniawan] febrianniptry: aku udah nyatok sama make up nih!
Febri? Siapa dia?
Rere tertegun. Meskipun Echa baru berhitung sampai di angka tujuh, perempuan berambut sebahu itu memilih mengembalikan iPad tersebut ke pemiliknya. Jantung Rere berdebar-debar.
Ia tak berani menduga apapun.
Juga tak berani menceritakan hal ini pada siapapun.
"Ey? Kok ngelamun? You okay?" Teguran Akbar refleks menyadarkan Rere dari ingatan tentang kejadian dua bulan lalu di rumah Akbar.
"Sorry, aku— tiba-tiba keinget deadline baru," Rere berusaha menyahut normal. Ia membuka dashboard, dan memasukan iPad ke dalam.
Akbar menghela napas pendek. "Kan aku udah bilang, deadline itu diselesaiin, bukan distressin. Dipikirin doang kan nggak akan kelar dong."
Rere tidak menyahut.
"Yee malah bengong lagi deh..." Akbar menoleh sekilas, sebelum kembali berkonsentrasi pada jalanan di hadapannya. "Kayaknya cewekku udah capek banget nih sama dosennya."
Rere tak menanggapi. Seketika perasaannya menjadi cemas, meskipun ia sendiri tak tahu persis apa yang harus ia cemaskan. Namun, entah mengapa rasa itu hadir dibalik dadanya.
"Pasti lagi bayangin bucket Baskin's Robbin kan? Ayo ngaku!" Suara Akbar terdengar lebih ceria dibandingkan sebelum-sebelumnya.
"Nggak ah, aku lagi nggak pengen es krim."
"Terus pengennya apa dong?"
"Nggak pengen apa-apa," Rere menangkat kedua alisnya.
"Masa gitu sih?"
Rere hampir kehilangan mood-nya seratus persen. Ia sendiri bingung harus bagaimana menghadapi Akbar, setidaknya menghargai maksud laki-laki itu untuk mencairkan suasana. Meski, di sisi lain ia juga enggan memakai topeng.
"Ummm sate aja kali ya?" Rere meringis kecil.
"Ah oke..." Akbar menyengir lebar. "Senayan aja yuk? Tempat biasa."
"Sure."
Mendengar suara pacarnya barusan lebih pelan, Akbar langsung menaruh perhatian lebih.
"Kamu kenapa sih? Mendadak diem-bengong gitu? Padahal tadinya berapi-api,"
Rere mendengus pelan. "Kayaknya aku mau PMS deh."
"Wadaw. Berarti aku harus amunisi es krim yang banyak nih!"
"Apaan si es krim terus?" Rere menoleh dengan raut jengkel.
"Ya, kalo coklat kan kamu diet..."
"Es krim emang aman buat diet?"
Melihat perubahan mood pacarnya membaik, Akbar terkekeh pelan.
"Ya juga ya, yaudah coklat dark yang 70% mau?"
"Udah deh ah. Jangan ngomongin makanan mulu."
"Terus kamu maunya ngomongin dosen lagi?"
Rere terkekeh pelan. "Ya nggak juga."
"Terus maunya ngomongin apa?"
"Nggak mau ngomong dulu, maunya dengerin lagu aja."
Akbar menggeleng geli. Hingga keduanya terdiam. Sekuat tenaga Rere memilih berhenti mencemaskan hal yang sepertinya tidak perlu dicemaskan. Terlebih, mengingat kondisi pacarnya yang saat ini kurang sehat. Perempuan itu mengganti saluran radio di tape. Dalam diam ia memperhatikan laki-laki yang duduk di sampingnya.
"Bar."
"Hm?"
Rere menempelkan punggung tangannya ke kening Akbar, ia sontak melotot saat merasakan suhu tubuh pacarnya yang masih sangat tinggi.
"Kamu udah ke klinik belum sih?" Seru Rere, panik.
"Uh... tadi aku nontonin anak-anak futsalan," Akbar meringis pelan. "Hehe."
"Ih! Kamu mah! Badan kamu masih anget loh!"
"Anget kan tanda hidup, Re."
Rere tak menanggapi lelucon Akbar. Inilah salah satu sifat Akbar yang tidak Rere sukai—Terlalu menyepelekan. Keduanya refleks terdiam lagi. Akbar menoleh, mendapati Rere yang juga sedang melihat ke arahnya. Perempuan itu nampak ingin bicara.
"Terus kamu ambil flight ke Malangnya kapan?"
"Tiga hari lagi paling." Akbar kembali menoleh ke depan.
"Yaudah jangan booking dulu deh kalo belum bener-bener pulih."
"Paling bentar lagi aku sembuh. Yang penting susternya nemenin terus."
"Tapi kamu ngapain sih jemput aku segala?" Rere menggaruk kepalanya frustasi.
Akbar menoleh cepat. "Loh kenapa lagi siiih?"
"Yakan aku bisa naik ojek?"
"Kenapa naik ojek mulu si? Kan mumpung akunya masih di Jakarta."
"Tapi kan kamu sakit."
"Masa buat nonton temen-temenku futsalan bisa, buat jemput cewekku doang gak bisa?"
Seketika, kata-kata Akbar menyadarkan Rere dari pikiran negatifnya beberapa menit lalu. Entah mengapa, Rere merasa bersalah sekarang.
Tak mendapat sahutan dari Rere, Akbar ikut diam, mulutya tertutup rapat sambil terus berkonsentrasi pada jalanan yang ada di hadapannya. Tangannya dengan luwes mengendalikan kemudi mobil sambil menoleh sebentar ke perempuan di sebelahnya.
"Udah dong jangan marah-marah lagi, Re. Biar aku cepet sehat."
Berusaha memaklumi situasi, Rere mengalihkan topik. "Tapi kok mama sama Kak Nina fix ambil flight hari ini sih?"
"Iya, karna Kak Nina udah booked pesawat dari jauh-jauh hari."
"Kan waktu itu dia ambil promo kayak flash sale gitu. Lumayan sih per-pax diskonnya hampir tiga ratusan."
"Kamu gak ikut mereka liburan dong?"
"Kalo aku ikut mereka nanti gak bisa quality time sama pacarku dong?"
Rere memutar matanya, jengkel. "Bar, stop ah!"
"Ya kan minggu depan aku udah masuk, sayang. Suka kesel tau kalo balik lagi ke Malang. Suka kangen. Suka sedih."
"Bisa diam tidak?" ujar Rere sok diplomatis.
Akbar kembali tertawa. Rere memicingkan matanya ke arah Akbar hingga laki-laki itu berhenti tertawa. Keduanya kembali terdiam. Saat lagu Happier Than Ever baru berputar, mata Rere tak sengaja melirik dashboard, lagi-lagi memori tentang kejadian DM itu terngiang di benaknya.
Ia ingat persis di malam hari kejadian itu, Rere hampir tidak bisa tidur, karena kegelisahan menggerayanginya sampai pukul setengah dua pagi.
Ia mengecek ponsel, ingin meminta klarifikasi pada Akbar saat itu juga, tetapi ia tak pernah memiliki keberanian untuk melakukan hal itu.
Bukan karena ia tak punya nyali untuk berdebat, tetapi ia takut bila jawaban Akbar nanti malah akan melukainya— meski belum pasti.
Rere menatap Akbar, ia merasa kali ini situasi mendukung. Lebih baik semua diluapkan, daripada ia harus disergap rasa penasaran terus menerus.
"Aku boleh nanya sesuatu nggak, Bar?"
Akbar menoleh. "Apa tuh?"
Seketika Akbar langsung merasa canggung meski ia tak dapat menebak isi kepala perempuan di sampingnya.
"Janji dulu jangan marah, dan harus jujur."
"Iya. Apa?"
Rere berdeham, tidak tahu apakah ia akan melanjutkan pertanyaannya atau tidak. Karena seharusnya, itu semua keluar secara spontan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Empat.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut Rere, Akbar akhirnya menyenggol perempuan itu. "Apa, ih?"
"Selama di Malang, kamu pernah jalan berduaan sama cewek gitu gak sih?"
Pertanyaan itu meluncur dari mulut Rere, nadanya terdengar ragu. Pandangan Akbar yang semula tertuju pada perempuan di sebelahnya, otomatis teralih ke depan lagi.
Akbar refleks memundurkan kepalanya, dan menatap Rere heran. "Apaan sih kamu, Re?" gumamnya, lalu menegakkan posisi duduknya.
________
hehehe gmn part ini? kasi tau aku dong pendapat kalian😗
urusan character aku ngga lagi pakai cast siapa2 ya, jd kalian bebas mau bayangin mereka siapa🤗
Bạn đang đọc truyện trên: AzTruyen.Top